life is all about âchoiceâ
in every step of your life
bahkan sebelum kau sadar itu adalah sebuah pilihan, kau telah memutuskannya.
berapa banyak keputusan yang sudah kamu ambil selama hidupmu? adakah keputusan yang membuatmu menyesal? atau mungkin sangat bersyukur? atau mungkin kau belum sadar apa akibat dari pilihanmu itu.
sejak kecil kita selalu dihadapkan pada pilihan, mulai dari pilihan mau makan es krim atau permen? mau main sama teman baru atau tidak? mau berbagi makanan yang kamu miliki dengan saudaramu atau tidak?
aku hidup dalam keadaan bebas memilih, tak pernah di dikte harus begini dan begitu, beberapa kali mungkin disarankan untuk memilih pilihan mereka dan akupun sadar mereka memberikan pertimbangan sesuai dengan pengalaman mereka, i appreciate that, tapi sayapun sadar, entah pilihan itu saran dari mereka ataupun pilihan itu dari saya sendiri, satu satunya yang akan bertanggung jawab atas pilihan itu tidak lain dan tidak bukan adalah aku.
pilihan pertama terberat dalam hidupku mungkin adalah saat SD, dulu aku diasuh oleh kakak sepupu ku, dari balita hingga masuk Sekolah Dasar kelas 1, lalu mama memberikan pilihan padaku untuk pindah ke nenek, kata mama aku boleh menolak, tapi konsekuensinya akan tetap ada, sebagai anak umur 7 tahun aku sadar aku harus memilih pindah ke nenek untuk keberlangsungan hidupku yang lebih baik, kakak sepupu ku takkan sangggup terus menerus mengasuhku,kata mama akan lebih baik jika aku bersama nenek. sebagai manusia biasa, perpisahan akan selalu terasa menyakitkan dan sangat pedih. tapi itulah konsekuensi dari pilihan terberat pertama dalam hidupku, berpindah dari tempat bermainku, beratus ratus kilometer.
tiba masa saat aku harus pindah dari desa kecil itu ke kota. ya, anak kecil ini akan pindah dari desa itu, akan kuceritakan lain kali tentang kepindahanku. singkat cerita aku melanjutkan sekolah dasar di kota, dan ternyata tak lama lagi aku akan SMP, kembali lagi dihadapkan pada pilihan, mau SMP dimana? di SMP seperti kakakmu? waktu itu pilihan terasa mudah, aku mampu dan yakin pada diriku bahwa aku akan masuk di SMP itu, meskipun SMP itu adalha SMP Unggulan di kota ku, dan benar saja, bersekolah di SMP itu adalah salah satu momen terbahagia dalam hidupku, ternyata menjadi orang yang mampu dan percaya diri dengan pilihan kita sendiri sangat menenagkan, semua konsekuensi terasa ringan. bahagia dan bersyukur adalah dua kata yang mampu menggambarkan seluruh masa SMPku.
sampai saat semua harus berakhir, saat SMP pun aku yakin bahwa aku mampu dan percaya diri untuk bisa masuk di salah satu SMA Unggulan di kota itu, namun ternyata ada pilihan baru yang harus ku pertimbangkan, antara memaksakan keadaan bersekolah di sekolah unggulan itu dengan keadaan ekonomi yang pas pasan atau bersekolah di sebuah daerah yang cukup jauh dari kota agar napas mama tak tercekik untuk terus menopang hidupku.
panjang kali ini pertimbanganku, akankah kulepas sekolah unggulan itu? dan memang saatnya aku beradaptasi dengan kenyataan?
dan ternyata pilihan ku jatuh pada pilihan kedua, tak sulit untukku masuk di SMA itu, hanya bermodal beberapa lembar kertas sertifikat lomba yang pernah ku juarai, dan fualaah, aku sudah resmi jadi siswa sekolah itu, beda dengan perjuanagnku untuk masuk di SMA unggulan itu, butuh belajar hingga jam 3 pagi, setiap hari tanpa libur untukku mendapatkan nilai ujian nasional seperti itu agar bisa diterima, tapi ternyata nilai itu tidak juga terpakai, hanya jadi kenangan bahwa aku pernah berjuang sekeras itu masuk sma unggulan tapi tak jadi, sekarang terasa seperti lelucon.
pilihanku untuk sekolah di sma itu ternyata memiliki konsekuensi yang lebih berat, mungkin karena tempat itu bukan yang ada dalam hatiku, sampai hari ini pun tak bisa ku pungkiri ada penyesalan yang teramat dalam yang bila semakin ku tolak rasa penyesalan ini semakin nyata dia di hadapanku, semakin ku hindari semakin melekat dia di ingatanku. tapi toh semua itu juga sudah berlalu, aku tau ini semua adalah rencana Tuhan, dan jika semakin ku tolak akan semakin sakit hatiku. akupun tak ingin jadi orang yang munafik, yah setidaknya untuk dirku sendiri dan tulisan ini akhirnya aku berkata jujur tentang perasaan ini.
pilihan ini memiliki hasil yang sangat jauh bertolaj belakangn dengan pilihanku ketika memutuskan untuk smp dimana.
bersyukur dan sabar adalah dua kata yang menggambarkan keseluruhan masa SMA ku.
Sekarang aku kembali dihadapkan pada pilihan yang mungkin akan menjadi pilihan yang paling besar dalam hidupku karena pilihan ini adalah final bagaimana masa depanku nanti,
apakah aku akan kuliah di sulawesi selatan atau ke jawa?/////
jika pertanyaan ini diajukan beberapa tahun atau mungkin bulan yang lalu, aku akan dengan mantap menjawab, tentu saja kuliah di jawa.
tapi, sedikit kisah dari hikmah corona ini, membuatku kembail lagi dihdapakan pada pilihan menemani mama yang akan sendirian jika aku pergi atau kuliah di tempat dan lingkungan yang lebih baik?
sampai saat ini, pilihan itu belum final, masih sering berputar dipikiranku, haruskah kuturuti ego atau haruskah aku membalas budi saat ini?
apakah ego atau nurani yang menang?
banyak sebenarnya balas budi yang harusnya ku lakukan jika aku kuliah di sulawesi selatan, dari penebusan dosa menjadi relawan di korps, membantu adik adik yang akan lomba di makassar sampai membuat usahaku sendiri agar bisa mandiri secara finansial sebelum lulus kuliah.
atau haruskah aku kuliah di jawa, tempat yang katanya lebih mahsyur daripada di gerbang indonesia timur ini? tempat ku bisa hidup sendiri agar terbiasa mandiri?
semua jika dipikirkan akan selalu seimbang, bahkan smapai saat ini.
takutku jika kembali penyesalan yang memenuhi hari hari ku.
takutku jika konsekuensi tak mampu ku tangani.