Saat kita telah paham, maka doanya tidak akan selalu tertambat pada kesempurnaan. Perlahan kita akan sadar dan dapat mengukur seberapa pantas diri kita atas segala kondisi yang ditetapkan-Nya. Kemudian kita pun akan paham bahwa yang terlampau jauh di atas hanya akan membuat diri ini kepayahan. Lelah menyeimbangkan dengan sederet keunggulannya. Juga atas yang rendah, kita pun akan payah. Lelah menunggui dan berjalan pelan.
Maka, atas kontemplasi yang panjang, kita pun memutuskan untuk memilih yang padan. Seimbang dengan tinggi kita. Tidak terlalu melangit dan tidak terlalu tenggelam. Kufu atas segala hal yang penting. Supaya kita tak lelah membersamainya, supaya dapat jalan beriringan, atau berlari panjang dengan sama kecepatan. Supaya tujuan sakinah tercapai dengan penuh bahagia.
Pada proses kontemplasi, kita pasti meramu banyak informasi dan segala gejolak diri. Menarik dan mengulur ambang toleransi dalam beberapa kriteria. Ada yang amat dimudahkan, diberi sedikit tantangan, atau ada pula yang harus menempuh jalan panjang. Setiap orang punya jalan yang telah Tuhan tentukan agar dirinya benar-benar dipersiapkan dalam memasuki gerbang fase demi fase kehidupan. Ini relatif dan unik sekali. Tidak ada instrumen standar dunia-akhirat yang bisa kita pakai bagi setiap insan. Alangkah lebih baik jika pada urusan sesensitif ini kita terus mendoakan. Yang berlum bertemu semoga dipertemukan, yang sudah bertemu semoga dimudahkan. Yang mudah semoga diberkahi. Dan, yang sulit semoga diberi kekuatan untuk mengatasi. Atas semua situasi yang dijalani dengan ikhlas hati dan sabar, semoga ragam pahala berlimpahan. Karena tidak ada yang sia-sia jika kita menggantungkan niat tertinggi karena Tuhan semata.
Setiap orang punya jalan untuk menemukan "padan". Setiap orang punya cerita dalam setiap babak proses kehidupan. Kita tidak pernah berhak menilai hitam putih seseorang. Ada dua sisi yang nampak dan tidak pada setiap individu dan kita tidak berhak menilai dari hanya satu sisi sudut pandang. Atas dasar perenungan berkepanjangan dan segala proses pencernaan makna, besar kaitan antara padan, karakteristik, dan judgement. Pada akhir kalimat, aku hanya bisa menyisipkan doa. Semoga kelak kita bertemu dengan satu orang yang padan, karakteristiknya dapat saling menyesuaikan, dan dapat saling bahu-membahu untuk tetap pada satu muara penilaian Tuhan. Aku meminta agar dipertemukan dalam kondisi siap, terserah Tuhan, kapan saja. Karena amanah di babak selanjutnya pasti lebih berat. Seperti level dalam game, yang menang dapat reward dan tantangan yang bertambah lagi.
Inilah tulisan campur baur aku hari ini.