mau mulai nulis lagiiii...

tannertan36
taylor price
Peter Solarz
YOU ARE THE REASON

Andulka
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Lint Roller? I Barely Know Her
No title available
Today's Document
occasionally subtle
we're not kids anymore.
DEAR READER

★
Sweet Seals For You, Always

PR's Tumblrdome
art blog(derogatory)

ellievsbear
hello vonnie
todays bird
Three Goblin Art

seen from United States
seen from Japan
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Singapore
seen from Belarus

seen from Germany
seen from United Kingdom
seen from Japan
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Australia

seen from United Kingdom
seen from Germany

seen from Singapore

seen from Germany

seen from United States
@rnsyamsina
mau mulai nulis lagiiii...
Dear, anakku sayang...
Halo, sayang.
Ibu menulis ini saat umurmu masih 23 minggu 5 hari. Saat beratmu belum sampai setengah kilo. Saat paru-parumu belum pernah menghirup udara dan baru belajar dengan air ketuban. Saat ukuranmu masih sekitaran buah naga.
Kamu memang kecil, sayang. Tapi kamu sudah membuat ibu dan ayahmu jatuh cinta, yang kalau cinta kami bisa diukur, ukurannya berjuta-juta kali lipat buah naga.
Terima kasih, sayang. Kamu sudah memilih untuk hadir di perut ibu. Kamu tidak pernah meminta untuk dilahirkan, maka itu menjadi kewajiban ibu dan ayahmu untuk memastikan kehidupanmu baik. Memastikan kebutuhanmu terpenuhi. Memastikan ada manusia yang dapat kamu peluk dan percaya padamu, meski semisalnya seisi dunia tidak mempercayaimu. Tapi ibu dan ayah yakin, kamu akan menjadi anak yang disayang Allah SWT, disayang keluarga, dan teman-temanmu. Mungkin ibu dan ayah tidak dapat menjamin kehidupanmu selalu mulus. Tapi kami berharap bekal pelajaran kehidupan dari kami akan cukup untuk membuatmu menjadi sebaik-baiknya manusia di mata Tuhanmu dan manusia lain. Aamiin.
Sayang, kelak ibu dan ayahmu tidak dapat hidup bersama kamu selamanya. Kami takut pada kematian, tentu saja. Tapi kami baru-baru ini menyadari, bahwa kami lebih takut hidup lebih panjang darimu. Tidak ada orangtua yang ingin menguburkan anaknya. Jadi kami hanya dapat berdoa, semoga ketika ditiupkan rohmu, Allah SWT tetapkan hal-hal yang baik dan indah untuk kehidupanmu.
Maaf ya sayang, ibu dan ayah masih belajar menjadi orangtua. Kadang nutrisimu saat di perut ibu juga tersingkirkan oleh egonya ibu. Ibu masih pengen makan junk food, makan seblak, makan ceker mercon, sampai ayahmu geleng-geleng dan gak bisa ngelarang. Ayahmu baik sekali sayang, saking baiknya ayahmu sering gak tegaan kalau ibu pengen makanan yang aneh-aneh. Tapi ibu dan ayah janji, setiap harinya akan ke arah yang lebih baik. Ibu nanti banyakin makan sayur dan buah buat kamu sayang. Ayah juga nanti akan bekerja lebih keras dan semangat untuk kita bertiga.
Untuk hari ini, ibu mau bilang itu aja. Besok-besok ibu mau nulis lagi tentang kamu ya, sayang. Ibu dan ayah udah gak sabar lihat kamu lagi di kontrol bulan depan.
With love,
dari Ibu & Ayah <3
