Purnama Pertama di Sabu Raijua
Jika mungkin harus menjawab pertanyaan kemewahan apa yang hilang di Ramadhan tahun ini? Tentu saja mewahnya bisa berkumpul dengan keluarga saat berbuka puasa, salat tarawih berjamaah dan sahur. Tapi terpisah jauh dari keluarga, sahabat dan orang-orang terdekat lalu menjalani puasa di sebuah pulau yang baru saja kudengar namanya saat Pelatihan Indonesia Mengajar adalah suatu kenikmatan yang tidak boleh aku lupakan. Adalah Sabu Raijua, sebuah kabupaten terselatan Indonesia setelah Rote Ndao. Mayoritas agama disini adalah Kristen Protestan. Masih sangat kental dengan adat istiadat setempat dan identik dengan budaya hengedhuu (cium hidup) setiap kali bertemu dengan orang Sabu. Konon, cium hidung ini menandakan penerimaan dan keakraban. Orang-orang Sabu memiliki penerimaan yang sangat baik terhadap kehadiran orang baru. Aku tinggal di sebuah desa bernama Tanajawa, Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua. Orang Sabu bilang, “Ibu datang kemari tu Ibu pulang ke tanah ibu sendiri.” Hahaha, ya, Tanajawa artinya Tanahnya orang Jawa. Tapi di tempatku tinggal sama sekali tidak ada orang Jawa. Konon, nama tersebut berasal dari Kerajaan Majapahit yang dulu pernah berekspansi hingga ke Sabu. Aku tinggal dengan sebuah keluarga Katolik yang sangat hangat dan toleran. Papatanaku (sebutan Bapak Kesayangan) bernama Manu Nge Dji, kami biasa memanggil Bapak Matutu. Bagi orang Sabu, memanggil orang denngan nama Sabu nya lebih sopan daripada memanggil dengan nama aslinya. Kami hidup berenam. Papatana, Mamatana, Ger, Dede, Ina Mala dan aku. Keluarga kami sangat openmind. Setiap malam sebelum tidur kami berkumpul dan berdiskusi tentang toleransi umat beragama. Tentu saja tulisan ini tidak untuk mengajari bagaimana toleransi umat beragama itu. Aku hanya ingin bercerita bahwa aku begitu dihormati dan dihargai walaupun aku seorang Muslim. Bapak memberitahu keluarga dan tetangga-tetangga jika saya salat mereka dilarang berisik. Mereka sangat menghindari makan dan minum di depan saya yang sedang berpuasa tetapi saya selalu bilang, “Beta su biasa Bapak, jika su niat sonde akan terpengaruh dengan keadaan apapun.” Ya, meskipun tak mendengar suara adzan, Mama selalu mengingatkan,” Ina De (panggilan untuk perempuan “Ina”) su solat ko?” atau sekedar bertanya, “Su waktunya buka puasa ko?”. Ah, indah sekali Ya Allah keluarga ini. Allah, rasanya benar, mengapa saya harus mengosongkan isi kepala saya untuk merendahkan hati ketika akan menetap di tempat ini. Betapa jika saya sudah merasa benar dan pintar saya tidak akan pernah belajar. Di sebuah kota, ribuan kilometer dari tempat saya tinggal kini, orang-orang bertengkar karena berbeda agama. Seolah-olah tak ada lagi pintu maaf. Tapi disini, di Kabupaten yang bahkan listrik tidak mengalir, saya hidup rukun bersama keluarga yang agamanya tidak saya imani. Aku melewati satu purnama di Sabu Raijua ini dengan limpahan syukur Ya Allah. Terima kasih atas kesempatan ini. Sungguh nikmat bagi orang bodoh seperti saya adalah adanya kesempatan untuk terus belajar. :) Seba, Sabu Raijua, 11 Juni 2017
















