She's got the eyes of innocence and intelligence; the face of an angel. A personality of a dreamer and a smile that hides more pain than you can ever imagine.
Bahkan ketika kukatakan aku mencintainya, dia bilang, 'Bodoh!'
Aku tak pernah merasa rugi dengan kebodohanku tapi ketika mencintainya dia anggap sesuatu yang bodoh, aku marah. Mencintainya adalah hal tersulit yang pernah kulakukan, namun tidak mencintainya adalah hal yang tidak pernah ingin kulakukan.
Seluruh calon Pacifier dan Patron yang menempuh pendidikan akhir di Akademi Perdamaian akan melalui Conservancy Game-sebuah tes akhir untuk akhirnya dipilih yang terbaik dari tes tersebut sebagai Pacifier dan Patron. Conservancy Game bertujuan mencari siapa yang paling tangguh dan mampu mengemban tugas sebagai Pacifier dan Patron sebagai penyeimbang dan pemelihara keseimbangan planet Bumi dan Supraterra. Tugas-tugas berbahaya yang mempertaruhkan nyawa dan segala yang dimiliki oleh para Savior--sebutan untuk para peserta akan diberikan. Siapa yang bertahan sampai akhir, dia akan dilantik sebagai Pacifier dan Patron dan mendapatkan pelatihan oleh Aldrin Clavius langsung--Kepala Akademi Perdamaian. Sebuah pelatihan penting untuk mengendalikan Pilar Opalesen, tujuh pilar yang berfungsi sebagai 'kuasa kendali' untuk mengatur keseimbangan planet Bumi dan Supraterra.
Conservancy Game adalah sebuah kompetisi untuk penyelamatan kehidupan di Bumi meliputi keseimbangan alam, fauna dan floranya. Semua pesertanya harus melaksanakan sebuah misi pemeliharaan lingkungan (alam dan makhluk hidup) penyelamatan lingkungan (alam dan makhluk hidup).
Conservancy Game diikuti oleh Sepuluh calon Pacifier dan Patron yang melaksanakan tugas secara berpasangan. Kompetisi ini terdiri dari tiga babak, yaitu:
Babak Pertama: Tugas Pertahanan. Tugas ini membuat para pesertanya harus berhadapan dengan siklus alami bumi seperti gempa bumi, gunung meletus, badai tornado dan fenomena alam lainnya. Ini bertujuan mengetahui sejauh mana para Savior mengenal cuaca dan keadaan Bumi.
Babak Kedua: Tugas Pemeliharaan yang meliputi pemeliharaan di Daratan, Laut dan Udara. Para peserta akan dibagi di wilayah mereka masing-masing. Di Laut atau di Daratan dan di Udara. Tugas ini meliputi Pengawasan dan Pencegahan ketidakseimbangan alam di laut, daratan dan udara. Para peserta akan menghabiskan beberapa hari di dasar laut, belantara hutan dan mengambang di lapisan atmosfer. Tugas ini mempertaruhkan nyawa dan sangat berbahaya. Apa yang mereka hadapi bukan lagi simulasi. Bertujuan untuk mengetahui kemampuan memelihara lingkungan dan kehidupan di Bumi.
Babak Ketiga: Tugas Penyelamatan yang melibatkan serangkaian pertarungan dan pertaruhan nyawa untuk menyelamatkan lingkungan dan kehidupan makhluk di dalamnya dari ancaman bahaya. Penyelamatan lingkungan, satwa dan fauna. (Kecuali manusia, karena manusia dianggap perusak segala hal yang ada di Bumi).
Unsur api dan es mengalir di aliran darah Shimmer sebagai kekuatan utamanya. Pacifier memang dibekali dengan kekuatan elemen seperti api, air, tanah atau udara. Sementara Shimmer memiliki Ignis Crustallum yaitu dua kekuatan besar Api dan Es yang umumnya bertentangan kini menjadi satu dalam tubuh Shimmer. Shimmer mampu mengeluarkan badai api dan es secara bersamaan. Dia bisa membuat kekuatannya itu menakutkan atau menyelamatkan bagi orang lain di sekitarnya. Dengan kekuatan elemen yang dimilikinya, itu merupakan kunci untuk menggunakan Pillar of Opal atau Pilar Opal untuk mengendalikan kehidupan alam di planet Bumi.
Shimmer juga memiliki kekuatan lain yang sangat dahsyat, yaitu Supernova. Pada satu titik klimaks kekuatan Shimmer dia bisa meledak seperti bintang dan melepaskan gelombang elektromagnetik yang sangat mematikan. Saking dahsyat kekuatan yang dia miliki, kekuatan Supernova yang mampu melakukan Hora Mora atau fenomena waktu berhenti.
Sebagai seorang pelukis kekuatan yang dominan yang dimiliki Kev adalah warna dan lukisannya. Dia memiliki kekuatan Jari Perak atau Silver Claws yang memungkinkan Kevlar untuk membuat gambar dan lukisannya hidup bergerak memiliki nyawa dan bisa dijadikan senjata ketika melawan musuhnya. kekuatan Silver Claws itu berkembang menjadi kekuatan lain yaitu Chromotus atau kekuatan untuk memecah cahaya putih menjadi beraneka spektrum warna dan dari cahaya warna itu Kev bisa menciptakan gambar apapun yang dia mau.
Ketika Kev menggunakan Silver Claws, dia bisa memakai media apa saja seperti pensil, pen, cat air, bahkan menggambar di permukaan tanah atau batu atau pasir. Namun kelebihan Chromotus adalah memungkinkan Kev untuk menggambar hanya dengan udara kosong selama ada cahaya karena dari cahaya Kev akan memfraksi cahaya putih menjadi warna-warna sesuai dengan keinginan Kev dan membentuknya di udara.
Bagaimana perasaanmu jika di hari ulangtahunmu, kamu dihadiahi kutukan?
Kutukan itu dimulai di ulangtahunku yang ke-lima yang hanya dihadiri aku dan kedua orangtuaku. Di antara Mama, Papa dan aku tidak ada yang mengira pesta kecil kami akan menjadi trauma mendalam. Malam itu aku selesai didandani dengan gaun pesta anak-anak berwarna kuning lemon. Aku duduk di sofa yang seolah menelan tubuh mungilku sementara Mama tersenyum lebar membawa kejutan. Kue ulangtahun dengan lima lilin kecil menyala. Papa memakai topi pesta ulangtahun bertepuk tangan sambil menyanyi. Kami tidak lelah tersenyum bahagia. Setumpuk kado menungguku untuk dibuka tapi aku harus menunggu sampai aku meniup lilin.
“Selamat ulang tahun, Sayang... semoga kamu menjadi gadis hebat di masa depan!” bergantian atau lebih tepatnya Mama dan Papa berebut menyerbuku dengan ciuman sayang. “Tiup lilinnya... tiup lilinya... tiup lilinnya... serta mulia...”