Aku bersyukur akhirnya bisa main ke dufan bersamamu (teman terbaik). Aku disini sangat senang,tidak ada fikiran apapun,siapapun yg membuat galau. Mungkin ini rencana Allah yg sempat dulu aku ingin naik korsel di tempat pasar malam tidak jadi tp Allah kasih tempat dan wahana yg tinggi,besar (dan bikin saya masuk angin) hehe.. Tp apa kamu juga senang/bahagia teman? Aku berdo'a sama Allah semoga kmu pun begitu. Aku terenyuh melihat ekspresi kamu yg begitu antusias bermain di tempat ini. Ya Allah tidak ada henti2nya aku berdo'a untuk temanku ini. Semoga temanku ini kelak akan baca tulisan ini,aku betul2 sngat sayang sama temanku satu ini. Maafkan aku yg prnah membuatmu jengkel. Aku tidak pernah untuk brmaksud apa2. Jarakmu dnganku sudah berbeda,tp aku selalu berdo'a semoga kmu selalu sehat,apapun tujuanmu mudah2an tercapai,sukses dunia akhirat dan ada dalam lindungan Allah SWT aamiiin. (-10-2017)
Pagi ini nangis senangis-nangisnya karena menemukan tulisan almh sahabatku ini. Aku baru baca setelah beberapa tahun tulisan ini dibuat. Aku baru baca setelah sebentar lagi setahun penulisnya pergi selama-lamanya. Aku baru follow dan lihat ada tulisan ini -dan banyak tulisan tentang aku dan bahkan ibuku- pagi ini.
Ya Allah Uwi, maafin aku :'(
Allahummaghfirlaha warhamha waafiha wafuanha. Alfatihah...
In case you don't know, this literally happened in Brazil. One of the first fatal victims of COVID-19 was the maid of an upper-class woman who had just arrived from Italy and knew she had the symptoms.
You still grow.
Books - http://debbietung.com/books Our Kickstarter is LIVE NOW! - http://kck.st/3m2bana
kebersamaan
saya beruntung karena bisa menemani ayah pada hari-hari terakhir hidupnya. tak hanya saya, ibu juga merasa demikian. sampai-sampai, selepas ayah tak ada, ibu berterima kasih sama mas yunus--karena sudah mengizinkan saya bersama ayah.
sejak itu, saya sering membayangkan diri saya pergi ke masa depan. di masa depan, bisa jadi saya akan kehilangan lagi, entah itu ibu, mas yunus, atau bahkan mbak yuna, atau siapa pun orang yang saya sayangi. kemudian, saya yang di masa depan itu datang ke masa kini, memberi nasihat pada diri saya yang sekarang untuk tidak menyia-nyiakan.
"kamu sudah sering dengar nasihat soal tidak boleh menyia-nyiakan waktu, tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan. bagaimana dengan tidak menyia-nyiakan kebersamaan?" begitu kata saya kepada diri sendiri.
tentang kebersamaan itu, juga kadang saya membayangkan hari di mana kita semua dibangkitkan. hari itu kita tidak bisa lagi peduli pada orang-orang yang kita kasihi karena kita begitu ketakutan. pada hari itu, semua kebersamaan yang pernah ada mungkin seakan tak ada artinya.
sekarang, sebelum membuat sebuah keputusan, saya punya pertanyaan baru yang harus bisa saya jawab sendiri. apakah saya akan menyia-nyiakan kebersamaan dengan ... ? titik-titik itu bisa diisi dengan siapa saja. ibu, mas yunus, mbak yuna, dan semua orang yang saya kasihi.
rupanya, kebersamaan kita di dunia ini singkat sekali. maka, kebersamaan yang kita miliki perlu diisi dengan kasih sayang dan penerimaan. juga, dengan kehadiran yang sebenar-benarnya.
Hari ini ada sesuatu yg baru. Aku membiarkan salah satu temanku main sambil mengerjakan tugas di kostanku. Sesuatu yg gak pernah terbayang sebelumnya haha. Aku gak ansos tapi bukan tipe yg mau dikunjungi atau mengunjungi.
Aku gak nyesel. Rasanya menyenangkan. Temanku juga baik, aku dikasih cokelat hehehe thankyou. Tapi kayak butuh berhari2 buat 'bertapa' haha karena tadi kayaknya lepasin too much social energy... :D
