Menyedihkan sekali aku,
Merenungi merancang hal-hal yang aku senangi di kemudian hari, namun semesta tidak mengizinkan ku untuk mewujudkan nya.

❣ Chile in a Photography ❣
Keni

JVL
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Three Goblin Art

Product Placement
art blog(derogatory)
noise dept.
styofa doing anything
trying on a metaphor

@theartofmadeline
todays bird

tannertan36

祝日 / Permanent Vacation
Cosmic Funnies

Kiana Khansmith
Misplaced Lens Cap
Show & Tell

★
Stranger Things
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States

seen from Hungary
seen from France

seen from United States
seen from United States
seen from Australia

seen from South Korea

seen from Netherlands

seen from United States

seen from Australia
seen from Sweden
seen from United States

seen from Australia
seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from Indonesia
@katasandinyalupaa
Menyedihkan sekali aku,
Merenungi merancang hal-hal yang aku senangi di kemudian hari, namun semesta tidak mengizinkan ku untuk mewujudkan nya.
Aku hanya ingin berbuat baik, berpikir lebih baik, hidup lebih baik, mencintai lebih baik, menjadi lebih baik, itu saja. 🙂
Berceritalah kepadaku tentang hari-harimu, siapa tau esok atau lusa takdir tidak mempertemukan kita lagi.
Bercerita
Hubungan kami bukan karena rasa yang pudar melainkan karena keadaan, ada hal-hal yang tidak bisa kami jelaskan dan kami memilih untuk berpisah dengan baik-baik. Sampai beberapa bulan kemudian aku mendengar kabar bahwa dia sudah bersama orang lain namun aku tidak marah hanya saja hatiku belum selesai belajar tentang penerimaan.
Sekarang, bertahun tahun setelahnya dia masih sering mampir di pikiranku, tidak hanya menunggu waktu lenggang dia muncul saat aku sekedar menutup mata, saat aku hendak tidur dan bahkan di tengah-tengah kesibukanku.
Seolah tidak ada pintu yang benar-benar aku tutup. Aku masih ingat wajahnya, suaranya, cara nya memandangku dan setiap detik saat itu terasa biasa-biasa saja ternyata punya dampak yang luar biasa.
Ini bukan bercerita tentang seseorang yang telah menghilang namun ini tentang seseorang yang tetap tinggal di dalam kepalaku, di ingatanku, di rasa yang entah kapan akan reda, tentang rumah yang pernah kami bangun, tapi tidak pernah kami tempati lagi.
Aku tidak munafik, namun jujur aku yang sekarang sudah banyak berubahnya, entah itu respect sama orang, jarang percaya sama orang walaupun dulunya sedekat nadi sekalipun.
Karena sekarang aku merasa di dalam kondisi apapun dan seterpuruk apapun itu, aku hanya akan mendapat pertolongan dari diri sendiri dan bayang diri sendiri yang selalu menemani.
lagi-lagi aku harus berkompromi dengan diriku sendiri, dengan versi diriku yang bahkan sudah tidak bisa aku kenali lagi. rasanya tubuh ini bukan lagi milikku, aku kehilangan banyak hal, ingatan, kebiasaan, bahkan rasa tentang siapa sebenarnya aku, semua itu terasa begitu berat, tapi aku tidak bisa menghindarinya.
Hai... Aku tidak pernah membencimu, tidak juga marah terhadapmu. Hanya saja aku sedikit tidak paham, kamu begitu mudah melanjutkan hidupmu. Sedangkan aku masih tercekik oleh luka yang belum menemukan sembuhnya.
Kita membutuhkan seseorang yang bisa di ajak kerja sama merancang skenario:
Tentang berbagi cerita bagaimana jika salah satu dari kita memimpin negri, berbicara tentang masalah viral, filsafat, kenapa semut di panggil "semut", membahas sejarah kenapa ban belakang dan ban depan gak pernah berdekatan, dan mungkin pembahasan tentang alien pernah pilek atau gak.
-bukan berhenti hanya pada fantasi liar seputar masa depan cinta yang bullshit saja.
Aku sebenarnya sedang merindukan siapa atau merindukan apa?
Mereka bertanya apa gunanya membaca buku, menulis, memotret dan menonton. Seketika aku membisu, tak ingin bersuara untuk mengatakannya. Mereka hanya ingin memaksaku meninggalkan buku, pena dan sinemasastra.
Tuntutan mereka adalah remote, yang ingin aku berpasrah pada keinginan mereka saja, lalu aku berprilaku seperti robot agar tidak di teriaki durhaka karena mengabaikan inginnya mereka.
Tentu jelas aku tidak akan kehilangan masa depanku setelah menuruti permintaannya untuk meninggalkan yang aku sukai demi mengikuti yang mereka sukai, tapi yang jelas terlihat aku kehilangan diriku sendiri.
Malam ini ku telan kembali pill perpisahan itu, di tangan satunya aku menyimpannya sebagai pengikhlasan.
Mau bagaimana pun bentuknya perpisahan selalu menjadi hal yang menyakitiku.
Terimakasih sudah menemaniku, perpisahan ini aku simpan rapi di ruang khusus. Agar nanti aku kembali melihatnya lagi aku bisa meneguk pill pengikhlasan ini.
Kenapa aku tidak begitu takut prihal kehilangan?
Sebab sudah terlalu banyak hilang yang aku ikhlaskan, di hidupku kehilangan adalah akrab. Jadi siapapun yang ingin pergi dan menghilang dariku, aku permudah jalannya.
Kadang aku berbisik bertanya pelan, bukan tentang kenapa aku selalu gagal. Namun kenapa setiap kali hampir sampai semesta seperti menarikku kembali dan bilang "belum waktunya".
Begitu banyak peran yang bersemayam di dalam diri ini, hingga sulit membedakan antara rasa sakit atau rasa lelah.
Hanya karena aku terlihat mampu menanggungnya, bukan berarti beban itu ringan.
Aku adalah jalan buntu.
Jangan mengenaliku terlalu dalam, cukup apa yang di lihat saja. Sebab ketika kamu mengenaliku lebih jauh, kamu hanya akan putar balik.
Mungkin baginya, aku tidak perlu penjelasan karena sejak awal kami bukan apa-apa bukan pacar, bukan hts, hanya sesuatu yang tidak pernah di beri nama.
Dan sekarang aku hampir baik-baik aja, aku tertawa di depan orang, berkata aku sudah lupa dengan ringan perlahan dalam diam.
Tapi diam-diam juga aku memohon pembelaan kepada semesta, bukan agar dia kembali tapi agar aku benar-benar bisa melepaskannya, ini upaya terakhirku untuk menyelamatkan diriku dari rasa sakit yang tidak ku namai, seperti dia yang namanya enggan ku sebut.