Tepat di 22.00, aku putuskan untuk duduk di teras belakang rumah, berdiri melihat kanan kiri, duduk menikmati sunyi beriring banyak suara hewan berlagu lirih. Damai ya ternyata. Lagi—lagi kepikiran, masa iya aku harus mati meninggalkan banyak hal indah secepat ini? Dunia jahat banget ya mah, kenapa bahagia padaku semuanya fana.








