Is There More?
Aku sudah bertunangan dengannya adalah kalimat yang sering aku dan Drian ucapkan saat salah satu diantara kami diajak kencan oleh seseorang. Dalam permainan rumah-rumahan yang kami mainkan sewaktu kami belum sekolah, dia memang mengajakku bertunangan dan aku menerimanya, dan dia berjanji tidak akan ada gadis lain yang akan dinikahinya selain aku. Sejak saat itu dia sering menciumi pipi dan keningku, tapi kebiasaan itu ditinggalkannya entah mulai dari kapan—tahu-tahu aku sudah tidak menyadarinya. Sekarang kami sudah tujuh belas tahun, dan tentu saja kami jatuh cinta seperti remaja normal lainnya, tapi kami tidak pernah pergi kencan. Aku tidak jatuh cinta padanya, begitu pun sebaliknya. Pertunangan kami pun hanyalah pertunangan tidak resmi yang diresmikan oleh sepasang anak kecil lugu yang tidak tahu apa-apa soal cinta. Kami tidak terkekang oleh status pertunangan itu. Kami hanya tidak mau pergi berkencan dengan orang lain, itu saja, sekalipun dengan orang yang kami sukai.
Tapi tidak kali ini.
“Kanna, ayo kita kencan.”
“Eh?”
Aku tidak tahu siapa duluan yang berhenti melangkah. Saat aku sadar, kami sudah berdiri berhadapan. Untuk kali pertama, aku tidak bisa membaca ekspresi pada wajah Drian. Dia menatap lurus pada mataku, lalu beralih pada gedung sekolah yang baru kami tinggalkan sebanyak empat puluh langkah. Sekarang kami berdiri tepat di bawah pohon beringin berdahan rendah.
Drian menceritakan semuanya. Saat dia menghilang pada jam pelajaran Matematika, dia menemani Juna di ruang kesehatan. Sebelumnya, Drian melihat Juna pingsan di dekat kamar mandi perempuan. Katanya, Juna sedang dalam tekanan. Orang tua Juna bercerai dan minggu depan dia harus pindah ke Bandung bersama ibunya. Sebelum pergi, Juna ingin berkencan dengan Drian. Dan tanpa kuduga, Drian menyetujuinya. Drian bilang sebenarnya dia sudah menyukai Juna sejak kelas sepuluh. Drian tidak pernah mengatakannya padaku karena dia tidak pernah sedikitpun berpikir untuk mengajak Juna kencan. Baginya, Juna terlalu tinggi untuk diraih. Gadis itu popular, cantik, pintar, dan sikapnya santun. Namun hari ini gadis pujaannya itu menyatakan perasaan padanya, dan aku mengerti kenapa Drian tidak menolaknya.
“Tapi kenapa sekarang kau mengajakku kencan?” bagian inilah yang tidak kumengerti.
“Karena kau tunanganku,” kata Drian ringan.
Aku tertawa kecil. “Kita enggak serius tunangan, Yan. Kau enggak harus merasa bersalah karena kencan dengan orang lain,” aku mengawali untuk kembali berjalan pulang.
Drian mengikuti. “Tapi aku ingin kau gadis pertama yang kuajak kencan.”
“Hmm?”
“Aku serius,” dan dia memang terlihat serius. Aku bisa tahu kapan dia bercanda, kapan dia berpura-pura serius, dan kapan dia benar-benar serius. Meski tadi aku tidak bisa membaca ekspresi di wajahnya, sekarang aku yakin bahwa dia tidak mau aku menanggapinya dengan tawa lagi.
Aku mengambil banyak napas, berpikir, lalu mengeluarkannya perlahan sebelum berhenti berjalan untuk bicara serius dengannya. “Dengar, Yan. Aku tidak sedang menolakmu atau apa. Tapi aku tidak mau jadi penjahat.”
Drian menunjukkan wajah tak mengerti.
“Kau bilang kau menyukai Juna. Juna juga menyukaimu. Aku tidak mau jadi pengganggu. Aku ikut bahagia karena akhirnya kau bisa berkencan dengan orang yang benar-benar kau sukai, sungguh. Aku merestui kalian berdua. Kau harus membuatnya bahagia. Kau harus membuatnya tersenyum lagi. Jika aku berkencan denganmu, aku akan membuatnya terluka, dan kau membuatnya semakin menderita.”
