Ada banyak kegundahan yang susah sekali diceritakan
Saat ditanya "kenapa?"
Lidah tak mampu menjawab
Nalar tak mampu menjelaskan
Diri ingin dimengerti
Tapi kegundahan saja selalu jadi rahasia
Bagaimana semesta bisa memahaminya?
NASA
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

❣ Chile in a Photography ❣
art blog(derogatory)
Three Goblin Art

Kiana Khansmith
DEAR READER
wallacepolsom

Kaledo Art
RMH
almost home
occasionally subtle
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

No title available
Monterey Bay Aquarium
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

ellievsbear
YOU ARE THE REASON

Product Placement
Peter Solarz
seen from United States
seen from Greece
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Ukraine

seen from Denmark

seen from Canada
seen from United States

seen from Pakistan

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@senandung
Ada banyak kegundahan yang susah sekali diceritakan
Saat ditanya "kenapa?"
Lidah tak mampu menjawab
Nalar tak mampu menjelaskan
Diri ingin dimengerti
Tapi kegundahan saja selalu jadi rahasia
Bagaimana semesta bisa memahaminya?
Maaf.
Aku sudah mencoba untuk mengatakannya, tapi nyatanya memang kamu yang tak pernah peduli.
Aku sudah mencoba untuk mengerti dan peduli, tapi ternyata memang kau yang acuh terhadapku.
Kau pikir aku sudah punya semua yang ku mau, sesuatu yang tidak bisa kamu miliki. Dan aku terus mencoba untuk bersyukur atas hal itu.
Sekali lagi maaf jika aku merepotkanmu.
Aku tidak memintamu untuk tinggal, aku hanya memintamu untuk hilang.
Ku mohon hilanglah! Sungguh, aku tak mau melihatmu meski hanya satu kedipan mata.
Bantu aku untuk menyembuhkan luka ini dengan cepat.
Aku takut jika aku melanjutkan langkah ku, aku akan kembali tersesat seperti saat yang lalu. Kemudian luka baru tercipta, LAGI.
Kini aku mengerti perihal mencintai, bersamaan dengan hari kau pergi.
Bahwa yang singgah juga tak pernah salah. Kau telah membiarkan seluruh jiwaku melampaui batasannya.
Mengenalkan aku pada banyak fase kehidupan, yang padanya aku belajar tentang melepaskan, bahwa hidup kita tak ubahnya rangkaian kehilangan.
Tuan, seandainya kamu tahu, bahwa aku sudah sering bangkit dari jatuh.
Jika kau mau melihatnya kedalam, hati ini sudah banyak tertambal. Jika saja saat itu kau menyediakan aku waktu untuk menunjukkannya, mungkin kau takkan setega ini untuk pergi.
Telinga manusia terbatas wahai aku, ia takkan bisa mendengar se-riuh apa isi hatimu saat ini. Tapi sajadahmu punya jalan untuk meredakan segala kesedihan dibenakmu. Ia adalah tempat ajaib, yang bisa mendengar keluh melalui kening yang ikhlas bersujud.
Ini bukan rindu, tuan. Ini lebih dari itu! Berulang kali aku coba menerjemahkannya. Namun yang kudapati hanya namamu disana.
Tapi, ada beberapa rasa sakit yang tak bertuan kisanak. Ia datang tak tahu waktu, pun pergi tak tahu kapan. Dan sakit itu tak mudah disembuhkan.
Hari ini aku masih bertahan, menunggu yang baik datang, menyempurnakan kebaikan serta memuliakan setiap ikhtiar kedepan.
Jika esok aku lupa menunggu. Bukan karena aku lelah bertahan. Mungkin aku hanya ingin menghargai diri sendiri dan melihat upaya lain untuk menyempurnakan kebaikan.
Semoga aku tak menunggu sendirian.
Pun jika benar sendiri... semoga segera esok, agar aku segera lupa kalau aku bersendirian.
Lalu bangun, lantas menunggu lagi, dengan cara yang lebih menyenangkan.
- Suci Anggraeni || @sucianggr
Malam ini cuma pengen nangis se-nangis nangisnya, tanpa takut besok pagi mata bengep terus orang rumah pada penasaran abis ngapain.
Malem ini cuma pengen punya satu orang yang bisa jadi pendengar setia dari semua cerita yang pengen ditumpahkan, tanpa takut dibilang "kamu mah hidupnya lebih enak dari aku".
Pengen ngomong ke orang lain bahwa "Aku lagi down banget, lagi sedih banget, lagi bingung banget", tanpa takut dibilang "kamu itu perfect, mau apa yang dikeluhin?".
