Hari ini adalah hari Jumat. Sebuah pagi yang cerah bagi penghujung minggu yang sibuk bagi banyak orang. Ditemani angin pagi yang menyapu daun-daun ranting pohon di halaman rumah, betapa pagi yang hening, khidmat. Sekelompok orang berkumpul di sekitar rumah kami, menyiapkan semua peralatan berat yang dibutuhkan untuk meruntuhkan dinding tua keriput rumah kami. Saat itu pukul tujuh pagi dan waktu seperti bergerak mundur. Mundur dan terus mundur sampai zaman-zaman kejayaan kami…
Saat kau masuk, kau akan melihat orang-orang yang bertengger di penghujung lorong utama dekat pintu masuk. Entahlah, mereka hanya menatap kami. Atau berkali-kali memukulkan kepala mereka ke tubuh kami. Atau kau mungkin akan lebih tertarik kepada orang yang sedang berbicara denganku di sebelah kirimu. Ah, entahlah, memang semua orang disini unik-unik, eksentrik! Jika kau melangkah lebih dalam menuju rumah kami, di sebelah kanan, kau akan menemukan ruang rekreasi yang dilapisi lantai kayu dan permadani merah dengan temanku dengan cat putih. Ruangan ini dipenuhi oleh para orang tak sehat akal yang sedang mencoba menelan biji catur atau menggerakkannya sesuka mereka dan menciptakan permainan papan baru. Ruang rekreasi ini tidak lepas dengan stigma suster yang sangat penyabar dengan orang-orang ini. Entah mereka disiram oleh makanan yang telah dikunyah, diacuhkan, atau dibentak, para suster tidak akan membunuh mereka! Entahlah, aku tidak tahu apakah mereka hanya bodoh atau berempati yang keterlaluan.
Jika melirik di sebelah kiri, kau akan menemukan sebuah ruangan seperti kantin. Ruangannya sangat luas, mungkin seluas lapangan tenis dengan meja-meja panjang yang dipaku ke lantai. Ruangan ini biasa digunakan bagi mereka-mereka yang ingin makan pagi, siang, atau malam. Tiga waktu dalam sehari ini adalah waktu yang paling sulit bagi teman-temanku. Entah mereka dilempari makanan atau dijilati seperti makanan, pokoknya jijik! Tolong diingat aku dan teman-temanku adalah yang paling sabar di rumah ini. Para suster mungkin sabar, tapi kami tahu mereka menggerutu dan memaki setelah para orang gila itu tidur. Tentunya kami harus berterima kasih juga pada para suster dan penjaga, karena mereka selalu membantu menjinakkan orang-orang itu agar tidak melukai teman-temanku di ruang makan.
Jika kau berjalan lebih jauh lagi, terus dan terus jauh ke dalam rumah kami, kau akan menemukan sebuah pintu keluar menuju sebuah pekarangan yang lebih menyerupai padang rumput yang dibingkai dengan pohon-pohon besar yang tumbuh subur. Disana, kau akan menemukan sekelompok orang sakit jiwa yang berkeliaran bebas. Ada yang melukis. Ada yang hanya memandang ke kejauhan. Ada pula yang mungkin menghampirimu, mengelus pelan pundakmu dan menampar wajahmu sedetik kemudian. Atau mungkin kau lebih tertarik pada seorang anak yang memandangi dingin dirimu dari kejauhan di bawah pohon ek yang tumbuh subur di ujung pekarangan dekat tembok luar. Saking lekatnya dipandang, bulu kudukmu berdiri seperti ada yang mengintai dan ingin membunuhmu. Ah ya, itulah keadaan pekarangan kami, setidaknya itu yang kudengar dari mulut ke mulut, maklum, aku tidak bisa bergerak, karena terpaku di bagian depan rumah.
