Ahnaf kepeleset + kejedug pinggiran kamar mandi
Sekira jam 14.00, saya di kamar dengan rosyad dan ahnaf, saat ahnaf tiba2 lari keluar kamar. Sedetik kemudian terdengar suara gedebug keras. "Wadu, benda apa tuh yg jatuh?", pikir saya.
"UMIIIIIIIII" teriak ahnaf kencang sekali.
Saya tergopoh ke sumber suara.
Di depan kamar mandi, ahnaf menangis sambil memegang jidatnya yg benjol. Besar. Ada darah mengalir di sana.
"mas ahnaf nggak pakai celana, mau pipis? Dang pipis dulu, umi ambilkan es"
Ahnaf lalu pipis, sambil menangis meraung. Dia sentor dan cebok, lalu keluar kamar mandi.
Setelahnya, saya peluk dia yg masih meraung. Saya doakan kesembuhan untuknya. Saya lisankan kekhawatiran saya dan doa-doa saya untuknya. Alhamdulillaah, Rosyad nurut tidak digendong dulu. Saya jadi bisa fokus ke kakaknya.
"mas ahnaf tadi kepeleset?"
"iya. Aku tadi jalan cepet2 biar auratku nggak kelihatan" (ternyata dia lepas celana di kamar tidur dekat kamar mandi, baru lari ke kamar mandi)
"maasyaa Allah. Mas ahnaf sudah bagus berusaha tidak keliatan auratnya. Lha apa besok lagi celananya dilepasnya di kamar mandi aja?"
Ahnaf diam. Hanya menangis saja.
"mas ahnaf ini benjol besar banget, lho. Pasti sakit ya.. ini ada darahnya juga. Allahummasyfi mas ahnaf"
"umi aku nggak kenapa2 kan?" (Kayaknya dia khawatir bakal ada sesuatu sama kepalanya. Mungkin karena sering mendengar percakapan saya dan abinya seputar kasus2 pasien kami)
"mas ahnaf minta sama Allah ya biar disembuhkan.."
"huwaaaa huwaaa sakiiit sakiit"
"astaghfirullah.. astaghfirullah.."
"huwaa astaghfirullah.. huwaa.. umii aku nggak mau lagi ngomong benjol gedi" (sebelumnya, memang dia sering gimmick terbentur lalu bilang benjol gedi)
"mas ahnaf bilang yg baik aja ya, biar dikabulkan Allah juga yg baik"
"itu temenku yg bilang benjol gedi, umi"
"lha apa temennya dibilangin aja biar ga bilang benjol gedi lagi?"
"itu hf umi, yg bilang. Umi bilang aja ke kak an biar kak an bilang ke hf" (hf adalah putra kak an, guru di sekolah ahnaf)
"umi, ini darahnya udah berhenti?"
"berarti itu dari darah vena?"
"iya" (wow maasyaa Allah, batin saya)
"berarti ini darah kotor?"
"iya. Mas ahnaf tahu dari mana?
Maasyaa Allah, sepenggal kejadian yg bagi saya mengajarkan banyak hal. Bahwa anak bisa sewaktu-waktu pergi, entah apa sebabnya. Kalau Allah berkehendak, maka akan terjadi.
Allah lah yg berkuasa memberi sakit, dan Dia pula yg menyembuhkan. Mau dokter atau apapun profesi kita, kalau Allah belum berkehendak menyembuhkan, ya nggak akan sembuh.
Allah menjadikan anak 6 tahun itu sangat mudah menyerap informasi. Semoga Allah jadikan ia muslim ilmuwan, ulama yg berkah ilmunya, yg baik akhlaknya dan agamanya. Aamiin.