Pria Favorit
Pria ini selalu membawa hal-hal yang menyenangkan untuk saya.
Es krim ketika panas menyengat, walaupun dia ingin menikmatinya juga. Berbagi satu untuk berdua.
Bacaan baru dari toko buku, walaupun dia tetap ingin jadi yang pertama ketika membacanya.
Mie goreng kesukaan dari tungku panas di pojok sebuah kota, dengan suapan pertama untuknya juga.
Tapi keras kepalanya, sifat menutup dirinya yang kadang tak terduga membuat saya harus menebak-nebak apa kesukaannya.
Saya pernah membuatkan semangkup sup ikan yang menjadi favoritnya, namun saya malah lupa menggunakan ikan penuh duri. Hingga sampai saat ini dia tak ingin menyentuh sup ikan buatan saya lagi.
Akhirnya saya tak pernah mengusiknya lagi dengan masakan saya. Sampai ketika dia mengatakan ingin dimasakkan lagi. Saya senang sekali, dan memilih bahan-bahan terbaik dari supermarket terbesar di kota ini.
Hati-hati sekali saya mengolahnya. Tetap, tanpa bantuan siapapun. Saya ingin sup ikan ini akan menjadi yang spesial untuknya. Sup ikan yang akan membuatnya percaya bahwa saya telah belajar dari kesalahan yang lalu.
Saya ingin yang terbaik untuk sesuatu yang akan memasuki tubuhnya. Karena apa yang ada pada diri saya saat ini tak lepas dari perjuangannya menyenangkan saya selama ini. Ah, saya jadi rindu pada cara marahnya yang lucu, yang kemudian akan luluh ketika saya peluk.
Sup ikan saya sudah matang, namun saya belum punya mangkuk yang sempurna untuk menyajikannya. Sampai kemudian saya dengar, dia bilang tak apa. Dengan mangkuk yang bagus ataupun tidak, rasanya pasti sama. Asal tak sama dengan yang dulu. Dia percaya ini racikan terbaik dari tangan saya, dengan bahan-bahan istimewa yang saya pilih sendiri. Dia hanya ingin saya yakin bahwa sup ikan ini enak, meyakinkan diri saya sendiri, karena dia selalu berdiri di belakang keyakinan saya.
Sedikit berlebihan ketika mendengarnya berkata saya sudah bisa membuat restoran sup ikan sendiri. Sup ikan favoritnya pasti akan disukai semua orang, sayang jika hanya dia yang bisa menikmatinya, katanya.
Tidak semudah itu, pikir saya. Tapi tidak ada salahnya juga jika sup ikan kesukaannya ini mulai saya perkenalkan pada dunia luar.
Selamat menikmati sup ikannya, ayah.
Sup ikan terlezat untuk pria kesukaan.
Semoga rasa yang saya buat akan tetap seperti ini, dengan mangkuk yang lebih cantik ke depannya.
Terima kasih telah meyakinkan saya bahwa sup ini tak kalah lezat dengan buatan ibu.
Ijinkan saya mulai bergelut mesra dengan sup ikan ini. Sup ikan yang akan menjaga tangan saya untuk tetap memasak.











