Sampai hari ini pun ternyata aku masih inget tentang mimpi-mimpi kamu, yang mulai terwujud satu persatu.
DEAR READER
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
NASA

if i look back, i am lost
wallacepolsom
Sade Olutola

pixel skylines

No title available
$LAYYYTER

@theartofmadeline
No title available
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

Love Begins

izzy's playlists!

⁂
Jules of Nature
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Lint Roller? I Barely Know Her
will byers stan first human second
Game of Thrones Daily

seen from United States
seen from Kyrgyzstan
seen from Iraq
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from Venezuela

seen from Sri Lanka

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from France
seen from Belgium
seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from Argentina

seen from United States
@sandyakalaaa
Sampai hari ini pun ternyata aku masih inget tentang mimpi-mimpi kamu, yang mulai terwujud satu persatu.
Aku seharusnya marah, kepada Bapak yang tidak lagi menjadi tempatku bersandar setelah bayi kecil datang menempati hati kami yang isinya kehilangan.
Tapi bagaimana jika, saat itu Bapak hanya ingin menyembuhkan luka di hatinya setelah melewati duka yang panjang.
Aku seharusnya marah, kepada Bapak yang berubah kasar dan pemarah, memburu anak kecil dengan pisau di tangan kanannya.
Tapi bagaimana jika, anak kecil itu memang telah berbuat salah yang tidak termaafkan, meskipun bentuk kesalahannya tidak bisa ia ingat sampai sekarang.
Aku seharusnya marah, kepada Bapak yang berteriak bersiap memukul dengan payung bertangkai kayu hanya karena anak kecil menghadiri pesta ulang tahun saudara sepupunya.
Tapi bagaimana jika, Bapak hanya takut anak kecil itu diberitahukan hal-hal yang tidak seharusnya diketahuinya.
Aku seharusnya marah, kepada Bapak yang bersenda gurau bersama adik di ruang tengah tanpa sekalipun melihat ke arah anak kecil yang berdiam diri di dalam kamarnya.
Tapi bagaimana jika, Bapak hanya takut adik merasa tidak diberi kasih dan cinta yang cukup.
Aku seharusnya marah, kepada Bapak yang keluar rumah bersama adik, sementara ada anak kecil yang sedang sakit sendirian di rumah.
Tapi bagaimana jika, Bapak tidak tahu.
Aku seharusnya marah, kepada Bapak yang melempar bantal ke wajah anak kecil yang baru bangun tidur hingga ia mimisan.
Tapi bagaimana jika, Bapak tidak sengaja.
Aku seharusnya marah, kepada Bapak yang tidak lagi memeluk anak kecil yang telah berubah tatapannya kepadanya dari rasa cinta menjadi rasa takut.
Tapi bagaimana jika, Bapak hanya ingin anak kecil itu tumbuh kuat dan menjadi seorang kakak yang baik.
Aku seharusnya marah, kepada Bapak yang penuh amarah melarang anak kecil bermain bersama yang lain.
Tapi bagaimana jika, Bapak hanya takut anak kecil itu tumbuh dengan tidak mencintai adiknya.
Bapak, aku seharusnya marah. Tidak, bukan karena semua hal yang menyakitkan itu. Tapi karena banyaknya tidak percaya dalam kepalamu.
Padahal meski harus berkorban peluk yang tidak kuingat hangatnya, dengan sepenuh hati aku akan menjadi kakak yang mencintainya, dia akan bersamaku sampai usiaku berhenti.
Bapak tidak perlu khawatir.
capek, capek sekali sama diri sendiri. tapi sudah tau capek, ngeluh capeknya cuma bisa ke diri sendiri, jadinya kek lingkaran setan aja terus. ndak ada jawaban pun kalau-kalau ada yang bertanya kapan bisa berhenti capek.
huftt
capek
lawan diri sendiri
berbaikan sama diri sendiri
seberapapun dalamnya kecewa, pedihnya hati yang telah dia buat terluka, dan meski hatiku sudah tidak kupahami lagi bentuknya seperti apa, aku tetap ingin Bapak hidup dengan baik-baik saja.
“mau sholat di mana? nanti ndak dapat sholatnya”
“mau makan apa, coto atau nasi campur?”
aku terus menerus, setiap hari, meyakinkan anak kecil yang bersembunyi, Bapak sudah berubah jadi baik.
Terima kasih yang belum sempat sampai;
Kepada paman yang tanpa dia sadari, telah menyelamatkan seorang anak kecil yang tidak ingat rasanya dicintai. Dunianya bergerak pelan ketika tangannya digenggam erat sambil menyusuri sebuah toko di kota Sabah, sesekali bahunya dirangkul agar tubuhnya mendekat. Anak kecil itu lupa, ia seharusnya membeli pakaian yang tebal karena cuaca mulai terasa dingin. Tetapi, genggaman yang mengisi penuh sela jari-jarinya sudah lebih dulu menghangatkan hatinya.
