Kemaren, aku sempat berbuka puasa diluar. Aku ikut kakak ku tetangga sebelah mengundang berbuka diluar. Aku disuruh memilih menu. Aku memilih nasi goreng kampung plus minum es macha. Sejujurnya ingin pesan es kopi, es kopi di kedai ini meninggalkan candu yang sulit untuk dielakkan, apalah daya sekarang Ramadhan aku khawatir tidak tidur hingga fajar datang menjelang. Jadilah aku minum macha dengan kadar manis yang berlebihan itu
Selama puasa aku sedang belajar mengurangi asupan gula kedalam tubuhku. Sesekali ngga papalah bisikku. Lagi-lagi aku memaklumi diriku lebih sering dibanding ngasih uzur ke orang lain. Harusnya ngga gini, tapi sudah lah. Cuaca terasa sendu, diluar sedang gerimis saat semua makanan sudah terhidang sebelum azan Magrib bergema. Kita berdo'a meneguk air mineral dan mulai sibuk menyantap makanan kecil, ada cireng dan pisang goreng sebagai pembuka
Harapan ku abis meneguk air mineral kan sholat Magrib, tapi harapan tinggalah harapan aku lanjut menyantap nasi goreng yang sudah dihidangkan. Suasana terasa hangat karena makan sambil bercerita. Seperti yang sudah-sudah aku selalu bagian yang banyak mendengarkan. Tentu saja yang paling heboh adalah kedua ponakanku yang baru usia 6 dan 8 tahun. Adek kakak ini ribut karena kehabisan stock cireng. Aku tak menyentuh cireng sama sekali, hanya mengambil pisang goreng
Tante, tetangga yang ngajak bukber bilang "Lili, kerupuknya dimakan itu kerupuk nasi goreng" Aku mengangguk dan bilang iya tante, tapi aku masih tetap menyendok nasi goreng di piring ku hingga habis. Alhamdulillah kenyang, porsi gede begitu membuat mata ku berat seketika. Aku izin menunaikan sholat Maghrib lebih dulu sedangkan yang lain masih sibuk mengunyah makanan
Setelah selesai sholat, semuanya kembali ke meja makan, aku menyesap macha perlahan-lahan. Menikmati manisnya melewati kerongkongan ku. Tante tadi kembali mengingatkan "Lili kerupuknya ngga di makan? Aku tanpa mikir langsung ngomong " Berisik tante " Kontan tawa mereka pecah berbarengan. Diluar dugaanku, terlebih Om Aan yang sebelumnya hanya menimpali beberapa kata saat tante dan kakakku cerita. Beliau hanya sibuk bermain game dari layar gawainya. Seru sekali sepertinya
Berisik? Kalo berminyak aku masih bisa terima ya? alasannya ngga nyambung Liii, harusnya kalo makanan ditanya ngga dimakan itu hubungannya dengan rasa bukan dengan suara. Aku hanya menahan tawa, mau bagaimana-pun itu adalah alasan jujur dari diriku. Ya, aku jujur mau diterima atau ngga sama orang lain itu urusan belakangan. Om Aan juga menimpali kebetulan yang memesan nasi goreng cuma aku berdua dengan om Aan. Berarti pas aku mengunyah kerupuk tadi kamu terganggu ya? Tapi karena aku yang traktir kamu diem aja? Hahaha tawa nya merekah lagi. Aku mengulum senyum. Aku tidak lagi memberikan alasan
Peraturan berisik itu hanya berlaku untuk diriku. Orang lain yah tidak masalah. Aku khawatir suara berisik saat aku mengunyah kerupuk menarik perhatian orang lain. Aku malu menjadi pusat perhatian. Lagian kerupuk bukanlah makanan yang harus ada di piring ku. Sendirian pun rasanya aku nyaman jika tidak harus mengunyah kerupuk. Aku suka suasana hening. Aku benar-benar ingin hadir untuk diriku bahkan disaat aku juga sendirian. Duh, astaghfirullah mungkin karena kepalaku sudah cukup berisik jadi aku mengusahakan ketenangan yang bahkan sulit untuk dipahami orang lain. Kamu tidak keberatan bukan?