Di masa kejayaan rumah yang menampung orang yang tidak waras beserta dokter dan perawatnya ini, cukup tersohor sebagai tempat lahirnya ide-ide gila untuk menyembuhkan pasien. Entah itu menyiram pasien dengan air dari selang atau metode penyiksaan yang mencuci otak. Ah ya, kenangan yang indah. Aku ingat suatu sore di mana sebagian dari mereka di kumpulkan di ruang bawah tanah dan, percaya atau tidak, mereka semua dikurung selama berhari-hari, karena sudah membuat onar saat makan siang. Aku tidak tahu para penjaga melakukan apa, karena temanku di ruang bawah tanah menolak mentah-mentah untuk mengatakan bahkan mengingat kejadian sore itu.
Atau mungkin kau mau mendengar pengalaman pribadiku berhadapan dengan penghuni rumah ini. Suatu malam saat mati lampu, para penjaga, perawat dan dokter mempunyai ide untuk membawa pasien keluar untuk menikmati sunyi dan gelap gulitanya malam. Malam itu cerah, bulan sedikit tertutup awan dan angin tidak begitu kencang. Mereka semua keluar ke halaman depan melewatiku, namun seorang pasien justru menurunkan celananya dan membuat lubang di tubuh kayuku, gila! Dengan napas yang berat dan celana yang melorot ia dibawa ke ruang bawah tanah dan aku tidak melihatnya selama tiga hari! Pengalaman buruk juga menarik yang tidak akan pernah kulupakan. Ada pula cerita bagaimana seorang pasien menancapkan paku-paku ke tubuhku sambil menyanyikan lagu yang riang gembira. Ia lalu mencabut paku-paku itu dari tubuhku satu persatu dan menancapkannya lagi setelah semuanya terlepas! Gila kataku! Entahlah, ia tidak dengar.
Rumah kami pun tidak luput dari keberadaan sisi gelap yang mungkin tidak diketahui banyak orang. Di sebuah pagi buta, bahkan matahari pun belum menunjukkan batang hidungnya, terdengar suara decitan lantai kayu dari ruang bawah tanah. Terdengar seperti ada beberapa orang yang mondar-mandir dan bercakap-cakap disana. Selama beberapa menit, aku hanya bisa bergeming di depan rumah dan mendengarkan. Rupanya, seseorang sedang berbicara dengan kepala dokter di rumah kami di ruang bawah tanah. Sesaat, suasana menjadi tegang setelah mereka mulai beradu mulut dan volume suara mereka membesar. Tiba-tiba, ada suara hantaman keras dan seperti ada percikan air yang mengenai tembok ruang bawah tanah, lalu sunyi. Tiada suara lagi setelah beberapa menit, lalu ada suara seperti benda yang sedang diseret melalui tangga. Ada pula suara kaki menderap yang sedang menaiki tangga. Lalu ada suara itu lagi, lalu hening. Lalu ada suara hantaman yang ketiga, lalu hening lagi. Sebuah dilema yang aku hadapi, aku ingin berteriak, namun tak bisa. Aku ingin melihat, namun aku terpaku. Bergeming tak bersuara, aku hanya menunggu di bagian depan rumah. Rasa penasaranku terbayar setelah beberapa menit kemudian seorang pasien laki-laki yang berusia remaja menggeret Si kepala dokter yang wajahnya sudah tidak berbentuk manusia lagi. Seluruh bagian wajahnya memar tanpa bisa dikenali lagi. Matanya bengkak dan mengeluarkan darah. Aku hanya melihat satu telinga dan dari sisi lainnya hanya melihat darah yang mengalir perlahan ke lantai kayu. Hidungnya patah sambil mengeluarkan darah dan gigi bagian depannya sudah rontok semua. Kepalanya berpaling 180 derajat dengan mulut yang menganga sambil mengeluarkan darah yang masih kental. Pasien itu berhenti dan melihatku sebentar. Aku hanya bisa menutup mataku berharap ini semua cepat berakhir.
Sejurus kemudian, ia kembali melangkah pelan, layaknya ia ingin memastikan tidak ada yang terbangun atau tahu tentang perbuatan kejinya terhadap Si kepala dokter. Setelah meletakkan Si kepala dokter di lantai kayu yang dingin, ia membuka pintu depan rumah yang memang tidak pernah dikunci. Pelan ia putar kenop pintunya agar tidak mengeluarkan suara. Pelan sekali, bahkan suara napasnya lebih kentara dari suara decitan pintu yang terbuka. Setelah pintu depan terbuka, tubuh kaku si kepala dokter digeretnya lagi melewati pintu depan. Setelah sampai di teras depan, ada sebuah tangga yang memisahkan bangunan dengan halaman depan.