Kepada nenek yang telah tenang di sisi Allah. Setelah melewati hari yang penuh marah dan makian, ucapannya kemudian berhasil bermukim hingga hari ini. Mungkin karena dulu, itu hal yang paling ingin ia dengar. Mungkin karena dulu, ia hanya bisa menyimpan sedih sendirian. Lalu ketika ada satu orang yang mengerti tanpa harus ia menjelaskan, luka di hatinya seperti disambut sebuah peluk yang panjang.
Kepada kakek yang belum lama berpulang. Dia tidak perlu khawatir, ada anak cucu yang bersedia bersaksi untuknya. Mungkin karena ucapan doanya menjadi salah satu hal yang ditunggu setiap tahunnya. Atau karena ia telah menyirami mimpi yang berusaha dilupakannya dengan air sejuk, dengan kelopak bunga warna-warni. Mimpi yang bisu tanpa suara, dengan redup-redup cahayanya.
Kepada teman baik yang mengisi peran seorang kakak. Mungkin karena akhirnya, ia menemukan seseorang yang bersedia menyimpan seluruh cerita hidup yang ia punya. Menemani dan menangis bersamanya. Meski dia kini sudah tidak duduk dalam perannya, tetapi karena dia, beberapa waktu di dalam hidupnya, terasa lebih tenang.
when ppl one by one arrived on their goals at your age but you just got diagnosed with ptsd. now, we are autoimmune&ptsd.
i am feeling like i want to stop living my life.
Rentang
Allaah, aku sedang tidak berlari. Tapi entah mengapa aku merasa orang-orang sedang berlari jauuh mengejar mimpinya. aku tak sedang kehilangan mimpiku, aku hanya sedang memastikan apakah aku berlari atau hanya cukup dengan berjalan saja.
aku sedang tidak berlari namun entah dibagian mana aku merasa begitu kelelahan dengan apa yang sedang ku rasakan saat ini. aku ingin tahu mengapa demikian, namun aku tak pernah mengetahui.
aku berjalan dan terus berjalan pada sebuah kekosongan diriku. ku temukan diriku kuyup penuh dengan air mata. Menangis tersebab banyak hal yang tidak bisa ku selesaikan dengan baik. Menangis tersebab banyak hal yang tak bisa ku capai. Dan menangis tersebab banyak hal yang terlewat.
Hal yang seperti diriku, apakah ada yang demikian? aku pun tak tahu. aku hanya sedang menikmati masa lelah dan ingin memahami mengapa aku begitu lelah. aku ingin lebih dalam memahami diriku, namun selalu saja air mata yang ku temukan.
Semakin aku mencari tahu, aku semakin merasa tertinggal. Entah tertinggal tentang apa, aku hanya merasa demikian. Orang-orang di sekitarku mengira aku sedang mempersiapkan sesuatu yang besar dan hebat. Padahal, tidak. aku hanya berdiam diri, mencoba memahami perihal inginku yang tak jua ku temukan jawabannya.
Allaah, Engkau pun tahu aku dulu pernah sangat berambisi untuk mencapai mimpiku. Namun sesaat aku menyadari bahwa mimpiku terlalu mustahil untuk ku lakukan. aku menyadari itu dan mencoba hal-hal yang bisa ku upayakan sekalipun dengan upaya sederhana, sebisaku, semampuku.
Namun kali ini berbeda, Allaah. ku ceritakan segala hal detailnya tentang apa yang ku rasakan dan apa yang ingin aku capai. Semakin ku ceritakan kepada Engkau, tangisku semakin menjadi-jadi. Sesak,dan terasa sempit sekali. Namun setelahnya, aku merasa lega. aku tetap menjaga harapku, dan akan terus berdoa, meminta kepadaMu perihal apa yang ku inginkan saat ini. Dengan upaya yang maksimal diluar dari apa yang biasa ku upayakan. Engkau melihatnya. Setiap detik, setiap menit, selalu ku bawa dalam aktivitasku.
aku tidak sedang mendikte Engkau, Allaah. Tidak. Tidak berani aku. aku hanya mengungkapkan, menceritakan perihal apa yang sedang ku rasakan, perihal apa yang sedang ku inginkan. Impian yang sebelumnya tak pernah terpikirkan olehku. Izinkan aku bermimpi sekali lagi, Allaah. Izinkan aku mencapai mimpiku. Sebab sungguh, ini tidak hanya tentang diriku. Tapi tentang banyak hal yang nantinya akan mendapat banyak kebermanfaatan.
Tidak akan kembali dengan tangan kosong, seorang hamba yang meminta dengan sungguh-sungguh kepada Tuhannya. Tidak akan. Itulah keyakinan ku yang ku bawa selalu. Engkau, tidak akan menyia-nyiakan doaku. Sebab Engkau Maha Pengasih, Maha mengabulkan doa.
