Fatamorgana
Dia terlihat seperti fatamorgana. Semua tentangnya begitu semu, terlihat seperti ada namun tak tergapai. Aku memahami semua konsekuensi logis yang akan terjadi ke depannya. Tak tahu apakah dia akan tetap bersamaku sampai akhir atau dia akan pergi dalam persimpangan. Aku tidak pernah tahu bagaimana perasaannya terhadapku selama ini, apakah dia menganggapku seorang yang istimewa atau tidak. Jika melihat dari semua tindakannya selama ini sepertinya aku bukan orang yang spesial untuknya. Hal yang pernah dia bicarakan denganku dan sampai kapanpun tidak akan pernah kulupakan "Mohon maaf lho ya sebelumnya. Aku memilihmu sebenarnya karena belum ada wanita lain yang bisa kupilih. Ibaratnya kamu pilihan terakhirku. Jangan sakit hati ya,". Bagaimana tidak sakit hati coba dengan perkataan seperti itu. berarti jika suatu saaat dia menemukan wanita yang mungkin sesuai dengan kriterianya dia bisa saja pergi meninggalkanku bukan. Beberapa kali dia melontarkan perkataan yang seperti itu dan berkali-kali juga hati ini patah.
Selama menjalani hubungan yang tidak jelas dengannya selama ini kupikir-pikir ternyata aku bukanlah wanita yang spesial untuknya dan bukan prioritas utamanya. Terlihat selama ini aku lebih effort untuk mencoba sabar saat komunikasi dengannya. Seringkali dia membalas chat lama sekali dan bahkan hanya dibaca saja.












