Do'a
Mike Driver
đȘŒ
Sade Olutola

PR's Tumblrdome
No title available

Origami Around

blake kathryn

izzy's playlists!
i don't do bad sauce passes
we're not kids anymore.

titsay
taylor price
Xuebing Du
dirt enthusiast
trying on a metaphor

Product Placement

Discoholic đȘ©
One Nice Bug Per Day
wallacepolsom
NASA
seen from Spain
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Poland

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Italy

seen from United States
seen from Italy

seen from Argentina
seen from Malaysia

seen from Canada

seen from Germany
seen from France
seen from Canada
seen from Canada

seen from TĂŒrkiye

seen from Italy
@secariklangit
Do'a
Tak ada yang berubah denganmu.
Tidak juga dengan perasaan itu. Masih saja bisa menderaku. Lucu.
Apanya yang lucu?
Bukan. Bukan apa-apa. Aku hanya sedang menertawakan diriku sendiri
Begitu berapi-apinya saat itu. Seakan semuanya bisa kutumpahkan padamu
Kemarin, saat mencoba menjumpaimu kembali. Kukatakan bahwa do'a lebih sanggup melampaui lintas dimensi
Begitu kan?
Begitu pula denganmu, pernah mencatat ribuan do'a yang pernah kucoba tuliskan. Harapan-harapan yang entah kuwujudkan atau tidak.
#nulisrandomlagi
Siapalah kita, berani menebak isi hati dan niat seseorang. Jika sudah dipastikan tidak mungkin kita bisa mengukur dan mengetahui isi hati juga perasaan manusia, janganlah menebak-nebaknya, sebab akan ada hati yang terlukai dan akan ada amal kebaikan kita yang rusak.
Sudah terlalu banyak yang kita lukai dari lisan kita, jangan sampai menambah luka di hati orang, dan jangan sampai menambah musuh dalam ingatan seseorang. Setelah kita mati barulah menyesal, andai dulu dia menjadi temanku, mungkin sudah ia kirimkan doanya untukku.
Sebab nanti kita akan membutuhkan doa-doa.
@jndmmsyhd
Sudah lama mencari tak kunjung kutemukan. Dimana letak kunci itu. Kupikir agar bisa membuka rumah lamaku, menghirup aroma kenangan yang pastinya memenuhi langit-langit ruangan.
Meskipun sesekali logikaku bermonolog ramai dalam pikiran, namun nyatanya terkadang menenangkan saat bisa menikmati racauan ini sendirian.
Sebab, tawa anakku yang berderai-derai disambut gendongan ayahnya yang tinggi melambai-lambai telah cukup meramaikan.
Dan tumpukkan cucian, tak kuasa lagi menunggu sapaan.
Dengan atau tanpa kuncinya, terbuka atau tidaknya. Biar kusinggahi dulu sementara. Sebentar saja duduk di terasnya.
Hai. Sudah lama ya.
Meski dalam do'a bagiku sudah cukup rasanya, tapi biarkan malam ini kugenapkan dengan menyapa.
#nulisrandomlagi
Renungan Pribadi Soal Takwa
Disclaimer: ini bukan tulisan edukasi tentang konsep takwa. Ini sepenuhnya refleksi pribadi saya. Tidak disarankan untuk menjadikannya referensi. Mohon diproses dengan pikiran sendiri, tidak ditelan bulat-bulat. Jika tergelitik, silakan lakukan penelitian dan perenungan sendiri.
* * *
Pasti kita udah sering denger terminologi âtakwaâ.
Kalau ditanya apa itu takwa, kebanyakan orang akan menjawab: âMenaati segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya.â
Saya ngga pernah puas dengan definisi itu. Maaf ya, izinkan saya jujur secara brutal, definisi itu normatif dan ngga inspiring. Ngga menggugah selera untuk bersemangat mendapatkannya. (Pahami bahwa saya bukan bilang takwa itu ngga menarik, tapi pemaknaan/penafsiran kita atas konsep takwa yang belum memuaskan).
Iya, menurut saya, kalau sesuatu itu penting menurut sunnatullah (atau hukum alam, versi bahasa universalnya), maka secara alamiah pasti kita akan tertarik ke arah sana. Maka, saya curiga, jangan-jangan ada definisi yang lebih dalam, lebih menggugah, lebih membuka kesadaran daripada yang diajarkan di sekolah-sekolah.
Misalnya, siapa sih orang waras, berakal yang dalam hidupnya ngga pernah bertanya âKenapa aku ada?â, âUntuk apa aku ada?â, âApa yang penciptaku inginkan dengan menciptakan aku ke alam ini?â. Saya percaya ini pertanyaan yang universal, yang kalaupun ngga diajarkan di sekolah, secara alamiah kita akan mempertanyakan ini, cepat atau lambat.
Pertanyaan-pertanyaan itu penting. Mereka akan mendorong kita mencari Tuhan, memahami diri kita, mencari petunjuk dari Sang Penciptaâyang semua jawabannya sudah dipersiapkan oleh Allah untuk kita temukan. Karena itu, Allah sudah tanamkan stimulusnya berupa rasa penasaran yang instingtif. Kita tertarik untuk mengenali pencipta kita secara alamiah.
Nah, takwa itu disebutkan di berbagai ayat Al-Quran, menjadi tujuan dari berbagai perintahâyang salah satunya puasa di bulan Ramadhan, maka pastinya penting. Kalau penting, pastinya insting alamiah kita akan bereaksi secara positif (tergugah, terinspirasi) jika kita memahaminya dengan cara yang seharusnya.
Temuan Saya Akan Makna Takwa
Singkat cerita, saya menemukan definisi takwa yang memuaskan bagi hati saya. Saya menemukannya dalam tafsir Al-Quran âThe Message of the Quranâ karya Muhammad Asad. Definisinya:
Kesadaran akan kemahahadiran-Nya dan keinginan seseorang untuk membentuk eksistensinya berdasarkan kesadaran ini.
Atau sederhananya, takwa adalah âkesadaran akan hadirnya Allahâ.
Buat saya, definisi ini lebih memuaskan daripada yang selama ini saya terima. Coba kita tempatkan kedua definisi takwa dalam konteks perintah puasa Ramadhan.
Dalam definisi takwa pertama, kita diwajibkan berpuasa dengan tujuan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Dalam definisi takwa kedua, kita diwajibkan berpuasa dengan tujuan agar kita selalu sadar akan kehadiran Allah.
Kita tempatkan juga kedua definisi takwa itu dalam konteks ayat permulaan Al-Baqarah.
Dalam definisi pertama, Al-Quran adalah petunjuk bagi orang-orang yang menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, yang menginfakkan sebagian rezeki yang Allah berikan.
Dalam definisi kedua, Al-Quran adalah petunjuk bagi orang-orang yang sadar akan kehadiran Allah. Yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, yang menginfakkan sebagian rezeki yang Allah berikan.
Gimana?
Apa lebih bisa dipahami? Apa lebih membuka kesadaran? Apa lebih menggugah? Kalau buat saya, iya banget.
Contoh Implementasi Pemaknaan Takwa
Ketika berpuasa, kita bisa aja minum atau ngemil di siang hari, selama ngga ada manusia yang liat. Tapi yang menahan diri kita apa? Kesadaran akan hadirnya Allah, yang mungkin ngga begitu kita ingat kalau kita ngga puasa.
Ketika berbuka, kita seneng banget tuh, kita berdoa sebelum berbuka, âYa Allah, terimalah puasaku dan segala amal ibadahku hari iniâ. Lagi-lagi, kita distimulasi untuk menghadirkan kesadaran bahwa apa yang kita lakukan ini disaksikan oleh Allah.
Dari situ, sebenarnya kita bisa lihat bahwa menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya (khususnya shaum Ramadhan) adalah jalan menuju kesadaran akan kehadiran Allah.
Dengan syarat, ketaatan dalam perintah dan larangan-Nya dilakukan dengan benar ya: kalau shalat khusyuâ, kalau puasa ikhlas (mindful, aware, niat dari dalam hati), kalau sedekah bukan untuk ngebuang recehan.
Nah, kesadaran akan kehadiran Allah juga akan memperkuat kemampuan seseorang untuk menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya (âOke, mau menghadap Allah nih, masaâ aku shalat pake baju bekas bobo?â). Jadi, saya pikir ini seperti continuous feedback loop.
Tips Mengasah Kesadaran Akan Kehadiran Allah
Oke, meskipun ini perenungan pribadi, karena ini dipublikasikan maka saya tetap harus bertanggung jawab menutupnya dengan baik.