Lagu terus didendangkan sukacita. Kudorong tubuhku yang dihisab sofa ke depan mendekati lilin-lilin. Aku ingat betapa silaunya cahaya mereka. Juga liukan gemulainya ketika napasku menerpanya. Waktu itu aku begitu terpana hingga rasanya hanya ada aku dan nyala terang api lilin. Rasanya tubuhku tersedot ke dalam api kecil itu. Hanya ada aku dan api itu, hanya ada kami. Hanya ada kami.
Serta mulia. Dua kata terakhir yang ditangkap pendengaranku karena begitu tiupan kecilku menerpa kelima nyala api, telingaku ditulikan raungan ledakan. Mataku dibutakan oleh sinar menyilaukan yang melesat seperti anak panah, tepat menancap di sepasang mata. Tubuhku seperti dihempas amukan ombak dan ruang keluarga berputar dalam pusaran angin ribut.
Kurasakan tubuhku melayang seperti kilat dan menghantam dinding tak kalah cepatnya. Gemuruh guntur menggetarkan lantai rumah dan langit-langit. Jerit menyayat melengking dari suara Mama memanggil namaku seolah salah satu di antara kami akan mati malam itu.
“Jangan sentuh dia!” gantian Papa yang menjerit panik. Seruan itu ditujukan untuk Mama. Belum pernah kudengar Papa begitu putus asa dan ketakutan di waktu bersamaan. “Marina, jangan sentuh anakmu!”
Kegelapan ini membingungkanku dan mulai membuatku takut. “Mama... Papa...” tanganku merayapi dinding, merasakan robekan kertas pelapis dinding tercabik-cabik. Sesuatu membasahi pipiku dan membuat mataku lengket. Seolah mukaku diolesi lem kayu dan aku tidak bisa membuka kelopak mata. Aku ingat persis kental dan bau anyirnya dan rasa asinnya ketika masuk ke mulutku. Perabaanku menajam seolah hanya dengan kulit aku bisa tahu gejolak api di tengah-tengah ruangan. Tapi bukan hanya itu, kurasakan setiap pori-poriku meregang melepaskan sesuatu yang menggelitik. Dari sekujur tubuhku kurasakan belaian-belaian lembut seperti ketika kulitku bersinggungan dengan Mama ketika mandi bersama. Jika Mama ada di dekatku, harusnya suaranya tidak terdengar jauh.
“Erick! Dia terbakar!” raung Mama dan kemudian semuanya menghilang.
Kau pikir aku mati? Oh, sungguh aku ingin berharap begitu. Tapi kutukan ini membuatku terus hidup. Separuh hidup, sisanya... entahlah.
Desember 2014
Aku duduk di kursi tinggi menghadap meja dapur yang penuh dengan aroma rum. Sambil menulis jurnalku, mendengarkan desis mentega yang bercampur dengan adonan panekuk dan senandung Fur Elise dari suara lembut Mama. Aku berbicara padanya tentang keanekaragaman hayati Laut Mediterania, tema jurnal ilmiah yang ditugaskan oleh Papa. Beruntung aku punya sumber terpercaya yaitu Mama sendiri. Sambil membalik panekuk, beliau mengoceh separuh curhat tentang penyelaman pertamanya ke sana. Aku takkan bisa melupakan bagaimana cara Mama bercerita tentang lumba-lumba dan terumbu karang langka. Seakan-akan Mama berbicara tentang sosok pangeran tampan pujaan hatinya.
Terdengar pintu terbuka dari ruang depan, langkah terburu-buru disusul pintu terbanting menutup. Papa muncul di dapur bermantel musim dingin, serpihan salju tampak seperti ketombe di pundaknya. “Hai, Marshmallow,” sapanya sambil menggantung mantel. “Lancar?” dagunya menunjuk buku jurnalku.
Mama memang memenuhi syarat untuk digelari Putri Raja Lautan Neptunus. Parasnya memenuhi syarat wajah terindah dengan setiap atribut wajahnya yang geometris. Rambut cokelat keemasan bergelombang seperti ombak dan sepasang mata safir biru. Menatap binar di mata itu mengingatkanku pada ilustrasi lautan Pasifik di Ensiklopedia Lautan. Sapuan make up akan sia-sia saja karena tanpanya, pesona Mama sudah benderang. Jika saja sepasang tungkainya berubah menjadi ekor bersisik mutiara, aku yakin dia bisa menyelam tanpa tabung oksigen.
Papa tergelak dan menghampiri Mama. Sebuah ciuman kejutan mendarat di pipi Mama berhasil membuatnya berjengit. “Aw! Dingin, Erick! Sana-sana, hangatkan tubuhmu! Sheesh!” usir Mama.
“Bagaimana kalau kau saja yang...”
Aku bergerak kikuk di kursiku kemudian membuang muka. “Bisa lebih sopan nggak sih, Ma, Pa? Kalian pasti lupa aku masih di sini,”
Keduanya tergelak dan saling melepaskan diri tentunya setelah berciuman mesra. Mama meraih piring dan menyajikan bertumpuk-tumpuk panekuk di meja. Aroma rum menyerbu hidungku dan membuatku meneguk ludah. Papa tiba-tiba sudah mencomot panekuk yang hendak kuambil.
“Papaaaa...” rengekku.
“Buka mulutmu,” ujarnya dan kuturuti. Disuapkannya potongan panekuk itu ke mulutku. Sudah terbayang manis, gurih dan lengket saus mapel meledak-ledak di mulut ketika suapan itu putar balik dan masuk ke mulut Papa sendiri.
“Papaaaa...” aku menekuk muka, kesal bukan main sudah kena jebakannya sepagi ini.
Dengan mulut penuh dia berkata, “Kamu masih seperti bocah lima tahun. Mudah digoda,” dia tergelak lalu meneguk air di gelasnya karena hampir tersedak. Seumur hidupku digodainya hingga aku tidak bisa bedakan mana yang tipuan mana yang sungguhan. Selalu saja Papa berhasil mengerjaiku.
“Bagaimana keadaan Golden, Sayang? Tuan Perkins sudah membuat keputusan?” Mama ikut bergabung di meja makan. Dia taruhnya setoples marshmallow yang segera kusambar sebelum terlebih dahulu direbut Papa.
“Golden sudah terlalu tua tapi Tuan Perkins juga terlalu mencintai golden retriever itu. Dia akhirnya hanya meminta Golden untuk dirawat satu hari lagi sebelum dibawa liburan ke Florida,”
“Itu beresiko sekali, membawa piaraan sakit. Kamu sudah jelaskan padanya?”
“Dia mantan pelatih anjing kepolisian, Marina. Dia memiliki separuh ilmuku. Golden hanya sudah tua, bukan penyakitan,”
Bangunan klinik Papa tepat di seberang rumah kami, dipisahkan oleh Jalan Olivens. Papa dan Mama mendirikan klinik dokter hewan pertama di kompleks perumahan ini. Rata-rata semua keluarga yang tinggal di jalan Olivens memiliki piaraan, dan hadirnya klinik itu membuat semua orang ikut senang. Mereka tidak perlu lagi pergi jauh ke pusat kota mencari dokter hewan. Terlebih jika ditemukan rusa liar yang terluka karena jebakan pemburu, Papa yang pertama dipanggil sebelum pemadam kebakaran. Kompleks perumahan yang terletak di kaki gunung Hood ini masih terbilang jarang penduduk. Suasana sehari-hari cenderung lengang layaknya di area pegunungan. Hanya gongong anjing dan kicau burung-burung gereja dan kenari hutan yang terdengar sepanjang siang dan uhu-uhu burung hantu di malam hari. Kadang traktor Tuan Perkins menandak-nandak di jalan sehabis pulang dari ladang anggurnya.