“Tidak ada yang sepenuhnya baik untukmu, penerimaanmu menjadikannya cukup. Pun begitu sebaliknya.”
—
“Apa yang tidak kau kerjakan dengan bahagia, lama-lama akan menggerogoti kewarasanmu.”
—
Tapi kehidupan memang unik, seringkali kewajiban membawamu pada lahan yang tak begitu ingin kau tempati. Padanya kesabaranmu terus teruji.
Selalu ada pilihan, hanya saja beberapa konsekuensi tak sanggup kita tanggung dengan segera.
Tuhan tidak pernah sebercanda cara pikirmu. Tuhan selalu beri kesempatan. Kita yang tidak peka.
Selalu ada pilihan, kita tetap memupuk sabar pada apa yang pelan-pelan mulai menyiksa, hingga pada akhirnya menjadi hal yang mebahagiakan (barangkali), atau perlahan-lahan mengupayakan kehidupan yang kita impikan.
Tuhan tak pernah melarang untuk bermimpi, Tuhan tak pernah menghina impianmu, kita yang membuatnya tenggelam.
Salah banget. Hari ini udah curhat masalah penting soal hidupku ke orang yang salah :(
Kok aku begini?
Jadi gini. Selama 26 tahun aku hidup di dunia, akhirnya aku merasakan sesuatu yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Hal itu adalah "kebutuhan untuk gak sendiri di rumah". Maksudku rumah dalam hal ini gak harus rumahku di Tasik. Ya di kosan atau dimana aja tempat aku beristirahat setelah bekerja. Padahal sebelumnya, aku ngerasa sendirian tuh asyik banget. Sekali lagi, asyik banget. Kayak pesta gitu kalau sendiri haha. Seneng dan bisa ngapain aja seenak ndasmu tanpa harus ngerasa kagok akan kehadiran orang lain. Aku juga bisa menghabiskan waktu berminggu2 sendiri, di kamar, tanpa keluar rumah.
Tapi sekarang entah kenapa beda. Sekarang selalu sedih kalau sendirian di kosan. Sepi sendiri diantara keramaian hiruk pikuk Jakarta. Makannya kalau weekend sering nginep di rumah teteh, bisa ketemu dan main sama ponakan. Nah, begitu balik ke kosan, apalagi menghadapi malam senin macem sekarang ini, pengen nangis terus rasanya. Butuh temen ngobrol disini. I mean, lebih ke keluarga mungkin ya. Bukan temen kosan. Aku pingin di kosan ada ibu, teteh, dede, ayam, dll gitu rasanya huhuhu (atuh lain ge kosan). Sedih sendirian asli, nahaaaa abi jadi kieuuuu. Tadina teu kieu. Alim kieu :'(
Udah pengen ada teman hidup mungkin ya *eittssssskode. Ah intinya mah aku tidak ingin sendiri. Oh ya ini perasaanku persis kayak nama warteg deket kosanku di Panorama dulu pas kuliah di UPI; "Tak Ingin Ku Sendiri" wkwkwk.
Di tumblr bisa nulis wkwkwk. Aslinya ngetik ini sambil sedih. Nah masalahnya kalau moodnya kayak gini aku jadi gak mau ngapa-ngapain. Ngerjain tugas seadanya aja asal selesai. Malah kadang2 injury time bgt anaknya teh. Ya Allah, kudu piye toh aku...
Orang bilang semangat. Orang bilang jangan takut sendiri. Orang bilang tenang. Pada kenyataannya mereka gak ada disini. Aku tetap sendiri di kosan.
BENTUK REZEKI
“Gue kadang bingung. Salat duha udah, berdoa udah, sedekah udah, tapi kan tetep aja gaji segitu-segitu aja. Gue percaya Allah ngasih rezeki, tapi kan gaji dari kantor gak mungkin tiba-tiba nambah”
—
Berapa banyak dari kita yang beribadah untuk mengharap bertambahnya rezeki? Ada? Pasti ada.
Salah? Tentu tidak, karena memang sudah begitu janji Allah. Barang siapa melaksanakan duha, maka akan diberi rezeki. Barang siapa meminta, maka akan diberi rezeki. Barang siapa bersedekah, maka akan dilipatgandakan rezeki.
