Seiring matahari terbit seperti biasanya
Dengan sinar yang sama, tujuan yang sama, dan kesetiaan yang sama
Disaat itu pula mungkin penduduk semesta tak pernah menyadari
Bahwa kehadirannya selalu dinanti, membawa manfaat, tapi tak jarang menjadi hal yang paling ditakuti..
Sebab seiring berputarnya ia ke posisi yang sama di jam yang sama
Disaat itu pula lah kita menyadari bahwa hari berganti, takaran waktu di dunia semakin mendekati kata akhir
Entah karena dunia dan seisinya nampak lebih berwarna warni
Atau mungkin memang hati yang tak kunjung dinasehati
Bahwa apa apa yang kita jalani hari ini
Semua akan diminta pertanggung jawabannya oleh Sang Ilahi
Celakanya aku, kamu, dan kita, mudah lupa tentang semua ini
Hari ini kugenapkan sebuah buku yang mengajarkan ku tentang hal sederhana dalam diri. Karya Kang Zein Permana dengan judul "Saatnya Curhat dan Mengungkap Diri". Tentang berbagai perasaan yang kini satu persatu kutemui ilhamnya.
Ternyata ada lima rasa yang Allah izinkan didunia ini untuk dipergilirkan kita cicipi.
Pertama, Ia berwujud senang, sedih, marah, takut, dan jijik. Lima emosi dasar ini tentunya bukan diciptakan untuk kita pilih menjadi satu satunya perasaan yang hadir dalam hidup kita, atau bahkan kita harap perasaan lainnya dapat musnah seutuhnya dan tak pernah kembali lagi.
Ia mewarnai hari sebagai tanda bahwa kita telah cukup dengan apa yang kita miliki dan capai, sehingga kita kemudian bersyukur atas semua itu. Rasa bahagia yang kita miliki adalah tanda bahwa seharusnya kita waspada, tidak berlebihan atasnya dan terlena.
Selanjutnya ada rasa takut. Rasa takut menyelimuti hati kita sebagai tanda bahwa ada hal hal yang tidak kita inginkan. Ia hadir sebagai tanda bahwa sepatutnya kita waspada, sehingga kita menjadi pribadi yang siap siaga atas apa yang akan terjadi. Di lain hal rasa takut membuat jiwa kita kuat, sebab bersamanya ada kekuatan baru lahir yang siap mengawal sesuatu yang ditakuti. Rasa takut membuat kita bersiap siap dan menjadi pribadi yang bertumbuh.
Dibelahan perasaan lainnya, ada jenis perasaan bernama Marah. Ia hadir sebagai bentuk frustasi atas hal hal yang belum bisa diraih, saat ekspektasi tidak sesuai dengan realita. Saat kemauan kita tidak terpenuhi oleh keadaan. Saat ketidakadilan dirasakan oleh diri sendiri maupun orang orang tersayang. Rasa marah pun mengajarkan kita untuk kembali menyadari prinsip apa yang kita pegang. Menjadi referensi utama bagaimana etika yang baik dalam memberi perlakuan. Dengannya kita bertumbuh menjadi pribadi yang sabar dalam ambisi, mimpi, dan perjuangan. Tentu melatih diri untuk menjadi pribadi yang sabar..
Keempat, perasaan Jijik. Perasaan ini pun terkadang hadir disaat yang diduga maupu tak terduga. Ketika bertemu dengan hal hal yang merusak dan mengotori diri. Ia hadir sebagai tanda bahwa sesuatu itu jauh dari kata kerapian, keindahan, kebersihan. Disatu sisi sebagai proteksi bagi diri dari perbuatan yang tercela.
Dan yang terakhir, di momentum berharga maupun sebaliknya,ada rasa sedih yang hadir menghampiri dengan pelan-pelan. Ia hadir saat keinginan tidak terpenuhi. Saat sesuatu yang kita cintai pergi, disaat kita menginginkan kehadirannya ada disamping kita. Merasa sedih mengajarkan kira betapa pentingnya hati untuk diisi dengan serangkaian kegiatan positif. Merasa sedih pun membawa kita kepada alam sadar bahwa sesuatu yang harus di re-charge kembali, memenuhi rongga rongga isi hati.
Menjadi manusia tentu akan genap dengan serangkaian perasaan itu. Sesungguhnya semua jenis rasa hadir di hidup kita memang bukan untuk dipilih dan dihindari. Keberadaannya hadir bergilir, mendewasakan jiwa kita. Menguatkan hati-hati kita.
Maka nikmatilah setiap rasa yang Allah gilirkan kepada kita melalui skenario hidup yang penuh warna.
Ia menjadi bagian dari kenikmatan yang setiap hari menjadi penguat iman didalam diri. Membuka diri untuk siap disinggahi berbagai rasa. Mengontrol diri sebagai satu satunya instrumen tetap membuat pribadi yang lebih stabil.
Menggantungkan perasaan hanya boleh kepada Zat yang menciptakan rasa dan tentu sendiri. Sebab kita lah yang diamanahi olehnya berbagai jenis rasa ini. Kelolalah sebaik mungkin agar ia membawa manfaat yang sebesar-besarnya dan keburukan sekecil-kecilnya.
Bukankah apa apa yang kita miliki akan dipertanggung jawabkan dihadapannya kelak?
Lantas, bagaimana dengan amanah yang ada didalam setiap perasaan. Siapkah kita?