Soepiniku
Assalamualaikum ya ahli Surga (Amin). Kembali lagi bersama ogut alias saya. Sebelumnya, izinkan saya membersihkan sarang laba-laba dan menghapus post-post depresi di blog ini *smirk*. Walaupun saya kira depresi akan menghilang seiring bertambahnya usia dan ternyata saya salah, namun memang usia dan pengalaman membantu saya dalam meng-handle rasa kadang-pengen-mati-aja ini. Well, let’s face it. Hampir semua manusia pasti pernah berada di titik “Kapan sih gue senengnya?” Bukan, bukannya ngga bersyukur, tapi kadang lupa aja bersyukur. Astaghfirullahaladzim.
Okay, sudah tentang depresinya. Mari kita fokus dengan cara menanganinya. Jadi, post ini akan didedikasikan kepada diri saya sendiri, setelah kehilangan yangtie (Nenek) yang paling saya sayangi.
Yangtie Soepini, cintaku, meninggal tanggal 8-10-2019. Tak ada yang menyangka, karena kematian memanglah takdir Allah. Tak ada yang menyangka pula, yangtie meninggal di saat latihan keroncong dan saat giliran menyanyi. Mik yang dipegangnya jatuh, dan yangtieku pingsan. Lalu, menuju tiada.
Saat di bawa ke rumah sakit dipangku tante, tante masih merasakan nafas hangat yangtie di bawah hidungnya. Namun, saat tiba di rumah sakit, oleh dokter yang sudah memberinya CPR, yangtie dinyatakan meninggal. Wow. Begitu cepat. Begitu mudah. Begitu tidak merepotkan. Seperti doa dan keinginannya. Tidak ingin merepotkan orang lain. Terkabul.
Meninggal itu bagaimana, sih? Meninggal, meninggalkan raganya, keluarganya, teman-temannya, dan dunia ini. Melanjutkan ke dunia berikutnya. Kira-kira, yangtie sedang apa dan sudah sampai mana ya? Hadir di mimpi kami saja tidak. Sepertinya, sudah mantap benar buat meninggal dunia. Yang pasti, harapan untuk bertemu yangtie masih ada.
Tuhanku di kitab-Nya menulis tentang Surga ‘Adn di surat Ar-rad ayat 23, “(yaitu) surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.”
Masalahnya cuma satu, bisa ngga kami masuk situ? Wallahu ‘alam. Allah yang lebih tahu. Manusia hanya bisa berdoa dan berusaha. Tuhan yang menentukan hasilnya.
Sekarang, tokoh utama yang mengingatkan saya sholat tidak ada. Orang yang dulu merawat saya ketika saya kecil dan orang tua saya sibuk, sudah tidak ada. Yang menggantikan popok saya setelah saya kecelakaan waktu kuliah dan harus bedrest selama seminggu sudah tidak ada. Yang menyuapi saya ketika saya sakit, setua apa pun saya, sudah tidak ada. Salah satu orang penting yang memarahi saya karena suka males2an dan mendoakan saya untuk segera dapat jodoh, sudah tidak ada. Nantinya, kalau saya menikah inshaAllah, dia tidak akan menyaksikannya. Padahal, saya ingin melihat dia terharu karena doanya terkabul.
Sepulang dari Madiun dan kembali ke Jakarta, rasanya ada yang kosong. Karena memang, dia yang mengisi hati sudah pergi. Tapi, tetap saja tak ada yang bisa mengisi lubang bekasnya.
Innalillahi wainna ilaihi rojiun. You are Allah’s, and to Him you’re going back.









