“Setidaknya aku masih percaya, bahwa tersenyum kembali ada bentuk karma paling nyata, bagi mereka yang meninggalkan luka” - (via bulangerimis)
Aku bisa tersenyum sekarang, kau lihat?
untitled
Monterey Bay Aquarium
I'd rather be in outer space 🛸
🩵 avery cochrane 🩵
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

bliss lane

@theartofmadeline
official daine visual archive
No title available

if i look back, i am lost
Show & Tell
Cosimo Galluzzi

izzy's playlists!
Doug Jones
𓃗
Misplaced Lens Cap
★
No title available
tumblr dot com
Cosmic Funnies
seen from Netherlands

seen from Brazil
seen from Sweden

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Canada
seen from United States
seen from Singapore

seen from Malaysia
seen from Türkiye
seen from Denmark
seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from Switzerland
seen from Malaysia

seen from Singapore
seen from Netherlands
seen from United States

seen from Türkiye
@setapakkecil-blog
“Setidaknya aku masih percaya, bahwa tersenyum kembali ada bentuk karma paling nyata, bagi mereka yang meninggalkan luka” - (via bulangerimis)
Aku bisa tersenyum sekarang, kau lihat?
Bandung
Selalu rindu rumah bapak. Sederhana tapi alhamdulillah saya dipertemukan dengan ipar yang baik. Bisa jadi teman curhat mengenai anak-anak dan banyak hal.
Ubah pola pikir untuk kemerdekaan Indonesia
Sejak lama mau nulis ini, tapi masih malas. Sampai tadi pagi Baca ig stories gitasav juga video di akun YouTube nya. Tentang pola pikir orang Indonesia yang susah dirubah Apalagi masalah fisik.
Ternyata penampilan perempuan dengan tanpa makeup, muka gosong, Pipi gendut, atau apalah yang mereka sebut kekurangan fisik. Orang lebih seru mengomentari fisik dibanding prestasi. Kalau ada Selebgram no makeup buru buru komentar “ternyata alisnya gundul, ternyata item, ternyata gak secantik kalau pake makeup” Kalau sudah di makeup, pakai alis yang digambar, lipstick yang sedikit berwarna terang, ikutan komentar lagi “gak natural, alis digambar, alis udah di cukur trus di gambar dasar perempuan aneh”
Itu baru dilevel satu. Dilevel kedua saat perempuan pakai cadar buru buru komentar “Kaya terrorists, emang gak panas, pakaian nya lebay” Pake jilbab lebar “Padahal cantikan pakai jilbab yang biasa aja ” Udah gitu. Laki-laki ikutan koment “itu kalau gak pake cadar secantik apa ya, mukanya gimana, mancung enggak” Ada lagi “udahlah apa adanya aja”
I have no idea kalau dengerin atau Baca komentar nitizen soal fisik. Kenapa di Indonesia krim pemutih laris, obat peninggi badan banyak yang jual, alat mancungin hidung banyak yang cari? I get the point now Karena standard fisik orang Indonesia ya begitu. Cantik, langsing, tinggi, putih. Itu baru perempuan, belum koment perempuan ke fisik Laki-laki.
Pernah suatu ketika, saya kenal perempuan dan Laki-laki yang sedang taaruf. Waktu si perempuan kirim photo nya ke si lelaki. Gak lama laki2 ini nolak melanjutkan dengan alasan “yah, fisik nya gak memenuhi standard” Belum tau aslinya, udah salfok aja. Belum tau akhlaknya, udah nolak aja.
Rasanya fisik itu segala galanya, tapi yang lebih ngeri cara kita memandang juga mengomentari.
Andai aja Kita mengapresiasikan diri Kita apa adanya, kita bisa juga menerima orang apa adanya. Bukan sebagai pasangan, Tapi sebagai manusia yang berbentuk apapun tentang fisik nya.
Who know kalau ternyata komentar kita salah asumsi. Gimana kalau perempuan yang kita bilang alisnya di cukur lalu digambar itu Salah? Gimana kalau emang alis aslinya gitu.
Kalau aja Kita gak usah komentar sama hidup orang soal fisik, mungkin seluruh wanita di Indonesia bersyukur sama apa bentuk fisik yang udah Allaah kasih.