“Klinik berjalan lancar, Pa?” tanyaku.
“Seperti biasa, Sayang. Banyak yang cek kesehatan sebelum dibawa liburan,” Papa mendesah. “Tapi klinik tutup hari ini,”
“Kenapa?” tanyaku berbarengan dengan Mama.
Papa bergantian menatapku lalu menatap Mama lebih lama. Entah bagaimana tatapan itu seolah sudah bisa memahamkan Mama tanpa perlu ditambah kata-kata.
“Dokter Moses dan Dokter Eleanor akan datang berkunjung,”
Keterangan Papa membuatku tertegun. Kira-kira sepuluh tahun lalu pertemuan terakhirku dengan kedua dokter itu. Aku mencari keseriusan di mata Papa dan ternyata memang dia tidak sedang bergurau. “Untuk apa, Pa? Bukannya dulu...”
“Mereka hanya main ke sini sebagai teman lama,” ujarnya dengan mulut penuh panekuk. “Kamu kira Papa mau mengizinkan mereka mampir untuk urusan yang lain?”
“Haruskah aku membatalkan pertemuan dengan Mr Radar Glacesdawn hari ini?” tanya Mama.
Papa mau mengiyakan tapi segera aku menukas, “Jangan, aku tidak mau terlewat pelajaran filsafatnya,”
“Oke, kalau itu maumu. Tapi mungkin kita undur jamnya saja,”
Bagaimana aku bisa melupakan begitu saja berapa banyak serangakain uji dan tes laboratorium yang kujalani bersama dokter Moses dan dokter Eleanor? Ritual tempel kabel, selang, infus, tusuk jarum dan pemindaian itu membuat ruangan membosankan rumah sakit sudah jadi rumah keduaku. Atau tepatnya kurungan.
Memang semua suster dan dokter di sana baik dan ramah tapi tidak ada yang semenyenangkan dokter Moses. Anak kecil mana yang tidak kepincut melihat dia mengemut lolipop sambil menaiki otopet di koridor rumah sakit? Di kantong jubah putih dokternya tidak ada stetoskop melainkan aneka permen, cokelat batangan dan yang paling aku suka adalah lolipopnya.
“Aha, tidak... Lolipop tidak cocok untukmu,” tangannya bergerak gesit seperti pesulap. “Untuk kamu... Marshmallow!” senyumnya selalu ditampilkan dengan jenaka.
Sejak saat itu makanan manis lembut yang lumer di mulut itu menjadi camilan favoritku. Dokter Moses berhasil menanamkan padaku bahwa marshmallow terbuat dari awan-awan surga aneka rasa meskipun sekarang aku tahu itu hanyalah caranya supaya aku menurut padanya setiap kali aku harus terpasang pada alatnya yang seperti gurita bertentakel.
Di tahun ketigaku ditangani dokter Moses, barulah diagnosa itu benar-benar valid.
“Tidak ada luka bakar, eh?” ragu dokter Eleanor berkata. Dia dokter lain yang tidak begitu kukenal, tapi dia memakai jubah putih dan bertampang orang penting. “Keterangan kalian tiga tahun lalu, menyatakan dia terbakar dalam api. Bagaimana api itu padam? Anda menyemprotkan extingusher?”
Papa tampak tidak siap diberondong pertanyaan itu dan hanya menggosok-gosok tangannya di atas lutut, kebiasaannya ketika dia gelisah. “Api itu padam sendiri...”
“Tanpa meninggalkan bekas sama sekali?” pertanyaan itu terdengar mempertanyakan keseriusan jawaban Papa.
“Dokter Eleanor, saya tahu itu pasti aneh di telinga Anda,” sergah dokter Moses. “Tapi fokus kita adalah pada syaraf anak ini. Mengapa dia tidak menangis dalam kebakaran itu dan mengapa tes-tes neurosis dia jalani. Dan yang terpenting...bagaimana selnya beregenerasi amat cepat,” dia menyerahkan satu map biru pada dokter Maria yang segera diteliti. Kerut demi kerut muncul di keningnya kemudian perlahan darah meninggalkan wajahnya. Perempuan berkacamata itu menoleh padaku dengan tatapan seperti baru melihat hantu.
Sekantong marshmallow dari dokter Moses berhasil membuatku tidak peduli pada apapun kecuali menghabiskan manisan itu.
“Aku akan mengontak tim dokterku di New York. Kita membutuhkan penelitian...”
“Penelitian?!” tukas Papa dalam bentakan. “Maksudmu, kau mau menjadikannya kelinci percobaan?”
“Bukan itu maksudku, Tuan Frost. Begini, kasus ini sangat...”
“Langka,” sahut Mama. “Sungguh kami tidak perlu diberitahu itu! Tidak!” kini giliran Mama yang naik pitam. “Aku juga dokter, Dokter Eleanor. Aku tahu apa arti sebenarnya dari perkataanmu. Moses, kalian tidak bisa melakukan ini pada putriku,”
Pada waktu itu aku cukup bisa memahami bahwa aku sedang diperebutkan. Tapi apa sebabnya aku tidak begitu paham.
“Kami hanya ingin membantu,” ujar dokter Eleanor.
“Lupakan keinginan itu,” tukas Papa. “Marina, bawa Shimmer. Kita pergi,”
Kupikir hidupku akan lebih menyenangkan setelah meninggalkan kamar rumah sakit itu. Ternyata aku salah sangka. Papa dan Mama merencanakan hal besar pada hidupku. Sebuah rencana alienisasi yang tergarap rapi. Dari apartmenen kami di pusat kota dulu, mereka mencari rumah di daerah pegunungan. Bermukimlah kami di Jalan Olivens ini, daerah paling pinggir dari Portland yang tersembunyi di balik rapatnya pepohonan pinus.
“Bukankah ini seperti di dongeng, Shimmer? Rumah di dekat hutan dan kita bisa sering ke air terjun menyaksikan burung-burung?” ujar Papa.
“Kamu seperti punya taman bermain pribadi,” imbuh Mama.
“Apa ada anak kecil lain di sini? Mereka pasti sebahagia aku sekarang!”
Waktu itu umurku baru delapan dan terlalu kecil untuk mencurigai kedua orangtuaku. Setiap hari aku menunggu di dekat jendela, menanti siapa saja yang bisa kuajak bermain Twister. Tak lebih dari seminggu aku menyerah dan terpaksa mencari hobi lain yang tidak membutuhkan teman. Aku mulai dengan jalan-jalan di hutan sendiri berbekal sekotak makan siang dan sebotol air. Tapi di pendakian keduaku, aku terpeleset dan jatuh berguling-guling dari bukit yang memberiku dua jahitan di betis. Mama membakar semua perlengkapan kemahku setelah itu.
