Jepretan favorit adalah ketika bertemu langit beserta awannya. Rasanya sulit berpaling sebelum merekam dengan layar ponsel.
Cosimo Galluzzi

izzy's playlists!

⁂
Sade Olutola
almost home

@theartofmadeline
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
h
trying on a metaphor
Peter Solarz
No title available

shark vs the universe

PR's Tumblrdome
wallacepolsom
todays bird
No title available
Cosmic Funnies

ellievsbear

roma★

No title available

seen from Brazil
seen from Switzerland

seen from Belgium

seen from Italy

seen from Germany

seen from Argentina

seen from Germany

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Switzerland
seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States

seen from Switzerland
seen from Germany

seen from Mexico
seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye
@secariktulisan
Jepretan favorit adalah ketika bertemu langit beserta awannya. Rasanya sulit berpaling sebelum merekam dengan layar ponsel.
BOOK STORE // SEA
DAY 3 - A Memory
Yogyakarta, 26 April 2021
Jika ditanya tentang SEBUAH MEMORI, hal yang tetiba terlintas adalah proses bagaimana pelan-pelan aku belajar untuk menyukai membaca buku. Toko buku yang awalnya hanya untuk membeli buku kuliah, pernah pada waktu itu (sampai sekarang sih) menjadi tempat favorit untuk menenangkan diri. Tentu ada banyak memori yang tersimpan baik. Hal yang selalu aku coba memahami adalah mungkin seseorang itu pernah menyakitimu, tetapi kenangan baiknya akan tetap baik, tidak masalah jika banyak orang mengatakan tidak setuju, karena setiap kita mempunyai pendapat sendiri.
Entah kenapa kenangan toko buku selalu berhasil membuatku tersenyum geli, tak perlulah diceritakan detailnya, karena biarlah itu menjadi kenangan yang pada akhirnya hanya aku yg bisa memahami dan memaknai. Untuk seseorang yg telah pergi, tetap kuucapkan terima kasih sudah mengajarkanku untuk pelan-pelan mencintai membaca buku.
Lalu memori yang paling bikin bahagia adalah ke pantai, apalagi di ajak, tentu sangat membahagiakan :)) kayaknya pagi ini lagi susah nulis banyak, karena eh diajak diskusi terus sama senior wkwk.
Sahabat baik yang tidak pernah absen untuk merangkai kata-mengumpulkan cerita-membingkai kenangan. Dear Ismi Nuari, thankyou for be my bestie.
Terima kasih selalu mendengar segala cerita saat jungkir balik dunia Anggik, terima kasih tetap menerima meski aku seperti sempat menghilang untuk memulihkan diri. Semoga semesta selalu memeluk segala asa dan citamu, selamat berproses dengan keluarga kecilmu, yang nantinya pasti jadi keluarga besar hehe..
Officialy turn in 27th. Makin merasakan, bahwa mereka yang ingat adalah mereka yang tidak lupa, hahaha... mereka yang mengingat dan meluangkan waktu untuk menuliskan ucapan dan doa, ternyata nampak terasa lebih membuat hati berdebar dan bibir susah menyembunyikan senyumnya. Nggik, perjalanan dan prosesmu masih akan terus berlalu, semoga di tahun yang ke 27 ini, kamu bisa memulai lagi untuk menemukan dan ditemukan, melangkah ke next step. aamiin.
Ngemusik dan Ngejurnal
DAY 2 - Things that makes you happy (DAY 2 lanjut setelah 3 bulan lebih setelah tulisan DAY 1)
Yogyakarta, 8 Maret 2021
Hari ini ada dua kegiatan sekaligus, ada rapat untuk perumusan Standar Kompentensi Lulusan (SKL) untuk siswa kelas XII dan diklat menulis fiksi yang diadakan oleh Sekolah. Beberapa hari sebelum ada undangan rapat, tentu sudah sangat senang karena akan mengikuti diklat menulis, siapa tau bisa membangkitkan semangat menulis cerpen. Tapi apa boleh buat, hari ini duduk di ruang rapat, sambil mendengarkan suara narasumber dari diklat menulis fiksi dari apliasi G-meet.
Kalau diminta menyebutkan apa sih benda yang membuatmu merasa happy, dalam benak saya pagi ini ada dua barang HEADSET dan BUKU HARIAN. Headset tidak pernah lepas untuk saya bawa, dan terkadang sedih jika saya lupa untuk membawa, teman dikala sedang ditekan untuk melahirkan ide, teman ketika harus fokus, teman ketika menunggu, dan teman banyak hal untuk setiap perjalanan. Musik yang didengarkan dengan headset akan membuat kita merasa lebih enjoy menikmatinya. Suara bass favorit dibeberapa musik, membangkitkan semangat dan fokus saat keadaan sedang menuntut dua hal itu. Begitu juga saat berjalan kaki atau jogging sendiri, headset adalah teman yang membuat nyaman saat olahraga.
Hal kedua adalah buku harian, tempat kita bisa membuat jurnal harian. Menempel stiker untuk pemanis, mewarnai untuk lebih menghidupkan cerita, ya buku harian sangat membuat senang dan nyaman.
MENDENGARKAN MUSIK dan MEMBUAT JURNAL adalah dua hal yang sangat seru jika dipadukan, terkadang musik membuat kita sangat emosional untuk menemani menulis jurnal, sehingga perasaan yang sedang kita pendam bisa keluar dengan mengalun mengikuti musik. Coba saja kalian lakukan, di kamar yang sepi, putar lagu dengan headset dan menulislah di jurnal.
