Dalam LindunganMu, Ku MencintaiNya #2
Adrian’s Pov
Hawa dingin menyambutku dalam lelap, memaksaku untuk membuka kedua kelopak mataku yang berat diangkat. Sudah hampir dua tahun diriku meninggalkan tempat kelahiranku untuk merantau di kota yang sering dipenuhi kabut dan mendung ini. Hampir setiap pagi selama itu Aku dibangunkan oleh jemari-jemari roh es waktu subuh. Salam pagi kuucapkan meski mata sulit untuk menerima, “Hoaaaaammm.” Kuangkat tubuhku dari empuknya kasur busa, mencoba untuk melawan gravitasi di tempat tersebut. Sekiranya pukul 4.30 pagi, ketika kuhendak untuk tidur kembali, pecahlah keheningan subuh yang gelap tersebut oleh kumandang azan dari masjid sebelah.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar~,” telingaku mendengar azan yang bernada familiar.
“Lagi-lagi Pak Salman, ya?” gumamku tidak jelas.
Sudah beberapa hari ini Pak Salman yang mengumandangkan azan. Beliau adalah sang empunya kosan yang Aku tinggali sekarang. Ketika ditanya ke mana para remaja kosan selama ini, terlebih-lebih yang dekat masjid, tak ada yang berani menjawab. Apakah mereka tega Pak Salman terus-terusan yang azan? Aku berkhusnudzon, mungkin para remaja sangat kecapekan akhir-akhir ini mengingat meskipun masih waktu liburan, kebanyakan dari kami sudah punya kegiatan. Tapi meskipun demikian, memang seharusnya tidaklah menjadi alasan bagi kami berbuat demikian, terlebih-lebih Aku.
Seusai sholat Subuh, Aku mulai menyiapkan diri agar segera pergi ke kampus. Ada acara ospek jurusan hari ini, dan Aku adalah salah seorang anggota dari panitia lapangan acara tersebut, tepatnya divisi medik. Sedikit rumit bagiku karena sebenarnya Aku ingin menjadi bagian dari divisi materi dan metode, namun apadaya atas pertimbangan apa akhirnya Aku terlempar di divisi medik. Well said, mau bagaimana lagi?
Akan tetapi, ada satu hal yang membuatku senang (dan mungkin juga sedih) di mana Aku harus sering bertemu dengan orang yang kucintai. Dia biasa dipanggil Al, Muhammad Adriansyah Alfath. Dia berasal dari Sumatera dan merupakan laki-laki yang menarik dalam segi hal apapun, bagiku. Fisiknya, intelejensinya, selera humornya, interesnya, semuanya begitu sempurna di mataku. Anehnya, semua itu kusadari baru setahun setelah Aku satu kelas dengan dia. Aku sangat ingat jika dulu Aku hanya bersikap biasa saja dengan dia. Namun setelah mengetahui kelebihan yang ia miliki, entah kenapa Aku mulai memiliki perasaan lebih kepadanya.
Sama seperti dulu, ketika kumulai mencintai seseorang yang salah, Aku akan mulai menjauhinya. Ketika masih semester dua dan tiga, kami masih sering berbicara. Sebenarnya tidak terlalu sering, dan sebenarnya juga bukan dari Aku. Aku sangat ingat, dialah yang sebenarnya selalu memulai pembicaraan denganku. Dia suka bertanya kepadaku akan hal yang dia tidak pernah ketahui tentangku. Jujur, sebenarnya Aku suka, Aku senang, bahagia ketika bisa berbicara kepadanya. Akan tetapi, Aku takut. Aku takut jika dia mengetahui siapa Aku sebenarnya. Aku bersikap dingin. Seringkali Aku hanya membalas pertanyaannya dengan jawaban pendek dan kemudian putuslah kontak kami sehingga kami tidak pernah berbicara lagi. Ketika Aku ada, dia tak menganggapku ada, begitu pula Aku kepadanya. Sakit sebenarnya, rindu juga. Aneh memang. Apakah ini benar cinta, bukan hanya sekedar nafsu belaka?
Hingga kemudian, tak pernah kusangka hari ini akan menjadi awal berbanding terbaliknya harapan kelamku.
“Adrian, kamu jadi sweeper ya nanti, jadi kamu yang di belakang,” ujar seorang perempuan dengan logat halusnya.
“Oh, baik Ser.”
“Sip.”
Beberapa menit kemudian, dilakukanlah mobilisasi panitia lapangan untuk menuju ke tempat peserta ospek.
Kulihat Al terlihat sangat bersemangat. Senyumnya kepada kawan-kawan di sampingnya benar-benar menyejukkan hati. Aku menjadi ikut tersenyum melihatnya, “Alhamdulillah, dia bahagia.”
Sampai di spot tertentu, kami semua menunggu aba-aba dari beberapa panitia lapangan yang mengondisikan peserta.Â
Aba-aba diberikan, kami panlap langsung menuju ke lokasi spotting kami masing-masing.