Usahaku belum berhenti, aku mencoba berenang di danau dekat pepohonan cemara. Namun bencana lain datang. Aku hampir tenggelam di danau beku. Kejadiannya terjadi begitu cepat. Air danau yang bergetar lembut tidak tampak berbahaya bahkan untuk rusa mampir minum. Berbekal baju renang aku menceburkan diri dan mulai menendang air dan mengepakkan tangan seperti kupu-kupu. Mama jago berenang dan tentu saja dia sudah mengajariku berenang sejak lahir. Tapi belum sampai aku ke tengah kurasakan gelitik aneh di sekujur kulitku hingga aku berjengit. Aku berpikir kemungkinan binatang air atau ular, tapi ini terasa lain. Aku mengingat rasa yang sama pernah kualami tapi tidak tahu pastinya. Gelitik itu lagi-lagi datang dan kali ini justru terasa menggosok tubuhku kasar. Aku memukul-mukul air, mengusir makhluk apapun yang mencoba mengangguku.
Tubuhku mendadak terasa berat seolah ada yang menarikku ke dasar danau. Aku meronta dan berteriak tapi hanya pepohonan yang menjawabku dengan lambaian dahan. Tak kuasa melawan tarikan tak kasat mata itu, aku berhasil dibawanya. Aku ingat rupa permukaan air di atasku ketika aku mulai tenggelam. Tidak ada gelombang atau riak air di sana. Aneh, permukaan air itu diam. Dari segala penjuru kudengar gemeretak memilukan dan barulah aku menyadari ada yang salah dengan danau ini. Aku menolak tubuh ke atas. Berhasil lepas dari daya tarik di dasar danau. Aku mulai kehabisan napas dan air mulai memenuhi paru-paruku. Tepat saat kupikir aku muncul keluar dari air, saat itulah tanganku membentuk sesuatu seperti dinding. Dinding kaca bening di atas kepalaku ini darimana datangnya! Aku memukul-mukulnya dengan putus asa dan merasakan licinnya dinding itu. Itu bukan sembarang dinding, itu dinding es.
Tak tersisa lagi tenaga di tubuhku dan paru-paruku sudah penuh air. Pada saat itulah kegelapan membungkusku dan mengasingkanku dari segalanya. Aku ingat kapan terakhir kalinya kematian menunjukkan perlawanan padaku. Dan aku cukup terkesan begitu aku terbangun di ranjang kamarku.
“Syukurlah dia selamat!” ujar lelaki tambun di sampingku. “Kau membuatku hampir kena stroke, gadis kecil,” ujarnya sambil tersenyum.
“Tuan Perkins, terimakasih banyak,” ujar Papa yang memegangiku erat seolah-olah kapan saja ranjangku berubah jadi pasir hisap.
Keesokannya rumah kami dikunci rapat dan korden ditutup. Papa menutup kliniknya dan menyuruhku masuk ke ruang bawah tanah bersama Mama. Sayup-sayup aku masih menyimpan kenangan itu. Ketika Papa diserbu wartawan yang menanyakan kabarku dan diusir Papa tanpa jawaban. Seminggu kemudian berita lokal mengabarkan danau membeku di musim panas. Selama satu minggu, danau tempatku nyaris meregang nyawa menjadi objek wisata dadakan. Itulah peristiwa yang menandai hari terakhir aku menginjakkan kaki di luar rumah.
Aku bertanya-tanya mengapa setiap kali anak perempuan masuk ke toilet mereka bersungut-sungut sementara yang keluar berjengit terkejut sekeluarnya dari pintu toilet. Entah ada badut acara jahil-jahilan seperti di televisi atau apa, aku tidak tahu sampai kutemukan Kev berdiri dengan punggung tersandar di dinding.
“Nanti kamu dicap pengintip, lho,” ujarku seraya kami berjalan meninggalkan lorong toilet perempuan.
“Kenapa susah-susah mengintip? Banyak yang sengaja melepas kancing atas kemejanya, memakai kaos ketat biar bra-nya tampak timbul di punggung dan da...”
Kutendang betis Kev hingga ia sempoyongan, kurasa aku mengenai tulang keringnya. Sekalipun dia cowok baik, cowok tetap saja cowok.
“Ah apa itu? Rasanya kayak digelitik,” dia menghina tendanganku.
“Kalau ada murid yang lapor bagaimana?” sahutku.
“Itu artinya kita harus mengatakan yang sebenarnya...”
“APA?!”
“...bahwa sebenarnya kaket buyut kita sudah memantrai kita sehingga tidak seorangpun bisa memisahkan kita...” ia tergelak sementara aku menggertakkan gigi gemas.
“Mau nambah tendangan lagi? Atau yang kanan juga ingin ditendang sampai putus?” ancamku.
“Mengajak bercanda orang yang terlalu serius menganggap candaan itu kadang membahayakan, ya?” ujarnya sambil menjulurkan ujung lidahnya dengan tampak bodoh.
“Kau ini... yang selalu menganggap segala hal hanya lelucon, tidak serius, khayalan saja...”
“Hahaha... kurasa kamu mulai menyesal telah mengenalku,”
Baru saja kupikir justru Kev yang merasa begitu. Seharian ini aku ditemaninya berkeliling sekolah yang ternyata luasnya luar biasa mengerikan, di tempat seluas ini, mungkin banyak tempat-tempat persembunyian murid yang bolos. Padahal satu per satu teman-teman klub seninya yang berpapasan dengan kami mengingatkan Kev tentang Pertemuan Noktah yang kedengarannya sangat penting.
“Kev, sebaiknya aku mencari kegiatanku sendiri,” kataku.
“Bagus. Kamu bisa bergabung ke Artemia-klub seni sekolah,”
“Dan mengacaukannya dalam satu kali pertemuan? Tidak. Bukankah seharusnya kamu sudah ada di sana sekarang?”
“Mereka bisa mulai tanpa aku,” ujarnya.
“Kev... jangan jadi Mama,”
“Kamu baru satu hari di sini dan ini HARI PERTAMA!”
“Jangan membuatku merasa ucapan Keanu dan Beth di kelas tadi benar,” Keanu dan Beth adalah nama teman sekelas Matematika yang mengolokku seperti anak TK tadi.
Kev mendesah. “Kusarankan bergabung ke klub membaca, Wallflower—iya itu bukan nama yang menarik. Atau gabung ke perkumpulan orang paling menyebalkan di sekolah... Prodigy—klub sains...”
“Jadi aku menyebalkan sekarang?” kutarik alisku naik.
“Kubilang begitu karena Cal juga di sana...”
“Cal?”
“Nomor Tiga Belas...”
“Oh...” perasaanku mengatakan respon ‘oh’ ku berlebihan.
Kev melirikku penuh selidik, “Harusnya tak kukatakan itu,”
“Baiklah. Antar aku ke Wallflower saja,”
Kev memberiku tatapan kurang yakin tapi akhirnya kami menuju ruangan Wallflower yang ternyata tepat di samping ruangan Artemia. Entah mengapa aku mendapat firasat jika Kev akan memata-mataiku di depan pintu berplang tulisan Wallflower berwarna hijau lumut.