Selamat mencoba :)
Aku di Mataku
Aku, emmmmm... jika menggambarkan aku, itu adalah salah satu hal yang lumayan sulit. Bagaimana harus menggambarkan AKU dengan benar ya? Tapi mari kita coba :)
Lahir 26 tahun lalu di sebuah kota kecil yang dingin dan sering hujan. Tidak pernah punya cita-cita menjadi seorang Guru tapi kini sedang mencintai pekerjaan dan mengabdi di salah satu SMK Negeri Kota yang katanya Daerah Istimewa. Aku di mataku, sosok yang (agak) cerewet, punya kelebihan menganalisa cukup jauh :D, apa lagi ya, ternyata sulit mendeskripsikan diri sendiri itu.
Tapi satu hal yang sulit lepas adalah Aku pecinta langit dan senja, bukan berarti anak indie, tapi memang lumayan suka lagu-lagu indie, dan tentu tidak terlalu suka kopi kecuali kopi susu (ini juga baru-baru ini, karena keseringan nongkrong kali ya).
Punya kebiasaan entah sejak kapan, kadang kalau lagi iseng bisa jalan ke pantai sendiri dan duduk menikmati senja sambil tak lupa untuk memotretnya. Senja punya pengaruh baik untuk diriku, karena warna senja yang berbeda setiap ditemui selalu memberikan arti tersendiri.BTW saking susahnya mendeskripsikan diri sendiri malah jadi mendeskripsikan bagaimana bisa jatuh cinta sama SENJA hehehe.
Banyak tahun ke depan otomatis harus menjadi orang yang selalu belajar karena pekerjaan menjadi GURU di era saat ini bukan lagi pekerjaan yang orang bilang sepele, sungguh tidak sepele, tapi aku berterima kasih kepada semesta karena telah membawa langkah kakiku untuk sampai pada pekerjaan ini. Pekerjaan yang membuatku tak pernah sepi (karena siswa hampir setiap hari dan waktu mengirim pesan untuk bertanya, konsultasi atau mengirim tugas). Aku yang sempat kehilangan rasa optimis dalam hidup kini pelan-pelan belajar lagi untuk senantiasa mensyukuri setiap detik berlalu.
Terima kasih aku, mari kita terus saling, sampai misi vsi mimpi dan langkah kita sampai.
23 September 2020
#30DaysWritingChallenge
Halo, sahabat tumblr.
Sepertinya kali ini saya mencoba kembali, dengan melakukan challenge, hehehe, yah siapa tau minat menulis jadi kembali.
Pertama tau challenge ini, saat saya melihat story salah satu orang yang saya ikuti di Instagram. Sepertinya ini menarik, jadi marilah kita coba.
Entah mulai hari ini atau besok, mari kita coba ya hehehe..
Solo dan Jepretan
Sudah lama rasanya tidak sok-sokan jepret lingkungan tempat berpijak. Ceritanya waktu itu ada agenda jalan-jalan ke Solo dengan seorang kawan, kami benar-benar berangkat pagi karena kami berniat mengunjungi Museum Tumurun, selanjutnya agenda benar-benar tidak direncanakan. Kami hanya menghabiskan waktu bercanda dan ngobrol, hari itu memang dedikasi khusus, sebagai kado karena teman saya melampaui targernya. Untuk itu seharian full benar-benar ngobrol apapun.
Foto di atas diambil tanggal 9 November 2019, ketika kami jalan menuju Stasiun Purwosari untuk pulang. Kenikmatan jalan kaki, kalau ada teman ngobrol dan seru memang tiada tara rasanya. Sambil ngobrol, sambil sesekali saya berhenti untuk menjepret apa yang menurut saya menarik. Sore itu sudah mau menjelang Magrib, langit hampir gelap, tetapi saya beruntung karena bertemu senja.
Senja di Stasiun Purwosari, menakjubkan, sambillalu ada kereta yang lewat.
Solo, obrolan seru, dan jepretan rasanya menggambarkan betapa membahagiakannya hari itu. Terimakasih untuk kesempatan, waktu, dan Solo raya tercinta...
Halo...
Apa kabar teman tumblr? Semoga dalam limpahan syukur dan bahagia aamiin. Kali ini lewat Secarik Tulisan saya akan launching media pembelajaran yang saya susun dan kembangkan dalam rangka memenuhi aktualisasi pada masa habistuasi Pendidikan Pelatihan Dasar CPNS Golongan. III, Angkatan XVI tahun 2019. Materi yang ada pada media tersebut adalah Diagram Proyek pada mata pelajaran Pengelolaan Bisnis Konstruksi dan Properti.
Masih ada beberapa kekurangan dalam media tersebut, dikarenakan waktu yang begitu mepet dalam pembuatan, mungkin akan diperbaiki sambil berjalannya pembelajaran Pengelolaan Bisnis Konstruksi dan Properti.
Oiya, aplikasi tersebut baru bisa di pasang pada Android saja ya :). Semoga materi yang ada pada apikasi pembelajaran berbasis android tersebut dapat membantu siswa lebih paham materi mengenai Diagram Proyek. Selain itu besar harapan agar aplikasi dapat meningkatkan semangat belajar siswa, karena dapat digunakan dimana saja dan kapan saja ketika mereka membawa ponsel androidnya.
Terimakasih untuk seluruh pihak yang membantu saya dalam menyusun dan mengembankan media ini. :)
Aku mungkin, memang bukan pendengar yg baik, atau mungkin bukan juga perasa yang baik, tapi terimakasih untuk energi positifnya kawan-kawan...