âMengasah kesadaran akan kehadiran Allahâ adalah closing yang berat, tapi paling engga saya bisa bagikan beberapa usaha saya untuk melatihnya.
Pertama, bangun mental model hubungan antara kita dan Allah yang lebih personal. Alih-alih berpikir bahwa kita cuma satu makhluk yang ngga signifikan dan mungkin ngga Allah pedulikan karena Dia âsibukâ dengan alam semesta dan manusia lain yang istimewa, ingat bahwa Allah juga Maha Dekat, Maha Tahu, Maha Mendengar, Maha Menyayangi, Maha Memperhatikan sehingga kamu bisa berkomunikasi secara personal dengan Allah.
Dia tidak seperti manusia yang kalau banyak kerjaan pusing dan skip, Dia menunggu kamu untuk datang kepada-Nya. Berkomunikasi, berterima kasih, meminta maaf, berharap, menangis.
Ingat juga bahwa Dia available setiap waktu, ngga cuma di waktu shalatâmisalnya. Lagi kerja, lagi ngasuh anak, lagi beberes rumah; lagi senang, lagi marah, lagi sedih; kamu bisa berkomunikasi dengan Allah tentang hal seremeh apapun.
Kedua, pahami bacaan dan doa-doa dalam ibadah. Iya, misalnya bacaan shalat, coba dipahami. Caranya jangan cuma baca artinya secara keseluruhan, tapi pelajari kata per kata.
âRabbiââwahai Tuhanku, âighfirliââampuni dosaku, âwarhamniââsayangi aku, âwajburniââcukupilah aku, âwarfaâniââtinggikan derajatku, âwarzuqniââberilah aku rezeki, âwahdiniââberilah aku petunjuk, âwaâafiniââsehatkan aku, âwaâfuâanniââmaafkanlah aku.
Bisa pelajari juga akar katanya, misal âighfirliâ dari kata âghafaraâ, yang artinya âmengampuniâ, asal maknanya âmenutupâ. Wah ini bisa didalami lebih jauh lagi, silakan cari sendiri ya.
Sedikit belajar Bahasa Arab, biar setiap kita mengucapkan doa dalam shalat, hati kita tahu betul kita sedang berkomunikasi apa dengan Allah. Â Biar setiap beristighfar, bertasbih, bertahmid, hati kita benar-benar mean it.
Ketiga, sering-sering mikirin what this life is all about. Bayangin setelah membaca ini kamu terkena serangan jantung lalu meninggal, kamu ngerasa siap apa engga? Kalau engga, kenapa? Karena ngga ada amal yang bisa dibanggakan? Kalau gitu itu PR kamu, segera bikin amal yang bisa kamu banggakan saat dihisab nanti.
Atau karena banyak dosa? PR kamu adalah taubat + mengubur dosa-dosa dengan amal baik yang banyak.
Kalau ingat bahwa kita belum siap dihitung amal dan dosanya di hadapan Allah, kita jadi bisa melihat apakah karir, bisnis, investasi yang kita upayakan itu adalah sarana mempersiapkan diri atau menjadi distraksi dari apa yang benar-benar penting.
Coba bikin daftar yang harus kamu siapkan agar jika suatu hari kamu terbaring di rumah sakit, sadar ga lama lagi kamu akan mati, hati kamu ngerasa tenang dan siap menghadap Allah, seperti yang dideskripsikan di Al-Fajr:
âHai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaâah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.â
Misalnya, jika profil kamu adalah seorang ayah dan suami:
1. Sedekah rutin untuk anak yatim (misalnya ini amal andalan kamu) 2. Istri dan anak yang siap ditinggalkan secara mental dan bertekad untuk menyusul saya di surga (melanjutkan berbagai amal sholeh sepeninggal kamu) 3. Rumah untuk anak dan istri biar mereka punya tempat bernaung 4. Passive income untuk menafkahi keluarga meski saya ngga ada, biar mereka ngga susah dan menyusahkan orang lain (3 dan 4 sekilas materialistis, tapi tujuannya bernilai amal sholeh)
Itu daftar simplistik dan contoh aja.
Poinnya adalah sering-sering melatih diri kita mengingat apa yang paling esensial dalam hidup (yaitu siap ketika sudah saatnya kita menghadap Allah) dan mengkalibrasi terus menerus kesibukan kita supaya selalu dalam kerangka membuat Allah ridha sama kita.
So, mari kita membangun, mengasah, dan menjaga kesadaran kita akan ke-Maha-Hadiran Allah.
Wallahuâalam.
Terima kasihh Yasir atas catatannya.
âAllahumma innaka âafuwwun tuhibbul âafwa fa'fu âanni â
â O Allah, You are Most Forgiving, and You love forgiveness; so forgive me
Teman Hidup
Dulu kalau ditanya, "Kenapa nikah?", jawabanku sangat serius dan filosofis, bak caleg lagi kampanye. Sekarang, kalo ditanya, jawabanku lebih simpel: karena aku butuh teman hidup. Ya, sesederhana itu. Tapi, penjelasan di belakangnya rumit juga sih.
Nikah itu fitrah. Deep down, kita takut hidup sendiri. Kita butuh teman. Persis kayak lagu Vina Panduwinata, "Seindahnya dunia fana, dan sedamainya surga. Tetap bagai neraka tanpamu." Yg mengingatkanku pada kisah Nabi Adam as. Sudah enak tinggal di surga, tapi tetap saja terasa kurang kalau ngga ada teman utk menikmatinya. Sehingga diciptakanlah teman sejiwa bernama Hawa.
Nikah sering diromantisasi sebagai peristiwa yg menyatukan dua insan dalam kebahagiaan. Dramatis sekali. Di sisi lain, nikah juga sering digambarkan sebagai peristiwa peradaban. Sesuatu yg bisa menciptakan perubahan. Serius sekali. Aku mengambil jalan tengahnya saja. Dalam pernikahan, ada pemenuhan kebutuhan dasar manusia untuk memiliki teman, ada pula petualangan untuk mencari kehidupan yang bermakna.
Nikah itu, sama seperti pilihan hidup lainnya. Sesuatu yang melahirkan konsekuensi berupa tanggung jawab nan besar. Tapi, nikah juga ngga melulu berisi hal-hal berat seperti debat capres. Ada visi misi, program kerja, dkk.
Mungkin perlu lebih luwes saja sih. Adakalanya kita perlu memandang keluarga sbg "perusahaan" dan pasangan sbg "partner bisnis", harus ada target, program, evaluasi, dst.
Tapi, adakalanya kita juga perlu beristirahat sejenak dari misi-misi "peradaban" yg seringkali bikin kita ngga nyante. Ibarat lagi jalan, kita pengen cepet-cepet nyampe tujuan. Anak diburu-buru supaya bisa ini-itu (misal: hafal Qur'an, bisa baca tulis hitung, dsb). Suami/istri terlalu sibuk di luar rumah demi misi peradaban (bahwa dia harus bermanfaat bagi banyak orang). Tapi lupa untuk menikmati prosesnya yang berjalan manusiawi: anak bisa malas, istri bisa jenuh, suami butuh disentuh, dsb. Lupa memperhatikan sisi-sisi humanis.
Dalam pernikahan, aku belajar untuk punya tujuan dan impian besar, tapi tetap kalem dan enjoy di perjalanannya. Karena kebahagiaan itu seringkali adanya ya di proses itu. Toh pada hakikatnya, tujuan menikah tetap saja untuk "litaskunu ilaiha", agar kita merasa tenteram. Kalau serba cepat-cepat, terlalu strict pada target/tujuan besar, sehingga tidak menyisakan ruang untuk kita menikmati proses humanisnya, jangan-jangan kita lagi di akademi militer? Hehe.
Teman Tumbuh, hehe
Raising A Mindful Family #2 (End)
Tulisan ini adalah lanjutan review International Islamic Parenting Seminar dengan judul âRaising A Mindful Familyâ yang dilaksanakan di Bandung, 3 Februari 2018. Seluruh materi yang dituliskan kembali disini disampaikan oleh Dr. Mohamed Rida Beshir, seorang Islamic Marriage and Parenting Expert yang berasal dari Canada yang juga merupakan co-author dari buku best seller berjudul âParenting Skills: Based on The Qurâan and Sunnahâ. Sebagai penghubung antara materi satu ke materi yang lainnya, hadir juga Ustadz Adriano Rusfi, seorang Psikolog yang juga founder dari Majelis Luqmanul Hakim. Tulisan pertama dapat di baca di link berikut ini.
