Hai, kamu.
Terima kasih sudah menjadi seorang yang penyayang, menjadi yang paling mengerti, yang mampu menerima semua kurangku, karena kalau hanya lebihku, orang lain juga melakukan itu.
Terima kasih sudah menjadi hangatnya peluk, nyamannya rumah, dan telinga yang siap mendengar setiap ocehanku di hari-hari yang terlalu pelik untuk dilewati sendiri.
Terima kasih karenamu aku tau artinya pulang, karenamu aku percaya lelaki setia itu masih ada, aku melihat semua hal yang baik dalam wujud kamu.
Tidak pernah habis terima kasih dari aku yang selalu buat kamu kecewa. Begitu pun dengan kata maaf yang tidak pernah berhenti aku sampaikan karena lagi-lagi buat kamu marah dan terluka.
Kelak, mungkin, akan ada hari yang di dalamnya tidak lagi ada kamu. Sebab ulahku sendiri; melepaskanmu, membiarkanmu pergi, hingga aku menyadari tanpamu hariku lagi-lagi hanya tentang sepi.
Jika pada akhirnya semua harus selesai, maka percayalah, yang semestinya merasa paling sakit dan kehilangan adalah aku. Kamu mungkin tidak percaya, tidak ayal pun kamu terluka. Tetapi, Tuhan mengirim kamu sebagai perwujudan dari doa-doaku selama ini, lalu aku menyia-nyiakan hati yang tulus diberi Tuhan untuk menutup gurat perih bekas diinjak roda kehidupan, bagaimana bisa aku tidak sedih?
Kalau nanti bukan kita, kamu tidak perlu merasa bersalah, juga tidak perlu mencari apa yang menjadi kurang sehingga kita usai. Aku yang memang belum baik, sebab itulah Tuhan tidak mau membiarkan sayap malaikatnya rusak tercabik.












