pertemanan (?) pacaran (?)
“Udah selesai ngabisin egonya, De? Jadi kapan berani nikah? Masih muter-muter aja?”
Gue ketawa pas denger pertanyaan ini pas baru pulang dari Jogja. Banyak orang nyuruh gue nikah sementara sampe sekarang gue masih kelihatan sibuk sama diri gue sendiri. Yang katanya “mau buang ego tapi nggak selesai-selesai”, yang katanya “belum berani berkomitmen dan sampe kapanpun nggak akan berani berkomitmen ”. Tulisan ini bukan buat nyari pembenaran ato ngeyel “prestasi gue udah bagus tapi kalo nggak nikah dianggep nggak punya apa-apa”, sebab buat gue, yang menilai prestasi manusia itu cuma Allah. Bukan manusia. Jadi gue nggak pernah ngerasa perlu mendengarkan sugesti negatif yang kebetulan mampir di sekitar gue.
Di inbox, banyak yang nanya perspektif gue tentang pertemanan, cinta, jodoh, dll, dsb. Moga tulisan ini cukup bisa mewakili.
Gue baru mengenal pertemanan pas kuliah. SD sampe SMA nggak punya temen. Makanya gue nggak nyaman kalo dapet pujian atau perhatian berlebih karena gue biasa jalanin hidup sendiri tanpa banyak sorotan. Pas kuliah, ada kejadian yang akhirnya bisa memecahkan gunung es dalam hati gue. Akhirnya gue mutusin untuk berusaha melembutkan hati. Memperlakukan orang di sekitar gue dengan baik, tulus dan tanpa syarat.
Gue udah terlalu sering ngelihat banyak orang yang mikir bahwa kebaikan itu harus bersyarat makanya mereka “nggak menjadi diri sendiri” hanya karena pengen dihargai orang lain. Ada orang yang jadi benci sama fisiknya, pura-pura kaya, mengarang banyak bualan hanya untuk dihargai orang. Padahal bukan begitu caranya. Gue berharap dengan ngasih kebaikan yang tanpa syarat, orang-orang di sekitar gue nyadar bahwa manusia berhak dihargai karena mereka manusia bukan karena mereka cakep, kaya, atau pintar.
Pernah nggak sih, ketulusan gue dibalas dengan hal yang nggak baik sama orang?
Pernah. Dan gue sampe sekarang belum sanggup duduk lama-lama deket orang tersebut. Menyembuhkan diri itu butuh waktu. Gue berusaha memperlakukan orang tersebut dengan baik tapi gue menghindari hubungan profesional sama dia agar hubungan kami nggak tambah memburuk. Mencintai itu wajib, sama wajibnya dengan mencegah agar diri kita tidak didzalimi orang.
Tiap kali gue survey tentang akhlak baik, kebanyakan orang di sekitar gue ngasih jawaban bahwa akhlak baik itu:
“Ikhlas”, “Pemaaf”, “Sabar”, “Qona’ah”
dan pas gue denger penjelasannya, semua itu berasa terlalu Plegmatis sampe gue itu ngebayangin bahwa orang yang berakhlak baik itu selalu lemah lembut yang kalo diinjek-injek orang itu diem aja. Padahal nggak gitu. Mencintai itu wujudnya banyak. Kadang cinta itu berwujud kelembutan. Tapi ada kalanya cinta itu berwujud keberanian untuk meluruskan ketika orang yang ada di hadapan kita tidak berjalan di tempat yang benar. Gue sendiri sampai sekarang masih belajar kapan gue harus lembut dan kapan gue harus tegas.
Cinta itu adalah tanggung jawab yang butuh kecerdasan. Kalo kata pak Habibie:
“Kecerdasan tanpa cinta itu berbahaya, Cinta tanpa kecerdasan itu tidak cukup”.