ثم يأتيك الله بسعادة ،ينسيك كل مرٍّ مررت به.
kemudian Allah memberikanmu kebahagiaan yg membuatmu lupa atas kepahitan yg kamu alami.
tadinya ku pikir, luka yang didapati sedari kecil boleh saja sembuh jika orang yang melukai menjadi seseorang yang lebih baik.
ternyata tidak. lantas siapa yang harus bertanggung jawab?
mungkin aku hanya sedih, sedikit malu dan tidak terima, menolak kenyataan bahwa kamu memang masih di situ. sudah delapan tahun berlalu dan ya, “i love you more”, I said.
-William Wordsworth
“Just because you don’t say much doesn’t mean people don’t notice you. It’s actually the quiet ones who often draw the most attention.”
— Amy Efaw
“You are worth finding. Worth knowing. Worth loving. You and all your one million layers. Always hold that close.”
— Danielle Doby
mungkin karena aku saking membosankan dan tidak menyenangkannya menjadi manusia, aku selalu jadi yang dilupakan, yang dikesampingkan, selalu jadi pilihan terakhir yang tidak pernah didahulukan. sedih, mau marah dan tidak terima berujung lelah sendirian.
mungkin karena aku terlalu peka atau sensitif atau apapun sebutannya. lucunya, aku selalu bisa tahu dan benar. dan ya, caraku agar tidak terluka adalah menguatkan hati dan membatasi diri.
mungkin ini juga jadi alasan kenapa setiap kali tau ada orang yang mengutamakan aku, atau stand up for me, aku menangis. wkakakaka :’)
YANG TERJADI SETELAH DIA PERGI
aku memaklumi keputusan yang dia ambil, memaklumi dia yang sudah berubah, memaklumi dia yang tidak bisa seperti dulu lagi.
aku merasa tidak perlu untuk sampai harus membenci hanya karena dia pergi, meski aku jadi tidak punya teman untuk bercerita lagi.
aku yang merasa cukup dia pernah singgah dan membantu banyak, ingin terus baik kepada dia, berdoa banyak semoga selalu dilimpahkan bahagia, dilindungi di manapun dia.
tapi, sudah berkali-kali dia membuat aku merasa bingung dan sedih. setiap kali aku mencoba melempar sapa, dia hanya membalas dengan senyum tipis tanpa lengkungan mata.
setiap kali aku mencoba memberitahu banyak, dia membatasi ruang bicara. setiap kali aku mencoba tetap di satu ruangan yang sama, dia selalu punya alasan untuk lebih dulu pergi entah ke mana.
aku sejak dulu membentuk satu pikiran yang isinya berputar-putar, “aku harus terus baik, dia pernah menjadi bagian hidup dan sudah temani segala takutku”.
tapi, apakah aku bisa terus memaklumi perlakuan itu? apakah aku pantas menerima sikapnya yang dingin dan terasa begitu asing itu?
jika aku bisa bertanya,
sebenarnya, apa alasannya pergi?
aku bertanya bukan karena ingin kembali, tapi karena setelah dia pergi begitu saja, aku terus mengutuk diri karena merasa tidak pernah menjadi cukup untuk seseorang.
terus menyalahkan diri,
enggan memulai,
menolak percaya siapapun lagi.
tidur menjadi menakutkan;
segera setelah tertidur, seluruh hal yang ku khawatirkan menjelma adegan-adegan tidak menyenangkan. seperti sudah menunggu sejak lama, satu per satu berputar di depan mata. begitu jelas, terasa nyata, seperti siap membunuhku kapan saja.
i am so proud looking at the version of me who can be so brave about what’s hers, argue and fight for it.
but at the same time i know very well i can be this kind of person because no one ever did that for me.
saya pikir setelah konsul pertama, saya sudah mulai membaik. tapi, tadi malam saya tiba-tiba terbangun lagi dengan dada sesak penuh dengan rasa takut.
degup jantungku bisa kudengar jelas. kesedihan-kesedihan yang sudah kulewati sendiri, juga hal-hal tidak menyenangkan yang telah ku coba siasati seperti perlahan membunuh saya yang belajar berbesar hati sekali lagi.
rasa takut mulai mengisi kepala, saya tidak mendapati airmata di pipi tapi napas tidak kunjung bisa ku perbaiki.
lalu pelan-pelan, ku peluk tubuhku sendiri sambil mengulang ucap “tidak apa-apa, kamu tidak apa-apa”
saya masih mencoba mengatur napas. entah kenapa kali ini rasanya agak lama sampai saya mulai berpikir mungkin akan tiba di tempat lain dan tidak kembali.
saya tidak ingat kapan tepatnya saya berhasil terlelap lagi. besok harinya, hatiku terasa kosong hilang isi. sadar ternyata sudah separah itu, dan saya belum sepenuhnya baik-baik saja.