Jangan lakukan hal ini pada jomblo, yang kalian laukakan jahat ! (ala-ala cinta)
yaa disukuri aja dulu ...
berarti gak Baper? ya baperlah, ngeliat teman-teman udah gendong bayi atau lagi sibuk mempersiapkan kelahiran atau ada juga yang sedang mempersiapkan pernikahan, sedang saya akan menikah dengan siapa saya tidak tahu.
sebulan yang lalu saya bertemu dengan teman SMA, waktu sedang makan bakso dia bertanya
“kakak gua belom nikah pit”
“tapi lu udah ada calon?”
“dodol, itu alesannya bukan karena kakak lu belom nikah”
“hahahhahah” saya jawab dengan ketawa-ketawa aja :P
dulu waktu saya masih duduk di bangku SMA pernah saya berbagi mimpi dan cita-cita. cita-cita saya adalah menjadi istri shalihat dan menikah di usia muda. Rupanya hingga kini teman sekolah saya masih mengingatnya. Jadi, setiap saya bertemu mereka selalu ada pertanyaan “mana,lu katanya mau nikah muda?” mereka yang bertanya adalah mereka yang berencana menikah diusia 25 tahun tapi Allah menakdirkan mereka menikah lebih awal, yaaa manusia memang hanya bisa berencana, ketetapan ditangan Allah.
Saya pribadi sudah tidak terlalu ingat dengan mimpi saya itu ketika saya kuliah saya benar-benar hanya focus pada kuliah, lepas kuliah saya focus bekerja, jadi menikah tidak lagi menjadi prioritas utama saya, hingga akhirnya teman- teman terdekat saya hampir semua sudah menikah, tinggal lah saya sendiri yang mulau galau.
Sebenernya galaunya jomblo itu biasa aja tapi ketika orang-orang disekitar udah sering mempermasalahkan status kejombloannya kegalauan dan kebaperan bertambah, selama ini selain mengajar saya disibukan dengan beberapa organisasi jadi saya tidak terlalu memikirkan kapan menikah saya yakin rezeki, jodoh, dan kematian sudah Allah tetapkan yang saya bisa lakukan adalah mejalankan dengan sebaik baiknya peran saya saat ini, peran sebagai anak, sebagai guru, sebagai staff dan sebagai Hamba. Namun, rupanya ketenangan saya selalu mengusik orang-orang yang selalu bertanya.
“Nurul, lu kan setiap minggu ada acara, kok gak ada gitu yang nyantol?”
Duh pertanyaan macam apa ini?. Saya ikut organisasi ini itu bukan ikut kontak jodoh..
“Nurul, pacarnya yang mana sih? Kok gak pernah dikenalin?”
Ini pertanyaan apa lagi? Sejak kapan Nurul punya pacar bu ? siapa yang mau dikenalin
“Nurul, kamu harus sudah merencanakan pernikahan, minimal cari pacar lah dulu lah”
Ini ada lagi *tepok jidat*
Sebenarnya jika hanya pertanyaan-pertanyaan seperti itu saya masih nyaman-nyaman saja, saya berpikir mereka-mereka yang bertanya adalah mereka yang peduli dengan saya, namun ada kalanya mereka jadi menjengkelkan, so annoying.
“Nurul, Uda nasi padang masih jomblo noh” sambil ketawa-tawa
Sepertinya tidak boleh ada laki-laki yang terlihat single dihadapan mereka atau mereka akan mengkait-kaitkannya dengan saya. Satu waktu di sekolah memperingati isra dan mi’raj kala itu kami kedatangan penceramah yang masih muda, kontan guru-guru mulai beraksi yang menurut saya itu sangat mengganggu, apalagi untuk saya seorang perempuan.
Mereka mendorong saya agar mendapat perhatian dari sang ustadz, mulai dari cie-cie, sampaiketika ustadz mengajukan pertanyaan
“Siapa yang mau bertanya?”
Mereka menjawab “Nurul !!!!”
“Siapa yang hafal surat ini “
Mereka menjawab lagi “Nurul!!!”
Bahkan ada yang mengedit foto saya dan sang ustadz dan dikirimkan ke group whats app guru-guru. Astahgfirullah ~ kontan, hari itu saya jadi pusat perhatian
Ternyata tidak cukup sampai situ setelah acara selesai saya masih menjadi bulan-bulanan mereka, masih aja ada yang Tanya nurul gimana serius enggak, mau dikenalin enggak sambil dicie-cie, saat ini saya sudah ada dititik malas sekali menanggapi mereka, saya jawab “ enggak, bu enggak usah saya gak sreg” gak sreg sama cara mereka yang sok-sok jadi mak comblang. Tapi mereka masih mengkorek-korek informasi tentang si ustadz sampai ada seorang guru yang mendapat informasi lebih lengkap.