Sebelumnya, mohon maaf untuk kalimat-kalimat berbahasa Inggris yang saya pertahankan sebagaimana materi diberikan, karena khawatir ada pemaknaan yang hilang atau kurang lengkap jika semua ditranslasi ke dalam bahasa Indonesia. Enjoy reading, happy learning!
Saya pernah mendapat nasehat dari seorang guru bahwa investasi terbesar yang dapat kita berikan bagi kehidupan kita adalah belajar dan ilmu pengetahuan. Beliau juga berpesan bahwa setiap waktu dan kesempatan yang kita luangkan untuk menuntut ilmu karena Allah adalah bentuk perjuangan untuk dapat menjalankan ibadah yang benar: ilmu sebelum amal. Setali tiga uang dengan hal tersebut, kemarin Mr. Rida menyampaikan bentuk investasi besar lainnya yang dapat kita lakukan,
âNurturing and parenting our children are biggest invesment in life, our road to Jannah.â
Road to Jannah, ternyata sebesar dan sejauh itulah pentingnya investasi dunia akhirat ini, yang tentunya perlu kita siapkan sejak jauh-jauh hari. Masih ingat kunci kesepuluh pada tulisan sebelumnya, kan? Yup, pre-marital education. Jadi, meski belum menjalankan amanah Allah untuk mengasuh, penting juga bagi kita untuk mempersiapkan ilmu untuk amanah tersebut, sejak jauh-jauh hari.
Terdapat 5 komponen utama dalam Excellent Parenting. Apa sajakah itu?
Komponen yang pertama adalah visi, yaitu tujuan jangka panjang. Berkaitan dengan ini, saya jadi ingat Ibu Elly Risman pernah menyampaikan, âMain bola saja ada tujuannya, ada gawangnya, masa mengasuh anak tidak ada tujuannya?â Nah, ternyata, sebaik-baik visi kita bagi anak-anak kelak adalah aspire them to be like generation of the Prophetâs companion, yang kualitasnya adalah proud to be Muslim, have self confidence, dan juga strong in belief in Allah. Selain itu, anak-anak juga perlu loved and accepted by parents sehingga bisa menunjang mereka untuk bisa capable and highly skilled dan menjadi critical thinker dalam kehidupannya.
Untuk bisa memiliki visi yang benar dalam menjalankan pengasuhan, terdapat beberapa pengetahuan dasar yang perlu kita ketahui, yaitu Islamic knowledge in general (Al-Qurâan and Sunnah), Islamic Characters, pengetahuan tentang perkembangan anak baik dari segi fisik, intelektual, sosial, maupun emosional, dan yang tak kalah penting adalah Islamic Parenting Principles.
Termasuk di dalam Islamic Parenting Principles yaitu, parenting is a shared responsibility. Ya, parenting tidak bisa hanya dilakukan oleh ibu saja atau ayah saja, tapi harus oleh keduanya. Nah, ustadz Adriano Rusfi mengatakan bahwa yang seringkali menjadi masalah dalam hal ini adalah perempuan lebih giat belajar dan mempersiapkan dari pada laki-laki. Tapi, kita tetap bisa memilih sikap terbaik, yaitu berprasangka baik kepada Allah. Prinsip lainnya adalah link the child to his creator, anger management, dan menciptakan atmosfer keluarga yang positif dan sehat, yaitu dengan memberikan contoh-contoh positif kepada anak-anak.
Komponen yang kedua adalah knowledge atau ilmu pengetahuan. Hal ini menjadi logis dan masuk akal karena sebagai seorang muslim, we have to do anything based on knowledge. Sambil menunggu Allah memberi rezeki berupa pernikahan dan keluarga, belajar saja dulu, karena dengan belajar berarti bahwa kita sedang berupaya untuk dapat menjalankan ibadah dengan benar. Iqra or read is the best wiring of knowledge. Tapi, haruskah hanya dengan membaca buku? Tidak, karena arti membaca disini bisa sangat sangat luas, termasuk membaca hikmah yang Allah hadirkan dalam kehidupan kita.
Komponen yang ketiga adalah willingness to change. Bagaimana caranya? Yaitu dengan self-search dan self-improvement karena tantangan zaman hari ini dan hari-hari berikutnya akan semakin menantang sehingga kita tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama yang digunakan oleh orangtua kita dalam mengasuh kita dulu.
Komponen yang keempat adalah membentuk positive and healty family atmosphere yang berkaitan dengan kualitas-kualitas yang harus kita miliki kelak ketika menjadi orangtua, yaitu
building relationship, understand our children, willing to gain knowledge, active and nurture the fitra in them, be friend to the, reason up and explain wisdom, and make sure that your Islamic life is not miserable.
Hmm, kualitas terakhir itu cukup bikin mikir, ya! Sedih juga, mengingat kehidupan berislam kita (eh saya maksudnya) yang mungkin masih miserable. Semoga Allah mampukan kita untuk menjadi muslim yang selalu menjadi lebih baik setiap harinya.
Komponen yang terakhir adalah wisdom atau kebijaksanaan. Saya baru menyadari bahwa ternyata ada kekeliruan-kekeliruan dalam wisdom ini setelah Mr. Rida memberi penjelasan mengenai lack of wisdom, seperti contohnya picking your fights, making halal become difficult and haram become easy, living unfulfilled dream through our teen, using all inherited methods of Tarbiyah, and blind imitation. Wow, sedikit banyak hal tersebut terjadi pada kita atau sekitar kita, bukan?
Sebaliknya, kebijaksanaan ini dapat dilakukan dengan meng-install konsep-konsep penting kepada anak-anak kita, yaitu bahwa,
Allah is our creator and He loves us. Rasulullah is our role model. Our real home is in the hereafter. Allah is with us all the time, He always supporting and watching. We are accountable for actions and the use of our sense. And, you have to be keen about what is good for you.
Alhamdulillah. Sekian review dari Raising A Mindful Family yang bisa saya tuliskan, mohon maaf untuk setiap keterbatasan atau bahasa Inggris saya yang masih berantakan. Semoga setiap upaya kita dalam belajar, mempersiapkan, dan memperbaiki semua hal terkait kehidupan keluarga bisa menjadi nilai ibadah yang dibicarakan-Nya bersama malaikat-malaikat pencatat amal kebaikan. Sampai jumpa di review-review belajar selanjutnya. Baarakallahu fiik :)
PS: Untuk membaca artikel-artikel lain tentang pranikah dan parenting, klik disini dan disini.
_____
Picture Source: Pexels
Raising A Mindful Family #1
Tulisan ini ditulis sebagai review dari International Islamic Parenting Seminar dengan judul âRaising A Mindful Familyâ yang dilaksanakan di Bandung, 3 Februari 2018. Seluruh materi yang dituliskan kembali disini disampaikan oleh Dr. Mohamed Rida Beshir, seorang Islamic Marriage and Parenting Expert yang berasal dari Canada yang juga merupakan co-author dari buku best seller berjudul âParenting Skills: Based on The Qurâan and Sunnahâ. Sebagai penghubung antara materi satu ke materi yang lainnya, hadir juga Ustadz Adriano Rusfi, seorang Psikolog yang juga founder dari Majelis Luqmanul Hakim.
Sebelumnya, mohon maaf untuk kalimat-kalimat berbahasa Inggris yang saya pertahankan sebagaimana materi diberikan, karena khawatir ada pemaknaan yang hilang atau kurang lengkap jika semua ditranslasi ke dalam bahasa Indonesia. Enjoy reading, happy learning!
Lecturing diawali dengan pertanyaan yang lucu dari Mr. Rida, âMarriage is a 3 ring circus: engagement, wedding, and .. whatâs the 3rd ring?â Saya kemudian menjawab, âThe 3rd is parenting.â karena saya berpikir bahwa parenting adalah hal esensial dalam keluarga, dan juga karena belakangnya -ing. Haha. Tapi ternyata jawaban saya salah! Beliau bilang, ring yang ketiga adalah suffering alias kesediaan untuk menderita. Wow, agak mengerikan ya mendengarnya. Tapi, banyak kasus di ring ketiga ini sehingga berujung pada perceraian.
Amerika Utara memiliki tingkat perceraian sebesar 31,4% sementara di negeri kita sendiri, 84% perceraian terjadi di 5 tahun pertama karena alasan-alasan sepele. Wow, angka ini cukup mencengangkan, ya! Lalu, bagaimana agar kita dapat menghindari hal tersebut? Semua berawal dari proses pemilihan pasangan. Kepada laki-laki, panduan memilih pasangan sudah jelas tersampaikan melalui sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yaitu,
âA woman is sought for marriage for 4 reasons: her wealth, her beauty, her social status, and her Deen. So, select the one who is religious, otherwise, you are at loss.â
Meski terkesan hanya diperuntukkan bagi laki-laki, sebenarnya hadist ini juga menjadi petunjuk bagi perempuan, yaitu bahwa jika tanpa iman, maka kekayaan, kecantikan, dan sosial status menjadi tidak ada artinya.
