"Lihatlah puisi ku berantakan, kata-kata sudah menyerah menjabarkan lukaku, biar aku menyusuri takdirku sendiri, tak perlu ada tentangmu; lagi."
Misplaced Lens Cap
Xuebing Du
No title available

No title available
taylor price

No title available
todays bird
h
$LAYYYTER
No title available

Product Placement

ellievsbear
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

pixel skylines

JBB: An Artblog!
NASA

Love Begins

oozey mess
cherry valley forever
we're not kids anymore.

seen from United States

seen from Japan
seen from United States
seen from United States

seen from T1
seen from Vietnam

seen from China

seen from United Kingdom

seen from Bulgaria
seen from Lithuania

seen from Malaysia

seen from South Korea

seen from United States

seen from Indonesia

seen from United States

seen from Italy

seen from Japan
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from South Africa
@by-u
"Lihatlah puisi ku berantakan, kata-kata sudah menyerah menjabarkan lukaku, biar aku menyusuri takdirku sendiri, tak perlu ada tentangmu; lagi."
Selamat datang Juni !! Semoga pada Juni kali ini, tak pernah kutemukan alasan untuk mati, jadi kumohon Juni; beri aku manusia-manusia terbaikmu pada bulan ini..
Sampai detik ini pun kau menjadi seseorang yang ingin ku ajak segalanya!!!
Jika bukan diri sendiri yang memeluk luka ini; lalu siapa lagi?
Tuhan, aku tidak akan meminta siapapun lagi dalam hidupku. Namun jika ada yang memintaku dan dia baik, maka kabulkanlah doanya.
Ada orang mampu move on dengan cara melupakan, tapi penulis?
Penulis tidak benar-benar melepaskan, kerana setiap rasa yang pernah singgah, akan hidup semula dalam tulisannya.
Orang lain mungkin sudah lama pergi, sudah bahagia dengan hidup baru, sudah tidak lagi memikirkan tentang apa yang pernah terjadi.
Tetapi si penulis… masih menyimpan semuanya di celah ayat, di balik metafora, di dalam perenggan yang ditulis lewat malam saat seluruh dunia sedang tidur.
Dan mungkin itu takdir paling menyakitkan bagi seorang penulis dia tidak hanya mengingati seseorang, dia mengabadikannya.
Perasaan itu mungkin akan pudar sedikit demi sedikit. Lukanya mungkin tidak lagi berdarah seperti dulu. Tetapi kenangan itu? ia akan tetap tinggal.
Kerana once rasa itu sudah menjadi tulisan, ia tidak lagi hidup hanya di dalam hati. Ia sudah menjadi sesuatu yang kekal.
Dan suatu hari nanti, walaupun penulis itu sudah tiada, tulisannya masih akan dibaca. Masih akan disentuh hati-hati manusia lain.
Dan di situlah, cinta yang tidak pernah benar-benar dilepaskan itu… akan terus hidup.
Setelah hampir 2 tahunan ini menyusuri seluk beluk kota Surabaya, ternyata banyak hal ataupun tempat-tempat baru yang ingin ku lewati dan ku kunjungi; denganmu.
Mungkin ini hanya akan menjadi wacana saja, tersebab masing-masing dari kita sudah berpulang pada rumah yang berbeda. Eh.. kagak Ding.. kamu aja yang sudah menemukan rumah baru. Lalu aku?? Ah.. sudahlah...
Perasaan hampa dan kosong itu, beberapa hari bahkan beberapa Minggu ini menggerogoti ragaku, aku tak tahu apa yang sepenuhnya terjadi, semuanya nampak samar dan abu-abu, yang ada hanya.. aku merasa semakin kosong dan makin pilu.
