Langkah menuju Pria Berkualitas:
Bulan depan, kamu harus gimana? Menjadi apa? Seperti apa? Dan bagaimana langkah kecil yang harus kamu lakukan secara kontinue setiap hari?
Enam bulan kedepan, apa yang ingin kamu raih? Apa yang mau kamu wujudkan di enam bulan yang akan datang? Bagaimana langkahnya? Setiap bulan, jangan lupa evaluasi pencapaianmu, apakah kamu berjalan menuju tujuan tersebut? Atau malah semakin jauh? Jika semakin jauh, apa hambatannya? Dan bagaimana menghilangkan hambatan tersebut?
Tahun ini, kamu harus bagaimana? Apa harapan kamu di tahun ini? Bagaimana langkah kecilnya? Kapan evaluasinya? Bagaimana persiapannya? Dan apa yang akan terus memotivasi kamu untuk terus berjalan ke arah sana?
Setelahnya, coba buat skala prioritas. Lakukan prioritas kamu setiap pagi. Setelah semua prioritas telah kamu kerjakan, baru lakukan kegiatan lain. Kemudian, nikmati waktumu di hari itu.
Jangan terlalu sering melakukan hal yang di luar prioritas. Ingat, bahwa perjalanan menuju puncak, bukan perjalanan yang mudah dan enak.
Values--nilai hidup, bukan cuma pajangan, bukan sekedar omongan yang dikatakan berulang-ulang supaya orang lain terkesan. Values terbentuk oleh konsistensi, yang berkaitan sikap dan perilaku. Ingat!, disiplin itu sebuah values, bangun pagi dan datang tepat waktu adalah sikapnya. Karena demikian, kamu dianggap memiliki values sebagai manusia disiplin, jika kamu konsisten bangun pagi dan tidak pernah terlambat. Ini tidak terbentuk dalam waktu singkat. Lakukan secara konsisten.
Kemudian, values yang harus kamu bangun untuk terus tumbuh, adalah;
- Jangan pernah menyalahkan orang lain. Sekalipun kamu tidak salah banget, stop menyalahkan orang lain. Lebih baik, evaluasi diri kamu sendiri. Cari solusi, dan bergerak menjadi lebih baik lagi. Ketika orang lain sibuk nyari kesalahan, kamu harus sibuk evaluasi, nyari solusi, eksekusi, dan tumbuhlah meskipun sendiri.
- Jangan nyari alasan dan nyalahin banyak orang. Kalo kamu salah, ngaku, minta maaf, dan komitmen sama diri kamu untuk tidak mengulangi lagi. Ingat, setiap orang bisa membuat 1000 kesalahan, tapi jangan sampai mengulangi kesalahan. Kamu gak pinter, belajarnya aja kurang, kamu masih males-malesan. Badan kamu jelek, karena kamu jarang olahraga. Stop nyari alasan, dan nyalahin banyak hal. Evaluasi.
Ingat, meskipun kamu terlambat sadar, kamu tidak kehabisan waktu. Jika tidak dilakukan hari ini, maka kamu akan semakin tertinggal jauh.
- Jangan terlalu mudah menghakimi.
Ingat juga, ketika kamu sadar bahwa kualitas diri kamu berada di bawah standar yang kamu mau. Ngaku, sadari. Jangan nyari pembenaran, jangan nyari alasan, dan jangan di wajarkan. Lebih baik evaluasi lagi, cari solusi, dan maafin diri kamu sendiri. Kemudian, kembali berproses lebih TOTALITAS lagi.
No Blame-- No Menyalahkan
No Justify--No Menghakimi
Kisah ini, harus bisa menginspirasi.
Suatu hari, seorang mentor bisnis mengumpulkan seluruh tim di sebuah perusahaan. Ia mengatakan satu hal, yang agaknya mustahil untuk dilakukan.
"Bismillah. Sebelum matahari terbenam, ayo habiskan seluruh barang yang ada di gudang" ucap mentor tersebut.
Sontak, sekuruh tim kebingungan. Mereka ingin menyalahkan mentor tersebut, sebab titahnya sangat aneh dan nampak mustahil. Akan tetapi, seluruh tim telah berjanji untuk "NO BLAME".
Mereka ingin menggugat, karena biasanya dalam satu hari mereka hanya bisa menjual 50 produk. Sementara di dalam gudang ada sekitar 1000 produk. Namun, mereka telah berjanji untuk "NO EXCUSE"
Mereka juga beranggapan, bahwa jika tidak goals pun tidak masalah, karena ini misi yang sangat mendadak. Juga harus dikerjakan dalam waktu singkag. Hanya saja, mereka juga telah berjanji untuk "NO JUSTIFY".
Akhirnya, mereka memutar otak. Mereka hanya berpikir, "bagaimana caranya?". Mereka tutup rapat-rapat celah untuk memikirkan masalah, mereka fokus pada solusi dan aksi. Hingga kemudian, satu persatu ide bermunculan.
Mereka akan mencoba memasang promo, menghubungi lebih banyak reseller, mendatangi toko yang sering mengambil barang dari perusahaan tersebut, dan lain sebagainya.
Finally, sebelum matahari terbenam, stok barang di gudang tidak lagi tersisa.
Itu karena otak mereka terus menerus dilatih untuk fokus pada aksi dan solusi. Dengan terus diberikan pertanyaan yang empowering--memberdayakan. Mereka tidak menyalahkan, tidak mencari alasan, dan tidak menghakimi siapapun.