Sebelum aku menulis lebih banyak, mari biarkan aku bercerita perihal ini.
Beberapa pertanyaan dan keterkejutan muncul ketika aku memutuskan untuk menikah. Pasalnya, mungkin beberapa orang melihatku sebagai perempuan independen yang menjunjung tinggi feminisme. Atau sebagai manusia bebas yang tidak ingin terikat pada hal semacam perjanjian seumur hidup. Pun ada yang mengira bahwa aku memiliki idealisme kuat dan berambisi untuk mengejar pendidikan lebih dari apapun. Well, sepertinya aku harus mengecewakan pemikiran semacam itu, karena, di sini lah aku, berdiri di altar tanpa mengindahkan apa yang mereka anggap tentangku.
Jadi, bagaimana yang terjadi padaku? Mari, perbolehkan aku sedikit bercerita.
Pertama-tama, mari kita establish sosokku sebagai karakter yang biasa saja. Aku bukan villain, bukan juga pahlawan. Setidaknya dalam ceritaku sendiri. Visualisasikan seseorang yang diam berdiri di tengah keramaian, orang berlalu lalang, dan kendaraan yang saling berkejaran. Itu aku.
Pakaianku biasa saja. Aku bukan orang yang paling baik atau paling taat dalam menjalankan agamaku, tapi aku ingin sekali mampu. Pakaianku biasa saja. Aku berusaha menutup bagian-bagian tubuh yang diperintahkan oleh agamaku untuk menutupnya. Belum sempurna caraku melakukannya. Penampilanku mungkin mengecoh orang-orang dari bagaimana caraku berpikir, bagaimana aku berprinsip, dan apa yang menjadi keseharian perilakuku. Pada dasarnya, yang kuinginkan dalam hidup adalah untuk menjadi manusia yang tepat porsi.
Ya. Itu aku. Sedang dengan impulsif berdandan seperti Fikri Kariri, pria yang memasangkan cincinnya di jariku bulan Agustus lalu.
Kurasa itu cukup sebagai pembuka dalam apa yang ingin kusampaikan tentang pemikiranku ketika ada yang bertanya tentang, “mengapa kamu menikah?” dan selingkar pertanyaan lain mengenai, “apa sih, idealnya tujuan menikah itu?”.
Perihal pandanganku, tentang keputusanku untuk menikah.
Bukan, aku bukan feminis. Kalimat itu semoga menjadi pembuka yang cukup tentang bagaimana aku memandang diriku sebagai perempuan. Segala cara pandangku tentang perempuan berdasar pada apa yang agamaku ajarkan padaku. Itu saja yang perlu kukatakan.
Tujuan ideal menikah? Aku tidak tahu. Yang aku tahu, tujuanku menikah adalah untuk beribadah. Terdengar cliché? Tapi ketika aku mendalami pemikiran itu, banyak hal yang mengejutkan dan menguatkanku.
Ketakutan untuk menikah pernah melingkar-lingkar di kepalaku. Bagaimana jika pernikahan tidak seindah yang kubayangkan? Bagaimana jika aku selalu beradu argumen dengan pasanganku? Bagaimana jika aku tidak bisa menjadi diriku sendiri? Bagaimana jika aku lalai dalam mendidik anak-anakku? Dan, bagaimana jika aku tidak bahagia?
Pertanyaan-pertanyaan itu semakin terasah oleh rasa trauma yang aku alami ketika menjalin hubungan kasih dengan orang yang bersamaku sebelum kehadiran Fikri. Bahkan, ketika pertama kali Fikri menyatakan keseriusannya padaku, aku menolaknya. Tapi, dasar gigih--atau keras kepala--Fikri tidak menyerah untuk ada untukku. Ia membantuku melalui masa-masa sulit itu, hingga pada akhirnya, aku pun mantap untuk berkata ‘ya’ padanya.
Lalu, apa yang menggerakkan otot bibirku untuk mengeluarkan jawaban itu?
Segala ketakutanku lenyap ketika aku menyadari bahwa hidup adalah dari-Nya, untuk-Nya dan milik-Nya. Maka, aku tidak lagi khawatir tentang apa yang akan terjadi padaku nanti. Aku hanya ingin beribadah, dan dalam berlaku baik tentu akan bertemu masalah dan kesulitan. Jika pun nantinya aku bertemu rintangan dalam perjalanan pernikahanku, itu semua adalah bagaimana Allah menyayangiku dan ingin aku ‘naik kelas’.
Tidak jarang aku melihat dan mendengar cerita yang beraneka ragam tentang bagaimana orang-orang bertemu dengan ujian dalam rumah tangganya. Tentu itu menakutiku pada awalnya. Tapi, ketika aku mengembalikan semua pikiranku kepada Allah, hatiku kembali merasa lapang dan tenang.
Semua itu tidak terlepas dari kedua orang tuaku yang selalu menanamkan untuk selalu kembali pada-Nya, dan hanya pada-Nya kita mempercayakan segala sesuatu. Untuk tidak meragukan janji-Nya, dan untuk selalu berserah.
Itu lah bagaimana aku memutuskan. Itu lah bagaimana akhirnya aku dalam hitungan detik merasa bebas untuk berkata ‘ya’. Lepas dari semua ketakutan dan ‘bagaimana kalau’ yang beragam.
“Pernikahan itu berat. Ibarat kata, kita sedang ‘mencari masalah’, karena dalam menikah, isinya hanya masalah saja,” kata Fikri ketika menyatakan keseriusannya pada awal pertama dulu. “Tapi, itu caranya supaya kita naik kelas. Sebagai manusia, dan sebagai hamba.”
“Menikah adalah bukan perintah Mama, bukan kata Papa, bukan tuntutan di masyarakat. Menikah adalah perintah dari Allah sendiri. Jangan sepelekan,” kata Mama suatu ketika.
Kebahagiaan, ketenangan, adalah bonus yang Allah berikan ketika kita memilih untuk menjalankan perintah-Nya. Mereka bukan tujuan. Mereka fana. Bukankan tidak ada yang tahu apa arti kebahagiaan yang sesungguhnyai?
Karena, jika kebahagiaan yang dicari dari sebuah pernikahan, nantinya kita akan dikecewakan pada kesimpang-siuran dari makna bahagia itu sendiri. Apa itu bahagia? Sampai saat ini pun aku tidak tahu. Fikri pun tidak. Ia masih saja melontarkan pertanyaan yang sama. Tapi, semua perasaan tenang dan damai yang dihibahkan oleh Allah selama menjalani pernikahan adalah pecahan surga atas ketaatan kita pada salah satu perintah-Nya. Dan masalah yang datang di dalamnya adalah cara-Nya untuk mendekatkan kita surga yang sesungguhnya.
Sesederhana itu aku memandang pernikahan. Seyakin itu aku menjawab, bahwa yang ingin aku cari dari pernikahan adalah satu saja:
(Safiera, 03 Oktober 2020)