Lalu, bagaimana dengan perempuan? Apakah hadist tadi tidak bisa menjadi patokan bagi perempuan dalam memilih pasangan? Tentu saja bisa, dan ada juga hadist lain yang menjelaskan bagaimana perempuan memilih pasangan, yaitu,
âIf there comes to you one with whose character and religious commitment you are pleased, then give (your daughter or female relative under your care) to him in marriage ..â
Yup, perempuan dianjurkan untuk melihat laki-laki dari agama dan akhlaknya.
Setelah menentukan pasangan, lalu apa yang menjadi kunci bagi pernikahan yang sukses dan bahagia? Berikut adalah 10 Keys to Blissfull and Successfull Marriage yang disampaikan oleh Mr. Rida.
Pertama, mutual commitment to marriage status. Mutual berarti bahwa komitmen yang kuat terhadap pernikahan ini tidak hanya dipegang oleh perempuan saja atau laki-laki saja, tapi keduanya. Pada siapa sebenarnya komitmen ini terjadi? Apakah isteri pada suami? Atau suami kepada isteri? Utamanya, komitmen itu, atau yang sering kita kenal sebagai mitsaqan ghaliza, adalah komitmen kepada Allah.
âFear Allah in your dealing with your wives. This relationship is a trust from Allah.â
âTake a good care of your wives. They are entrusted to you by Allah.â
Menariknya, kalimat yang diucapkan seorang laki-laki kepada wali nikah perempuan saat ijab qabul dalam aturan bahasa arab merupakan kalimat fiâil madi atau past tense. Mengapa? Karena dengan siapa kita menikah sudah Allah tetapkan jauh sebelum hari akad nikah terjadi, bahkan sebelum kita terlahir ke dunia, sehingga akad ini adalah bentuk pengesahan bagi ketentuan yang telah ada tersebut. Maa syaa Allah.
Kedua, trust and faithfullness, yang untuk menghadirkannya kita perlu memerhatikan dan menjalankan petunjuk Rasulullah, yaitu tentang bagaimana interaksi antarlawan jenis di dalam Islam. Selain itu, trust and faithfullness ini juga membutuhkan transparency and clarity, dimana masing-masing pasangan perlu membantu pasangannya untuk bisa memberikan kepercayaan terhadapnya.
Keempat, proper understanding of objective of marriage. Yup, tujuan pernikahan! Mr. Rida bertanya pada seluruh peserta seminar, âHow do you think most men define marriage?â Seluruh peserta terlihat berpikir, pun peserta-peserta laki-laki yang duduk di sayap kanan. Lalu, Mr. Rida menjawab, âMost men define marriage as a very expensive way to get laundry done!â Hahaha, beliau ini memang lawak sih ya, kocaque! Kemudian, tujuan-tujuan terbaik dari pernikahan pun disampaikan: realizing and fulfilling sunnah, peace and tranquility, comfort, serenity, satisfaction, protection, shelter, becoming your self, dan lain-lain. Tapi, diantara semuanya, ada satu yang menurut saya adalah the ultimate objective of marriage. Apakah itu?
Help each other to be closer to Allah by encouraging our spouse to do a right things.
Kunci pernikahan yang kelima adalah proper understanding of gender relation, yaitu relasi yang supporting, protecting, and cooperating with each other for righteousness. Nah, kalau kita pikir-pikir dari segi bahasa tentang ketiganya itu, rasa-rasanya ada bagian supperior (misalnya yang mensupport dan menjaga), tapi ternyata tidak demikian, karena supporting and protecting is not about top-down, but equal.
âAnd women have the same rights as the duties they have to fulfill in kindness and according to what is equitable.â
Keenam, proper understanding of spousal obligation. Disamping suami dan isteri memiliki kewajiban masing-masing yang harus dipenuhi, ternyata ada juga kewajiban bersama yang harus dipenuhi oleh keduanya, yaitu
treating one another with respect, love, and gentleness; providing companionship for each other, helping each other to be better Muslim, fulfilling each other emotional needs, and dealing with each other based on the proper understanding of qawwamah, obedience of wife to husband in Islam (the standard is according to syariah), and status of woman in Islam.
Selain itu, disebutkan pula dalam Al-Baqarah ayat 187 tentang relasi dan kewajiban pasangan, yaitu bahwa, âThey are your garment and you are their garment.â
Ketujuh, following the Quranic way of communication. Memang ya, Al-Qurâan ini maa syaa Allah, keren sekali! Sampai-sampai, untuk urusan komunikasi pun dibahas. Salah satunya adalah tentang Ahsan:Â we should only say words that are the best. Rasulullah pun mencontohkan sikap-sikap terbaik saat berkomunikasi, dimana beliau,
always used descent language and good words, never raised his voice, never got angry for personal reasons, did not blame or point fingers, never called other with bad names, always conveyed respect and consideration, faced the person talking to him, never cut a person off while talking, repeated himself to make sure that he was clear, confirmed what other person said, and illustrated what he was saying.
Kedelapan, paying special attention to the early stage of marriage. Hmm, awalnya saya heran, memangnya kenapa dengan tahun-tahun pertama pernikahan sampai dibilang perlu paying special attention? Bukankah itu masa-masa bahagia? Tapi ternyata, early stage of marriage ini ya memang sweet, but critical. Ustadz Adriano Rusfi pun menjelaskan tentang banyak sekali problematika di awal pernikahan, yang bisa menjadi pemicu pernikahan bahkan sebelum pernikahan itu memasuki usia 5 tahun pertama.
Ternyata, problematika yang seringkali terjadi di awal pernikahan ini adalah bagaimana menyatuka dua pribadi yang bereda, problematika finansial, perbedaan prinsip dalam pendidikan anak (biasanya masalahnya adalah suami dominan untuk mengambil keputusan tapi suami tidak lebih memahami parenting daripada isteri yang suka belajar), dan hadirnya pihak ketiga, baik itu orangtua atau mertua, yang merasa masih perlu melakukan intervensi tata kelola rumah tangga anaknya. Semua ini terkait juga dengan kunci kesembilan, yaitu learning and practicing Islamic way of addresing conflict.
âWhat is the last key thatâs not written in the presentation?â tanya Mr. Rida. Hmm, apa ya? Ternyata, setelah setengah menit diberikan waktu untuk berpikir, jawabannya adalah PRE MARITAL EDUCATION. Beliau mengatakan, sembilan kunci sebelumnya hanya akan dapat menjadi sempurna jika semuanya diawali dengan pendidikan pra-nikah. Beliau juga meyakinkan para peserta yang masih ada di stage pra-nikah bahwa pernikahan, mengasuh, dan mengelola rumah tangga perlu diawali dengan kesediaan untuk belajar dan menuntut ilmu, bahkan jauh sebelum menikah.
Bersambung ke tulisan berikutnya, ya! :)
_____
Picture Source: Pexels
orang-orang yang bertumbuh
ciri-ciri orang yang bertumbuh: 1. bangun pagi, sebab dia memiliki cita-cita untuk dicapai setiap hari. 2. fokus pada tujuan hidupnya, bukan pada jalannya, melainkan pada bagaimana cara menjalaninya. 3. tidak iri dengan pertumbuhan hidup orang lain. alih-alih, ikut senang dan bahagia apabila ada orang lain yang meraih keberhasilan (dan justru terinspirasi untuk menjadi versi diri yang lebih baik). 4. banyak bersedekah, sebab semakin menyadari bahwa apa yang dimiliki (harta, waktu, energi) bukan milik sendiri. 5. semakin bertambah keimanan, ketakwaan, dan semakin bersyukur.
orang-orang yang bertumbuh
ciri-ciri orang yang bertumbuh: 1. bangun pagi, sebab dia memiliki cita-cita untuk dicapai setiap hari. 2. fokus pada tujuan hidupnya, bukan pada jalannya, melainkan pada bagaimana cara menjalaninya. 3. tidak iri dengan pertumbuhan hidup orang lain. alih-alih, ikut senang dan bahagia apabila ada orang lain yang meraih keberhasilan (dan justru terinspirasi untuk menjadi versi diri yang lebih baik). 4. banyak bersedekah, sebab semakin menyadari bahwa apa yang dimiliki (harta, waktu, energi) bukan milik sendiri. 5. semakin bertambah keimanan, ketakwaan, dan semakin bersyukur.