Resah sih, susah juga untuk bikin pola pikir orang Indonesia dirubah. Terlebih soal ini. Susah sih merubah mereka biar gak Ngabisin waktu buat ghibah atau sekedar komentar gini itu soal fisik. Kalau aja bisa, ah Indonesia mungkin sudah merdeka dari saling hina juga saling sindiir. Jangankan fisik perempuan, fisik orang hebat yang kalian fikir katanya kurang Oke aja dihina juga di komentarin.
Terakhir, Kalau abis ini ada yang komentar “ah lo sok tau, anak muda ngerti apa” “ah lo kalau mau nulis ginian pulang dulu” “tinggal diluar negri aja belagu sok ngurusin akhlak orang Indonesia”
Eta terangkanlah, pola pikir nya yang buruk bukan lagi soal fisik tapi soal opini orang aja disalfok'n.
Udah Lah, cape juga ngetik dihape.
Selamat hari kemerdekaan Indonesia. Jangan lupa buang sampah di tempat sampah.
Saya yang tinggal sg, Bentar lagi pulang kok ❤
Dulu juga saya gitu, Nggak dulu juga. Kemarin2 masih gitu liat oranglain yang diliat “fisik nya” dulu.. Semoga ini jadi nasehat nampar buat saya.
Socmed-less
Have i told you about the bliss of uninstalling social media app in your gadget?
Oh baby, trust me, it’s happiness.
Gue sudah mau 3 bulan menghilangkan hampir semua applikasi media sosial di android yang gue pegang, menyisakan hanya Tumblr, Line, Quora, Pinterest, dan Askfm. I have no Instagram, Whatsapp, Twitter, Path, Facebook, dan media sosial lain yang isinya ajang pamer kehidupan doang.
Keempat media sosial yang masih gue pertahankan itupun fungsinya jelas.
Tumblr, karena menulis sudah jadi salah satu media mewaraskan diri yang gue punya sejak jaman dahulu kala.
Line, karena sebagian besar orangorang lebih mudah dihubungi via Line daripada nomor telepon. Meskipun demikian, gue jarang sekali men-scroll timeline Line, karena males ngeliat update-an gapenting orangorang, sekalipun gue mengenal mereka.
Quora dan Askfm, karena simply gue butuh media ringan namun updated untuk tetap tau perkembangan dunia—lebih tepatnya dunia luas, bukan cuma lingkaran kehidupan gue sendiri.
Pinterest, gue menganggapnya sebagai google mini yang hampir selalu bisa menjawab kebutuhan gue, in a very fun and simple way.
Ya, rasanya menyenangkan sekali ketika gue gatau apa yang sedang terjadi dengan kehidupan orangorang yang gue kenal, atau urusanurusan yang gaada hubungannya sama gue.
Have i sounded like i was an ignorant?
Bodo.
Gue selalu merasa bahwa media berekspresi manusia dalam wujud media sosial ini makin kesini makin disalahgunakan. Makin ga jujur. Makin penuh upayaupaya pencitraan, or even worse, attention-whoring. Segala hal gapenting dalam hidupnya juga dipublikasi, like everyone would give a really fvck.
Yaelah, bodo amat gaes lo mau liburan kemana, abis ketemu siapa, abis jalan kemana, abis beli apa, lagi makan apa, terserah. Hidup hidup lo, why should i care?
Lapang rasanya bisa menjalani kehidupan sendiri tanpa kepengaruh kehidupan orang lain, yang hanya secara kebetulan melintas di linimasa media sosial. Menyenangkan rasanya bisa melewati harihari sendiri tanpa kepengaruh harihari orang lain, yang secara sengaja diperlihatkan di berbagai akun media sosial yang gue ikuti.
Stabilitas mood meningkat. Keinginan untuk stalking terbendung. Kemudahan menyingkirkan perintilan2 gapenting yang bisa secara tibatiba mengagitasi, terwujud.
Well, is it a sign of being ignorant? Then, here i am.
Lega banget, ketika buka gadget, yang keliat hanya halhal yang mengembangkan wawasan gue, in a good way. Halhal yang bikin semangat, bahagia, belajar. Atau bahkan, halhal yang bisa mendistraksi ketika gue lagi butuh didistraksi.
Gue bisa lebih jujur berekspresi. Ide yang masuk ke kepala gue, keluar gitu aja tanpa kefilter sama kekhawatiran dijudge orang, atau sama perasaanperasaan sampah yang timbul ketika liat postingan2 some significant human.