Saat itu kami guru-guru sedang makan siang lalu ada seorang guru yang berkata
“ Nurul, saya udah tanya-tanya ternyata ustadznya udah punya istri, yah nurul gak usah ya masa mau ngerebut suami orang” astaghfirullah~ saat itu saya marah banget.
“kan saya udah bilang saya gak mau, tapi kalian yang bersemangat banget sampe cari-cari informasi, udah kayak gini masa saya dibilang mau ngerebut suami orang” saya menjawab dengan jengkel.
Coba bayangkan saya tidak melakukan apa-apa tapi sampai ada kata-kata merebut suami orang, astaghfirullah~ jangan sampai kesendirian saya ini menjadi fitnah.
Ternyata usaha mereka untuk menjodoh-jodohkan saya belum selesai , saat ini ada sekolah swasta yang mengikuti ujian nasional di sekolah kami.
“Nurul ada guru yang masih muda, ganteng”
Banyaklah yang mereka bicarakan sampai satu ruangan guru tahu, aduh saya mulai risih lalu saya memutuskan keluar ruangan saat itu ada duru yang berteriak dari pojok ruangan “ Nurul kamu serius gak mau dikenalin?” coba bayangkan posisinya ruangan itu sedang ramai dan salah satu mereka bertanya sambil berteriak seperti itu, saya harus jawab apa ? dan yang paling menjengkelkan ada guru yang keluar dari perpus “ hahahha nurul-nurul, tadi kita-kita abis ngomongin kamu”
Whaaaat? Ini maksudnya apa?
Saya sama guru itu belum pernah bertemu secara langsung, tapi mereka sudah membicarakan saya dengan guru itu. Saya harus bilang apa?
Saya harus bilang perempuan itu punya harga diri dan kehormatan, tapi dengan cara mereka mencarikan saya jodoh dengan cara itu membuat harga diri saya terusik, coba bayangkan jika perkenalan itu tidak berhasil tapi semua orang sudah kadung tahu dan akan muncul ucapan “ itu-tuh yang dulu mau dikenalin” atau “itu-tuh bekas kecengannya Nurul” padahal saya tidak melakukan apa-apa, saya tidak menjalin apa-apa tapi saya punya bekas atau saya yang jadi bekas ?
Itulah yang saya pahami, kenapa proses taaruf itu amniah atau rahasia agar melindungi kehormatan kedua belah pihak agar jika prosesnya tidak berjalan lancar dan harus berhenti, tidak banyak orang yang menjadi komentator.
Sebenarnya saya tidak keberatan, jika memang mereka ingin mengenalkan sesorang kepada saya, asal mereka langsung bicara kepada saya atau mencari perantara yang bisa dipercaya bukannya teriak-teriak kesemua orang ingin mengenalkan saya kepada seseorang sedang saya sendiri belum tahu apa-apa.
Terlepas dari orang-orang yang menyebalkan atas status jomblo ini, saya patut bersyukur karena dalam lubuk hati saya masih ada syukur atas satus jomblo ini, berarti saya masih diberi kesempatan untuk berbakti kepada orang tua saya, seorang teman pernah mengatakan kepada saya “mungkin alasan samapi saat ini kita belum menikah karena kita belum benar-benar berbakti kepada ibu-bapak kita” so dalam waktu jomblo ini pergunakan waktu sebaik-baiknya untuk berbakti kepada orang tua, bayangkan jika nanti saya sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari orang tua tak bisa lagi kita berbakti seperti kita masih tinggal bersama.
Selain itu rasa syukur atas ke-jombloan ini karena berarti saya masih diberi kesempatan untuk belajar, belajar mempersiapkan diri menjadi seorang istri, belajar memahami hakikat pernikahan. Dulu, ketika SMA saya berfikir “enak yang kalo udah nikah boncengan, diantar jemput halal” jadi alasan saya ingin menikah muda adalah saya iri ketika zaman SMA teman-teman saya diantar jemput sama pacaranya, saya ingin tapi tahu itu haram, maka menikah adalah salah satu solusi. Namun seiring berjalannya waktu saya memahami bahwa menikah adalah ibadah, menikah karena Allah. Bukan semata kita suka dengan seseorang dan ingin bebas bersama dia tanpa rasa takut dosa.
“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” (Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaaburi di dalam dua kitab Shahih, yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang).
Jadi jika saya menikah seperti niat saya dulu, mungkin saya mendapatkannya. Saya bisa bebas skinship tanpa takui dosa, tapi bisa jadi saya hanya dapat itu tok, beda cerita ketika saya meniatkan menikah karena Allah maka menikahnya saya mendapatkan legalitas untuk melakukan apa yang dulu diharamkan untuk saya dan juga mendapat keridhaan Allah.
Maka biyarkan saya menikmati waktu saya memperbaiki niat, memperbaiki diri.