14 abad yang lalu, seorang manusia terbaik berkata kepada para sahabatnya. Ialah Rasulullah, yang membicarakan akan ada 4 keanehan yang akan terjadi di masa depan kelak.
Yang pertama, Al-Qur'an berada di tangan orang dzalim. Yang kedua, ada masjid di tempat orang muslim yang tidak berjamaah di dalammya. Yang ketiga, Adanya orang soleh di lingkungan orang jahat. Dan yang terakhir, yakni âWa mushafun fii baitin laa yuqro'u fiih.â, Ada mushaf Al-Qur'an di dalam rumah orang-orang yang tidak rajin membacanya.
Banyak orang sekarang, berbondong-bondong membeli qur'an, yang baik, yang bagus, sekalian dari luar negeri, âagar bagusâ ucapnya. Namun sayang, tugasnya sebagai pemberi keselamatan di alam kubur, turun jauh drastis, menjadi penghias lemari rumah.
Kapan terakhir kita baca qur'an? Sehari yang lalu? Seminggu? Sebulan? Setahun? Jiwa ini kadang seolah asing, dengan sesuatu yang seharusnya dekat dengan kita.
Apa yang dikatakan orang terdahulu tentang orang-orang di akhir zaman?
Ada qur'an tapi tidak dibaca. Qur'an dibaca tapi tidak baca artinya. Baca artinya tapi tidak memahaminya. Memahaminya tapi tidak mengamalknannya. Mengamalkannya tapi tidak ikhlas hatinya.
Padahal tak sedikit kisah yang sampai, bahwa orang-orang yang membacanya, sering mendapat berbagai hal, baik ketenangan bahkan hidayah.
Setiap qur'an yang kita miliki, pasti akan menyapa kita. Bagi sebagian yang rajin berjumpa, kelak itu akan menjadi reuni yang membahagiakan. Sedang bagi sebagian lain, itu hanya akan menjadi pertemuan biasa, seraya sang qur'an berkata âkemana saja? Kenapa kita baru berjumpaâ, sungguh asing.
Andai semua paham, betapa besar jasa ayat-ayat qur'an di akhirat kelak, niscaya kita enggak melewatkan hari tanpanya.
Semoga kita tidak menjadi jiwa-jiwa yang asing dengan qur'an, tidak menjadi jiwa-jiwa yang anti dengan ucapan Tuhannya.
Source : choqi-isyraqi.tumblr.com
đŁ
Sekolah Utama Keluarga
âSaya itu pengennya dari dulu bisa melahirkan generasi terbaik yang jadi tonggak kebangkitan umatâ
Adalah Ibu Siti Soekiswati, seorang dokter, dosen, mahasiswa S3 sekaligus S1, single-parent, dan ibu dari 6 anak yang haafidz dan calon haafidzah. Tak ada kebetulan sepertinya ketika Allaah swt mempertemukan saya, Mbak Mutiara Ulfah, dan Mas Wiwid Santiko untuk bersilaturrahim ke rumah Ibu Siti Soekiswati dan mendengar kisah hidup beliau yang begitu menginspirasi. Beliau mungkin tidak memiliki jabatan mentereng di pemerintahan atau perusahaan tapi prestasinya yang jauh lebih baik daripada apapun dalam kodratnya sebagai perempuan, yakni menjadi Ibu yang berhasil. Anak-anaknya selain menguasai ilmu agama dan hafal Al-Quran, juga menguasai ilmu umum.
Dua anak pertamanya menempuh pendidikan dokter di UNS dan UGM. Anak ketiganya berkuliah di Farmasi UGM, anak keempat berkuliah di Transportasi Kelautan ITS, anak kelima masih duduk di bangku SMA, dan anak keenamnya masih duduk di bangku kelas 6 SD. Keenam anaknya selain sering menyabet juara kelas, sering juga memenangkan berbagai kompetisi sehingga di ruang tamu rumahnya, penuh oleh trofi dan piala.
Ketika kami datang sore itu, Bu Siti sedang melayani pasien. Tidak lama setelah kami duduk mengobrol dengan anaknya, beliau datang dengan gelas berisi teh hangat, piring penuh roti, baskom berisi ubi rebus, dan nampan bertudung penuh pepaya. Beliau mempersilahkan kami untuk menikmati hidangan seraya meminta maaf karena tidak menyuguh dengan lebih pantas. Suguhan sebanyak itu saja dibilang belum pantas, bagaimana pantasnya, pikir kami.
Rupanya, sore itu Bu Siti belum lama pulang dari kantor tempatnya mengajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sehari-hari, beliau memang mengajar di sana, sembari kuliah doktoral. Setelah menyelesaikan segala aktivitas akademik hingga sore hari, beliau masih menyempatkan diri untuk buka praktek dokter di rumah hingga Isya. Beruntung sekali sore itu kami dapat mengobrol panjang lebar dengan beliau sehingga mendapatkan banyak sekali ilmu tidak hanya tentang parenting, tapi juga hukum kesehatan.
*****
Bu Siti kecil lahir di Bojonegoro, hampir setengah abad yang lalu. Keluarganya boleh dibilang termasuk keluarga yang cukup berpendidikan, kendati masih tergolong abangan. Ayahnya adalah seorang kepala sekolah SMK, sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga tulen. Sejak kecil, beliau sudah terlihat memiliki bakat yang beragam dan cerdas, terbukti dengan prestasi hasil belajar dan kompetisi yang beliau menangkan. Akibatnya, orangtuanya jarang sekali menyuruh dan latihan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Ibunya hanya menyuruhnya belajar supaya menjadi orang pintar.
Dengan kecerdasan yang dimiliki sekaligus lingkungan yang mendukung, Bu Siti menjadi begitu bersinar di sekolah. Rata-rata raport sekolahnya tidak pernah menyentuh angka di bawah 90, semuanya berkisar antara 90-100. Selain jadi bintang kelas, beliau juga sangat aktif. Ia pernah menjadi vokalis band, anggota tim voli, dll. Sampai pada akhir masa SMA-nya, beliau diterima di dua universitas dengan jurusan yang berbeda, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret dan Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Setelah istikharah dan berpikir panjang, beliau akhirnya memilih meniti jalannya menjadi dokter.
Di UNS-lah, hidayah Allaah swt datang. Paparan dakwah kampus membuat Bu Siti berhijrah. Ia yang tadinya tidak berjilbab jadi menutup auratnya. Beliau sangat bersemangat untuk belajar agama. Saking semangatnya, berbagai harakah dia ikuti karena lugunya ia terhadap dunia Islam. Sampai pada masa co-ass, beliau memutuskan untuk segera menikah untuk menjaga dirinya.
Dari beberapa lamaran yang datang, setelah istikharah, Bu Siti memutuskan untuk menikah dengan Pak Noor Hadi. Hal ini didasarkan pada mimpi beliau yang dibonceng oleh seorang laki-laki naik sepeda. Laki-laki itu menggunakan baju koko putih dan peci hitam. Dan ketika Pak Noor Hadi datang melamar dengan pakaian persis seperti lelaki dalam mimpinya, maka beliau yakin bahwa itu adalah jodohnya sebagai jawaban atas istikharah yang dipanjatkannya.
Saat itu, prinsip Bu Siti sederhana, jika memilih jodoh pastikan agamanya lurus dan benar terlebih dahulu, selainnya tinggal taat pada suami. Maka, ketika tahu bahwa Pak Noor Hadi bukan hanya sekedar guru bahasa Inggris, namun juga seorang daâi, beliau semakin yakin dengan pilihannya. Walaupun harus menolak lamaran lainnya yang berasal dari seorang psikolog dan kepala sekolah yang notabene lebih mapan dan menjanjikan. Dan memang, menikah dengan Pak Noor Hadi membuat hidup beliau berubah 180°.
Di masa co-ass beliau yang sudah berumahtangga dan memiliki anak, Bu Siti harus berjuang untuk bertahan hidup. Beliau harus membuat donat dan makanan kecil lain untuk dijual sebagai tambahan pemasukan keluarga. Kegiatannya selalu sama, pagi co-ass di klinik atau puskesmas, sore menyiapkan bahan, malam memasak, subuh mengantarkan masakannya ke warung-warung. Di sela-sela itu, beliau masih harus mengurusi anak dan suami.
Setelah sumpah dokter pun, Pak Noor Hadi melarang Bu Siti untuk bekerja di luar rumah. Beliau hanya diperbolehkan untuk praktek di rumah dan mengurus anak dengan sebaik mungkin. Beliau yang notabene tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah pun jadi shock dan stress. Walaupun sering bertengkar, tapi beliau tetap menurut pada suami.