“Tinggalkan aku dan kembalilah tepat jam dua siang ketika Wallflower selesai,” kututup pintu Wallflower tanpa mempedulikan mulut Kev yang separuh terbuka entah ingin mengatakan apa.
Wallflower beranggotakan sepuluh orang berkacamata setebal pantat botol selai. Kesepuluhnya memegang kaca pembesar seperti Sherlock Holmes dan menghadap ke buku mereka masing-masing yang tentunya berjudul sama.
Seorang gadis berkacamata bundar mengangkat lup besarnya ke depan wajahku. “Selamat datang anggota baru... EH MATAMU BERWARNA ZAMRUD! Tak pernah kulihat mata sehijau ini...”
Aku menangkis dengan selembut mungkin lupnya yang sangat mengganggu. “Terimakasih teman-teman...” aku berusaha ramah. “Apa yang akan kita baca hari ini?” ujarku berusaha membuat diriku sendiri nyaman dengan sepuluh kaca pembesar yang mengarah kepadaku.
“Mein Kampf... Apa kau mengenal Hitler?” tanya anak berkacamata lainnya, aku seketika lupa nama-nama mereka karena semuanya tampak mirip dengan kacamata mereka.
“Apa boleh kaca pembesar kalian diletakkan dulu? Itu sangat menganggu...” ujarku hati-hati.
“Dia menghina pusaka kita!”
“Kau tidak sungguh-sungguh ingin bergabung di Wallflower!” pekik anak berkaca mata yang kesekian. Entah itu memang kaca pembesar mereka punya kekuatan gaib atau hanya tebakan yang beruntung.
Mereka bersepuluh dan aku sendiri. Mereka membawa pusaka mereka dan aku tidak akan pernah mungkin membiarkan orang lain tahu aku pun punya semacam pusaka. Aku dikepung dari berbagai arah oleh sepuluh orang berkacamata yang bergerak mendekat seperti zombie. Tak pikir ulang, aku menerobos mereka dan berhambur ke pintu dan bersumpah ini kunjungan pertama dan terakhirku ke tempat itu.
Pintu Artemia yang penuh dengan corat-coret aneka warna spidol dan cat warna tertutup rapat. Ini kesempatan bagus untuk merasakan kebebasan pertamaku. Kev pasti akan murka jika ia tidak menemukan aku di Wallflower tapi ia tidak akan tahu kalau aku sudah kembali sebelum jam dua. Tanpa membuang waktu lebih banyak lagi, aku segera menyelinap ke lorong-lorong lain.
Bagian gedung kegiatan siswa terpisah dari gedung kelas dan dihubungkan oleh selasar panjang. Seluruh unit kegiatan siswa berada di satu gedung berlantai tiga. Denah gedung ini di pasang di papan khusus berkaca di setiap tikungan tangga. Aku harus ke lantai tiga untuk sampai ke klub Prodigy.
Suasana lantai tiga sungguh amat berbeda. Begitu sol sepatuku bersinggungan dengan lantai keramiknya, aku dapat melihat pantulan diriku sangat jelas di sana. Tidak ada siapapun yang berlalu lalang di lorong sementara di lorong lantai satu dan dua ramainya melebihi parade pasar malam. Aroma yang kucium pertama kali adalah aroma mint yang segar. Ternyata sepetak pot persegi panjang ditanami tanaman mint yang tumbuh sumbur. Di depan pot itu ada pintu berplang dengan tulisan menonjol berwarna perak berkilau, Prodigy.
Kalau diperhatikan lorong ini adalah lorong paling tenang dan sunyi di gedung ini, mungkin belum ada aktivitas apa-apa dan tidak ada seorang pun yang akan memergokiku menyelinap ke balik pintu berplang perak itu. Selain itu, tempat ini sangat cocok untuk memainkan permainan Habis Gelap Siapa Itu. Permainan yang Mama anggap aneh dan berbahaya—yang dengan bangga kunyatakan akulah penciptanya—adalah semacam permainan petak umpet. Berbeda dengan petak umpet biasa, kalian membiarkan lawan kalian menemukan tempat persembunyian dulu sementara kalian memejamkan mata. Di sini, kalian tidak punya sasaran atau lawan untuk ditemukan, tapi siapapun bisa menjadi targetmu. Namun dalam permainan ini justru kalian mencari dengan keadaan mata tertutup rapat. Selama mencari kalian bisa menelusuri lorong-lorong, ruangan-ruangan dan menajamkan indera selain mata untuk menemukan seseorang. Dan setelah menemukannya kalian harus menebak kemungkinan siapa dia.
Aku sering kabur selama dirawat di rumah sakit untuk memainkan permainan ini. Dan sialnya aku selalu menemukan—atau ditemukan—para suster rumah sakit yang tahu dari seragam rumah sakit yang kupakai aku bukanlah pasien yang diizinkan berkeliaran tanpa pengawasan.
“Habis Gelap...” untuk memulai permainan kata kuncinya itu. Kulangkahkan kaki pelan mencoba merasakan permukaan lantai ubin. Kira-kira aku hanya berjarak tiga langkah dari pot mint dan itu artinya pintu Prodigy ada di depanku. Kuraba pintu itu dan... Eureka! Tidak terkunci!
Hembusan lembut beraroma lemon segar ini pasti berasal dari pendingin ruangan. Di dalam terasa lembab dan lebih sunyi daripada di lorong. Sedetik kemudian aku terantuk permukaan keras yang terasa seperti kayu, terdengar deting-deting kaca berbenturan. Aku pasti menabrak lemari pajangan. Aku sudah terbiasa dengan tabrakan-tabrakan kecil seperti itu.
Tanpa kutahu bahwa apa yang selanjutnya kuterjang adalah akhir dari permainan ini, aku melangkah cepat ke depan dan sesuatu yang terasa lembut seperti kain namun juga terasa seperti... seperti badan manusia.
“Siapa Itu?!” jengitku panik. Permainanku akan segera berakhir.
“Justru aku yang harus bertanya, siapa kamu dan apa yang kamu lakukan di sini?”
Aku menegak ludah pahit yang terbumbui rasa takut. Suara laki-laki, dingin, tegas dan menusuk. Tololnya aku masih menutup mata.
“Pakai mata dong,” imbuhnya tak kalah sengit.
Aku akan marah dan balik menyerangnya jika aku tidak memejamkan mata dengan tolol. Perlahan kuberanikan diri mengintip dari balik bulu mataku hingga cahaya menyilaukan menelisik masuk ke pupilku membuatku mengernyit. Sepasang mata cokelat muda...
Mataku terbuka sempurna dan entah apa lagi dari diriku yang merasa kaku melihat makhluk yang ada di depanku sekarang. Sungguh, logikanya itu hanya sinar matahari dari luar yang menembus kaca jendela yang jatuh di punggungnya. Tapi di mataku itu tampak seperti sepasang sayap bercahaya yang berpendar dengan tujuh warna.
“Bangku ke dua puluh. Nomor tiga belas. Cal... Calixto Valeska...” tanpa sadar aku mengatakannya.
