Sejujurnya, aku tidak tahu harus menulis apa.
Aku tidak tahu ingin menulis apa. Kisah kita sudah selesai bertahun-tahun yang lalu, dan seharusnya saat ini, aku sudah berhasil melupakanmu. Seharusnya saat ini, aku sudah berhasil melepaskanmu. Aku tidak tahu apa yang membuatku masih belum berhasil melupakanmu, namun aku tahu bahwa kamu sudah tidak seharusnya menjadi bayangan yang aku gambarkan ketika aku sedang berpikir tentang cinta–bahagia–selamanya. Sebab, mengapa kamu masih menjadi orangnya? Kamu sudah menghancurkanku, dan aku pun sudah menghancurkanmu. Kisah kita memang singkat, namun kita telah melalui badai yang cukup hebat. Mengapa aku tak kunjung mampu melupakanmu?
Di hari-hari di mana aku mengingat wajahmu, aku juga mengingat sentuhan-sentuhan kecil kita. Aku mengingat ucapan-ucapan kecilmu yang manis, yang masih dengan sadar aku beri senyuman kala ia mendatangi malam-malamku yang sepi. Sungguh begitu bodoh, bukan? Ucapku di dalam hati penuh penyesalan. Namun aku tahu, aku akan mengulanginya lagi ketika wajahmu kembali mendatangiku. Sampai aku bosan. Sampai mataku memerah sebab ternyata air mataku tengah diam-diam menyeberangi pipiku. Mengapa aku tak kunjung mampu melupakanmu?
Di manakah letak memori-memori tentangmu mengendap? Adakah ia bersembunyi di balik ketiak gaun bunga-bunga merah muda yang pernah kau hadiahkan kepadaku—ataukah ia sebenarnya masih ingin bertengger di langit-langit kamarku layaknya hantu penghuni kamar yang tidak mau diusir? Ada banyak hantu di dalam hidupku, biasanya mereka bersembunyi di balik kepalaku. Beberapa tahun ke belakangan, aku menyadari kalau kamu telah menjadi salah satu dari mereka.
Sumpah demi Tuhan, dan demi mimpi-mimpi kita yang telah hancur, aku sungguh lelah. Aku sungguh amat lelah. Aku telah mencari-cari tangan-tangan baru. Aku telah mencari kehangatan-kehangatan baru. Belum ada satu pun dari mereka yang mampu memberiku kehangatan, sebagaimana kedua tanganmu pernah menyentuhku. Belum ada satu pun dari mereka yang mampu membasuh luka-lukaku, sebagaimana bibirmu mencium tangisan-tangisanku. Kamu memang berakhir menjadi lukaku yang lain, namun tak bisa kupungkiri bahwa kamu juga pernah menjadi tempat yang aman di mana aku memulangkan kesedihan-kesedihanku. Atau setidaknya, begitulah yang aku rasakan ketika aku masih bisa mendekap harum hoodie favoritmu.
Entah sudah berapa ember air mata yang kutumpahkan. Di titik ini, mereka seperti saksi-saksi hidupku yang memalukan, yang membuatku terus bertanya-tanya, sampai kapan aku harus mengemban berat wajahmu yang pudar. Aku seperti manusia yang tidak punya kendali atas dirinya sendiri, dan bagiku, itu sungguh lucu. Bagi teman-temanku, itu juga sungguh lucu. Sebab, aku dan teman-temanku selalu berpikir bahwa aku adalah seorang wonder woman. Bahkan, beberapa teman laki-lakiku mengira aku adalah perempuan yang tidak pernah menangis. Aku adalah teman perempuan mereka yang tangguh, yang selalu tahu bagaimana caranya menghadapi hari dengan senyum sumringah, dan candaan-candaanku yang gila. Sungguh lucu, bukan? Bagaimana bisa seorang perempuan tangguh menangis berember-ember hanya karena sebuah kisah cinta yang bodoh.
Akhir-akhir ini aku jadi menyadari kalau mungkin sebenarnya, akulah yang bodoh. Bukan kisah cinta kita, bukan juga dirimu yang pernah membuatku mengumpat-umpat sebab aku tidak percaya telah jatuh cinta pada seorang laki-laki sepertimu. Kamu yang jauh dari nilai standarku. Kamu yang jauh dari laki-laki impianku. Kalau aku bertanya pada mereka yang membaca tulisan ini, mereka pasti akan mengamini kalau akulah Si Bodoh itu. Namun, persetanlah dengan diriku yang bodoh. Sebab ibuku bilang, tidak ada perasaan yang salah. Ibuku bilang, perasaan tidak bisa disalahkan, meski kita menganggap keberadaannya terlalu hina untuk kita akui. Ibuku bilang, ia mengerti dan memaklumi kalau anak perempuannya pernah menaruh hati pada seseorang yang jauh dari bayangannya.
Ibuku memang halus dan sungguh menyayangiku. Kamu pun tahu itu. Kamu pun dulu sangat menyukai ibuku. Nah, sekarang, bagaimana aku harus mengakhiri tulisan ini? Aku menahan malu ketika menulis ini. Meskipun aku tahu, kemungkinan kecil kamu akan membaca tulisanku. Meskipun aku tahu, kemungkinan kecil orang-orang akan tahu, sosok siapa yang sedang aku tangisi. Ya, kamu. Sosok yang pernah amat aku sayangi. Lihat, sayang, betapa aku masih bertingkah sangat bodoh dan memalukan di depan banyak orang. Aku sudah berubah, namun juga tidak terlalu banyak berubah. Aku masih sering membuat orang-orang di sekitarku merasa kesulitan saat menghadapiku. Sebagaimana dulu kamu pernah bilang, kalau aku adalah kekasih yang terlalu overwhelming buatmu. Ya, kamu. Kematian kecilku.
Bagaimana aku harus mengakhiri tulisan ini? Bagaimana aku harus mengakhiri penderitaanku ini? Aku tidak pernah membayangkan kalau aku akan dibuat sebegitu menderitanya hanya karena seseorang. Kalau kamu mengira ini adalah sebuah pencapaian, maka kamu telah salah besar. Sebab, sampai hari ini, kamu tetaplah kematian kecilku. Kematian kecilku yang pernah membuatku susah payah mencari gairah hidupku kembali. Kematian kecilku yang pernah membuatku kehilangan kepercayaan pada semua laki-laki di sekitarku. Kematian kecilku yang pernah membuatku berpikir kalau sebaiknya, aku tidak usah merasakan indahnya jatuh cinta lagi.
Kamu, kematian kecilku. Aku masih bisa merasakan sentuhan-sentuhan kecilmu di setiap sudut tubuhku. Aku masih bisa mendengarkan bisikan-bisikan manismu di balik bantal, gulingku. Aku masih bisa mencecap kebohongan-kebohongan pahitmu merayap di dinding-dinding rumahku. Kamu, kematian kecilku, yang ingin kukubur dalam-dalam di pusaran kegelapanku. Yang ingin kulempar jauh-jauh ke jurang kehampaanku, dan yang—sumpah demi Tuhan—ingin kumusnahkan selamanya, sampai waktuku telah habis sepenuhnya.