Pengen punya seseorang yang bisa ngerti aku pengennya apa, tanpa harus menghakimi "kamu ngga akan pernah berhasil dengan keinginanmu itu, ngga ada gunanya pingin ini itu, mending jadi kayak gini, pasti bahagia".
:)
Namamu selalu ada disetiap doa yang kurapal
Sengaja selalu kusebutkan
Agar Tuhan tidak akan lupa bahwa aku cuma mau kamu
Yang Terlupakan
(29/09/2016)
G30SPKI. Apa yang ada di pikiranmu saat mendengar kata itu? Sejarah yang tak pernah mati.
Dahulu, sebelum akhirnya gerakan itu menjadi satu sejarah yang tidak hanya disimpan bangsaku, tapi juga aku, G30SPKI yang aku ingat hanya subbab dalam buku mata pelajaran sejarah pada masa orde lama. Aku bahkan lupa kelas berapa aku mulai mengetahuinya, aku hanya tahu. G30SPKI menjadi satu jawaban yang aku punya dalam pertanyaan penyebab runtuhnya orde lama dalam ujian mata pelajaran sejarah.
Hingga aku sampai pada satu masa. Tangisan dalam diam, patah patah kata yang terucap, hingga terangkum dalam kisah yang membawa luka.
Aku lupa pada titik mana aku tertarik cerita lama. Sejarah bukanlah keahlianku. Melupakan adalah bagian yang harus aku lakukan. Mengungkit luka lama adalah hal yang paling aku benci. Tapi hari itu, aku menguak satu masa yang telah terkubur oleh waktu, tersimpan sebagai cerita pahit yang wajib dienyahkan.
Adalah Nur, bibiku. Seorang perempuan tangguh berusia senja. Perawakannya kecil, tubunya kurus dibalut kulit hitam legam terbakar oleh surya yang tak bersahabat. Diantara semua saudara ayahku, aku paling dekat dengan beliau. Wajahnya ramah, semangatnya kuat, dia adalah potret seorang ibu terhebat yang ada.
Hari itu, dibawah rindangnya kebun karet, kami menatap hamparan padi yang mulai menguning. Banyak cerita yang telah terucap, dan cerita demi cerita kembali mengalir, hingga sampai pada cerita itu. Tentang kakek.
Kejadiannya di akhir tahun 60-an. Bendera kuning lebih ramai daripada merah putih. Hanya ada satu kebijakan, satu ultimatun dan satu keputusan. Nur masih kecil, sekitar tujuh tahun. Baru genap membaca, masih asyik sekali berlarian di halaman rumah bersama kedua adiknya.
Malam itu Nur terjaga, suara gerusuk di dapur membangunkannya dari mimpi indah. Ia berjalan pelan ke dapur, lalu melihat ayah dan ibunya yang sedang sibuk membungkus bekal. Nur kecil hari itu masih bingung, ia tidak tahu jika di hari berikutnya ialah yang menyiapkan bekal itu.
Besoknya kampung lebih rusuh dibanding kejadian di dapurnya. Anggota berseragam datang, dilengkapi senjata yang akhirnya Nur tahu sebagai senapan. Nur kecil bersembunyi bersama kedua adiknya, itu titah sang ibu. Ibunya maju di kerusuhan itu, berteriak keras yang Nur tak bisa dengar jelas.
Itu adalah awal, hingga akhirnya orang-orang berseragam itu rutin mendatangi kampung mereka. Ibunya di mata-matai. Dan sampailah tugas itu pada Nur. Mengantar bekal.
Nur menerima titah itu. Adiknya secara bergantian menemaninya menjalankan tugas itu. Melewati rimbunnya hutan, lolongan anjing liar kala itu masih bisa didengar, auman harimau hal biasa.
Berkilo-kilo dari perkampungan, memasuki hutan diantara bukit barisan. Disanalah ia bertemu ayahnya, seorang diri, tanpa teman. Nur butuh tersesat berkali-kali hingga akhirnya ia terbiasa mengenali jalan lintas. Ia hanya sekali dibawa sang ibu. Saat tugas itu berpindah ke pundaknya, Nur harus terjatuh berkali-kali hingga akhirnya ia tahu, ayah menunggunya.
Nur kecil hari itu tak paham, ia hanya melaksanakan tugas. Tapi bertahun sejak itu ia mulai mengerti kejamnya hidup.
Kakek adalah seorang yang terpercaya di kampung. Dihormati juga disegani. Keirian juga dengki dalam persaudaraan membawa petaka. Kakek difitnah oleh seseorang yang ia anggap sebagai teman sebagai antek-antek PKI. Pemberantasan PKI tahun itu dijadikan alat. Kakek diburu hingga bersembunyi di dalam hutan bukit barisan.