Kembali Mendaki Gunung
Masa-masa perkuliahan adalah masa yang tidak lengkap kalau tidak digunakan untuk menjajal banyak hal baru. Hal baru yang saya lakukan saat itu adalah Mendaki Gunung, kalau ditanya “apakah itu keinginan sendiri?” tentu jawabannya adalah “bukan (sambil senyum-senyum simpul)”. Karena pada kenyataan mendaki gunung saat itu adalah ajakan yang ceritanya sangat mengesankan tapi terlalu panjang jika dijabarkan pada tulisan ini.
“mendakilah, maka kamu akan tau rasanya lega setelah terengah dan lelah.”
Pertama kali mendapat ajakan otomatis setengah hati mengiyakan, dengan porsi badan yang tidak ideal dan sejak kecil memang tidak terlalu suka dengan lari cepat sungguh membutuhkan dorongan yang cukup kuat. Beruntungnya saat diajak pertama kali, dorongannya memang kuat dan hanya tersisa sedikit persen untuk menolak (saya menulisnya saja sambil senyum-senyum, jadi bisa dibayangkan sendiri betapa kuatnya dorongan yang saya punya saat itu :)). Persiapan tidak hanya daftar menu dan bawaan, tapi juga fisik, saat itu usaha dengan jogging hampir setiap sore selama satu minggu, tetapi terapi itu akan menghilang seiring berjalanannya waktu ketika naik gunung tak lagi punya banyak persiapan.
-----Jadi skip sajalah awal mulanya, mari kita langsung menulis cerita tentang Kembali Mendaki Gunung---------
Awalnya Bercanda tapi Diseriusin
Sabtu, 27 Mei 2019.
Kebiasaan libur, nongkrong di Kedai Kriwil (kedai punya temen nih, bisa dicek nih di instagramnya https://www.instagram.com/kedai_kriwil/ ) diskusi, cerita, curcol, supaya gak kaku-kaku banget dalam menjalani hidup setelah Senin sampai Jumat kita disibukkan dengan aktivitas kerjaan. Sambil bercanda ada yg membahas “ayo munggah..” lalu kalimat itu berlalu dan kembali lagi di gaungkan “kapan iki sidone munggah” setelah itu baru disusun rencana dan pilihan jatuh pada Gunung Prau. Alasan awal sih yang tidak terlalu tinggi dan rumit, karena sudah dekat waktu puasa, dan libur juga hanya waktu weekend saja. Setelah itu kesepakatan hari, antara berangkat Kamis atau Jumat, tapi pada akhirnya karena di Hari Jumat ada beberapa orang yang masih punya tanggungan kerja dijadwalkanlah berangkat mendaki pada Jumat 3 Mei 2019.
Hari demi hari dilalui dengan menanti hari-H mendaki, tentunya ditambah dengan pertanyaan dalam hati “siap nggak ya? atau yakin nggak ya?”. Ya, bagaimana tidak terjadi rasa ragu, sementara terakhir naik gunung itu sekitar pertengahan 2016, sekarang sudah 2019, hampir 3 tahun vakum mendaki, meski saya pendaki abal-abal karena bukan mahir tapi rasanya senang juga ternyata bisa mengoleksi daftar gunung yang sudah didaki. Gunung Prau juga sudah pernah saya daki sebelumnya, dengan cerita yang begitu romantis dan hangat, tetapi memang saat itu belum bertemu sunrise yang hangat.
Tidak ada waktu untuk melakukan pemanasan, seperti jogging karena kesibukan di kantor baru (ceila... hehehe). Eh, btw itu serius karena masih jadi pegawai baru jadi otomatis berangkat pagi pulang hampir petang (ditambah jarak rumah ke kantor yang juga lumayan, karena butuh waktu 30 menit kalau ngebut 45-60 menit kalau santai dan padat).
Hari-H Berangkat Mendaki
Jumat 3 Mei 2019. (tapi, sayangnya lupa mendokumentasikan nih hehehe)
Jam 15.00 WIB masih berada di kantor dan baru mau siap-siap pulang, lalu mampir ke pasaraya sebentar untuk belanja beberapa kebutuhan. Sampai rumah sudah menjelang magrib, dan belum packing sama sekali (hehehehe tenang wan-kawan, memang kebiasaan gitu, di kantor sebelumnya sudah terlatih packing simple dan kilat wkwkw, karena pernah packing cuma 30 menit sebelum jam berangkat ke stasiun untuk dinas, jangan tanya rasanya, yang jelas panik sekali). Kami janjian berkumpul di kedai jam 20.00 WIB, tapi karena fisik yang cukup lelah saya baru keluar rumah jam 20.30 WIB dan masih muter-muter mencari barang yang kurang, sampai kedai sudah pukul 21.15 WIB jika saya tidak salah ingat. Di kedai masih menunggu beberapa teman, selanjutnya kami sepakat berangkat pukul 23.00 WIB.
Sepanjang perjalanan lancar, tapi ketika setengah perjalanan ada salah satu motor kawan yang ban-nya bocor, lalu kami menepi dan menunggu, sekitar pukul 01.00 WIB Sabtu, 4 Mei 2019, kami kembali malanjutkan perjalanan. Ngantuk-Sepi-Dingin wah semua jadi satu datang, terutama untuk saya yang jarang bonceng, pokoknya berusaha melek-melekin mata dengan susah payah.
Sampai di Basecamp
Sabtu, 4 Mei 2019.
Untuk menghemat baterai ponsel, terpaksa tak berfoto, sepertinya ada tapi didokumentasikan oleh Khusnul. Jam 02.30 kami mulai mendaki, waktu berjalan sangat cepat, ini adalah 24 jam yang sangat-sangat dimanfaatkan untuk beraktivitas. WELCOME TO THE MOUNTAIN... :)))
Mendaki “Prau”
masih Sabtu, 4 Mei 2019