Namun sayang, banyak orang salah memahami rezeki. Banyak orang menganggap, rezeki adalah uang, gaji, take home pay. Tidak, tidak begitu.
Berapa banyak orang yang punya uang tapi sakit-sakitan? Maka tidak hanya uang, kesehatan juga rezeki.
Berapa banyak orang yang punya uang tapi jarang bertemu dengan keluarganya? Maka tidak hanya uang, waktu dengan keluarga pun rezeki
Berapa banyak orang yang punya uang tapi di kantor dan pulang ke kantor terus isinya hanya memikirkan pekerjaan? Maka tidak hanya uang, ketenangan pikiran juga rezeki
Berapa banyak orang yang punya uang tapi kesulitan untuk beribadah? Maka tidak hanya uang, kemudahan akses beribadah juga rezeki.
Berapa banyak orang yang punya uang tapi tidak memiliki bisnis? Maka tidak hanya uang, memiliki tenaga, waktu, dan pikiran lebih untuk digunakan membuat bisnis diluar jam kerja adalah juga rezeki.
Berapa banyak orang yang punya uang tidak bahagia? Maka tidak hanya uang, memiliki kebahagiaan juga adalah rezeki.
Bentuk rezeki itu banyak, tidak hanya berbentuk uang, justru kadang rezeki itu berbentuk hal-hal yang tidak kita fikirkan. keluangan waktu, kemampuan begadang, kesehatan, libur di sabtu dan minggu, kemampuan beribadah, dan lain sebagainya yang membuat kita tetap bahagia, adalah bentuk rezeki.
Maka, jangan berhenti untuk tetap bersyukur, tetaplah meminta dan berusaha. Karena kondisi kita yang tanpa masalah, adalah bentuk rezeki yang kadang tidak disyukuri.
—
BENTUK REZEKI Bandung, 21 Januari 2020 @choqi-isyraqi
Getting older
Kurasa, tahun ini adalah tahun dimana aku sangat gak peduli dengan ulangtahunku. Betul-betul seperti hari biasa saja. Tidak banyak ucapan. Orang-orang terdekat (secara fisik, bukan secara hati) di tempat kerja aja gak ada sekedar ngucapin begitu tahu aku ulangtahun hari ini. Meski begitu gak ada perasaan gak enak, tuh. Kalau tahun-tahun sebelumnya mungkin udah baper. Entah kenapa, tahun ini tidak ada baper, tidak ada ekspektasi, dan aku bersyukur akan hal itu. Gimana bisa aku baper sama mereka, sedangkan orang yang paling dekat di hati aja gak ada ngucapin apa-apa :))
Calonku, gak ada ngucapin atau doain secara langsung. Ah, entah. Lupa kayaknya gak mungkin. Sengaja, aku juga gak tau motifnya. Tapi barusan kroscek ke hati soal ini. Dan hatiku b aja hehe. Alhamdulillah.
Mungkin karena faktor usia, ya. Semakin dewasa (mestinya) jadi semakin rasional. Apalah artinya ulangtahun? Cuman berkurang umur. Pengingat bahwa sekian tahun yang lalu kita lahir, ibu bapak kita yang berjasa. Terutama ibu ( i love you, ibu). Dan semakin dekat kita dengan kematian.
Meski begitu yang doain juga masih ada. Semoga doa baik itu kembali pada kalian <3
Aku berharap ini Senin yang biasa saja, tidak perlu drama, tidak perlu akrobat, tidak perlu wah. Aku berharap moodku baik dan terjaga. Aamiinn.
Aamiin