Dengan ancang-ancang, ia melempar Si kepala dokter ke tanah. Ia berjalan pelan ke dalam rumah dan mengambil kapak yang biasa digunakan untuk memotong kayu untuk perapian di ruang rekreasi. Dengan perlahan namun pasti, ia ayunkan kapak itu, lalu berkali-kali mencabik tubuh tak berdaya Si kepala dokter. Darahnya mengalir dari tiap koyakan yang dibuat oleh kapak. Sudah tidak ada bentuk manusia dari tubuh Si kepala dokter. Si laki-laki remaja itu melempar kapak itu jauh-jauh ke arah rumah dan menancap tepat di teras. Dengan ringan, ia melangkah semakin menjauh dari mayat tak karuan itu sambil terus menatap lekat kepada apa yang terlihat sebagai bangkai yang telah digerogoti oleh hewan kesetanan. Ia melihat rumah kami sekali lagi sebelum meninggalkan halaman depan dengan berlari kecil menuju jalan raya dan berbelok ke kiri ke arah perbatasan kota.
Setelah matahari terbit dan semua penjaga terbangun, mereka baru menemukan mayat Si kepala dokter. Ada yang muntah. Ada yang berteriak histeris. Ada pula yang hanya bergeming dengan tatapan kosong atau tatapan ketakutan menatapi mayatnya. Setelah kepala penjaga menelepon polisi, barulah mayat tersebut diamankan dan kasusnya diselidiki. Tidak ada yang menyalahkan rumah sakit jiwa kami karena tidak bisa menangani pasien yang psikopat, histeris terhadap sentuhan, dan seorang pencuri identitas. Terlepas dari itu, satu per satu staf di rumah kami berhenti bekerja dan berpindah tempat tinggal. Karena kekurangan staf dan atmosfer rumah yang selalu dirundung tekanan batin, pemerintah kota akhirnya merelokasi para pasien ke rumah sakit jiwa yang dikelola pemerintah.
Jadi, kita sampai disini. Karena bangunannya sudah tidak digunakan selama 10 tahun dan pemiliknya tidak diketahui keberadaannya, maka pemerintah memutuskan untuk merobohkannya dan membangun taman kota. Mungkin alasan lainnya adalah untuk menghilangkan sejarah kelam yang terjadi di tanah ini. Pada sore itu, pekerjaan pembongkaran yang sedang berlangsung dihentikan dan akan dilanjutkan keesokan harinya.
Selama akhir minggu dan hari Senin, tidak ada tanda-tanda pekerja kota yang akan mencabutku dari rumah ini. Pada hari Selasa pagi, banyak orang berkumpul di sekitar rumah. Mereka justru membongkar pembatas-pembatas dan mencabut rambu peringatan terkait pembongkaran. Alat-alat pengaman juga dilepas, namun rangka besi penahan konstruksi masih dibiarkan. Apa yang aku dengar dari percakapan para pekerja tersebut adalah bahwa rumah tersebut telah diserahkan pengelolaannya untuk dibuat panti asuhan.
Siang itu, sebuah mobil sedan hitam dengan plat nomor luar kota menepi dan berhenti di pinggir jalan. Seorang pria berusia hampir 30-an keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah rumah kami. Ia lalu masuk ke ruang depan dan menempelkan dahinya ke tubuhku, lalu berkata, “Akhirnya, aku kembali. Apa kau merindukanku? Tentu kita akan bersenang-senang lagi setelah aku menjadi kepala panti asuhan ini.” Ah ya, apa yang bisa kulakukan? Hanya bisa menatap dan menjadi saksi bisu. Hanya bisa menderita tanpa ada yang tahu. Hanya dinding bagi kesintingan yang dulu dan yang akan terjadi.