Gak tau kenapa tiba-tiba suka dengerin lagu ini, udah berminggu-minggu pula dengerinnya.
Jarum jam berputar kian curam, menuju pagi yang membuatku tenggelam pada kenang-kenang malam yang kelam. Disini; di waktu yang lebih dari dini hari, aku masih mencoba menerka apa maksud dari semua ini? Akankah ada bahagia yang akan kujumpai menjelang pagi? Ataukah hanya ada sedih yang harus ku ratapi esok pagi?
Menahan diri untuk tidak mencarimu itu ternyata jauh lebih melelahkan daripada mencintaimu sendirian. Aku sibuk berdebat dengan kepalaku sendiri, meyakinkan hati bahwa namaku memang sudah tidak ada lagi di dalam daftar orang yang kamu tunggu kabarnya.
Aku sengaja menjauh, melipat rindu rapat-rapat, dan pura-pura sibuk dengan duniaku yang sebenarnya terasa kosong. Karena aku tahu, satu sapaan dariku hanya akan mengganggu tenangmu, dan aku lebih memilih sesak sendirian daripada harus melihatmu merasa terbebani oleh kehadiranku.
Jadi, biarkan di sini aku tetap diam. Menonton harimu dari jarak yang paling aman, tanpa perlu kamu tahu betapa berisiknya jempolku yang berkali-kali batal mengirimkan kata rindu.
Memang aku semenyedihkan itu untuk di kasihani ya??
Selamat hari raya untukmu,
Maafkan lika liku luka aku yang menyakitimu,
Semoga lara pilu patah hati segera terobati.
Mari sama-sama kembali menuju diri yang Fitri,
Menepis semua segala ego dan gengsi.
Saling memperbaiki, saling sadar diri.
Hai jun, ternyata kau tak salah dalam memilih jalan, dibanding dengan aku, kulihat hidupmu jauh lebih asik dan menawan. Bahagia selalu Juni-ku, aku selalu memandangmu dari kejauhan.
Ada cinta yang tidak selesai oleh waktu, tidak tunduk pada perpisahan, dan tidak gentar pada kematian. Cinta yang bahkan dari bawah tanah sekalipun, masih sanggup bangkit hanya karena satu nama dipanggil.
Mahmoud Darwish
Hanya Tulisan
Mas
Bolehkah aku menjadi adikmu? Kan kubantu kau untuk melewati setiap fase kesulitan hidupmu. Kelak, kamu tidak perlu takut berbagi cerita denganku. Sebab aku akan menyiapkan kedua telingah dan perasaanku untuk setia mendengar ceritamu.
Mas.
Bolehkah aku memanggilmu dengan leluasa? Sebanyak kata yang tak sempat kulantunkan dalam bait doa-doa kita. Kau tersenyum setiap kali aku memanggilmu, sebab aku paham betul bahwa kau lebih senang aku memanggilmu dengan panggilan itu bila harus dengan panggilan ‘sayang’.
Aku paham, setiap laki-laki punya caranya sendiri dalam mengungkapkan panggilan sayangnya. Dan aku bahagia, setiap kali kau bahagia.
Ya, sebab aku adalah adikmu. Aku merasakan setiap perasaan yang kau rasa. Jangan tanya mengapa, sebab jauh sebelum kita bersama. Kau lebih tahu alasannya.
Mas.
Jangan lupa sholat tepat waktu di masjid ya. Sebab aku adikmu, dan sudah menjadi kewajibanku mengingatkanmu.
Aku tidak akan mengingatkanmu sudah makan apa belum, sebab perutmu akan berteriak jika sudah waktunya. Tapi untuk sholat tepat waktu di masjid, perut manusia tidak akan pernah berteriak meminta untuk melaksanakannya.