Yah, manusiawi lah, biar kata gue soksok gamau peduli sama postingan orang, sama apa yang dipublikasi orang di linimasa media sosial gue, sedikit banyak pasti ada pengaruhnya dalam hidup gue. Entah kesel, entah iri, entah sedih, entah jeles, entah marah. Yang jelas, banyakan negatifnya, setau gue.
Jangankan akun orangorang yang gue kenal. Follow onlineshop aja gue kesel kok. Kesel karena gamampu beli padahal pengen.
Maka sekarang, gue rasa keputusan gue berkehidupan tanpa sosial media berlimpah adalah tepat.
Gue bisa fokus sama kehidupan gue sendiri. Gue bisa memilah, manusia mana yang memang gue butuhkan, atau membutuhkan gue, atau saling, dengan melihat effort yang dilakukan untuk menjaga komunikasi, ketika gue mengurangi jumlah media sosial yang gue punya. Gue jadi tau, yang mana yang jujur mau tau kehidupan gue untuk melakukan sesuatu yang berguna, mana yang jujur memperlihatkan kehidupannya untuk meminta gue melakukan sesuatu yang berguna.
Bahkan, ketika dua hari lalu gue nyampe kostan setengah 1 malem, gue baru sadar kalo gadget gue tertinggal di mobil oknum A ketika beliau terakhir mengantar gue, dan kami terlalu asik ngerumpi sampe gue geletakin gadget gue gitu aja di jok mobilnya. Lalu, gue gapeduli aja gitu. Mau ngasitau ke oknum A nya juga mager. Biarin aja, toh besok paginya, i’ll be with him for the whole day.
Padahal dulu gue sempet ada di masamasa cranky ketika sejam aja ga ngecek socmed. Sekarang, gadget ketinggalan di mobil orang aja gue selow. Malah enak, mau tidur tinggal leyeh2 terus tidur nyenyak, gapake bukain media sosial segala dulu.
Gue jadi inget dulu Mbak R, residen senior neurologi, pernah bilang sama gue kalo dia serasa lahir kembali, ketika dia memutuskan menghapus semua media sosial di gadgetnya. I even remember her ultimate statement;
“Jadi kalo kamu ngerasa hidup kamu mulai ribet, coba cek, sesering apa kamu ngecek media sosial dalam sehari. Pengen hidup lebih selow, ya klik delete aja”
Isn’t it easy, when achieving peaceful life is just one click away?
“Jadi kalo kamu ngerasa hidup kamu mulai ribet, coba cek, sesering apa kamu ngecek media sosial dalam sehari. Pengen hidup lebih selow, ya klik delete aja”
Kadang gue suka iba dan cuma bisa geleng-geleng kepala kaloan liat kotak amal, ato sekelompok anak remaja yang bawa bawa kotak untuk kepentingan perayaan kemerdekaan. Ngerayain dirgahayu aja harus ngemis, miris ’-’)/
Mimpi yang Usang
Tulisan ini terinspirasi dari sebuah tulisan indah dari seorang wanita yang sepertinya sudah menempuh banyak hal dalam hidup, saya tidak mengenal dia secara personal, tapi saya merasa karib dengan tulisan-tulisannya, dan tulisan yang satu ini mengingatkan saya akan sebuah mimpi indah beberapa tahun silam. Sebuah tulisan yang menyadarkan saya bahwa dulu jauh-jauh hari sebelum saya jatuh di tengah-tengah guyuran programming language, codes, algorithm dan sebagainya, saya pernah bermimpi ingin diguyuri hal yang lain.
Saya tak pernah menduga bahwa setiap hal yang dulu saya idamkan justru membawa saya pada dunia IT. Dunia yang tak pernah sedetikpun saya anggap akan masuk di dalamnya. Sejak SMP saya bertekad untuk merubah sistem belajar saya. Saya tak ingin dianggap siswi bodoh lagi. Dan sejak SMP kelas 1 semester 2, ranking saya langsung meroket.
Semasa sekolah saya selalu baik dalam hal akademis, saya mampu menyelesaikan soal fisika yang bagi banyak orang merupakan hal yang sukar, pengetahuan sosial yang mencangkup geografi, ekonomi dsb, bisa saya taklukan. Untuk pelajaran bahasa inggris yang dulu saya tak bisa apa-apa, berkat bully-an guru sayalah saya langsung belajar dan meningkatkan kemampuan saya setahap demi setahap.