Perjalanan mendaki, usaha mengatur napas sangat susah payah, saya mendaki bersama kawan-kawan baik saya: Khusnul, Yogi, Ilham, Ilu, Agung, Aer dan teman baru-Pak Dedi. Beruntungnya mendaki bersama mereka, terasa spesial, ketika mereka melihat saya kesusahan, si Ilham langsung menawarkan menggendongkan tas punggung saya (terharulah, padahal tas yang saya gendong tidak lebih berat dari tas untuk naik Gunung Lawu). Perjalanan begitu penuh arti bagi saya, saya banyak terdiam, saya termenung, saya mengenang pertama kali kaki saya melangkah di tanah Gunung Prau, tawa-canda-cemas dan akhirnya rindu. Karena kesulitan mengatur napas saya lebih banyak diam, sambil menata ingatan yang datang. Pos 1, Pos 2, dan Pos 3, berhasil terlewati dengan sabarnya kawan-kawan semua menunggui saya, menasihati untuk terus semangat dan atur napas dengan baik. Semakin tinggi rasanya napas semakin sulit, semakin sesak, dan seperti akan berhenti saja :”).
Foto menjelang subuh, pemandangannya sudah menakjubkan sejak kami naik karena langit cerah bertabur bintang. (beruntungnya saya :)))
Di perjalanan yang sudah hampir sampai puncak, saya berkali-kali takjub, terharu, berkaca-kaca, melantukan doa baik pada semesta raya, matahari terbit mulai mengintip.
Warna merah orange sudah di depan mata, rasanya makin tak sabar sampai, tapi napas benar-benar terengah seperti hampir habis. Saat mengambil foto ini, rasanya luar biasa sekali, masyaallah.
Hello, sunrise!!!!
(Foto dari Kamera Khusnul)
Rasanya nangis di batin, nggak nyangka dikasih kesempatan sama semesta berkunjung lagi ke Gunung Prau dan dikasih kesempatan juga nonton sunrise secara hangat, terharu aku tuu sampai nggak lagi bisa berkata-kata.
selfie dulu gan.... muka apa adanya, dinginnya mantap... yeay.
Tim dibalik layar Anggik naik gunung, terimakasih...
Akhirnya sepatu gunungnya naik gunung lagi, sama tas gendong yang dibeli niatnya buat dinas-dinas, akhirnya dia beneran jadi tas gunung :))). Tidak perlu jaket tebal, cukup pakai Jaket Jurusan kesayangan yang sudah buluk :)).
Duo gondrong Agung dan Iluk....
Terimakasih tim yang akhirnya merelalisasikan akhirnya Kembali Mendaki Gunung :))) Tiada kesan tanpa kalian semua guys. Terimakasih sudah memaksa untuk ikut, meski perasaan campur aduk datang saat mau kembali naik. Terimakasih sudah sangat caring hingga sulit menyembunyikan -senangnya naik gunung sama kalian semua-. Pulangnya kita semua mampir makan mie ongklok, sayangnya mie ongklok langganan sedang libur berjualan, jadi makan mie ongklok opsi dua deh heehehe, gapapa yang penting tempe kemul tidak ketinggalan.
24 jam di 4 Mei 2019, sama seperti 24 jam di 4 Mei 2014 dimana hari itu dulu juga merupakan kali pertama saya naik gunung selama hidup, Gunung Lawu dengan begitu banyak cerita serta memori indahnya.
Semesta tidak pernah tidur untuk mengabulkan meski banyak harapan yang hanya sampai pada buku diary atau dalam hati ketika melamun panjang. Terimakasih semesta mendengar doaku, terimakasih telah mengizinkanku menyaksikan sunrise yang indah sekali. Akhirnya kali kedua naik Prau berhasil mengabadikan cahaya langit yang indah, dah bunga cantik yang dulu tidak sempat diabadikan karena kamera ponselnya belum sebaik hari ini hehe.
Akhir kalimat, See you in another mountain yaa guys.. hehehe
Merangkai Semangat dalam Kebersamaan
Sabtu, 13 Januari 2018.
Pagi yang cukup mendung, karena subuh tadi jalanan masih tertutup kabut padahal sudah pukul 06.00 WIB. Hari ini cukup berbeda dari hari-hari lainnya. Ada acara kantor yang benar-benar harus diagendakan, karena Sabtu biasanya kantor libur dan waktunya quality time dengan keluarga. Acara kantor yang sudah diagendakan dari akhir tahun 2017, yang bertujuan untuk mempererat lagi kebersamaan yang semoga bisa membuat tim tetap semangat bekerja.
Pukul 07.30 WIB semua sudah berkumpul di depan kantor, mobil mini bus-pun sudah siap untuk berangkat. Rute yang akan dilalui dalam perjalanan “Merangkai Semangat dalam Kebersamaan” ini adalah Kantor-Sri Gethuk-Jembatan Sukorame-Tiwul Ayu Mbok Sum- Hutan Pinus- Puncak Becici. Sedehana (mungkin) kelihatannya, tapi untuk mempersiapkan ini adalah tim anak muda (dan di kantor hanya ada 2). Jalan-jalan sederhana pagi itu diawali pembagian snack dan doa bersama.
Dalam TIM PTS di Balai Litbang Sabo, ada 12 orang ditambah dua anak muda (termasuk saya) tetapi saat kemaren ada 4 orang yang berhalangan hadir karena ada kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan. Piknik kali ini sebenarnya dibuka untuk keluarga juga, jika mau mengajak lebih dari satu bisa, dan alhamdullillah rombongan kemaren ketambahan dua istri dari bapak-bapak PTS. Seharian kemarin, saya dedikasikan waktu khusus untuk mengabadikan kecerian dalam frame. Karena teman saya berhalangan hadir, maka jadilan saya yang paling muda. Piknik harus tetap happy meski pasti ada yang kurang, kurang lengkap, tapi mungkin itu hal yang biasa, walaupun bagi saya tetap jadi ada yang kurang rasanya.
