Ah, kau itu sudah memiliki kekasih. Mengapa juga masih risau pada jaket mana yang akan menghangatkanku malam ini atau adakah sambal untuk menemani lauk yang akan aku makan. Jangan lagi berdusta, nona. Kejujuran itu harusnya kau tahu. Toh, kau sering berbelanja di tenda hijau. Di sana, kejujuran dijual murah karena produk lokal yang satu itu adalah barang loakan yang tidak disukai kalangan elit. Kita memang miskin, tapi belum mau mati. Jadi, apa pun yang bisa membuat hidup, termasuk kejujuran, akan kita beli.
Coba resapi, nona, kata-kataku ini. Bukankah itu yang kau harapkan untuk menjadi pengantar tidur bagi anak-anakmu nanti? Kalau itu benar, kau harus baca kisah si Rangkong. Ceritakan pada anakmu nanti, biar ia tahu makna kesetiaan bukan hanya perihal selalu ada, tapi juga perihal selalu cinta.
Tubuh kita yang dulu selalu bersentuhan, mungkin telah lupa bagaimana rasanya menciptakan getar yang berdebar. Degup jantungmu, dengarlah dengan saksama. Tolong, dengarlah dahulu. Adakah itu mendenyut namaku?
Jika tidak, maka akuilah bahwa kau merindukanku. Kau telah lupa bagaimana menyebut namaku dengan benar. Karena kalau kau tahu jalan kembali kepada sebuah ucapan, kau akan mengerti arti perjanjian; dikukuhkan oleh angin yang menjadi meterai dan tidak bisa dicabut.
Kecuali jika, kau benar ingin untuk meninggalkan apa yang pernah kau dapatkan. Tapi tentu itu memang bukan perkara yang sulit. Toh, yang namanya kepergian, adalah jalan yang sering ditempuh banyak orang. Juga sejak kecil, kita telah diajari bagaimana caranya berlari, termasuk berlari dari kenangan walau sering lupa untuk tidak terjatuh.
Sekarang, mungkin hatimu tengah mati lampu. Kau tak bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi di depan matamu. Namun kau dengar, bahwa ada kebisingan keadaan akibat pemadam kebakaran terus membunyikan sirene untuk memadamkan gemuruh gairah dalam hatimu. Hati-hati, nona. Karena kebakaran, bukan hanya menghanguskan tapi juga penderitaan.
Nona manis, kau memang telah memiliki kekasih. Tapi sungguh, aku tidak mau peduli apa kata masa depan karena masa depan itu – bisu.
Hanya masa lalu yang banyak bicara. Ia kerap mengganggu malam bahkan pagi sibukmu. Di sela-sela kalimat yang sedang kau baca ini, bukankah kau menatap sesuatu yang orang sering sebut sebagai kenangan? Coba henti sejenak. Bayangkan bagaimana aku menuliskan ini semua. Tentu kau tahu, karena kau adalah kata-kata itu sendiri. Dan oleh karena itu, kau tentu tidak keberatan untuk menceritakan kepada orang-orang di sekitarmu, bahwa kau pernah dicintai dengan hebat, oleh aku.