âTugas istri itu ya nurut sama suami. Pokoknya nurut aja. Pegang dulu hikmahnya di awal, ikhlasin, baru dijalaninâ, begitu ujarnya.
Jadilah kegiatan sehari-hari Bu Siti di rumah biasa, seperti memasak, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, dll. Awalnya, beliau mengerjakan dengan berat hati. Tapi lama-kelamaan beliau mendapatkan hikmahnya. Beliau jadi tidak rela jika keluarganya makan makanan yang tidak ia masak.
âKarena kan memasak kalau sambil didzikirin itu masakannya jadi berkah. Lha kalo beli di luar kita ndak tau ditambahin apa, gimana akhlak yang jualâ, kata beliau.
Perihal mencuci, Bu Siti juga mengutamakan tangannya sendiri untuk membersihkan baju suami dan anaknya karena pahalanya lebih utama. Selain pekerjaan rumah tangga, beliau rutin menemani anak-anaknya belajar jadi ia mengerti betul progress anak-anaknya di sekolah. Semua anaknya dekat dengan beliau, dan beliau paham seluk-beluk karakter dan kesukaan anaknya. Bahkan sebelum berangkat sekolah, Bu Siti rela memasak banyak menu hanya demi memenuhi kesukaan makanan masing-masing anaknya.
Bu Siti benar-benar memposisikan diri sebagai ibu terbaik untuk keluarga. Bahkan beliau sering menjahit sendiri baju seragam keluarga. Jarang sekali beliau berbelanja pakaian. Kalaupun beli baju paling di pasar atau di mall yang tergolong murah. Hatinya tidak tega jika uang yang dikeluarkan hanya membuat kaya orang kaya, dan memiskinkan orang miskin.
Sebagai pengatur keuangan keluarga, Bu Siti berhati-hati benar menggunakan uang. Dulu, beliau dan suaminya sempat berbisnis jati. Namun, hasil bisnis itu tidak pernah beliau gunakan untuk makan sehari-hari karena takut kurang berkah. Makanan sehari-sehari diupayakan dari penghasilan praktek dan gaji suami.
Pernah suatu kali Bu Siti menerima uang yang âabu-abuâ dan sempat âdimakanâ oleh anak keduanya. Anak yang bersih itu bereaksi hebat ketika ada harta haram masuk ke dalam mulutnya. Ia menderita muntah darah dan hampir saja maut merenggut. Dalam kedaan kritis itu, bukannya bersedih larut, Bu Siti hanya berdoa,
âYa Allaah jika anak ini akan Kau ambil, maka ambillah. Tapi jika tidak, jadikan ia pemimpin yang akan menyejahterakan umat.â
Akhirnya si anak sembuh dan kini hampir lulus jenjang sarjana di FK UGM.
Saat melepas anak-anaknya sekolah di pesantren saat umur 6 tahun, Bu Siti juga merasa berat hati dan sering menangis. Tapi kemudian ia terbiasa juga apalagi mendengar anaknya berhasil menghafalkan 16 juz di kelas 1 SD. Bagi Bu Siti, keputusan memasukkan anak-anaknya ke pesantren adalah keputusan yang tak ternilai harganya. Karena dengan menjadi penghafal Al-Quran dan anak yang shalih-shalihah, itu menjadi aset akhirat paling berharga untuk orangtuanya. Meski begitu, beliau menyayangkan orang yang memasukkan anaknya ke pesantren tanpa pendidikan keluarga yang baik.
âBanyak orang mengira masukin anak ke pesantren itu yowes masukin aja tanpa pendidikan di keluarga yang baik. Padahal nggak kayak gitu. Pendidikan yang utama itu ya di keluarga. Lha ibu itu sekolah utama untuk anak-anaknya. Anak kalau dimasukin pesantren tapi orangtuanya sibuk nggak ngurusin yowes sama aja nanti hasilnya.â, ujar Bu Siti.
*****
Setelah terbiasa menjadi ibu rumah tangga selama sekitar 20 tahunan, kehidupan Bu Siti terpaksa harus berubah drastis kembali karena suatu hal. Pak Noor Hadi, suaminya, meninggal karena serangan jantung. Mau tidak mau, beliau harus bekerja untuk menghidupi keluarga. Beruntung ia hanya menanggung separuh biaya pendidikan 2 anak, sedangkan keempat lainnya hanya menambah sebagian karena mendapat beasiswa. Dan karena pendidikan karakter yang kuat dari beliau, anak-anaknya sangat pandai dan mandiri mengatur keuangan masing-masing. Jadi meski sangat kecil pemasukan keluarga, dengan kebutuhan tujuh orang, masih bisa dinikmati dan dirasakan lebih dari cukup.
Untuk menunjang finansial, Bu Siti lalu mendaftar menjadi dosen di UMS sembari menjalani S2 Ilmu Hukum. Beliau memang tertarik sekali dengan hukum kesehatan karena belum banyak yang menekuni. Mendapati fakta-fakta yang miris di lapangan, beliau bertekad untuk menegakkan keadilan di dunia kesehatan. Hal ini mendorong untuk belajar dan meneliti dengan giat hingga akhirnya beliau berhasil lulus dalam 20 bulan dengan IPK 3,875. Dan itu diraih tanpa mengorbankan urusan dan kewajiban beliau sebagai ibu rumah tangga.
Berprestasi di bangku pascasarjana membuat Bu Siti ditawari profesor pembimbingnya untuk meneruskan studi doktoral. Meski khawatir akan biaya, akhirnya beliau mengambil juga S3 Ilmu Hukum di UMS atas saran khas suaminya sebelum meninggal,
âKesempatan itu tidak hadir dua kali, kalo duit bisa dicari. Makanya lebih cepat diambil insyaallaah lebih baikâ. Kata Pak Noor Hadi kala itu.
Supaya beliau bisa mendapat beasiswa, maka jenjang pendidikan yang beliau ambil harus linier. Beliau pun harus menempuh S3 sembari kuliah S1 di jurusan yang sama. Maka Bu Siti pun mengambil juga kuliah S1 Ilmu Hukum di Universitas Islam Batik Surakarta.
âSaya ndak tau ya, di Indonesia itu lucu tenan. Mosok ya ada dokter mau buka klinik nggak boleh tapi perawat sama bidan boleh. Padahal kan ndak boleh itu regulasinya. Terus masak bidan sama perawat ki bisa nangani penyakit dan kasih obat to. Belum lagi orang bisa periksa di apotek. Apotekernya Cuma nanya sakit apa langsung dikasih obatnya. Lha itu kan nggak ada proses diagnosis, Cuma apalan aja. Ya untung nek nggak mati pasiennyaâ, ujarnya mengeluhkan hukum kesehatan di Indonesia yang masih morat-marit.
Bu Siti juga menyebutkan lebih banyak kasus kebobrokan dunia kesehatan di Indonesia, dan di akhir beliau menyampaikan cita-citanya untuk dapat menegakkan hukum yang adil di dunia kesehatan.
âPerjuangannya masih panjang sekali untuk bisa benar-benar menegakkan hukum. Makanya yang muda-muda ini yang nanti meneruskan.â ujarnya.
Ada hal yang sedikit ganjil tapi mengagumkan kala menyelami kehidupan Bu Siti. Beliau bisa sangat berapi-api menceritakan seluk-beluk hukum kesehatan, padahal sebetulnya belum lama ia menekuninya. Hidupnya seperti dikurung di rumah selama puluhan tahun, tapi begitu keluar dan kembali belajar, beliau bisa melesat mengangkasa di bidang yang ditekuni. Kecerdasan yang dulu begitu melekat padanya tidak lantas pudar hanya karena menjadi ibu rumah tangga, bahkan meningkat pesat. Karena baginya, hidup itu ibarat lomba lari. Semakin dekat dengan garis finish, seharusnya semakin cepat berlari supaya tidak tersalip oleh yang muda. Semakin tua, seharusnya semakin banyak belajar dan berkontribusi, bukan malah menjadi lemah dan tak berdaya.
âHidup itu ibarat lomba lari, semakin dekat garis finish harusnya larinya semakin kencang. Maka, saya harus semakin banyak belajar dan kontribusi biar ndak disalip sama yang lebih muda.â Kata Bu Siti.
Bu Siti begitu bersyukur lama menjadi ibu rumah tangga, karena selain anak-anaknya tumbuh dengan ketaqwaan, bekerja di lapangan justru membuat seseorang menjadi cepat tua dan sulit terhindar dari fitnah. Beliau menjadi bukti bahwa memang sekolah utama anak-anak memang ibunya. Al-ummu madrasatuluulaa li aulaadihii.
