Tahun 2025 bukan tahun yang "ramah" bagiku. Mengalami 2x lay off, memilih mengakhiri hubungan dengan laki-laki yang dulu paling "ingin aku ajak segalanya".
Cerita bermula, ketika aku memutuskan kembali menjalin hubungan dengan dia. Ternyata berujung menyakiti hati dan pikiranku. Bukan hal mudah, aku memilih megakhiri hubungan. Aku tidak ingin hatiku semakin menahan rasa sakit.
Pertengahan tahun hubungan berakhir. Menghadapi lay off kedua di tiga bulan berikutnya. Bukan hal mudah. Tapi aku lepas.
Menjelang akhir tahun, aku mencoba ikut konsul ke salah satu psikolog. Aku ceritakan bagaimana hubunganku dengan keluarga yang tidak baik-baik saja.
Hubungan dengan laki-laki itu selama delapan bulan, yang hanya "aku mendengarkan cerita dia dengan mantan tunangannya" memang brengsek dia. Aku marah, aku mengumpat, aku berkata kasar pada, aku luapkan semua yang membuat dadaku sesak. Aku selalu di remehkan, di hina pekerjaanku. Dia sangat angkuh membuatku muak dan jijik, yang selalu memamerkan kekayaan dia.
Sampai si konsultan, bertanya. "Setelah kalian kembali menjalin hubungan, apakah dia orang yang sama seperti dulu? Bagaimana dia 10 tahun lalu dia sekarang?"
Aku terhenti sejenak. Aku membuat bagan. Dan menjelaskan, bagaimana dia dulu dan dia yang sekarang.
Satu kesimpulan, "Mungkin dia pacar yang baik untuk kamu, saat usia kamu 21 tahun tapi bukan calon suami yang baik di usia kamu yang sudah kepala 3, kalian telah lama berpisah, banyak mengalami kisah perjalanan hidup yang tidak mudah, pasti mengubah arah pandang hidup dan arah pola pikir, it's ok riris bukan salah kamu, bukan salah dia. Kalian hanya bukan jodoh, kalian dipertemukan kembali, menjalin hubungan lagi, agar kalian saling mengenal satu sama kalian di versi sekarang."
"Maafkan dirimu sendiri, maafkan dia, jalani hidupmu, kamu berharga riris. Jangan pikirkan hal buruk yang pernah dia katakan padamu."
"Aku harus bagaimana?" Tanyaku
"Kamu ingin menjalin hubungan lagi?" Tanya kakak psikolog lagi.
"Tidak, tapi aku sedang dekat dengan laki-laki sebut saja RP yang dulu pernah mengisi hidupku dua tahun lalu, dia mengerti kisahku dengan mantanku ini, dia memahamu setiap cerita yang aku jalani, cerita keluarga, teman, dan semua masa laluku, tapi aku tidak ingin terburu-buru berbicara tentang "hubungan serius" jelasku.
"Tak apa ris, sekarang apa yang membuat kamu nyaman, jalani itu. Kamu ingin apa?"
"Cari pekerjaan yang sesuai dengan kamu."
"Kamu nyaman dengan laki-laki RP ini?"
"Sangat!!! Aku tidak pernah takut untuk menceritakan apapun kepada dia."
Dia pernah berkata "Kamu bisa bercerita apapun padaku, aku tidak akan marah, aku tidak akan menghina, aku tidak akan menghakimi, karena aku bukan dia"
"Ris, lanjutkan hidup, tinggalkan cerita tentang mantanmu, jangan mengingat hinaan dia padamu, kamu layak untuk hidup lebih baik dengan versi dirimu sendiri,"
"Ris, banyak minum vitamin yah, usahakan tidur jam 9 atau 10 tepat. Kurangi kopi, mulai lah menulis di blog, buku diary apapun dalam sehari dalam satu paragraf, tentang apapun yang kamu rasakan, pikirkan."
Selesai di satu jam empat puluh menit.