Jangan pernah bosan ya, jangan pernah lagi bertanya kenapa. Terlihat kejam katanya, tapi demikianlah bentuk cinta. Percayalah, aku mencintaimu. Jangan tanya lagi karna apa. Kau pun sudah tahu jawabannya :)
Mas.
Kau bosan ya?
Maaf ya, jika selama menjadi adikmu aku selalu mengulang-ulang perkataanku. Hal itu kulakukan semata karna aku takut setiap kataku ada yang menyakiti hatimu.
Sudah sholatkah, sudah baca Al-Qur'ankah, sudah menelpon/ berbakti pada bapak ibu kah, sudah melakukan kebaikan hari inikah, dan pengulangan kata yang menurut orang itu membosankan.
Jangan pernah bosan, ya mas. Jangan pernah lupa dengan kesepakatan kita. Kita telah bersepakat untuk membersamai, untuk tidak sungkan menasehati, untuk tumbuh dan menua nanti dalam kebaikan sampai surga tentunya.
Mas,
Kita ke surga bersama kan? Itu janji yang kupegang darimu, itu kata-kata yang membuatku luluh dan akhirnya memilihmu.
Mas..
Barangkali itu panggilan sayangku padamu. Aku tidak akan memanggilmu selain pada itu. Tidak dengan sayang, cinta, manis, lelakiku, abang, kakak, ayah ataupun abi.
Bagiku, panggilan ‘mas’ itu manis. Sudah mewakili semuanya. Hormat, santun, cinta, sayang, dan baktiku nantinya. Jika, takdir-Nya menyatukan kita.
Mas.
Aku malu (emoticon malu). Aku malu, sebab sampai detik menuliskan ini aku tidak tahu kamu itu seperti apa. Ya semoga, kamu adalah apa yang aku semogakan, bapak ibu harapkan.
Mas, aku menuliskan ini di penghujung Ramadhan 1439 H. Ini bagian salah satu doa-doa kebaikan. Bukan hanya doaku saja untukmu, tapi ada pula doa bapak ibu, saudara kandung, ipar, sepupu, dan teman-temanku untuk kebersamaan kita.
Aku tidak tahu, ingin menuliskan apa di jurnal Ramadhan menulis kali ini. Yang aku tahu hanya satu mas, memohonkan.
Memohonkan agar Dia mengampuni dan merahmati kita di bulan ini. Sebab celakalah kita, jika kita keluar di bulan Ramadhan namun rahmat dan ampunan Allah tidak kita dapatkan.
Mas, sebentar lagi ramadhan pergi. Sedih? Jelas. Dan ku rasa kita sedang merasakan perasaan yang sama saat ini, kehilangan.
Mas.
Jika kelak kamu membaca tulisan ini. Kamu jangan malu ya, berbahagialah. Sebab ada wanita yang begitu tulus mengabadikanmu dalam tulisannya. Dan itu, aku, adikmu.
Tertanda adikmu.
Wanita cantik yang kamu cintai karna-Nya..
Penghujung Ramadhan 1439 H ||
Mas, halo :))
Tulisan ini aku tulis di tanggal 7 Juni 2018. Siapa yang menyangka bahwa ditahun berikutnya, Allaah mempertemukan kita dan bersatu dalam perjanjian yang agung bernama pernikahan. Sesuatu yang paling aku doakan kala itu dan paling aku syukuri saat ini.
Kau, tahu mas? Nggak tahu kali ya kalau aku lebih sering menulis tentang kamu disini. Dari yang tersirat sampai yang jelas. Entah kenapa, ketika aku menulis tentangmu rasanya seperti tiada habis kosa kata ini *ehem (sambil senyum-senyum).
Mas, ternyata aku pernah selebay ini ya dalam menulis, saat ini masih sih. Cuman kadarnya masih bisa dimaklumi (tertawa).
Aku masih inget banget kala pertama kali seusai kamu mengucapkan ijab qabul seraya menjabat tangan Bapak. Usai itu untuk pertama kalinya aku memegang tangan laki-laki. Jangan tanya bagaimana perasaanku, menulisnya pun akan terasa sangat panjang dan mungkin tak ada ujungnya. Untuk pertama kalinya itu aku memanggilmu dengan panggilan “Mas”.