Di masa SMA saya semakin riang duduk di zona yang saya arungi, pelajaran sekolah alhamdulillah bisa saya ikuti, hanya saja saya memang lemah di pelajaran matematika. Setiap saya menyelesaikan soal matematika, yang terpikirkan oleh saya adalah cara penyelesaian Fisika. Tapi, lemah pada satu hal tak menyurutkan saya.
Banyak orang yang menginginkan saya berkuliah di pulau Jawa atau mencoba peruntungan di STAN ya, mengingat mimpi saya yang besar, saya ingin jadi orang besar yang mampu menolong banyak orang lemah dan membutuhkan pertolongan.
Pada tahun 2013, saya mengikuti sebuah Olimpiade Bahasa Inggris Nasional yang diadakan oleh MENDIKBUD RI, inilah titik awal saya merasa seakan dekat dengan mimpi saya. Dengan 40 peserta lain dari sekolah saya, kami mengikuti seleksi yang rumit dan ketat di sekolah, pada saat itu malah saya beranggapan bahwa saya tak mungkin lolos dalam tahap-tahap ini, apalagi tingkat nasional.
Tak seperti dugaan saya, Allah berkehendak lain, saya dinyatakan masuk 50 besar (Semifinal).
Namun, Allah justru seolah-olah inginkan hal lain. Saya mengetahui bahwasanya saya masuk top 50 pada H+1 lomba lanjutan yang diadakan di Universitas Brawijaya Malang. Hati saya meronta. Mimpi saya agar terbang ke pulau jawa lebur sudah. Yang tersisa hanya sejumlah uang dan sertifikat yang saat ini malah berdebu di lemari.
Kesempatan datang lagi sejak UB menawarkan kepada setiap siswa Top 50 mendapatkan beasiswa di UB dengan jurusan tertentu, dan termasuk jurusan yang paling saya idamkan, HUBUNGAN INTERNASIONAL. Saya ingin bekerja sebagai seorang diplomat, menjadi ‘presiden’ bagi warga negara Indonesia yang menetap di negeri lain. Begitulah mimpi saya.
Dunia seperti sedang berpihak kepada saya, tapi ternyata itu tidak berlangsung lama.
Sebulan sebelum pendaftaran SNMPTN, keluarga saya dilanda kegusaran. Pelik sekali, pahit kalau diingat-ingat. Mimpi yang sudah saya bangun harus pupus saat dalam perjalanan menyusuri mimpi tersebut.
Saya pun dihadapkan dengan pilihan yang cukup rumit, saya dipaksa menjadi dewasa pada saat usia yang belum genap 16 tahun, saya harus bisa memilih sendiri rute perjalanan lain untuk diri saya. Tak ingin saya bebankan pada orang lain apalagi orangtua saya satu-satunya, Mama.
Sometimes, life makes you grow up early. And some people never grow up at all.
Hingga, H-2 penutupan pendaftaran SNMPTN, barulah saya memutuskan memilih jurusan Teknologi Informasi, berbekal pengetahuan saya yang gelap segelap tinta cumi-cumi, buta akan bahasa pemrograman, dengan setengah matang saya harus memilih ini.
“Most Favourite Major” “Big Income” “Huge Job Opportunity”
Butuh berhari-hari saya lari dari bayangan mimpi silam, banyak teman-teman saya yang kecewa dengan keputusan saya. “Nad, sayang kali lo Nad. Bayangkan berapa banyak orang yg mau duduk di bangku yg nadya dapetin. Terus nadya malah ngebuangnya gitu aja. Inikan yg dari dulu nadya pengeni?”
Dan yang mencambuk hati saya adalah saat seorang guru favorit saya berkata, “Ibu kecewa sama nadya, dengan nadya menolak tawaran beasiswa dari UB itu sama artinya nadya menutup gerbang kesempatan adik-adik nadya sekolah ke sana. Seharusnya bisa adik-adik kuliah di sana, tapi malah nadya tutup, kecewa ibu sama nadya”
Saya benar-benar merasa tak ada seorangpun yg mengerti perasaan dan kondisi yg sedang saya alami pada saat itu. Begitu berat beban yg harus saya pikul di akhir masa sekolah SMA, mental saya seakan diciduk bertubi-tubi, dilibas dengan kalimat tajam yang terus menjatuhkan semangat saya. Belum lagi kengerian yang akan saya tempuh saat menempuh kuliah nanti. I was hopeless.