Satu prinsip lain yang terus dipegang oleh Bu Siti tertuang dalam Surat An-Nisa ayat 9 yang artinya,
âDan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.â
Seorang ibu tidaklah pantas meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan lemah sekedar untuk bekerja. Dan setelah itu, tugas selanjutnya adalah bertaqwa dan berkata benar. Menurut pada suami, memasak, mencuci, menjahit, bersih-bersih, adalah sedikit dari bentuk ketaqwaan Bu Siti sebagai seorang istri dan Ibu. Terlebih lagi prinsip kehati-hatian dan keadilan, menjadi manifestasi nyata kedekatan beliau dengan Allaah swt.
*****
Di akhir obrolan itu, tampak oleh saya matanya yang berkaca-kaca. Bercerita panjang lebar tentang seluk-beluk kehidupannya membuat beliau terharu rupanya. Sampai di satu statement terakhir yang membuat saya tertegun karena hal tersebut adalah cita-cita saya juga,
âSaya bersyukur sekali menikah dengan suami saya dan mengalami kehidupan yang seperti ini. Dari dulu cita-cita saya itu cuma supaya bisa melahirkan generasi terbaik yang menjadi tonggak kebangkitan umat.â
Ah, percakapan sore itu memberi kami begitu banyak pelajaran. Otak kami dipenuhi oleh berbagai inspirasi, sementara bibir kami memanjatkan doâa untuk beliau. Semoga Allaah swt senantiasa kuatkan ya, Bu.
=================================================
MasyaaAllah, tulisan yang dibuat oleh saudari asrama saya dan suaminya :â)
semoga banyak hikmah yang didapat bisa diteladani..
Author : Zahratul Iftikar Jadna Masyhida Editor : Khoirul Fahmi
perempuan yang punya banyak mimpi
kamu tau nggak, perempuan yang punya banyak mimpi itu cantik dan hebat banget kalau dilihat dan dikenal. mereka menarik karena tampak cerdas, karena sekiranya bisa melahirkan dan mendidik anak-anak yang cerdas pula.
kamu tau nggak, perempuan seperti itu, super merepotkan kalau dijadikan pasangan hidup. kalau kamu jatuh cinta sama perempuan yang punya banyak kemauan, kamu harus bersiap-siap.
kamu harus siap menjadi tempatnya bertanya, berbagi cerita, bahkan berkeluh kesah tentang perjalanan mencapai mimpinya. sebab, sungguh tidak ada perjalanan mencapai mimpi yang mudahâmeski selama ini kamu melihatnya demikian, bahwa dia penuh dengan kemudahan.
kamu harus siap dan sigap untuk menjadi yang pertama dalam membela mimpinya. menjadi yang percaya saat orang lain tidak. menjadi yang pertama menikmati karya-karyanya. menjadi penggemar yang paling utama dan setia.
kamu harus siap ikut menghidupkan mimpi-mimpinya sebagaimana mimpi-mimpimu sendiri. sungguh, bagi para perempuan seperti itu, kalah pada mimpinya bisa jadi sama menyedihkannya dengan patah hati.
kamu harus siap dengan semua kerepotan itu. bahkan, kamu harus siap untuk berkorban.
perempuan yang punya banyak mimpi itu berisik, merepotkan. tapi, kamu tau nggak, kebanyakan dari mimpi perempuan sebenarnya adalah hadiah untuk orang yang paling disayanginya. kalau kamu merasa pantas untuk mendapatkannya, bersiaplah untuk membantunya merakit hadiah itu.
berkasihlah dan salinglah memberi hadiah, niscaya kalian semakin saling menyayangi.
In ahsantum ahsantum li anfusikum. Jika kamu berbuat baik (berarti) kebaikan itulah untukmu sendiri.
Al Israa : 7
Kak, temenku muslim. Akhir2 ini dia sering mempertanyakan kebenaran agama Islam. Aku bingung ngejawabnya gitu kak. Dia bilang kan kita islam juga turun temurun. Kemudian dia bilang jg "untukku agamaku, untukmu agamamu", berarti Allah jg bilang kalau agama itu lebih dr satu kan bukan islam doang? Dia cerita juga kalau kayak2 pastur yg bs sembuhin org sakit itu dpt kuasa drmn? Atau ada buku mengenai pertanyaan2 begini ga kak? Aku takut temenku ini nantinya mudah kegoda agama lain kak :(
lanjutan) Tapi dia percaya kalau islam agama yg benar. Tapi kata dia, semua agama pasti berpikir agamanya yg benar jg kan? Gitu katanya. Dia kayaknya gampang goyah gitu kakâ
Wow, pertanyaan yangsangat dalam. Saya jawab tapi mungkin agak panjang karena menyeluruh, karenakalau dijawab setengah-setengah, akan kurang baik, siapkan 3 menit untuk baca ini. Dan semoga ini juga menjadihidayah, baik bagi anon, maupun semua muslim di jagat tumblr
â
BAGAIMANA MEMASTIKAN ISLAMITU BENAR?
Apakah 2 + 2 = 4?Jawabannya iya, benar. Kenapa? Ya, karena kita paham akan dasar ilmunya, bahwa1 + 1 = 2.
Tapi apakah benar kalauturunan pertama dari Æ(x) = 3x2 + 4 adalah 6x? Tentu tidak semudahpertanyaan diatas, karena kita harus memahami dulu dasar dari ilmu tersebut.
Sama halnya denganmemastikan islam sebagai agama yang benar, apakah kita sudah memelajari tentangislam itu sendiri? Indonesia adalah negara islam, tapi berapa banyak orang yangterlahir sebagai agama islam, belajar tentang agamanya sendiri?
Banyak dari kita yang raguakan kebenaran islam, karena kita tidak memelajari seluk beluk tentang islam, dan alasan bahwa islam diturunkan oleh Allah untuk menyempurnakan agama yang sebelumnya telahturun.
Banyak dari kita tahu namaTuhan kita Allah, tapi tidak banyak yang bergantung padanya. Banyak dari kitatahu nama Rasul kita Muhammad SAW, tapi tidak banyak yang tahu perjuangannyamenyampaikan islam. Banyak dari kita tahu kita diperintahkan shalat, zakat,puasa, haji, sedekah, tapi tidak banyak yang mengetahui makna di dalamnya.Kurangnya pemahaman kita terhadap agama kita sendiri lah, yang membuat kitajustru memertanyakan kebenaran islam.
Maka sebelum memastikansesuatu itu benar atau salah, kita harus mengetahui hal tersebutsebenar-benarnya dari sumber-sumber terpercaya. Karena banyak orang yang menjalaniislam sebagai agama yang sudah âterlanjurâ diberi oleh orangtua, bukan sebagaiagama yang benar.
Maka, saran saya pertama,agar tidak goyah terhadap islam, pelajarilah seluk beluk tentang agama islam,agama kita sendiri.
Salah satu cara terbaikyang hingga kini membuat saya meyakini bahwa islam adalah agama yang palingsempurna adalah dengan memelajari sejarah lahirnya islam dari sirah nabawiyah(kisah kehidupan nabi). Dari sini, kita belajar bagaimana islam turun, kenapasebuah ayat bisa turun, dan bagaimana islam diterapkan.
Sudahkah teman-teman jugabelajar islam?
â
SEDIKIT SEJARAH YAHUDI,NASRANI, DAN ISLAM
Berikut saya sharesedikit, hal yang saya dapatkan dari kajian ust. Khalid basalamah yang sayaikuti, sehingga bisa memberi penjelasan, tapi untuk detailnya, silahkan bisamengikuti kajian lebih lanjut (nanti saya share link mp3 nya agar bisa didownload).
Setiap Nabi itu diperintahkanAllah untuk mengajak kaumnya untuk menyembah Allah, karena mereka berada didalam kesesatan, diantaranya adalah menyembah berhala, patung-patung ataubahkan manusia, padahal Allah lah yang memberikan segala nikmat di dunia, sedangkan Allah tidak suka kepada orang-orang yang syirik.
Berikut saya shareperistiwa secara singkat, dari munculnya ajaran Nabi Ibrahim hingga ditutupnya ajaran nabi-nabi oleh agama islam.
