Menerima Kritik, Tanpa Menyodorkan Kaca
Salah satu hal sangat buruk yang sering dicontohkan oleh orang-orang tua di sekitar saya adalah : ketika menerima kritik, mereka akan menyodorkan kaca pada orang yang memberikan kritik.
Contohnya seperti ini. Suatu hari misalnya ada anak sepupu yang bersikap tidak sopan pada orang tua. Lalu kita mencoba mengigatkan, “Mba, itu menurutku anakmu jangan banyak nonton sinetron biar tidak meniru tindakan kurang baik dari sinetron.” Lalu alih-alih menerima kritik, si saudara akan menyodorkan kaca dengan berkata seperti ini, “lah, lihat saja sendiri anakmu yang jarang belajar sampai nilainya jelek begitu. Kamu sendiri seperti itu kok ngingetin saya.” Dah!! Padahal antara kenakalan anaknya dengan jeleknya nilai anak orang lain tak ada sangkut pautnya.
Atau ini kejadian nyata. Suatu hari saya bertanya pada tetangga, anaknya lebih dulu bisa bicara atau berjalan? Karena jenis kecerdasannya bisa ditilik dari situ. Kata dia, dia tidak terlalu memperhatikan. Kata saya, kenapa tidak dicatat? Lalu dia bilang, “ya gak lah. Coba kamu nanti aku mau lihat apakah hal-hal seperti itu kamu catat? Tak lihat e!!” Seakan menantang apakah saya sendiri melakukan apa yang saya katakan. Dah!! Padahal ketidak aware an dia pada perkembangan anak tidak ada hubungannya dengan awareness saya pada anak saya nanti.
Kalau dilihat dari sisi logika, sepintas pelemparan cermin ke pelaku kritik memang nampak masuk akal dan kita sulit untuk membantah ketika berada di posisi si pengkritik. Tapi di sisi lain, for God sake, we will never be grow up if we do that, Bro Sis!!
Saya lupa entah siapa, yang jelas seseorang berkata pada saya, bahwa cara seperti itu adalah cara yang kekanak-kanakan dan tidak dewasa. Sejak itu, saya menahan diri dari melakukannya.
Kritik orang lain atas kita, adalah satu hal. Sedangkan kekurangan orang lain yang mengkritik, adalah hal lain. Jadi itu dua hal yang berbeda. Jika kita tidak sepakat dengan kritiknya, boleh kita bantah dengan data dan fakta yang kita tahu itu benar. Bukan dengan menyodorkan kaca dan menunjukkan kekurangan si pengkritik yang tidak ada hubungannya dengan kekurangan kita.
Tak peduli siapapun yang melakukan kritik, jika apa yang dia katakan benar, maka terima saja tanpa embel-embel “dia sendiri begini dan begitu.” Seperti ketika seorang teman saya menyuruh saya sholat sedangkan dia sendiri tidak melakukannya. Apakah saya harus bilang begini, “lah kamu sendiri Atheis, ngapain nyuruh gw sholat?” Kan ini nampak benar, tapi lagi-lagi for God sake, antara dia mengingatkan saya sholat dengan keyakinannya untuk tidak sholat adalah dua hal berbeda yang tidak ada kaitannya.
Kita pasti sering mendapatkan kritik yang mendorong kita untuk menyodorkan kaca pada si pemberi kritik. Tapi coba deh berpikir, kalau kita melakukannya, kita tidak akan pernah tumbuh dewasa. Kita hanya akan menjadi orang tua yang punya masalah pada ego dan tidak pernah berkembang menjadi dewasa.
Mampu menerima dan memanage kritik, menurut saya adalah kecerdasan emosi yang luar biasa. Tidak semua orang bisa dewasa menerima kritik, setua apapun usianya. Terutama jika yang memberi kritik adalah orang yang usianya lebih muda darinya.
Sulit sekali memang, mampu menerima bahwa kita punya kekurangan yang dilihat oleh orang lain. Tapi seperti kata orang bijak, ketika kita menerima kritik dan kita defends, berarti kita punya masalah pada ego kita.
Selamat belajar memanage kritik in a smart way. Remember this, menyodorkan kaca pada si pemberi kritik is a stupid and childish way.