Puan
Hai puan, aku tahu kau tak akan pernah membaca ini. Tapi, semoga vibrasi dari ketikkanku sampai kepadamu. Hmm, aku ingin berterimakasih kepadamu mengenai hidup yang selalu kau upayakan. Mengenai asin yang sering kau tumpahkan tak mampu aku tebus dengan rupiah yang kuhasilkan setiap bulan. Kau begitu pandai bersembunyi hingga aku tak mampu membaca getir yang kau coba rengkuh sendirian. Pada sepertiga malam kau menelan tabah di atas sajadahmu. Membisikan sederet doa kepada Sang Pencipta, sebab kau begitu percaya bahwa Ia adalah sebaik-baiknya tempat untuk berserah. Kau mengajari aku mengenai sabar yang seperti lingkaran, tak berujung dan tak rerbatas.
Puan, tidak bisakah kau membagi rasa sakitmu yang kau coba bisukan pada setiap detik waktu? Apa yang membuatmu enggan untuk tidak membaginya? Apa karena aku tak kuat sehingga tak mampu menjadi temengmu?
Ah maaf Puan, aku tak bermaksud demikian. Tapi sungguh aku tak suka jika kau terlalu memaksa nuranimu. Aku tak suka jika kau bersembunyi dari rasa sakitmu. Karena itu membuatku menjadi tidak mengetahui apa-apa mengenai dirimu. Tapi sepertinya aku mulai paham, bukan karena kau enggan, bukan karena kau tak percaya hanya saja kau tak pandai membagi itu. Sebab, aku pun juga demikian.
Puan, semoga setelah ini semesta di dadamu menjadi lebih luas, semoga setelah ini aku pun mampu sepertimu. Menelan tabah, membulatkan sabar, membisukan rasa sakit, bahkan selalu percaya hingga akhir bahwa Allah adalah sebaik-baiknya tempat untuk berserah.
Puan, aku mencintaimu. Dulu, sekarang hingga nanti.