Oke, baiklah sudah cukup basa-basi di pendahuluan, mari kita ceritakan Piknik Sehari dan review mengenai tempat wisata. (Maklum ya, yang nulis masih belajar nulis, salah satunya ya dengan tetap nulis, meskipun kata-katanya kadang ribet pas dibaca).
1. Air Terjun Sri Gethuk
Lokasinya ada di Gunung Kidul, perjalanan memakan waktu sekitar kurang lebih satu jam dari Kantor (Daerah Maguwo, dekat Pasar Stan). Sebelum berangkat ritual wajib yaitu berdoa bersama, sampainya di Sri Gethuk langsung berjalan sekitar 10 menit menuju tempat perahu mengangkut ke air terjunnya. Ini adalah kapal yang digunakan untuk menuju air terjun, sebenarnya jika tidak ingin membayar kapal bisa jalan lewat atas, tetapi banjir yang menimpa gunung Kidul dan sebagian wilayah jogja kemaren, menghanyutkan infrastuktur yang ada di sana. Tatanan air terjun-nya agak berubah akibat banjir. Tetapi pengunjung tetap ramai berdatangan kesana. Menurut cerita salah seorang bapak yang mengemudikan kapan, ada beberapa kapal juga ikut hanyut, karena tidak ada yang menyangka banjir bisa setinggi dan sederas itu di sungai menuju air terjun Sri Gethuk. Walaupun tatanan agar berubah, tetapi wisatawan dari luar Jogja masih menjadikan Sri Gethuk sebagai salah satu destinasi wisata yang masuk dalam list untuk dikunjungi. Setelah selesai berfoto dan mengamati Air Terjun Sri Gethuk, kami menyempatkan foto sebelum pulang. Satu hal yang saya tahu dari perjalanan ini, semua bapak-bapak di Kantor ternyata ahli bercanda ya, mereka berpose bermacam-macam dan gaya yang unik.
Bapak-bapak in frame. :D
Foto sebelum perjalanan menuju parkiran.
Foto ala-ala sambil jalan, kata bapak-bapak biar nampak natural. :D
2. Jembatan Sukorame (Jembatan Hits) di Mangunan.
“Foto bersama dulu dong Pak Bu...” Kataku yang sehari itu senang sekali bisa mengabadikan moment-moment bersama mereka. Ini foto disalah satu titik yang ada di Jembatan Sukorame. Di mana itu Jembatan Sukorame? Yah, jembatan tersebut belum diresmikan untuk di buka sebagai tempat wisata, tetapi karena kemajuan dunia per-sosial media-an, sudah banyak yang datang dan berfoto di sini. Ya daerah Mangunan-Dlingo memang sangat aktif untuk membuka tempat berwisata, dari hal sederhana, Yang menarik bagi saya di sini adalah, mereka tidak mengubah sawah, tetapi mereka tetap mempertahankan sawah yang ada. Idenya boleh dibilang sangat menarik, tapi tidak tahu bagaimana di mata ahli penataan wilayah. Persawahan tetap jalan tapi bisa dijadikan tempat yang menarik untuk berwisata. Harapannya, semoga wisatawan yang datang, tidak membuat kerusakan pada sawah-sawah yang ada di bawanya.
Jembatan ini dibangun menggunakan bambu, bambu memang sedang menjadi perbincangan menarik di dunia konstruksi. Pondasi tetap menggunakan cor, karena tidak akan kokoh bambu untuk menyangga beban di atasnya kalau tidak menggunakan pondasi cor. Menarik juga, jadi ingin belajar dunia perbambuan untuk konstruksi ramah lingkungan, dan sudah pasti berkelanjutan, karena jika sudah tidak dipakai dia tidak akan mencemari lingkungan dapat di daur ulang intinya gitu. Kalau penjelasan ilmiahnya panjang sekali, tapi siapa tahu kedepan bisa membahasa itu di dalam tumblr ya. (hehehehe)
Penampakan jembatan dari salah satu titik.
Bergayalah, karena sebelum bergaya dilarang pulang, nanti nyesel kalau nggak foto bagus di tempat yang begitu menarik. Untuk biaya masuk, skrg baru membayar biaya parkir saja, tidak tau besok.
3. Makan Siang di Tiwul Ayu Mbok Sum
Sudah pukul 12.00 waktu itu, dan jam makan siang tiba. Awal rencana kami akan makan siang di Bumi Langit Resto, tapi karena telat untuk booking tempat jadilah tidak kebagian, untuk itu dialihkan ke Tiwul Ayu Mbok Sum. Warungnya Joglo, selain menjual oleh-oleh tiwul ayu juga bisa digunakan untuk makan siang bersama, menunya adalah ayam kampung dengan lalapan yang khas pedesaan pokoknya. Ayam goreng di sini sangat rekomen untuk dicoba, karena menurut saya rasanya pas di sanding dengan Es Bir Pletok, siang yang panas itu rasanya Alhamdulillah makin nikmat saja. Oiya tiwul ayu gula jawa bisa dibawa pulang dengan membayar 6ribu saja perkotak, rekomen untuk oleh-oleh orang sekampung pokoknya. :D
4. Pintu Langit
(dan cerita ini masih bersambung...)
Gunung Prau, 4 Mei 2019.
Semoga bisa post serunya dan “luar biasanya” akhirnya mendaki gunung lagi. :)
Hello Again, Tumblr!!!
Maguwoharjo, 28 September 2018|15.30 WIB
Long time no see!!! Drama pemblokiran tumblr di Indonesia memang berpengaruh pada menurunnya keinginan untuk menulis, karena akses yang harus ditembuh butuh waktu, mudah dengan handphone tapi nulis tumblr itu lebih enak dengan komputer yang layarnya super besar dan kecepatannya asoy ketimbang handphone.
