Sementara ini aku tidak bekerja di dalam kamar. Tapi aku lebih tidak berguna saat diluar ruang itu, lebih tidak bernafas karena hujan terlalu rapat. Aku memegangi pintu, duduk diantara gerbang angin-angin. Lampu nya bergoyang, di rentang pagar. Mungkin merindukanmu sampai dibawahnya.
"Sayang malam ini aku ingin menceritakan sedikit soal bagaimana namaku dibawa oleh pelupuk musim hujan."
Kataku pada seseorang yang sibuk dengan tinta pena dan putih-putih kertas yang rusak. Sekarang aku jauh mengenal tulang tulang yang ditanam Tuhan sebelum debu pertamaku ditiup.
Namun mereka terlalu ngilu di malam hari dan aku sempat terjaga. Karena sungai-sungai begitu keruh malam itu. Selanjutnya aku keluar untuk memastikan kembang api meludah, pada sisa sepatu yang masih di ubin pintu. Namun aku hanya duduk, menjaga agar tak ada jam dinding yang tiba-tiba kehabisan baterai.
tulang-tulangku berkemas melanjutkan waktu, karena katanya januari mengilhami anggur-anggur gratis. Kita bisa terjaga sampai pukul 2 pagi, kira-kira seperti itu. Untuk tulang-tulang yang dahaga, aku menyeduh bisu terompet pada masam tenggukan ludah. namun belum jam dua belas. Bagaimana ini?
Tapi sudah terlalu tenggelam, hingga kopi dan nikotin paman di utara jalan, tega melunasi kuasa alam. Akan bentuk balas-balas kehilangan. Katanya hari terlalu cepat basi. Sudah terlalu menopang kelopak, karena mataku cerewet mempertanyakan kenapa dingin mengeriput lalu menggigit.
Di pukul dua belas tulang-tulang itu menghilang menjadi ucapan selamat malam.
iya, aku sudah tidak tertarik pada tulang yang membawaku ke halaman. Mereka sudah tak bernafas. Karena mereka tak meminjamkan insang yang membawaku pada genang agak surut. Percuma, terlalu kering untuk mulutku yang ingin cepat sampai hilir.
Jadi aku meninggalkan beberapa belikat, lalu mengetik warta Selamat malam sayang. Kita mengguraukan kios-kios rupak dan stampel mesin mesin motor, namun suaramu tercekik ketika tertawa. Jadi aku meninggalkan beberapa rangka dada. Tetapi beberapa lagu kehilangan abjadnya dan pada akhirnya satu petikan menjadi pilihan, aku mengutip tanpa parafrasa. Katanya "tak mampu diungkapkan dengan kata-kata". Oh, makannya aku meninggalkan rahang-rahangku sebentar. Lalu kita menggeser tanda seru untuk ajakan mengisi lumbung-lumbung air di selatan sana. Atau berjalan ke timur untuk lebih banyak menghirup asap solar, kataku.
Karenanya, sedikit tulang hidung aku singkirkan, rasanya ingin mencium manis beberapa pompa susu di bengkel kopi. Disana mungkin aku akan sedikit rendah diri pada sepasang kucing dan jejak anjing kelaparan.
Sayang aku mengupas tulang-tulang itu, semuanya. Meninggalkannya di persimpangan waktu subuh . Karena tak ada garis penyeberangan dan tiang pemberhentian, nanti akan diambil oleh petugas jalan, sepertinya. Lalu kita melanjutkan perjalanan, hingga pukul 2 pagi.
Sayang tulang-tulangku telah habis. Sekarang genap angka 1 di permulaan masehi. Lalu aku menulis beberapa kalimat untuk nanti aku rekatkan, menjadi tulang-tulang muda. Kalanya aku akan meminta banyak baterai jam dan kata pengantar, untuk aku sertakan sebagai sendi. Agar tidak akan ada ujung hari dan ngilu di malam hari. Agar nama kita diberangkatkan pagi yang sama suatu masa nanti.
P.s suatu hari di angka satu♡