Terjerembab diriku dalam kebingungan, antara benar atau salah. Dia berdiri berhadapan denganku. “Bukankah seharusnya Vera yang mengisi di sana?” Tapi Aku baru sadar jika Vera sedang ada keperluan di luar kota.
Dia memandangku, tepat di mataku. Aku alihkan langsung pandanganku ke arah samping dan ke bawah, seolah-olah sedang sigap. Aku tak peduli jika dia masih memandangiku atau tidak, yang jelas Aku sudah berusaha agar dapat menahan diriku.
Peserta dimobilisasikan ke lokasi berikutnya. Aku menjadi sweeper, sedangkan dia kulihat menjadi panitia penyeberangan di spot-spot tertentu. Sangat jelas, beberapa peserta ospek perempuan suka mencuri-curi pandangan ketika melewati dia. Agak sensi memang, tapi lucu juga. Mungkinkah mereka merasakan hal yang sama? Atau mungkin Aku saja yang berlebihan hahahaha.
Sesampainya di lokasi tujuan, peserta diambil alih oleh mentor, medik berjaga bergiliran, sedangkan keamanan steril dari tempat. Aku mengambil izin sebentar untuk pergi dari lokasi untuk menunaikan ibadah sholat dhuha. Kulihat sekitaran setapak yang kulalui, Aku tidak melihat Al sama sekali. Kurasa dia pergi ke suatu tempat.
Sesampai di mushola terdekat, Aku segera mengambil wudhu dan kemudian masuk ke bagian tempat sholat laki-laki. Di sana, Aku bertemu dengan seseorang yang kukenal. Namanya Kevin, dari jurusan fakultas sebelah.
“Eh, Mas Adri ke sini toh? Bukane lagi osjur?”
“Iya, Vin. Aku istirahat iki, rolling ceritanya. Nanti paling 30 menitan ke depan udah harus roll lagi,”
“Owalah, gitu to. Yowes, kamu mau dhuha?”
“Iya, Vin. Duluan e,”
“Monggo monggo,”
Kugerakkan anggota gerakku sesuai dengan tuntunan hadist Rasul tentang sholat dhuha. Tak perlu waktu lama, dhuha dan doa yang kupanjatkan hanya berkisar setengah dari waktu istirahatku. Cukup cepat memang mengingat Aku hanya menggunakan surat-surat pendek saja. Sengaja kusisakan waktuku agar dapat ngobrol dengan Kevin. Tapi, ketika kubalikkan badanku, Kevin tidak sendirian.
“Al?”
“Eh, maneh udah selesai doanya? Khusyuk pisan hahaha,” gelagat Kevin sok-sokan memakai bahasa Sunda.
“Hai, Yan,” ujar laki-laki yang duduk di sebelahnya, memanggilku dengan nama singkatku.
“Halo, Al. Kok ... kamu ada di sini?”
“Andai, urang langsung diskip. Tego emang kon,” Kevin ngedumel.
“Vin, urang cuman bingung tiba-tiba ada Alfath di sebelah maneh. Wajarlah urang kek gitu.”
“Hahahaha, sorry ya malah bikin kalian kacau gini. Aku udah dari tadi di sini, yan sama si Kevin.”
“Kamu kenal sama dia, Al?”
“Satu kosan cuy,” Kevin nyerocos.
“Urang gak nanya maneh woy,” Aku ngedumel, ”oiya ya, kamu kan pindah satu kosan sama Zul ya?”
“Kok tahu, Yan maneh?”
Jleb, geblek. Aku keasikan ngobrol sama Al, jadinya lupa diri. Tapi kayaknya enggak apa-apa sih.
“Oh, itu. Aku penasaran, tadi kan si Zul datang sambil nggendong tas yang keknya familiar tapi bukan punya Zul. Denger-denger ternyata itu tas kamu, trus Aku tanya, kenapa bisa dibawa sama Zul. Zul ngejawab kalo emang itu tasnya Al yang lagi dipinjemin ke dia. Trus gatau kenapa dia ngomong kalo kamu pindah kosan ke tempat dia. Gak paham sih,”
“Oh, itu mah bukan Aku yang pinjemin. Dianya nyerocos aja ambil,”
“Hah, serius?” Kevin kebawa suasana.
“Iya, nyerocos tapi izin. Padahal belum urang bolehin.”
“Hahahaha, kacau lah.”
“Udah, kon pindah juga aja ke kosan urang,”
“No, Vin.”
“Lah? Ngopo?”
“Pindah gak segampang itu buat urang, coy. Lagipula ada Zul sama Al di sana, nanti urang dikacangin lagi. Anak hitz semua tuh hehe,” Aku meledek.
“Apa dah, Iyan. Bukan kita kacangin, nanti malah maneh jadi hitz juga hahaha,” Al tertawa.
Entah kenapa di waktu dhuha yang bisa dibilang cukup dingin itu, Aku merasakan kehangatan yang berbeda. Aku berbicara dengan Al, dan entah bisa begitu nyambung. Aku harap Aku bisa seperti ini terus, ya Rabb.




