Obrolan sederhana sore ini. Alhamdulillaah tadi udah beli ciput. Gak ciput ninja, enggak. Sieun jadi ninja beneran euy. Yang biasa aja, asal rambut gak keluar-keluar lagi. Asal gak dibilangin lagi sama muridku (SLB, loh) "Bu Ami itu rambutnya keliatan... Heee..." katanya dengan cadel. Gapapa deh wajahku seperti kotak atau nanti aku direkrut jadi sahabat kotak. Small step, oke. Haha tapi gak small step juga sih, karena nutup aurat dengan cara yang benar itu memang kewajiban besar setiap wanita muslim. Bagiku beli ciput harga 14.000 rupiah itu small step. Padahal entah dosanya yang telah lalu dari setiap helai rambutku yang orang lain lihat. Astaghfirullah... Ampuni ya Allah.
Obrolan Tahun Ini
Di tempat kerjaku, semua teman dekatku sedang selalu membicarakan tentang pernikahan. Wajar mungkin, karena 1 teman akan menikah bulan depan. 2 teman akan segera lamaran dalam waktu dekat. 1 teman sedang galau mau serius atau enggak sama perempuannya. Jadiiii dikit-dikit ngobrolin nikah. Dikit-dikit bahas lamaran. Seserahan. Tabungan. Rumah setelah nikah. Cuti menikah. Mas kawin. Venue. Vendor. Perawatan. Bulan madu. Hingga ketawa-ketawa keras soal joke about sex.
Gimana, ya. Aku pengen ngehindar atau gak nimbrung atau jujur di tulisan ini kalau aku kurang suka dengan itu, takut dilabrak netizen dengan pandangan, "ya kamu aja, mi yang baper karena kamu belum jelas banget mau kapan settle down," Aku enggan bilang, kalau pun aku udah ada kepastian atau kejelasan.
Ah, gatau deh. Mungkin ini emang aku yang kelewat baper atau gimana. Tapi aku gak bisa menikmati pembicaraan yang mengarah kesana. Entah enggak. Apa belum aja. Ah, aku sunggguh gak tau :'(
Resolusi?
Mungkin kurang tepat kalau nulis resolusi disini. Ya tapi mudah-mudahan jadi pengingat di kala lupa. Dan resolusi sebenernya gak harus nunggu ada momentum besar macam tahun baru, sih. Kapan aja mau berubah jadi baik mah berubah aja saat itu juga *ciaaat*. Tapi aku orangnya tipe yg menunggu momentum, alesan anaknya emang... hehe. Jadi gak akan nyia-nyiain nih momentum tahun baru ini, mudah-mudahaaaaan.
2020 Pengen Apa?
Pengen kualitas dan kuantitas ibadah (habluminallah) semakin rapi dan meningkat.
Pengen memperbaiki caraku berhubungan sosial (habluminannas) dengan orang-orang di sekitar. Juga temen lama yg udah jarang komunikasi. Juga temen baru yg baru ketemu.
Pengen bisa kasih lebih buat ibu. Mau dari materi atau tenaga atau waktu, syukur kalau bisa semuanya. Juga pengen lebih banyak kirim doa buat yang udah duluan pergi, khususnya alm. Bapak.
Pengen gak pernah lagi nyia-nyiain waktu. Kayak ngerjain tugas atau kerjaan atau nyiapin sesuatu, gak last minute terus gitu.
Pengen rapi dalam manajemen waktu. Ya masih masih nyambung sama yg atas lah.
Pengen lebih bersih. Jaga dan merawat diri woyyy... Mandi, kebersihan baju yg dipake, sepatu, kebersihan kamar dan rumah, dll.
Pengen nabung dan investasi lebih banyak buat masa depan, mudah-mudahan Allah kasih umur dan rezeki yang barokah, aamiin.
Pengen hilangkan sifat suka rubah-rubah mood, suka marah-marah, gak sabaran, yg jelek-jelek gitu (aku banyak).
Pengen jadi orang yang lebih santuy dalam artian positif. Gak terlalu perasa, tapi gak terlalu bodo amat juga. Kalau dapat pekerjaan sulit tetap santai, tapi tetep segera diselesaikan dengan usaha baik pula. Gak terlalu gak enakan sama orang, tapi gak lupa dan jadi semena-mena juga. Yang gitu pokoknya lah.
Pengen lebih memprioritaskan keluarga. Banyak silaturahmi dan gak malu-malu atau mager lagi kalau ketemu saudara jauh.
Pengen lebih banyak senyuuuuum :)
Apa lagi, yak. Nanti aku tambahin.