Passion saya memang sering berubah haluan, tapi tak se-ekstrim dan seterjal ini. Saya harus banting stir melawan arah, merempet ke rute yang saya tak pernah tahu bagaimana jalannya.
Stephen R. Covey dalam bukunya 7 Habits, mengatakan bahwa kita harus “Begin with the end”, atau memulai dengan akhir. Maksudnya, apa yang kita lakukan sekarang, itu memang menuju visi hidup kita. Dan saat ini saya sedang berusaha untuk re-build visi saya dari awal, dan terus menjalani ketentuan-Nya dengan lapang dada.
Yang sulit bagi saya adalah, saya menjalankan segala hal karena merasa ada kesempatan, padahal kesempatan itu tidak sama sekali membawa saya pada visi hidup saya. Dari sinilah saya belajar untuk berani mengambil kesempatan yang ada. Menggunakan waktu saya yang jumlahnya lebih banyak daripada kesempatan itu sendiri.
Sometimes the dreams that come true are the dreams you never even knew you had.
Dan saya menjalani hidup dikarekanan sebuah kondisi, bukan menjalani hidup karena pilihan saya sendiri. And i love it:)
“ … Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
I dedicate this writing for an extraordinary woman, teteh @novieocktavia, thank you for sharing that beautiful writing titled (Mengkhianati) Mimpi. It inspired me to wrote similar story of mine, a version of mine, and it seems you are the one who know exactly how it felt, to let the dream gone and making a strange one. nuhun ya teteh.
Akan ada titik dimana setiap orang terbentur antara perasaan dan kenyataan. Apa yang ia rasakan, berbeda dengan kenyataan. Seiring waktu, saat usia bertambah, kau akan semakin mengerti bahwa menuruti perasaan bukanlah hal yang selamanya tepat. Seperti perasaanmu kepadanya? Kenyataannya mungkin bertolak belakang dan upayamu untuk menuruti perasaanmu selalu membuahkan kekhawatiran
kurniawangunadi
(via kurniawangunadi)
Pelecehan
Waktu itu saya ngobrol dengan seorang teman yang punya bisnis pakaian muslimah dengan klaim syar’i tapi modis (ini sulit dikombinasikan sih). Well, but she do the best untuk mengakomodir itu.
Kami ngobrol soal bagaimana sih pakaian syar’i yang seharusnya. Ya saya jawab yang jelas ga kayak saya dong. Kami juga ngobrol soal cadar.
Bagi saya sekitar 10 tahun tahun lalu, cadar adalah hal yang aneh dan saya ga suka. Beberapa tahun belakangan, ketika saya semakin tidak nyaman dengan sexual harasment yang terjadi pada saya (let say kalau saya lebay, tapi buat saya cuitan, colekan, lirikan mesum, dan godaan verbal juga termasuk pelecehan seksual), bagi saya cadar sangat melindungi.
Di Bandung (bahkan di Jakarta juga), somehow saya merasa lebih secure karena di sana cenderung jarang mengalami pelecehan verbal. Justru di area Jawa Timur saya sering mengalami ini (ya beberapa kota saja sih, kind Tuban, Surabaya, dan Kediri).
Kesepakatan spontan banyak perempuan yang naik bus (ekonomi) adalah : carilah kursi yang sebelahnya sudah ada penumpangnya cewek, sebab jika kamu ambil tempat duduk kosong, akan ada kemungkinan penumpang laki - laki yang menjejeri.
Kembali soal cadar. Saya dan teman sepakat bahwa ketika kami menutupi wajah (lepas dari kita cantik atau tidak), rasanya hati jauh lebih nyaman dan aman. Beberapa pertimbangan mungkin masih menghalangi keinginan kami menutup wajah, seperti faktor keluarga dan kalau saya pribadi merasa kerudungnya masih pendek, jadi agak malu kalau pake cadar.
Si teman saya kadang mengkamuflasekan cadar dengan masker. Dengan begitu dia bisa mendapatkan rasa nyaman namun dianggap biasa saja oleh orang - orang di sekitar. Suatu hari saya mempraktekkan contoh darinya (mengenakan masker sebagai kamuflase cadar sekalian melindugi muka dari debu karena berkendara), dan saya belum pernah merasa seaman itu di jalanan.