“Tapi kau tidak paham, Kanna,” Drian bersikeras. “Hubungan kita tidak akan sama lagi.”
“Kita akan tetap seperti ini, Yan. Aku yakin.”
Sekarang aku tidak yakin.
Meski Drian tidak ada sepanjang pelajaran Matematika, aku tahu bahwa dia akan tetap bisa mengerjakan PR yang diberikan Bu Ratna. Aku berniat mencontek PR-nya, tapi ibunya bilang Drian sedang tidak ada di rumah. Setelah dua jam menunggu, aku meneleponnya berkali-kali, tapi Drian menutup telepon dariku—dia tidak pernah melakukan itu sebelumnya.
Semakin hari, Drian semakin terasa jauh. Setiap hari dia menjemput dan mengantar Juna. Saat jam istirahat, mereka akan pergi berdua ke kantin. Banyak orang yang menanyakan hubungan mereka padaku. Kubilang, sebaiknya mereka langsung menanyakan pertanyaan mereka pada Drian dan Juna.
Pada hari pertama, aku bisa menerima keadaan ini. Aku paham. Juna sangat membutuhkan Drian, dan Drian pasti senang karena dialah orang yang bisa membuat Juna tenang. Namun semakin hari aku semakin merasa kehilangan. Saat menyanyikan lagu What About Me dari Emily Osment dengan iringan gitarku sendiri, tanpa sadar aku menangis.
The city is sleeping, but I'm still awake
I'm dreaming, I'm thinking what happened today, is it right?
I fold into the night
The flashbacks, the pictures, the letters and songs
The memories, the heart that you carved on the wall
Its a shame, now that nothings the same
Now the bridges are burned and we're lost in the wind
It's time that we sink or swim
What about you
What about me
What about fairy tale endings
Were you just pretending to be
And I'm wondering
What if we tried
What if I cried
What if its better tomorrow
What if I followed your eyes
I'm wondering
What about me?
You said it, you meant it, you hung up the phone
The talking in circles it set it stone
You were gone, we were wrong all along
Now the past is the past and the bruises may fade
These scars are here to stay
What about you
What about me
What about fairy tale endings
Were you just pretending to be
I'm wondering
What if we tried
What if I cried
What if its better tomorrow
What if I followed your eyes
I'm wondering
What about me?
Stay away
You'll fade away
I'm not afraid anymore
What about you
What about me
What about fairy tale endings
Were you just pretending to be
I'm wondering
What if we tried
What if I cried
What if its better tomorrow
What if I followed your eyes
I'm wondering
What about me?
The city is sleeping, but I'm still awake
I'm dreaming, I'm thinking what happend today is it right?
“Apa kau bernyanyi untukku?”
Aku tersentak. Aku merasa ada sesuatu di belakangku ketika aku sedang bernyanyi, tapi aku memilih untuk menghiraukannya. Rupanya Drian yang duduk di kusen jendela yang memperhatikan punggungku sejak tadi. Cepat-cepat aku menyeka air mataku dan bangkit berbalik untuk mengomelinya karena masuk ke kamar dengan cara yang tidak sopan. Drian tidak ambil pusing. Dia bilang dia sudah biasa melakukannya dan biasanya aku tidak marah.
“Kau marah karena malu kutangkap basah sedang menangis sambil menyanyikan lagu untukku?”
“Tch. Aku tidak menyanyi untukmu,” kilahku.
Drian tersenyum kecil. Dia beringsut turun ke tempat tidur. Pakaiannya rapi. Drian mengenakan kaus oblong putih yang dilapisi baju hangat cokelat dan celana jins biru yang warnanya sudah agak pudar. Dari raut wajahnya yang dengan cepat berubah sendu, aku bisa menebak darimana dia pergi.
“Kau mengantar Juna pergi?” tanyaku. Aku memilih duduk di tepi tempat tidur dan menjadikan gitar sebagai pembatas diantara kami.