Tulisan terakhir saya 6 bulan lalu, dan tulisannya “bersambung” hemmmm... duh sampai lupa dulu saya mau nulis apa, jadi disambung atau tidak ya? Sebenarnya ada beberapa cerita baru yang lumayan masih hangat walaupun sudah beberapa minggu terlewati, ada dua agenda besar yang akhirnya berani saya jalankan! Eits!! Saya anggapnya besar, karena butuh ekstra konsentrasi untuk bergabung pada kegiatan tersebut. Penasaran nggak? hehehe..
Jadi, kegiatan pertama yang suatu saat harus banget diceritakan ke kalian semua sih kayaknya, adalah Anggik Ikut Kelas Inspirasi Wonosobo #2 dan Anggik bergabung dengan Greenpeace.id untuk bersih pantai. Nyicil ditulisin dulu ya supaya nggak lupa, jadi kalau ada waktu santai kayak dipantai nanti bisa langsung ngegas hahahaha katanya santai kok ngegas, iyaa waktu keadaan santai kita ngegas hihihi. Eh ada sisipan juga sewaktu akhir pekan kemaren tanggal 21 dan 22 Sept 2018, sahabat baik si Winna Wijaya yang bertandang ke Jogja dan kami sempat makan dan ngopi di Kopi Merapi yang suasananya syahdu gimana gitu.
Menulis bagi saya bukan hal mudah, tapi kata Bu Eko, guru jurnalistik saya sewaktu SMP selalu menyemangati begini, “tetap selalu menulis ya Anggini, salam literasi!!”. hihihi siyaapp Bu, inshaallah, doakan saya tidak bosan terus menulis meski saya paham tulisan saya masih saja acak-acakan. hehehe.
Pada musik Sampai Jadi Debu, hal yang paling tengiang adalah pas duduk di pantai sewaktu senja, angin sepoi dan mata yang jauh memandang, tatapan kosong lalu hati bergeming. Entah musik itu punya kekuatan magic seperti apa, sehingga saat mendengarkannya ada sesuatu yang “lain”.
Perjalanan seseorang, tidak ada yang tahu pasti kecuali pemiliknya. Mau dijelaskan secara gamblang rasanya juga tidak ada kata yang bisa pas, kalimat yang bisa jelas, paragraf yang begitu apik menggambarkan kisah perjalanan rasa. Tapi pada musik Sampai Jadi Debu, perjalanan rasa benar-benar bisa dinikmati dengan detail setiap dentingnya.
Meski lagu itu adalah penggambaran bersatunya tuan dan puan, tetapi musiknya menggambarkan bahwa perjuangan mereka sampai kesana sepertinya bukan hal yang mudah, benar-benar seperti menggambarkan kepiluan yang berakhir penerimaan. Karena bahagia adalah soal menerima, seperti menerima pasangan hidup yang dari awal dan harus diusahakan sampai akhir. Saya ingat sahabat saya, yang belum lama meninggal, begitu hebat sisi baiknya hingga semua orang seakan memikirkan kembali “kita semua terlalu mengejar untuk hidup enak, tapi lupa untuk mengejar mati enak”, ketika dia meninggal dia telah menemukan seseorang yang menemani sisa hidupnya dengan bahagia. Dalam linimasa hal yang membuat berpikir dalam adalah, pesan dari Bundanya yang kurang lebih begini kalau saya simpulkan “kata orang, baru sebentar sekali pernikahannya, tidak apa-apa tapi semasa mereka berumah tangga tidak ada saling menyakiti hanya bahagia saja. Baru menikah sebentar, sudah ditinggal, tidak apa-apa itu ujian untuk anak saya.”
Lalu, ketika tetiba mendengar lagu itu seakan muncul pertanyaan “Apa yang kamu kejar?”.
Bersambung, tiba-tiba dipanggil buat persiapan rapat mendadak.
BELAJAR DARI FILM BUNDA CINTA DUA KODI, TERNYATA KUNCI LANGGENGNYA RUMAH TANGGA ITU BUKAN KOMUNIKASI
Mark Manson, penulis dan blogger internasional menulis sebuah postingan yang sempat viral di akhir tahun kemarin, dan sampai ia diwawancarai Business Insider. Berawal dari Mark yang ingin melangsungkan pernikahan, sebagai persiapan mental ia mencoba meminta nasehat pernikahan kepada ribuan followernya. Ie menanyakan Bagaimana menjalin hubungan pernikahan yang langgeng dan penuh kebahagiaan.
Ada 1500 orang yang merespon pertanyaan Mark. Dan ini adalah contoh betapa kerennya dunia online jika dimanfaatkan secara positif. Ia bisa mengumpulkan kebijaksanaan dari ribuan orang dan mengolahnya menjadi sebuah nasehat yang sangat bermanfaat. Istilah di kampung tetangga Saya namanya “Human Wisdom Crowdsourcing” atau bagaimana menghimpun kebijaksanaan dari khalayak.
Yang menarik dari data yang dikumpulkan oleh Mark adalah dari 1500 orang yang merespond emailnya dan memberikan nasehat, ternyata tidak 100% sukses dalam membina rumah tangganya. Sepertiga dari respon email itu adalah dari mereka yang rumah tangganya kandas dan berakhir dengan perceraian.
Lhah terus kenapa yang gagal ikut-ikutan kasih nasehat? Bukannya nanti malah bikin rumah tangga si Mark tambah runyam.
Bukan nasehat tirulah apa yang kami lakukan, tapi jangan sampe seperti kami, rumah tangga kami berakhir dengan perceraian. Ia ingin sharing Lesson Learned atau pelajaran berharga yang mereka dapat selama membina rumah tangga. Jangan sampai kamu melakukan kesalahan seperti kami Mark. Istilahnya mereka sharing tentang DON’T nya.