Bukan berarti yang tidak menutup aurat atau tidak bercadar menjadi lebih rentan terhadap pelecehan, akan tetapi kita menambah ikhtiar dan mencari kenyamanan saja. Jaman sekarang, perempuan berkerudung pun dilecehkan, saya juga gatau otak pelaku itu isinya apa. Barangkali kalau ada sapi pake rok juga bakal digodain, jadi don’t easy to blame the victim deh. But at least, dengan berpakaian tertutup kita berusaha menghormati diri sendiri. Semoga dengan begitu Allah melindungi kehormatan kita.
Semoga Allah menguatkan kita semua untuk berpakaian sebaik - baiknya pakaian sesuai yang Dia perintahkan. Semoga Allah melindungi semua perempuan di dunia ini dari pelecehan yang seriously guys, itu tidak menyenangkan.
It’s kind of : lu siapa colek - colek gw? Mau mati lu? *lemparin batu ke kepalanya*
Si abi, selalu suka kalo dibikinin kue. Apapun hasilnya. Padahal istrinya bikin kue bentuknya engga karuan. Minggu kemarin pulang kerja dititipin susu UHT, mintanya yang kecil dibeliinnya yang 1 L. Besokannya setelah pancake itu susu dijadiin puding buat bekel proyekan kantor. Then, look at his eyes. So happy
Ba'da Maghrib
Guest Room,
A : istriku sayaaaang (sambil buka pintu)
B : kenapa bii?
A : mohon maaf yaaa lama banget
B : it's oke bii *senyum
A : (lihat ke mata) ini yang bikin aku cinta sama kamu, salah satunya (sambil beberes barang)
Suami saya jarang sekali bilang hal-hal semacem itu. Cuma pada moment tertentu dan rasanya saya bisa berkali-kali luluh ketika itu.
Saya tau, senyum tanpa bibir merekah itu ganjil. Tapi saya tau siapapun bisa lihat senyum saya dari segaris mata. Itulah kenapa saya selalu bahagia dengan cara saya mengizinkan orang-orang tertentu melihat keseluruhan wajah dan tubuh.
Sabtu kemarin edisi nemenin abi seharian di kantor. Diem - diem aku duduk disalah satu sudut lobby, mata langsung tertuju ke loket purchasing. I miss my job absolutely. Serindu itu, suami nangkep di mataku. Yaiyalah yang keliatan kan matanya aja. Langsung digiring ke Guest Room. Flashback, macem kaya mau interview. Niatnya pulang ba'da dzuhur qadarullah klien suami baru dateng ba'da dzuhur jadi ajalah aku nunggu. Dateng ke kantor jam 8 dengan periapan ala piknik : bawa puding, makan dan cemilan. Kerjaan suami baru selesai ba'da maghrib dan aku nunggu di Guest Room, santai sembari nikmatin rasanya kerja lagi. Suami panik kalau istrinya ga ada di Guest Room padahal cuma ke toilet yang notabenenya ke bates produksi room aja.
To the person whom we called “home” ❤
#words #marriageadvice #tenyearsjourney
Just Blabbering : Biar Apa?
Orang tuh, ada loh yang sudah mati - matian melawan dirinya sendiri supaya ga mengeluh; supaya ga teringat kenangan buruk; supaya ga muncul perasaan - perasaan negatifnya lagi.
Sayangnya, kadang - kadang ada aja orang lain yang entah dengan niat apa mengulik luka orang itu. Bukan mengulik biasa, tapi seakan tidak percaya bahwa luka itu sudah sembuh. Biar apa sih?
Seperti makanan basi yang sudah dikubur dalam - dalam, lalu kita mengorek - ngorek lagi hingga makanan basi itu kembali berbau. Tidak bisakah dibiarkan saja orang itu mengubur dan berdamai dengan lukanya?
Kita tidak tahu loh, seberapa dalam luka itu. Kita tidak tahu seberapa banyak trauma yang ditimbulkannya. Kita tidak tahu barangkali karena luka itu dia tak lagi bisa percaya pada orang lain. Lalu orang itu sudah belajar dan melapangkan dada, akhirnya menjadi baik - baik saja. Benar - benar baik - baik saja. Lalu sekonyong - konyong kita mengingatkannya lagi, meyakinkan bahwa dia tidak baik - baik saja.
Lalu dia jadi teringat lagi pada lukanya, pada traumanya, dan kebencian yang sesungguhnya sudah menjadi kerelaan itu kembali hadir.
Biar apa bertanya - tanya jika tak ada perlunya? Alih - alih beralasan ‘untuk kebaikannya’, coba tanya diri sendiri. Sebenarnya, untuk dia atau untuk kebaikan kita sendiri?
