Perlukah OSPEK?
Dunia kampus dan dinamikanya tak pernah surut untuk kita bahas, belakangan ini karena beberapa persitiwa, membuat saya terdorong untuk memikirkan permasalahan kampus lebih jauh lagi. Menjauh dari gambaranya yang ideal, saya melihat hingga hari ini kampus belum menampakkan wajahnya yang ramah sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan. Melihat realitas pendidikan kampus secara keseluruhan akan sangat sulit bagi saya, karena saya belum merasakan rumitnya dunia akademis secara utuh, akibat status saya yang masih mahasiswa. Bagian yang coba saya pahami, lebih pada Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK) yang baru-baru ini sedang berlangsung dan hangat dibicarakan.
Belum hilang dari ingatan saya, bahwa tahun lalu pada tanggal 12 Oktober 2013 di kota tempat saya berkuliah, Kota Malang. Terjadi peristiwa kematian mahasiswa baru Fikri Dolasmantya Surya yang berasal dari Lombok akibat tindak kekerasan dalam OSPEK oleh seniornya (meskipun belakangan berdasarkan hasil penyidikan kepolisian, yang sudah terbukti adalah "kelalaian yang mengakibatkan kematian".Sumber: Aliansi Mahasiswa Anti Kekerasan). Nasib Fikri bisa jadi kurang beruntung, dia menjadi korban ekses sistem OSPEK yang bisa kita sebut, tidak memanusiakan manusia. Yang kedepanya bisa jadi berpotensi untuk menghasilkan "Fikri-fikri" yang lain (dengan tidak bermaksud melakukan generalisasi prematur terhadap OSPEK di kampus-kampus lain). Kenapa begitu? pembahasan selanjutnya akan membahas secara lebih dalam, bagaimana bentuk tindakan "tidak memanusiakan manusia" dalam OSPEK..
Memahami OSPEK kita perlu melihatnya bahwa semua itu terjadi secara sistematis, ada struktur umum yang sering kita temui, hubungan hirarkial yang terdiri dari senior dan junior. Yang secara tidak langsung maupun langsung di sepakati sebagai elemen baku dalam dunia mahasiswa, baik di ruang kuliah ataupun di dalam organisasi. Menurut pemahaman dan pengamatan saya, sejauh ini relasi senior-junior yang berada di dalam struktur kampus sejauh ini bersifat dualisme antagonistik, (adanya dua pihak yang berlawanan secara oposisi biner) seringkali relasi itu menegaskan sikap yang berjenjang, misalkan, pintar-bodoh, benar-salah, berpengalaman-awam dan sebagainya. Dalam praktiknya, senior wajib "membimbing" junior agar menjadi lebih "pantas" dan "beradab" untuk masuk ke dalam dunia kampus, baik di perkuliahan maupun organisasi dan hal tersebut terjadi secara hirarkis dan terstruktur. Praktik-praktik ini di kemas sedemikian rupa (baik halus maupun kasar) dalam berbagai "paket-paket kesadaran" dalam OSPEK, dan semuanya hampir secara keseluruhan bertujuan untuk membentuk mahasiswa baru menjadi mahasiswa yang "ideal". Yang jika di telisik kembali, sebetulnya parameter "ideal" disini belum memiliki dasar yang utuh dan jelas, kecuali didasarkan pada klaim-klaim sepihak (oleh pihak yang lebih dulu ada) dalam hal ini adalah senior, dengan dasar pembenaran yang berbagai macam, misalkan meneruskan "tradisi aktivisme mahasiswa","membentuk mahasiswa yang berdaulat" atau bahkan terkadang membawa-bawa mahasiswa masa lalu, misalkan cerita kejayaan angkatan '66 atau '98. Dan atas dasar-dasar tersebut, mahasiswa senior berhak mengatur bahkan membentuk mahasiswa baru sesuai dengan tujuanya.
Saya berpikir, sifat dasar manusia sebetulnya adalah makhluk yang me-ruang dan me-waktu, artinya jati diri manusia terbentuk oleh realitas di sekelilingnya dan secara dinamis membentuk dirinya lalu latar belakangnya. Realitas-realitas tersebut ter-manifestasi, menjadi suatu cara pandang dalam melihat dunia. Sederhananya, manusia adalah makhluk yang unik, dan sifatnya itu secara tegas membedakanya dengan binatang. Manusia dan binatang berbeda karena manusia mampu melakukan refleksi atas pandangan dan tindakanya terhadap realitas dunia, sedangkan binatang tidak. Manusia mampu mengubah realitas dunia secara kreatif, sedangkan binatang melihatnya sebagai pemberian dan tak perlu dirubah (misal, sampai hari ini belum ada kambing makan harimau). sebuah keniscayaan jika setiap manusia memiliki sejarah, dinamis, dan selalu berupaya menamai realitas di sekelilingnya secara inheren, bebas dan terus menerus.