Tahun 70-an anggota berseragam menyerah, tapi fitnah itu tak pernah habisnya. Kakek kembali ke kampung. Beberapa sahabatnya menghilang. Kejadian itu tak hanya menimpa kampung kami tapi juga kampung tetangga dan kampung sekitar lainnya.
Aku tak tahu bagaimana persisnya sejarah. Banyak pihak yang katanya memanipulasi, katanya dan katanya. Kalau jika begitu bukankah lebih baik tak mempercayai?
Aku tak tahu persis bagaimana kejamnya PKI. Tak tahu pula bagaimana kejamnya anggota berseragam yang memberantas partai komunis itu. Yang aku tahu hanya sejarah yang berkata, pembunuhan, pemerkosaan, pemberontakan dan segala jenis kekejaman. Yang aku tahu betapa banyaknya darah yang tumpah, katanya demi kemerdekaan, tapi di telingaku terdengar seperti kebiadaban.
Aku tak pernah tahu kisah itu lebih detail. Cerita ditutup hanya dengan perjuangan bibi mengantar bekal ke dalam hutan. Mata merah bibi yang berkaca-kaca menyurutkan keinginantahuanku lebih jauh.
Cerita berakhir menyisakan tanya juga menjawab tanya untukku.
Sebodoh itukah? Tanpa bukti, bermodal kecurigaan dan kata seseorang mereka menyerang, membunuh, memperkosa. Apa saat itu banyak binatang bertubuh manusia?
Kampungku terisolasi di tahun itu, bahkan hingga sekarang. Pendatang hanya bisa memasuki kampung di hari minggu, tak ada kendaraan, mereka hanya bisa menaiki truk angkutan yang mengantarkan dagangan penduduk ke pasar. Bagaimana mungkin sebuah pergerakan maha dahsyat berada disana. Tak ada petinggi disana, tak ada ulama besar, tak ada pahlawan yang namanya tertulis, bahkan rumah terhitung jari. Entahlah, aku tak pernah tahu sejarah.
Lirikan mata, bisik-bisik, tawa meremahkan, sebutan yang katanya bercanda, akhirnya aku tahu jawabnya. Keturunan PKI. Bahkan hingga saat ini fitnah itu tetap hidup. Kuat sekali fitnah itu, keterusiran, pengucilan, fitnah berikutnya dan berikutnya.
Aku tak pernah tahu, semua yang aku pikir hanya sekedar karena mereka orang kampung jadi punya kebiasaan berguncing, ternyata tak sesederhana itu.
Lima puluh tahun telah berlalu. Kakek telah lama pergi, bahkan sebelum aku terlahir. Tapi tirani itu hingga kini.
G30SPKI. Apa yang ada di pikiranmu saat mendengar kata itu?
Sejarah yang tak pernah mati.
Kak,
Aku punya lebih banyak dari sekedar rindu
Pada hal-hal kecil atau sesuatu yang sederhana
Tentang hangat atau tentang pertengkaran-pertengkaran seperti biasanya
Kejahilan dan candaan yang memunculkan tawa
Aku suka saat kita saling berbicara
Berdiskusi tentang sesuatu
Aku dan kamu se-frekuensi
Hmmmm
Aku sangat rindu
Sangat
Rindu
Ada yang kurindu dari sekat-sekat itu
Wangi debunya, atau mungkin putaran kipas yang dinginnya tak seberapa
Suara riuh tugas-tugas yang berserakan
Ada yang kurindu
Telapak kaki si penghuni juga nafas-nafas tersengal
Bau keringat itu, atau mungkin kaus kaki dan lubang-lubang nya
Ada yang kurindu
Krieeett pintu dan kursinya
Serta deru sepatu para pemburu ilmu
Atau dengus kejenuhan para penunggu tinta para atasan
Disana,
Ada yang kurindu:)
Yang patah memang tumbuh, yang hilang memang berganti.
Tapi, hatimu bukan batu. Menangislah, bersedihlah.
Kau, manusia dengan segala batasnya.
Rfabs 1996-2020 Masehi
Semua orang pernah jatuh, ia kesakitan, kemudian menangis.
Tidak apa, semua wajar saja.
Kita cuma belajar, menjadi manusia.
Kekurangan itu adalah pemberian Tuhan. Kita tidak bisa menyalahkan siapapun, tapi kebanyakan manusia hanya ingin menikmati kelebihan yg Dia berikan tanpa mau menerima kekurangan dan terus mengeluh karenanya.
Kita tau kekurangan itu ada. Maka, tugas pertama yg harus kita lakukan adalah menerima, selanjutnya akan ada 2 pilihan. Berjuang atau terus terpuruk menangisi keadaan.
-Cakrawala
Kekurangan ada untuk dilengkapi, kekurangan untuk disyukuri, kekurangan ada untuk kita belajar menghargai.
Kekurangan itu aku, kekurangan itu kamu, kita bisa lengkap kalau kita sama-sama tanpa membandingkan satu dengan lainnya.