“Sudah sering sekali gadis aneh melakukan hal aneh di depanku tapi tidak ada yang seaneh kau. Kau ini siapa?”
Kurasa gelegar tawa dan cemoohan yang ditujukan untukku di kelas tadi tidak begitu menarik untuknya. “A-aku...”
“Dan apa ini... kamu anak baru, ya? Kamu baru pindah dari Greenland?” ujarnya sementara mata cokelat terangnya naik-turun seperti sensor pemindai logam berbahaya.
“Aku... Aku Shim...”
“Lebih baik kamu segera pergi dari sini,” potongnya tanpa peduli wajah cemberutku. “Sebentar lagi anak-anak Prodigy akan tiba,”
“Itu bagus. Aku bisa sekalian bergabung dengan klub,” ujarku antusias.
Cal mengernyit seolah sulit mencerna maksudku lalu menyeringai sinis, “Kami tidak sedang membuka keanggotaan baru. Lagian, aku tidak melihat tampang pintar dari sudut manapun,” senyum setannya membuat senyum di wajahku lenyap. Aku mencoba mengingat-ingat mantra yang Kev ajarkan padaku saat Aster mengejek-ejekku dulu. Enyahkan... Enyahkan... Dia tak patut didengar... tapi entah mengapa ini tidak bekerja pada Cal.
“Haruskah kutunjukkan pintu keluarnya?” Cal memandangku tanpa keramahan, berlagak dengan menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
“Oke. Aku akan pergi ketika mereka tiba. Ini termasuk fasilitas sekolah yang siapapun boleh mempergunakannya selama dia siswa di sini, kan? Bukan sebuah pelanggaran jika aku ke sini hanya untuk melihat-lihat, kan?” kuperlugas suaraku dan kubuat sedatar mungkin meniru caranya bicara.
Itu tampaknya membuat Cal tidak suka karena wajahnya berubah ungu. “Kami tidak menerima tamu,” dia harus tahu bukan dia satu-satunya orang yang bisa berlagak.
Memasuki ruangan Prodigy semakin dalam, aku disambut sebuah kepala T-Rex dengan mulut menganga selebar danau dengan gigi-gigi tajam memagarinya. Lalu di sisi kiri dan kanan, terpajang awetan-awetan yang tersimpan di rak besi.
“Hans pasti mengamuk kalau ia melihat semua ini...” aku terlongo melihat koleksi awetan yang dipajang di kotak-kotak kaca. Mulai dari serangga, kupu-kupu dan burung dari berbagai macam spesies hingga seekor kuda laut seukuran ibu jari orang dewasa yang disimpan dalam setoples cairan formalin. Aku mendadak merinding.
Di sisi ruangan yang lain aku menemukan diorama tata surya. Langit-langitnya dicat hitam dengan bercak-bercak putih yang menggambarkan bintang-bintang yang milyaran tahun cahaya jauhnya. Replika matahari yang lengkap dengan penjelasan bagian-bagiannya tergantung di tengah dan sekelilingnya Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter...mengelilinginya. Semenit kemudian mereka menyala sesuai dengan warnanya dan berputar, berotasi dan berevolusi.
Di pinggir jendela, tertata berbagai jenis tanaman hijau. Semuanya dikelompokan sesuai dengan jenis dan spesiesnya persis seperti ensiklopedia tumbuh-tumbuhan. Dad pasti suka tempat ini. Belum cukup aku mengagumi isi laboratorium sains ini, aku berjengit dikejutkan lagi oleh kebun binatang mini. Mereka dikandangkan dengan sangat baik sesuai habitatnya. Sebuah akuarium besar berisi ikan-ikan warna-warni dan diorama Great Barrier Reef. Sebuah kandang penuh biji bunga matahari dihuni oleh tujuh ekor hamster menggemaskan berbulu putih, cokelat, hitam dan perpaduannya.
“Sudah selesai tur-nya,” ujarnya cepat.
“Kau sedang melakukan percobaan kimia?” aku sengaja tidak menggubris ucapannya dan berusaha lebih lama lagi tinggal. Entah mengapa aku merasa betah di tempat ini. Kuhampiri meja porcelain dimana tersebar tabung-tabung reaksi aneka ukuran berisi entah cairan apa. Kuulurkan tangan ingin tahuku pada salah satu tabung.
“Jangan sentuh!” namun tangkisan tangannyalah yang justru menyenggol tabung bening berisi cairan bening. “Sial,” umpatnya.
“Aku tidak menyentuh apapun...” kuangkat tangan tak bersalahku. Untung itu tampaknya hanya cairan air murni biasa.
“Pergilah. Ah... sungguh merepotkan saja,”
“Kau setuju aku boleh di sini sampai teman-temanmu datang...”
Cal berhenti mengelap meja dan menoleh. Mata cokelat mudanya harusnya hangat berubah sedemikian rupa menjadi bengis setajam belati. “Kapan aku pernah bilang setuju?”
Kini aku menelan ludah kecewa. Cal tampak benar-benar tidak menyukai kehadiranku. Seolah mendukung Cal, jam dinding bundar di atas lemari berkas mengingatkanku bahwa aku harus segera berpura-pura keluar dari Wallflower sebelum Kev tiba.
“Mm-maaf,”
“Pergi. Sekarang,”
“Aku...”
“Jangan berniat kembali ke sini,” anehnya dia seolah bisa membaca pikiranku.
“Aku tidak janji,” ujarku setengah menantang dan itu membuatnya menoleh lagi dengan tatapan tidak percaya ada gadis senekat aku. Matanya melebar semakin tidak percaya ketika aku tersenyum sebelum melangkah memunggunginya.
Baru sepuluh langkah aku meninggalkannya terdengar bunyi pecahan kaca yang beruntun. PRAAKK! PLAARRTT! BOOM! Bau terbakar menguar seiring semprotan springkle air dari langit-langit. Sepuluh langkah jarak itu kutempuh hanya dalam satu langkah cepat. Calixto terduduk setelah menjauh dan menyelamatkan diri dari mejanya yang baru saja meledak.
“Kau tidak apa-apa?”
Cal tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Ledakan di depan matanya tadi kemungkinan sekali cukup mengejutkan karena wajahnya sepucat mayat.
“Kau tahu dimana tabung extingusher-nya? Kau pasti punya, kan?”
Dia mengangguk. Berusaha bangkit dengan kaki gemetarnya dan terjatuh lagi. Kubiarkan dia bertopang padaku meskipun aku bisa melihat harga dirinya terluka dari caranya memandangku. Keringat dingin bercucuran di keningnya dan aku sulit percaya pada mataku sendiri. Cal tampak begitu ketakutan.
“Tempatnya agak jauh. Aku bisa sendiri,” Cal melepaskan pegangan dariku dan berjalan secepat yang ia bisa ke bagian lain dari ruangan.
Semprotan air tidak cukup membantu ternyata dan api di atas cairan spirtus di meja kian menyebar. Luberannya mulai bergerak seolah ia hidup. Api akan membakar lantai sebelum Cal sempat kembali dengan tabung pemadam.