Panggilan yang tak pernah aku pakai untuk siapapun kecuali kepadamu. Kepada yang lain, aku hanya memanggilnya “kak” atau panggilan “pak” agar tetap dalam koridor kesopanan. Panggilan “Mas” itu aku simpan untuk kamu sebagai suami, pasangan hidup dan definisi yang lain yang tidak bisa ku tuliskan.
Mas, semoga pernikahan ini Allaah ridha sebagai pernikahan yang sakinah, mawaddah, dan wa rahmah ya. Yang saling bertumbuh dan saling mengandalkannsatu sama lain dalam kebaikan. Sehidup, sesurga bersama ya, Mas.. aamiin..:“
Semoga tulisan ini tetap aku bisa baca sampai nanti usia panjang pernikahan kita.
Tertanda, teman hidupmu..
Juli'23
menuliskan itu di penghujung Ramadhan 1439 H dan sekarang masih di awal Ramadhan 1447 H.
Mas, ini adalah Ramadhan tahun ke 6 kita telah lalui berdua. terimakasih untuk hatimu yang begitu sabar. mas dan Bapak adalah dua orang yang abadi di laman tumblrku. aku sangat bersyukur Allaah karuniahkan kalian hadir dalam hidupku. semoga Allaah membalas kebaikan kalian dengan sebaik-baik balasan. semoga kelak kita bisa berkumpul kembali di SurgaNya.
Mas, sampai saat ini aku masih senang dengan panggilan itu. akupun terkadang masih malu-malu memanggil mu dengan panggilan “mas”. apalagi didepan banyak orang :D rasanya seperti baru kemarin aku bertemu denganmu dan rasanya masih sama seperti pertama kali memanggilmu.
Mas, aku pikir aku akan selalu bisa mengingatkanmu untuk tidak lupa sholat di masjid, membaca Al-Qur'an dan menelpon bapak ibu untuk berbakti kepada keduanya. rupanya justru mas sendiri yang sering mengingatkanku hal-hal demikian, dan aku menyukainya.
kau tahu, mas, apa yang paling aku syukuri? aku sangat bersyukur Allaah takdirkan mas untuk memilihku sebagai pendampingmu. sebagaimana doamu untukku, sehidup sesurga bersama.
mas, aku sungguh-sungguh berdoa untukmu. Semoga Allaah selalu memperbaiki mu, memperbaiki niatmu, memperbaiki apa yang ada pada dirimu untuk tetap berada di jalan menujuNya. karena engkau milik Allaah, dan hanya Allaah sebaik-baik penjagaan.
Mas, sebagaimana aku menuliskan mu dengan detail dan mendoakan mu dengan sungguh-sungguh. semoga di Ramadhan tahun berikutnya 1448 H, Allaah karuniahkan kita keturunan yang sholih untuk kita berdua, ya. Allaah jaga keluarga kita selalu dalam ketaatan.
mas, aku berdoa untuk kebahagiaanmu, semoga Allaah karuniahkan kesehatan dan kebahagiaan selalu untukmu. sebab sebaik-baik mencintai adalah dengan mendoakan mu selalu. dan kabarnya, doa-doa baik akan kembali kepada yang mendoakan pula. sekali lagi terimakasih untuk semua kebaikanmu.
mas, kamu abadi dalam tulisan-tulisanku. jika suatu saat nanti Allah takdirkan engkau membaca tulisan-tulisanku, semoga engkau tidak malu yaa 🙂↕️.
yang mencintaimu karena Allaah, 6 Ramadhan 1447 H || 22.47
Barangkali kan kutemukan kau di antara waktu sahur menuju imsak, kau yang dengan sedikit mengantuk menyantap hidangan, sedang aku masih terjaga merawat kenangan.
Tak tergesa-gesa melahap apa yang dihidangkan, tersebab waktu diantara kita hanyalah sebatas harap yang tak pernah disemogakan.