Ah sudahlah, lelah sudah menghadapi orang - orang yang tidak percaya bahwa saya baik - baik saja. Bebas, kumaha maneh.
Setiap orang punya air matanya sendiri. Yang mungkin tidak pernah bisa ia bagi ke orang lain, karena ia khawatir tidak bisa menjelaskan dengan benar bagaimana perasaannya. Atau ia takut menjelaskan, takutnya tumpah lagi. Atau ia sebegitu takutnya, bahwa orang lain tidak akan bisa memahami air matanya.
Hingga hanya tinggal Rabbnya yang paham segala kondisi tanpa perlu dijelaskan. Hingga hanya tinggal Rabbnya yang mengerti betapa kuat sekaligus lemahnya ia… (via ajinurafifah)
Luka
Apa kabar luka? Yang pernah menjadi sebenar-benarnya kawan tidur di waktu silam. Hai, apa kabar luka? Yang tak lagi panas membara dalam kepala juga relung hati. Aku baik, setelah memutuskan sebenar-benarnya bahagia bersama ia teman tidurku, pria yang puluhan bahkan ratusan kali menjadi supir eksklusif sekaligus setia membukakan pintu bagi wanitanya. Aku baik, setelah memutuskan membagi separuh hidup bersama priaku. Pria yang beberapa kali melihatku menangis entah didalam mobil atau dalam sambungan telfon. Pria yang mengulurkan tisu ketika itu, bagiku cukup. Aku tak lagi sendiri. Lantas apa kabar kamu? Yang pernah kutangisi berminggu-minggu lamanya. Sayang kamu bahkan tak pernah mengulurkan tisu hingga detik ini. Apa kabar kamu? Yang beberapa waktu silam kulihat potretnya bersama keluarga kecilnya. Kau bahagia. Aku bisa menjamin. Kamu bertahan. Dan aku sebut itu cinta. Setidaknya aku tertawa ketika melihat potretmu bersama si kecil dan wanitamu, aku pernah menggadang-gadang ada di sana. Menjalin sisa hidup bersama. Lagi, ini bukan aku yg tengah menyesali takdirNya. Justru aku tengah mensyukuri guyuran bahagia yang Tuhan curahkan. Kau pun bahagia. Aku jamin. Setidaknya kau ada di sana bukan denganku, ku sebut bahagia.
Am I Left Behind?
Ada sebuah penyakit, saya tidak tahu nama resminya. Tapi kita namakan saja “Sindrom Ketinggalan Balapan”.
Indikasinya begini:
• Kamu sedang belajar atau meniti karir, tapi have no idea kamu mau jadi seperti apa di ujungnya nanti.
• Kamu ngeliat figur-figur hebat di bidang kamu. Di satu sisi kamu jadi bersemangat, di sisi lain kamu jadi overwhelmed karena ngerasa banyak banget hal yang mesti kamu pelajari untuk berada pada posisi seperti mereka.
• Efek lainnya juga, mungkin kamu jadi ngerasa ketinggalan, atau bahkan ngerasa udah salah jalan selama ini.
• Lalu kamu ngerasa tahun-tahun yang sudah kamu lalui kamu habiskan begitu saja, agak sia-sia. Kesal dan menyesal rasanya.
• Terlebih, kalau figur yang kamu lihat adalah teman sebaya kamu. Ada yang udah sampai di sana, ada yang udah jadi ini, ada yang sudah menghasilkan itu. Rasanya pengen mencet tombol restart hidup–andai saja ada.
Apa yang mesti dipikirkan-dilakukan dalam kondisi begitu?
Penanganan pertama: “Ingat, hakikat yang paling hakiki tentang hidup, bahwa kita semua akan mati, lalu semua cita-cita, pencapaian, karir–betapapun cemerlangnya, akan berakhir. Tutup buku. Apa yang penting adalah amal yang kita niatkan, persembahkan, untuk Sang Pencipta.
Penganan kedua: “Ingat, semua orang berproses. Semua yang ada di puncak pernah mendaki dari bawah. Jika kita masih di bawah, santai aja. Panik tidak akan membuat kita tiba-tiba berada di puncak. Tenang. Terus bejalan, selangkah demi selangkah. Lakukan sekecil apapun upaya kamu untuk menjadi versi lebih baik dari diri kamu, setiap hari, setiap waktu.”