Baik ya orang-orang ini. Katakanlah meskipun mereka ini termasuk orang-orang gagal tapi mereka masih mau sharing sesuatu yang baik, biar yang seterusnya gak ikutan gagal kaya mereka.
Kadang kalo dikalangan kita sendiri kan agak aneh. Jika kita gagal kita diem aja, pas ngeliat ada orang yang terindikasi mau salah ky kita, kita juga diem. Sampai akhirnya orang lain nyebur juga ke lubang yg sama ky kita mereka bilang dengan menyeringai ky di sinetron-sinetron.. He he he..akhirnya ada temennya, lu pikir gampang bina rumah tangga. Asli juaahattt banget orang-orang ky gini. Jauh lebih jahat dari Rangga yang ninggalin Cinta dalam ratusan purnama.
Sedikit nyimpang dari sini. Ini juga berlaku loh buat para entreprenuers. Ketika kita gagal bukan berarti kita tidak punya sesuatu yang berharga untuk dibagi. Kita bisa membantu cegah orang lain untuk terjebak dan terjatuh di lubang kegagalan yang sama. Hanya dengan sharing cerita, itu juga menjadi jariyah juga buat kita. Jadi ingat buku 7 Kesalahan Fatal Pengusahan Pemulanya Kang Dewa Eka Prayoga.
Kembali ke data orang yang gagal tadi.
Mark menggaris bawahi bahwa mereka yang bercerai ini menganggap bahwa mereka bermasalah dalam KOMUNIKASI. Dan mereka ingin memperbaikinya. Dia berpesan kepada Mark, “komunikasi adalah KOENTJI”. Jika kamu gagal menjalin komunikasi maka dipastikan rumah tanggamu tidak akan langgeng.
Terus bagaimana dengan 1000 pasangan sisanya yang masih mampu mempertahankan biduk rumah tangganya sampai puluhan tahun dan tetap bahagia.
Yang sangat menarik adalah dari kelompok yang BERHASIL dan awet sampe saat ini, menuliskan bahwa resep kelanggengan rumah tangga mereka BUKANLAH KOMUNIKASI. Kami juga sering bermasalah dengan komunikasi katanya. Kami juga sering miskomunikasi, misunderstanding atau salah paham, melakukan banyak asumsi yang salah tentang pasangan, dan bahkan sering berselisih. Diem-dieman lama alias puasa bicara juga pernah.
Tapi kami tetap awet.
Si Mark kaget dan mencelos hatinya..yaelah lebai. Ini kenapa bertolak belakang sama pelajaran yang dikasih sama mereka yang cerai tadi. Kenapa? oh kenapa?..sambil teriak garuk-garuk tembok..(sinetron banget)
Mark memperdalam pertanyaannya, jika bukan komunikasi, terus apa yang membuat kalian tetap bertahan dan mencintai pasangan Anda sampai sekarang.
RESPECT adalah KOENTJI. Saling menghormati adalah kuncinya kata mereka.
RESPECT is beyond communication. Respek itu ada diatas komunikasi.
Kami juga sering berselisih, berbeda pendapat, salah paham, berbeda keinginan. Namun kami saling menghormati satu sama lain. Karena respek kepada pasangan, kami jadi lebih berhati-hati dalam berkomunikasi. Menjaga jangan sampe saling menyakiti. Sesekali kita juga kelepasan dan berantem, tapi kami respek kepada komitmen kami, dan akhirnya kami memilih saling meminta maaf. Gak sampe lempar-lemparan rudal apalagi saling lempar kopi bersianida.
Karena RESPEK kami sepakat untuk mendelete kata CERAI dari kamus kami, biar tidak sampai terlontarkan.
Nah ada pelajaran lagi nih.. jangan langsung menelan mentah-mentah nasehat dari orang yang gagal. Karena bisa jadi mereka sendiri belum bisa menjelaskan kenapa mereka gagal. Mereka ternyata masih sampai level KOMUNIKASI, padahal ada satu tangga lagi diatasnya komunikasi. Yakni RESPECT.
Gara-gara baca tulisan yang diulas Mark Manson di Business Insider ini, Sy jadi langsung keinget sama film nya Kang Rendy Saputra yang kita tonton berdua minggu kemarin, BUNDA Kisah Cinta 2 Kodi.
Film debutnya Inspira Pictures yang memang konsen dan serius untuk menebar manfaat.
Film yang kurang ajar banget karena banyak scene yang menguras air mata dan bikin mata sembab.
Terakhir kali Sy nangis di bioskop itu pas nonton film Cek Toko Sebelah (CTS)-nya si Ernest Prakasa. Mata berkaca-kaca dan air mata sempat tumpah dan deleweran kemana-mana. Film ini juga sama-sama bercerita tentang berharganya sebuah keluarga.
Tapi film Bunda ini lebih parah ketimbang ketimbang si CTS. Kalo di CTS, scene-scene mellow yang menguras air mata masih bisa dideteksi dan diantisipasi. Jadi pas ada tanda-tanda adegan sedih mau datang kita, bisa ngalihkan buka Facebook, baca WA atau ngelap-ngelap kursi untuk meminimalkan efek mellow nya.
Film Bunda ini agak ‘gak sopan’ menurut saya. Scene-scene mellow nya gak bisa terdeteksi dan berceceran dibanyak adegan. Ibarat film horor, ini hantu sama sekali gak bisa ditebak kapan munculnya. Baru siap-siap mau merem, hantunya udah muncul duluan. Belum ilang kaget dari scene sebelumya eh udah nongol lagi setannya. Meskipun sudah dibacain ayat kursi itu hantu juga susah ditertibkan. ya iya laah Mas itu kan film, bukan jin beneran.