Mahasiswa senior, menyusun konsep OSPEK berdasarkan pemikiran yang terbentuk akibat pengalaman-pengalamanya, dan kemudian diberikan kepada mahasiswa baru dalam bentuk modul-modul pendidikan, dan mahasiswa baru wajib menerimanya. Jika semua itu diberikan tanpa adanya klarifikasi dari mahasiswa baru, apakah mahasiswa baru memerlukan itu? atau sudahkah mahasiswa baru diberi ruang dialog untuk menentukan cocok tidaknya modul pendidikan itu? sudahkah konsep itu sesuai dengan karakteristik mahasiswa baru yang unik secara individu?, sudahkah mahasiswa baru diberi ruang untuk membuat keputusan tentang baik-buruk, benar-salah, dengan pemahaman mereka sendiri, bukan sesuai pemahaman senior. Ruang dan waktu antara senior-junior berbeda unsur pembentuknya, antara mahasiswa baru dari Irian dengan Ambon tentu saja akan memliki standar etika yang berbeda. Jika kampus adalah sebuah realitas yang baru, semestinya mahasiswa baru berhak menamai realitas baru itu sesuai dengan dirinya. Sangat tidak manusiawi jika senior memaksakan pemahamanya tentang dunia kampus terhadap mahasiswa baru dan menganggapnya sebagai "tabula rasa" yang kosong dan bisa diisi sekenanya. Karena menurut saya, setiap upaya pemaksaan realitas sama halnya dengan penyeragaman. Dan pemaksaan kehendak dengan tujuan apapun itu, sama halnya dengan penyangkalan terhadap latar belakang.
Karena setiap upaya pemaksaan dan penyangkalan latar belakang sangat erat dengan stagnansi pengetahuan, baik disadari ataupun tidak ketidak-tahuan ini berlanjut secara fatalistik akibat struktur relasi pengetahuan yang turun secara hirarkis. Lalu kemudian stagnansi tersebut diperparah melalui penolakan terhadap revisi, dengan dasar argumentasi bahwa konsep lama telah teruji oleh waktu dan yang baru belum tentu. Jika ketidak-tahuan, hirarki dan relasi dualisme antagonistik terus di lestarikan, sangat bisa di pastikan tidak akan ada perubahan apapun dalam narasi OSPEK tersebut, jika kemudian kita urutkan, hirarki teratas dalam struktur tersebut adalah angkatan lama? masihkah itu relevan dan kontekstual dengan kondisi saat ini? jangan-jangan kita hari ini masih terjebak dalam slogan-slogan kemahasiswaan lama yang sudah uzur?, Toh faktanya, senior yang menggembor-gemborkan kejayaan mahasiswa masa lalu itu juga belum tentu memahaminya, apalagi mengalaminya. Dari sekian slogan yang dilontarkan justru sebagian besar senior itu sendiri yang melanggarnya.
Tulisan saya ini tidak bermaksud mengabaikan peran senior, karena bagaimanapun mahasiswa baru memang benar-benar berhadapan dengan realitas yang mungkin asing bagi dirinya, tetapi justru bagaimana menyelesaikan relasi dualisme antagonistik yang menimbulkan jenjang ini?. Posisi senior menurut hemat saya seharusnya menjadi fasilitator, membantu mahasiswa baru mengenal dunia barunya, bukan sebaliknya malah melakukan tindakan judgmental benar-salah, baik-buruk sesuai versinya. Kedatangan mahasiswa baru alangkah bijaknya menjadi sebuah momentum pembaharuan, membuka ruang kesepakatan ulang atas norma-norma lama, pranata-pranata lama, momentum pemaknaan kembali secara kritis terhadap dunia kampus dan kemudian dunia secara keseluruhan. Saya membayangkan nantinya, relasi hirarkial senior-junior tak lagi ada dan menjadi relasi antar manusia yang setara, dimana di dalamnya terjadi hubungan dialogis, sebuah hubungan diskursus intersubyektif, yang mana di dalamnya terjadi relasi yang setara, senior bisa jadi junior dan begitulah sebaliknya. Disana tak lagi ada yang kehilangan kuasa sebagai individu untuk menjadi manusia yang bebas, diskursif dan kreatif. Sebuah relasi dialogis, yang didalamnya terjadi penamaan-penamaan baru terhadap realitas dengan tujuan pemaknaan kembali terhadap ruang dan waktu yang berjalan dinamis. Sebuah hubungan dimana dunia adalah hamparan realitas yang mengantarai antar subyek manusia baik dan menjadikanya setara.
Saya yakin betul bahwa tidak semua kampus memiliki OSPEK yang ciri-cirinya seperti di atas, tetapi yang perlu saya tegaskan disini adalah bahwa OSPEK adalah sebuah media penting, yang didalamnya tidak bebas nilai, ada citra kuasa yang tersirat di dalamnya, upaya apapun itu, baik halus maupun kasar, setiap tindakan anti-dialogis dan penyangkalan terhadap upaya kritis dan kreatif, adalah tindakan tidak memanusiakan manusia.