Penanganan ketiga: “Ingat, hidup bukan balapan. Yang lebih dahulu menjadi hebat tidak membuatnya superior secara permanen dibanding kita; suatu saat kita bisa melampauinya. Terlebih, yang di mata kita sudah hebat, barangkali payah dan berantakan dalam sekian aspek–yang mungkin kita baik di sana. Kasih sayang keluarga, pertemanan yang berkualitas, ibadah yang khusyu’–banyak sekali hal yang matters dalam hidup yang tidak perlu syarat untuk memilikinya.
Oke, sementara segitu dulu.
Tarik nafaaas, hembuskan. Ayo kita jalan lagi, selangkah demi selangkah.
It does not matter how slowly you go as long as you do not stop.
Confucius
Bismillah.
Jupri (2)
Tulisan Jupri tidak bertambah.
Dimanapun.
Terkadang bulatan foto Jupri berwarna merah. Ada apdetan igstory maksudnya…wkwk
Oh, aku gak follow Jupri, tapi aku tetap ngeklik lingkaran merah itu, jadi, igstory kan bisa ketauan tuh siapa yang ngeliat, dan Jupri ternyata ngecek, dan…ketauanlah kalau aku kepo.
Ketahuan jilid dua.
Ga bakat kepo sih kayaknya.
Jupri sapa lewat…igstory.
Background hitam, tulisan putih, kecil disalah satu ujung layar.
“Untukmu…”
Wkwk.
Kemudian disusul tulisan, sebait dua bait, kadang manis kadang pahit.
Jadi, pernah ada satu fase dimana akhirnya kita berkomunikasi lewat igstory. Sempat berlangsung beberapa kali.
Sampai akhirnya Jupri tulis begini,
“Mau sampai kapan, dik?”
Tampaknya Jupri benar-benar ingin mengakhiri hubungan yang bahkan belum dimulai ini.
Jupri uninstall IGnya. Pamit di foto terakhirnya.
Aku paham. Aku coba lupakan.
Bayangkan seberapa sering aku ketik namanya di kolom search, sampai-sampai saat aku ketik huruf J, nama Jupri paling atas.
Ternyata tak cukup lagi kekuatan untuk mengabaikan.
Perempuan menunggu, tapi menunggu terkadang tercekik oleh rasa penasaran, Jup.
Aku klik namanya, dan Oh!! Ada lingkaran merah!
Lah, piye Jup? Katanya uninstall IG. Ternyata komentar dalam hatiku sudah disalurkan oleh beberapa temannya di kolom komentar foto terakhirnya.
Lingkaran merah tak pernah begitu menggoda, dan tentu saja Jupri tahu.
Jupri sapa lagi, “Masih?”
Kemudian Jupri bantu aku dengan benar-benar menghilang.
Jupri hapus akun instagramnya.
Tak perlulah sampai segitunya Jup. Anggaplah aku orang asing, bukan siapa-siapa. Perempuan sukanya mengira-ira Jup, coba jelaskan, siapa yang berusaha melupakan siapa. Tapi tampaknya doa kita sama, agar hati kita tidak dipautkan pada orang yang bukan Allah siapkan untuk kita. Kita cuma manut Allah ya Jup. Tampaknya kita pun tak se-kufu dalam satu hal, susah ya Jup? Lebih baik menghindar daripada susah di depan, kan? Kadang kita memilih begitu ya Jup? Menghindar daripada memperjuangkan.
Beberapa bulan setelah benar-benar hilang, aku baru paham maksud pesan terakhir di tulisannya. Aku tanya, kata Jupri, “Buat apa, tulisan itu udah gak relevan lagi buat sekarang.”
Sekarang kalian tahu siapa yang tidak lebih baik dari hujan.
Hujan yang memberi aba dengan mendung sebelum ia datang. Hujan yang rintiknya mengecil kemudian perlahan mereda. Tidak seperti Jupri, yang melakukan semuanya dengan tiba-tiba.
Eh dia ga tiba-tiba juga sik…tapi…ya gitulah.
Jupri tinggal cerita sekarang. Atau mungkin Jupri diantara kalian, Membaca cerita ini diam-diam.
Membaca sambil menyalahkan pemahamanku, Membaca sambil ingin menjelaskan apa maksud dari tulisanmu, berusaha meluruskan apa yang sebenarnya terjadi, tapi sudah tidak perlu lagi.
Ya kan Jup?