“Gawat! Gawat!” kuremas tanganku, sedikit panik tapi selebihnya cemas dan bimbang apakah aku harus memutuskan untuk... “Dia lama sekali, sih! Apinya...”
Gemetaran kulepas sarung tangan kananku. Jantungku berpacu dengan linangan api di bibir meja. Bergemuruh seperti ombak api yang bisa menghanguskan seluruh ruangan. Sraaaaasssh! Semburan udara dingin berpadu dengan semprotan air dari langit-langit membentuk jutaan butiran salju halus dan hawa dingin yang perlahan menjinakkan serangan api.
Terlambat satu detik saja, cairan spirtus itu akan jatuh ke atas lantai porcelain dan bergabung dengan tumpahan spirtus lainnya dan aku tidak ingin dikeluarkan dari sekolah di hari pertamaku.
“Bagaimana... api itu padam?”
Aku berjengit. Suara Cal seolah seperti sengatan listrik bertegangan tinggi. Semoga dia tidak melihat yang kulakukan. Kumasukkan tanganku ke saku jaket.
“Rasanya tidak mungkin cuma semprotan air bisa memadamkan api sebesar tadi...”
“Yang penting sekarang sudah aman. Iya, kan?” semburku cepat agar pembahasan tentang bagaimana api bisa dipadamkan segera berakhir.
Cal menatapku sekilas lalu mendesah. Mungkin ia sendiri juga tidak ingin memusingkan itu lagi.
“Bagaimana jadinya jika aku berjanji tidak kembali ke sini?” aku melemparkan senyum yang kurasa baginya bagai bola panas yang tidak siap dia tangkap. Bibirnya separuh terbuka ketika pintu terjeblak oleh gerombolan riuh anak-anak Prodigy yang berebut masuk. Cal menelan kembali kata-katanya sementara aku segera menyamarkan keberadaanku dan menyelinap keluar. “Senang bertemu denganmu,” ujarku tanpa suara sebelum aku menghilang di balik pintu.
Aku tidak bisa menahan otot pipiku yang tak lelah menarik senyum di wajah. Rona merah jambu di pipiku terasa sangat geli. Begitu aku sampai di ujung tangga, seseorang sudah berdiri dengan kedua tangannya tersaruk ke dalam saku celana.
Entah bagaimana caranya aku sudah sampai di luar atmosfer Bumi. Planet hijau itu bagai sebutir kelereng di dasar mangkuk hitam yang dalam. Gravitasi nol tidak membawaku kemana-mana dan anehnya paru-paruku tidak meledak. Aku melayang seperti sampah antariksa di antara benda-benda semacam selongsong mesin pendorong roket, bangkai-bangkai satelit tak berawak dan serpihan-serpihan asteroid. Belum kumulai menikmati berenang di hampa udara, sebuah cahaya dahsyat melesat kearahku tanpa peringatan. Ia memberengusku dalam dekapan cahaya putih menyilaukan, merangsek masuk ke pori-pori kulit, mendidihkan darahku dan menembus tulang-tulangku. Saat kubuka mata, mata indigo itu menyala tajam di depanku.
“Sial... mimpi itu lagi...” napasku terengah seolah aku baru saja lari mengelilingi lapangan futbol. Tubuhku masih mengejang kaku saat aku berusaha meraih segelas air di meja. Cepat-cepat kupakai kacamata karena pandanganku semakin mengabur. Saat itu juga lingkaran merah yang melingkari sebuah angka di kalender duduk mengatakan ‘Selamat Ulang Tahun’.
Aku mendesah, sadar benar kado yang paling kuinginkan tidak akan pernah bisa kudapatkan.
Aku pergi mandi dengan perasaan luar biasa kosong melompong. Tidak ada ketertarikan sedikit pun pada pesta ulang tahun yang kuyakini sudah disiapkan sejak subuh. Kukenakan sarung tangan untuk membalut tanganku agar tidak menyentuh langsung apapun. Rambut yang sudah tergelung di belakang kepala, kututup dengan topi ski berwarna merah marun tua. Aku tampak seperti gadis normal lainnya. Tapi tetap saja aku akan dianggap konyol memakai terus pakaian seperti ini sepanjang musim panas.
Ruang keluarga dihias dengan pita-pita dan balon-balon menggantung di dinding. Sebuah meja bundar diletakkan persis di tengah dengan kue ulangtahun dan setumpuk kado di sampingnya. Mama, Papa dan Kev berdiri menyambutku dengan nanyian Selamat Ulangtahun sementara Nenek Wise membidikkan kamera tuanya padaku dan selama pesta dia akan terus menekan shutter dan menghabiskan rol filmnya.
“Selamat ulangtahun, sayang,” Mama dan Papa bergantian mengecupku. Aku sebisa mungkin tersenyum di depan mereka.
Kev menghambur untuk memelukku dan dia memberiku lilitan Anaconda. Aku merangkul Nenek Wise dan menerima kecupan hangat di kedua pipiku dari bibir keriputnya. “Kau semakin bercahaya,” ungkapnya.
Kue ulangtahunku tanpa lilin. Sudah jelas alasannya. Tidak siapapun di antara kami semua ingin pesta ulangtahun menjadi tragedi kebakaran seperti enam tahun silam. Acaranya dilanjutkan dengan potong kue dan ketika aku sudah memegang potongan pertama, hatiku mencelus. Enam belas kali berulangtahun, Mama dan Papa masing-masing sudah lima kali mendapat giliran potongan pertama, Nenek Wise dan Kev masing-masing sudah tiga kali dan kuharap kali ini aku bisa memberikan potongan pertama kue ulangtahunku pada seseorang.
“Untuk siapa potongan pertamanya, Sayang?” tanya Mama lembut.
Aku menelan ludah pahit. Kuedarkan pandangan menyapu wajah mereka kemudian menjatuhkan mata pada kue cokelat di piring kertas. Aku menggigit bibir, “Untuk siapa saja... terserah...” kuletakkan piring kertas itu dengan pasrah.
Raut tegang menyebar di wajah mereka.
“Oh sayang, ada yang salah? Ini hari ulangtahunmu, jangan rusak wajah cantikmu dengan bersedih,” ucap Nenek Wise sambil meraih tanganku.
“Maafkan aku,”
“A-a-a... Tidak, tidak... yang harusnya merasa bersalah di sini mungkin saja aku, cucuku yang sering menganggumu, Erick dan Eleanor...”
Kulirik Mama dan Papa untuk sekejap karena takut melihat ekspresi entah apa di wajah mereka. Nenek Wise sepertinya sudah mengerti apa yang terjadi sehingga ia menyuruhku mulai membongkar kadoku sementara dia mengajak Mama dan Papa berbicara enam mata.
Sementara Nenek Wise dan orangtuaku di dalam perpustakaan entah membicarakan apa, aku dan Kev tinggal di ruang tengah sembari membuka bungkus-bungkus kadoku. Tapi hanya Kev yang bersemangat melucuti bungkusan kado karena aku lebih tertarik menguping apa yang sedang dibahas di balik pintu perpustakaan.