Sejalan dengan yang dikatakan oleh ustadz anis matta:
Mencintai -dengan begitu- adalah pekerjaan yang membutuhkan kemampuan kepribadian. Maka para pencinta sejati selalu mengembangkan kepribadian mereka secara terus menerus. Sebab hanya dengan begitu mereka dapat mengembangkan kemampuan mereka mencintai. Cinta dan kepribadian adalah dua kata yang tumbuh bersama dan sejajar. Makin kuat kepribadian kita makin mampu kita mencintai dengan kuat. Mengendalikan perasaan saja dalam mencintai hanya akan melahirkan para pembual yang menguasai hanya satu keterampilan menebar janji.
gue milih buat nggak pacaran karena gue nggak mau mengikat diri pada komitmen di luar pernikahan. Mungkin ada temen-temen yang nggak mau pacaran untuk menghindari potensi zina. Tapi andaipun gue bisa pacaran tanpa zina, gue tetep milih nggak pacaran. Kata temen-temen gue, gue itu orang berjiwa bebas yang takut komitmen dan egois karena nggak mau memperjuangkan hubungan. Perspektif orang beda-beda ya. Buat gue, komitmen untuk menjalin hubungan itu bukan main-main. Jadi kita nggak bisa gitu aja “icip-icip terus kalo nggak cocok buang aja”. Gue menghargai manusia, makanya gue ga berharap terjebak sama hubungan yang demikian.
“Lo bilang kayak gitu tapi lo sering PHP”
“Susah hidup zaman sekarang, kalo lo baik dan ramah ke orang, lo bakal dikira flirting ato PHP”
Gue nggak pengen pacaran karena fokus gue hari ini adalah bagaimana menumbuhkan rasa cinta kepada ummat. Moga tulisan ini nggak termasuk Riya’. Buat gue, modal pernikahan itu bukan sekedar membuang ego tapi bagaimana kita bisa mencintai ummat secara utuh. Maka ketika Allah ngasih gue waktu tunggu, hal yang pengen gue lakuin adalah menenggelamkan diri dalam mencintai ummat. Karena mencintai ummat itu nggak mudah. Ada kalanya, kita ketemu orang yang ngeselin, yang kita baik-baikin malah marah, yang benci banget sama dakwah, yang nggak mau sholat, yang judgemental dan banyak lagi.
Kalo gue pacaran dan fokus gue cuma ke pacar gue doang, kapan gue belajar melayani ummat?
Pernikahan itu titik kritis. Kalau kita ketemu pasangan yang mencintai ummat, kita mungkin kebawa cinta sama ummat. Tapi kalo kondisi keimanan dua-duanya sama-sama turun, kita hanya akan fokus ke diri sendiri, keluarga sendiri dan lupa sama ummat. Gue nggak berharap pernikahan gue kayak gitu.
Kalo nggak pacaran, kapan dapet jodoh?
Gue percaya sama takdir. Kalo ditanya temen, gue suka iseng jawab “Tenang, gue sering naik kereta kok. Kali aja jodoh gue di stasiun” ~XD
Kenapa istilah pacaran tidak dikenal dalam Islam?
Karena para sahabat dulu sibuk melayani ummat dan ketika mereka memutuskan berkomitmen pada suatu hubungan, mereka akan langsung menikah. Untuk mengenal, jalannya bukan cuma lewat pacaran. Mungkin gue kelak bakal dipertemukan dengan jodoh karena banyak bermuamalah, atau kejadian-kejadian random lainnya yang gue nggak ngerasa perlu sibuk nebak. Cukuplah Allah sebaik-baik pembuat skenario.
“De, biasanya kalo ada orang umur 27 ke atas belom nikah itu kalo bukan karena kepribadiannya bermasalah yaa berarti dia punya masa lalu yang nggak baik. Kamu nggak takut dapet suami yang kayak gitu?”
Wajarnya manusia punya rasa insecure masing-masing. Gue sendiri pun kadang insecure kalo nikah udah ga bisa bebas backpacking kemana-mana lagi, atau dapet suami yang unexpected. Tapi semua gue tutup dengan kesadaran bahwa Allah maha memberi kebaikan. Apapun yang terjadi pada hari ini dan masa depan, gue berharap kebaikan dari Allah yang selalu menjaga gue. Dan doa gue sehari-hari adalah andai jodoh gue datang kelak, Allah tetap menjaga hati kami agar bisa ngasih yang terbaik buat ummat.
“Jadi kapan selesai buang ego De?“
“Sampai nikah dan punya cucu pun, manusia masih butuh ngebuang ego“