Agustus benar-benar darderdor tanpa henti menyerang kehidupanku. Dari satu kegiatan besar ke kegiatan besar berikutnya. Sampai-sampai aku di titik mau mati karena merasa nggak sanggup. Tapi, perkara kesanggupan bukan hak kita untuk menentukannya. Allah kan memang sudah kasih jatahnya sesuai kesanggupan masing-masing. Makanya aku memilih lari daripada ingin mati.
Di tengah-tengah momen pe-"lari"-anku itu, ada satu momen di mana aku menangis setelah lari. Kukira segala residu emosiku jadi reda setelah lari, ternyata dia masih bisa tumpah ruah di taman firdaus. Aku capek. Benar-benar capek.
Kehidupan di titik itu terasa sangat berat. Lebih-lebih dari yang sudah-sudah. Aku merasa sangat terbebani dengan beratnya amanah di pundak. Sampai-sampai rasanya lari jadi satu-satunya solusi supaya aku nggak beneran lari dari kenyataan. Waktu itu aku berpikir apakah ini saatnya aku menyelesaikan petualangan seru dan mendebarkan yang selama ini aku agung-agungkan itu? Aku benar-benar ingin pulang.
Dan berlalulah Agustus dengan segala huru-haranya. Tanggal 31 Agustus jam 4 sebelum subuh tiba-tiba aku harus mengantar seorang adik ke UGD di Kuala Lumpur karena sakit gigi tak tertahankan. Berat sekali jadi seorang penanggung jawab. Aku takut tapi aku nggak boleh takut. Tentu saja aku harus bertanggung jawab, dan aku bertanggung jawab. Alhamdulillah ala kulli hal, itu sudah terlalui. Satu dari sekian banyak drama kehidupan yang terjadi. Pergi ke Rumah Sakit di Luar Negeri itu menyeramkan, tau. Apresiasi untuk diriku, keren banget sudah berani dan melaluinya.
Setelah sampai di penginapan aku telfon mama. Udah mau nangis tapi aku cerita dulu segala huru-hara dan bilang jadi akan pulang. Qadarullah visaku tertolak untuk ke Jepang jadi aku bisa pulang ke Surabaya. Setelah telfon, aku nangis sejadi-jadinya di balkon waktu itu.
Hari terakhir, hampir selesai. Setelah ini terlewati semuanya. Rasa lelahku mulai terlihat ujungnya. Sejujurnya aku senang pulang ke Surabaya. Karena buatku, Jepang nggak pernah kuniatkan sebagai liburan yang sambil menyelam minum air. Dari awal segala huru-hara ini, kalau bisa dari awal aku nggak ikut aku nggak mau ikut. Haha. Kalau bisa aku nggak handle acara ini ya aku nggak mau handle. Capek banget banget banget. Makanya kalau ada orang yang nanya atau ngobrol soal keseruannya, selalu kujawab satu paket sama kepusingannya. Sejujurnya, aku sih banyakan pusingnya daripada serunya. Semoga yang lain masih merasa banyak serunya dibanding pusingnya. Dan semoga nggak terlalu pusing dan tentunya nggak terlalu sedih dengan ketidakhadiranku.
Tapi bener, aku juga banyak belajar. Poin utamanya soal manajemen perasaan, manajemen ekspektasi, pengambilan keputusan sulit, juga keberanian. Aku sering merasa sendirian padahal aku punya orang yang harusnya bisa aku andalkan. Aku khawatir soal delegasi tugas karena aku merasa nggak cukup bagus dalam hal itu. Tapi tekanan yang ada sudah begitu terlihat hilalnya dan nggak ada pilihan lain selain maju ke depan.
Setelah ini, ayo kita atur lagi hidup ini pelan-pelan dan lebih tertata. Kita buat mimpi-mimpi baru sekaligus cara merealisasikannya. Dewasa berat, tapi lebih berat kalau nggak kita sikapi dengan dewasa.