Film Bunda ini mirip-mirip. Seringkali gak kedeteksi kalo itu scene sedih atau bukan. Kayanya datar-datar aja dialognya, eh tau-tau pipi sudah basah aja. Bahkan ada yang sampe kejilat masuk bareng caramelnya pop corn. Jadi manis-manis asin gimana gitu. he he
Apesnya pas nobar kemarin gak sempat beli tissue. Habis itu nobar di Malang jam 9.30 sudah diminta datang ke bioskop. Jam 9 masih mandiin bayi, belum sarapan dan perjalanan ke bioskop. Untungnya masih kekejar dan ketinggalan sedetikpun. Dapet deh semua scene meweknya mulai depan sampe akhir.
Untungnya dapat bangku paling atas, jadi gak ketauan kalo mata merah dan sembab karena keluarnya kita belakangan.
Di film ini, kita paham benar bagaimana RESPEK itu lebih dikedepankan ketimbang sekedar komunikasi.
Momen ketika Ayah Farid dengan teganya melontarkan kata 'Gugurkan..’ ini adalah contoh ketika RESPEK itu belum hadir.
Begitu juga Bunda Tika yang langsung merespon dengan mengusir Ayah Farid.
Pas Bunda Tika memarahi Ayah Farid didepan umum itu juga contoh belum lahirnya RESPEK.
Begitu juga ketika Bunda Tika berani menjudge Ayah Farid seolah-olah ia tidak berdaya dan tidak berkontribusi juga contoh belum adanya RESPEK.
Ketika Bunda memaksakan cara belajarnya kepada kakak Alda dan memarahi Kak Alda didepan teman-teman dan wali murid yang lain juga adalah momen ketika RESPEK itu hilang.
Respek adalah menghormati
Respek adalah mengesampingkan ego
Respek adalah mau mendengarkan dan menahan ketika berbicara
Respek adalah menenangkan dan mendinginkan
Respek adalah menghormati hubungan
Respek adalah saling menutup aib pasangan
Respek adalah saling membantu dan menguatkan
Respek adalah wujud cinta dan sayang kita
RESPEK itu muncul ketika mereka memutuskan mengesampingkan ego dan mau mendengarkan. Mau belajar dari pengalaman, dan percaya kalo masing-masing memiliki keinginan kuat untuk bersatu.
Ketika RESPEK hadir, itulah momen ketika serpihan-serpihan rumah tangga itu terajut kembali.
Perlahan tapi pasti kebahagiaan di keluarga kecil itu hadir kembali.
Film Bunda, Kisah Cinta Dua Kodi dengan tanpa menggurui mengajarkan ke kita, bahwa RESPECT adalah KOENTJI untuk mempertahankan rumah tangga kita.
Esensi dalam film Bunda ini bukan hanya resep untuk langgengnya rumah tangga.
RESPEK dibutuhkan juga dalam berbisnis.
Leader respek terhadap bawahannya dan begitu juga sebaliknya.
Masing-masing perlu belajar untuk menjaga RESPECT agar tidak saling mencederai dan bisa saling menguatkan. Ketika terjadi cedera pun masing-masing bisa saling berusaha menyembuhkan. Bukan malah membubuhkan garam yang semakin menambah perih dan parahnya luka.
Semoga makin banyak lagi film-film berkualitas yang menginspirasi seperti Bunda Kisah Cinta Dua Kodi.
Jujur saja, untuk sebuah film debut, pencapaian Kang Rendy Saputra dengan Inspira Pictures sudah sangat luar biasa. Dengan pelajaran dari film pertama ini, ditambah persiapan yang jauh lebih matang di film-film berikutnya, Insya Allah akan lahir film-film yang bukan hanya berkualitas dan mendidik, namun juga mampu memecahkan rekor film box office nya Indonesia dan mencapai milestone 10 juta penonton.
Film yang bisa menjadi aset dan kebanggaan bangsa. Bukan hanya mendidik dan mencerdaskan, tapi juga menguntungkan dari sisi binis.
Semoga juga film ini bisa jadi film lebaran seperti film warkop DKI atau Home Alone nya Macaulay Culkin yang tetep diputar disaat natal sampe sekarang.
Thanks Kang Rendy dan Inspira yang sudah menginspirasi Indonesia.
Salam Sukses Mulia,
Saiful Islam
Kala mencintai laki-laki setelah Bapak, pasti ada rasa “tidak akan ada yang sesempurna Bapak”. Wajahnya tak bisa ku saksikan, samarpun terkadang hanya lewat mimpi yang datang tak menentu. Pasti lelah, seharian dengan panas matahari, atau bermandi keringat menghitung rumusan dan komposisi.
Kala mencintai laki-laki setelah Bapak, disitu pelajaran banyak datang. Termasuk siap untuk dikecewakan, karena sayapun tak lepas dari bisa sewaktu-waktu mengecewakan. Ada hal yang selalu ingin aku bisikan, tapi kadang hanya bisa aku tuliskan, karena jarak itu nyata.Tuan, kenapa senyummu itu adalah rasa bahagia? Kenapa suaramu adalah penghilang resah? Bisa kau jelaskan lewat puisi yang sudah lama tak kau tulis?
Andai, setiap rasa lelah dan emosi bisa diurai lebih sabar lagi, andai tak ada amarah yang membuat “kata-kata yang tak pelu” terlontar. Mungkin resah tak sebesar gunung yang mustahil untuk bisa hilang hanya dengan memeluknya. Tak pernah mengeluh, bahkan ketika sakit, atau dia merasa kecewa. Bahkan ketika saya akan melanjutkan tulisan ini, saya kehabisan kata-kata dan hanya bisa berkaca-kaca.
Ada rasa yang sulit digambarkan, dan diuraikan dalam tulisan, tapi ketika bertemu bibirpun kelu untuk menyampaikan, tapi resah hilang begitu saja saat memandang wajahnya adalah nyata.