Nabi Ibrahim a.s. diutusoleh Allah untuk membenarkan kaumnya yang sesat, karena pada zaman tersebut, Namrud,raja orang-orang tersebut, menyebut dirinya tuhan, sehingga menyuruhorang-orang untuk menyembah dirinya. Singkat cerita, Nabi Ibrahim menghentikanNamrud, dan membuat orang-orang akhirnya mengikuti ajaran Nabi Ibrahim a.s.,yakni menyembah Allah dan juga melaksanakan syariat haji, seperti tawaf,qurban, dsb.
Selepas meninggalnyaNabi Ibrahim a.s., maka kaumnya kembali menyembah berhala. Dan ini ternyatasudah menjadi sebuah kebiasaan, tatkala sebuah kaum ditinggalkan Nabi mereka,maka mereka kembali sesat karena tidak ada tempat untuk bertanya.
Lalu, Allah mengutusNabi Musa a.s , membawa kitab taurat, untuk membenarkan orang yang telahmelenceng dari ajaran nabi Ibrahim a.s.
Pernah suatu ketika,Nabi Musa a.s. meninggalkan kaumnya selama 40 hari untuk menerima taurat dariAllah SWT, namun ketika kembali dari penerimaan taurat tersebut, Nabi Musa a.s.mendapati kaumnya yang sebelumnya sudah menyembah Allah, kini menyembah patungsapi. Ketika ditanya oleh Nabi Musa a.s., maka jawabannya âKarena kau tidak ada, dan kami merasa ini benarâ. Lantas Nabi Musa a.s. memerintahkan kaumnya untuk bertaubat sehinggakaumnya diberi nama yahudi yang artinya Taubat. Dan sejarah Nabi Musa a.s. ini juga menjadi alasanturunnya surat al-Baqarah (sapi betina). Lantas, sepeninggalan Nabi Musa a.s.,kaumnya kembali melenceng dan kembali menyembah berhala.
Lalu, Allah mengutusNabi Isa a.s., dengan kitab injil, untuk membenarkan kaum yahudi yang sudahmelenceng dari ajaran yahudi yang sebenarnya. Dan kala itu, yahudi yang menolakinjil juga disebut kafir, karena tidak mau beriman kepada Allah SWT, tapi lebihmemilih menyembah berhala.
Nasrani sendirimemiliki arti penolong, karena Nabi Isa bertanya dan meminta kepadakaumnya untuk menjadi penolong agama Allah SWT (kembali menegakkan orang-orangyang melenceng).
Namun, ketika NabiIsa a.s. diangkat oleh Allah, banyak kaumnya yang melenceng dari ajarannya dan menjadikanNabi Isa a.s. sebagai Tuhan.
Maka, untuk kembalimeluruskan yang telah menyimpang, Allah menurunkan agama Islam melalui NabiMuhammad SAW. Untuk kembali meluruskan, bahwa tuhan yang harus disembah adalahAllah SWT, bukan patung, bukan berhala, bukan orang yang mengaku-ngaku sebagairaja. Itu kenapa, Allah SWT menyebutkan bahwa islam adalah agama yangmenyempurnakan ajaran sebelumnya, karena memang agama sebelumnya juga benar,namun banyak orang yang melenceng, sehingga kembali diluruskan dengan adanyaQurâan.
Dan bagaimanaperjalanan Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat menegakkan kembali islam,menjadi pelajaran besar bagi saya dan membuat saya yakin, bahwa jika kitamemang menginginkan syurga, maka kita harus mengikuti ajaran islam. Denganmengikuti islam, maka kita juga sudah menjalankan Nasrani yang benar yang diajarkan oleh Nabi Isa a.s., juga yahudiyang benar yang diajarkan oleh Nabi Musa a.s., dan juga ajaran yang dibawa nabi-nabi sebelumnya untuk menyembah AllahSWT.
Ya, memang agamadari Allah itu tidak hanya Islam, dan turunnya agama itu untuk membenarkan kaumyang melenceng dari agama-agama yang telah turun sebelumnya.
 â
TENTANG âUNTUKKUAGAMAKU, UNTUKMU AGAMAMUâ
Terkait memahamisebuah ayat, penting sekali untuk memahami âsebabâ turunnya ayat,sehingga paham konteks dari ayat tersebut dan bukan lahir dari tafsiran sendiri.
Ayat di atas adalahpenggalan dari Al-Kafirun, singkatnya, ayat ini turun ketika Nabi Muhammaddipaksa untuk menyembah berhala, padahal saat itu sudah ada perintah untukmenyembah Allah SWT.
Orang kafir Quraisy memintanabi Muhammad SAW menyembah berhala selama 1 hari, lantas merekabergantian menyembah Allah selama 1 hari, lalu Nabi menolak. Kafir itu terus menego sampai akhirnyaberkata âCukup katakan bahwa tuhan kami (berhala) itu ada, dan kami akan menyembah Allahseumur hidup kamiâ
Maka kala itu, NabiMuhammad SAW mendapat wahyu dari Allah, dan beliau ucapkan kepada kafirtersebut âaku takkan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu takkan menyembahapa yang aku sembah. Untukku agamaku, untukmu agamamuâ sebagai penegasan,bahwa seorang muslim yang baik, tidak akan menyembah apapun selain Allah SWT,sebagaimanapun orang kafir menggodanya, dan ayat tersebut bukan sebagai pernyataan bahwa agama lain benar sehingga penyembahanberhala tersebut dianggap benar.
â
TENTANG PASTUR SEMBUHIN ORANG SAKIT
Ini bukan pendapatsaya, tapi ini saya dapatkan dari Ust. Mathius, atau dikenal KH. Syarif Hidayat, mantan jendral misionaris Indonesiayang kini menjadi mualaf, dan kebetulan juga teman dekat ibu saya sehingga saya sering mengobrol.
Beliau bilang kalauitu memang kegiatan yang dibuat oleh teman-teman misionaris, untuk membuatorang percaya.
â
PEMAHAMAMAN âSEMUAAGAMA ITU SAMAâ
Kalau ada orang yangbilang âGapapa kok nganut agama lain, semua agama juga sama kok, bisa masuksyurgaâ maka orang islam adalah orang yang paling bodoh.
Kenapa juga kita harus cape-cape solat5 waktu, berpakaian ada aturannya, harus sedekah, harus ngaji, gak boleh minumdan makan yang haram, terus harus haji, banyak larangan dan perintah? Mendingpindah ke agama yang ibadahnya gak berat, pakai baju boleh buka-bukaan, gausahbangun subuh atau tahajud, bebas minum dan makan, pokoknya bebas deh, tohsama-sama masuk syurga. Bener ga? Tapi nyatanya engga kan? Apalagi jika kitabelajar tentang kenapa islam turun, maka kita akan paham.
Karena pemahaman âgapapakok semua agama samaâ itu adalah pemikiran orang liberal, agar orang bisanyantai dan gak perlu belajar islam dan bisa mudah berpindah ke agama lain.Â
â
SEBAGAI PENUTUP
Sekali lagi, sayahanya mengingatkan dengan tulisan ini, agar kita semua mau belajar mendalamiagama kita sendiri. Sejarah sudah menjelaskan, tatkala suatu kaum ditinggalkan Nabinya, maka mereka akan melenceng. Tak hanya yahudi, nasrani, bahkan kita umat muslim pun banyak yang melenceng. Bukankah banyak yang berdalih jihad tapi melakukan bom bunuh diri? Apakah jika Nabi Muhammad SAW hidup sekarang, hal tersebut diperintahkan? ya, kita perlu belajar, agar tidak melenceng.
Karena bisa jadi, mualaf yang baru masuk dari agama lainjustru lebih mencintai islam, karena mereka memelajari agama islam secarakeseluruhan, sedang kita hanya menjalani secara seadanya karena kitamendapatkan agama ini bukan karena hidayah, melainkan mendapatkan agama inidari orangtua kita.
Dan tulisan diatasbertujuan bukan untuk menyerang agama lain, bukan untuk bilang âagama islampaling benarâ karena agama bukanlah untuk dibanding-bandingkan, tapi tulisanini mengajak teman-teman untuk lebih memahami tentang agama islam, agamapenutup, agama penutup yang menyempurnakan agama sebelumnya, agama yang membawa kitakepada syurga, tempat sebaik-baik kembali.
âÂ
Tentu tulisan diatas hanya sebagian, silahkan teman-teman bisa mengikuti kajian lanjutan, bisa di youtube dsb, juga membaca berbagai sumber lainnya.
wallahuaâlam bisshawab. Jika ada yang salah, mari saling mengingatkan.
Semoga bermanfaat,punten panjang banget. Semoga berkenan. Silahkan share untuk mengingatkanteman-teman lainnya.
Terima kasih
Semua kembali pada apa yang di niatkan oleh hati
Hikmah kebingungan hari ini