Drian mengangguk. “Apa kau tahu kenapa dia menyukaiku?” aku menggeleng. “Dia menyukaiku karena hanya akulah satu-satunya orang yang bisa menandinginya dalam pelajaran matematika. Dia tidak menyukaiku seperti seorang gadis yang menyukai seorang pria. Tapi dia tahu aku menyukainya, yang kini kusadari hanyalah bentuk kekagumanku saja, sama seperti apa yang dia rasakan padaku.”
Aku tahu Drian belum selesai. Aku tidak menyelanya.
Drian meraih gitar dan mulai memetik senar. “Dia mengajakku kencan agar aku menyadari perasaanku yang sebenarnya. Dia benar-benar orang yang pantas dikagumi, Kanna. Dia tahu lebih banyak daripada yang kita tahu.”
Everybody needs inspiration
Everybody needs a song
A beautiful melody
When the nights so long
'cause there is no guarantee
That this life is easy
Yeah when my world is falling apart
When there's no light
To break up the dark
That's when I, I
I look at you
When the waves are flooding the shore
And I can't find my way home any more
That's when I, I
I look at you
When I look at you
I see forgiveness
I see the truth
You love me for who I am
Like the stars hold the moon
Right there where they belong
And I know I'm not alone
Yeah when my world is falling apart
When there's no light
To break up the dark
That's when I, I
I look at you
When the waves are flooding the shore
And I can't find my way home any more
That's when I, I
I look at you
You appear just like a dream to me
Just like kaleidoscope colors that cover me
All I need
Every breath that I breathe
Don't you know you're beautiful
When the waves are flooding the shore
And I can't find my way home any more
That's when I, I
I look at you
I look at you
You appear just like a dream to me
Barusan dia menyanyikan lagu When I look at You dari Miley Cyrus. Aku hanya memandanginya dengan sorot mata tak percaya—aku yakin aku terlihat seperti orang yang baru saja sadar dari hipnotis. Drian tertawa melihatku.
Aku balas mentertawakannya.
“Memangnya enggak ada lagu cowok yang pas, ya?” kataku.
“Baiklah kalau kau menantang,” katanya.
I hung up the phone tonight
Something happened for the first time
Deep inside it was a rush
What a rush
'Cause the possibility
That you would ever feel the same way about me
It's just too much
Just too much
Why do I keep running from the truth?
All I ever think about is you
You got me hypnotized
So mesmerized
And I've just got to know
Do you ever think
When you're all alone
All that we could be?
Where this thing could go?
Am I crazy or falling in love?
Is it real or just another crush?
Do you catch a breath
When I look at you?
Are you holding back
Like the way you do?
'Cause I'm trying, trying to walk away
But I know this crush ain't going away
Going away
Has it ever crossed your mind
When we're hanging,
Spending time, girl, are we just friends?
Is there more? Is there more?
See it's a chance we've gotta take
'Cause I believe that we can make
This into something that'll last
Last forever, forever
Sebelum Drian menyanyikan lagi bagian reff dari Crush – David Archuleta, cepat-cepat aku menyuruhnya berhenti. Aku tidak mau meledak karena malu. Drian tertawa puas ketika aku memalingkan wajah darinya.
“Tidak usah malu, kita kan sudah bertunangan,” katanya kalem. Dia kembali duduk di kusen jendela, menungguku untuk berani melihat ke arahnya lagi. Aku tidak mau menatap matanya. “Tapi aku tidak bisa menemanimu tidur. Kita belum menikah, kan?”
Kulemparkan bantal padanya. Drian tertawa lebih puas. Aku senang bisa melihatnya tertawa lagi—karena itulah aku tidak bisa untuk tidak tersenyum padanya. Dia mengucapkan selamat malam dan selamat tidur sebelum meloncat pulang ke rumahnya yang berada tepat di samping rumahku.
To Drian
Besok, bersikaplah seperti biasa, atau aku tidak akan bicara denganmu lagi seumur hidupku.
Kukirimkan pesan itu padanya sebelum aku terlelap.
Minggu, 10 Mei 2015
11:46 malam