“Waaah! Mikroskop! Shimmer, kau harus lihat ini!” seru Kev begitu membuka kado pertama. Itu kemungkinan dari Papa.
“...kalian tidak bisa terus-menerus memperlakukannya seperti itu...” sayup-sayup suara Nenek Wise terdengar.
“Astaganaga! Teleskop! Bukan main!”
“Bukan bermaksud menyinggungmu, Edelwise, tapi kamilah yang paling tahu apa yang terbaik untuknya,” itu Mama yang bicara. Defensif seperti biasanya.
Kev sibuk mencoba teleskop sementara aku menempelkan kuping ke daun pintu untuk menyadap pembicaraan serius itu.
“Erick, kau sebut dirimu dosen dan ahli biologi sementara kau mempercayakan putrimu belajar dari otak-otak kacang polong orang lain dan bukannya alam bebas?” suara Nenek Wise meninggi. “Dan kau Eleanor, membiarkan putrimu tidak sanggup berenang di air padahal kau ini oseanograf dan instruktur selam handal. Bagaimana putrimu bisa menyelam di kehidupannya?”
“Aku sadar betul waktuku takkan cukup untuk melihat Kevlar dewasa, bekerja dan memberiku cicit, oleh sebab itulah aku memaksanya pergi ke sekolah sekalipun aku tahu dia benci duduk di dalam kelas. Karena apa? Di sanalah dia mungkin menemukan jati dirinya, mengembangkan bakatnya dan berkaca pada banyak wajah orang yang ia kenal di sana...”
Rupanya pidato Nenek Wise belum selesai, “Aku tahu kalian sangat menyayangi Shimmer. Aku paham perasaanmu Eleanor, tujuh kali keguguran bukan cobaan ringan untuk perempuan... tapi bukalah mata kalian. Dia itu manusia... yang berhak hidup,”
Dadaku sesak mendengar penekanan Nenek Wise pada kata ‘manusia’ dan ‘hidup’. Cepat-cepat kujauhkan diri dari pintu dan kembali duduk bersama Kev yang sama sekali tidak tahu apa-apa kecuali isi-isi kado ulangtahunku.
“Hei, ini pasti dari pamanmu Hans, tidak pakai kertas kado hanya amplop cokelat saja,” Kev mengangsurkan amlop itu padaku.
“Ya Tuhan, Tibet! Hans di Tibet!” pekikku tertahan setelah melihat cap pos terakhir di amplop itu. “Aku dapat apa ya?” kurobek amplop itu tak sabar, membayangkan sejumput es dari Himalaya yang kudapat. Tapi ternyata hanya secarik kertas ucapan selamat ulangtahun tulisan tangannya dan benda berkilauan di dasar amplop.
Sebuah kalung emas berliontin lempengan sebesar koin lima sen yang dipipihkan dengan tidak rapi, menyerupai uang logam China yang berlubang di tengahnya, di atasnya terukir sesosok naga yang meliuk-liuk. Tersentak aku melihat kilauan permata berwarna ungu indigo di mata ukiran naga itu. Ini mungkin hanya kebetulan.
“Eh, masih ada suratnya,” Kev membuka surat itu dan membacanya. “Suka dengan hadiahnya? Kupahat sendiri dalam perjalananku ke Tibet. Masih sering bermimpi tentang naga? Coba tanyakan pada Kev, mengapa dongeng bisa lebih dari nyata...”
“Jawablah, itu pertanyaan untukmu,” sahutku. Kev tampak berpikir sejenak dan merenung.
“Bukan dikarenakan dongeng mengatakan naga itu ada, melainkan naga bisa dikalahkan. G. K. Chesteron,”
“Kenapa pembahasannya jadi naga lagi-naga lagi...” sahutku tidak tertarik.
“Entahlah...”
“Ayo, Kevlar. Kita harus pulang,”
“Eh?” sahutku berbarengan dengan Kev, kami berdua sama terkejutnya dan sama bingungnya karena tiba-tiba Nenek Wise ingin pulang sebelum mencicipi kue dan makan malam seperti biasanya.
“Tapi dia belum membuka kado dari Nenek” keluh Kev manja, hampir muntah aku dibuatnya.
“Dia bisa membukanya nanti. Nenek kira ada kado lain yang lebih pantas dia dapatkan,”
Ekor mata abu-abu Nenek Wise mengarah ke samping, tepat pada Mama dan Papa yang baru keluar dari perpustakaan dengan wajah diliputi ekspresi runyam dan sulit kutebak.
Kev bersikeras tetap tinggal dengan alasan ingin diajari PR Matematikanya tapi Nenek Wise beralasan hari ini ulangtahunku dan tidak seharusnya Kev mengangguku dengan hal yang seharusnya sejak dulu bisa dia kerjakan sendiri. Kev memberikan isyarat dengan tangannya supaya aku menelponnya nanti.
Tidak tersisa sedikit keberanian pun untuk mempertanyakan mengapa setelah berbicara dengan Papa dan Mama, Nenek Wise buru-buru pulang dengan wajah masam. Aku menyendok kue ulangtahunku dalam diam.
“Tidak, terimakasih,” jawab Papa ketika Mama menawarinya sepiring salad ayam. Entah mengapa kurasa baik Papa dan Mama kehilangan selera makan mereka. “Kamu suka mikroskopnya?”
Kuangkat senyumku selebar mungkin, “Tentu. Terimakasih, Pa,” Aku bisa lebih sering berkenalan dengan mikroba dan bakteri ketimbang bergaul dengan anak-anak seusiaku.
“Apa kado Kev kali ini?”
“Masih sama seperti tahun lalu,” ujarku. “Papa dan Mama tidak memperhatikan pita kado besar berwarna pink di atas kepalanya tadi? Dia masih menjadikan dirinya kado untukku,” jawabku.
“Wah, dan apakah kalian berdua masih hanya berteman?” goda Mama.
“Awas saja kalau dia macam-macam,” sembur Papa penuh kecemburuan.
Kami bertiga tergelak dalam tawa selama beberapa saat namun tidak berlangsung lama. Kilatan bening yang membelah pipi Mama menyentakku hingga hampir kujatuhkan mikroskop dari pangkuan.
“Aku tak menduga waktu akan mengecohku seperti sekarang. Kau sudah bersama kami selama enam belas tahun penuh, Sayang,”
Susah payah aku menelan kunyahan kue, “Aku akan selalu bersama kalian, Ma... Pa...”
“Katakan, Nak... apakah kamu bahagia selama itu?”
Lidahku mendadak lumpuh seperti terserang stroke. “Apa yang Mama bicarakan? Bagaimana aku tidak bahagia memiliki orangtua yang sangat menyayangiku? Betapa aku anak tidak tahu diuntung...”
Papa berdeham serak, kurasa ia berusaha menyembunyikan sembur tangisnya sendiri. Dia menyibukkan diri dengan melihat selain aku. Matanya sudah berkaca-kaca.
“Kamu tahu kau sangat istimewa, kan? Di luar keistimewaanmu sebagai putri semata wayang kami,”
Aku mengangguk lemah.
“Itu harus dijaga, dirahasiakan dari orang-orang di luar sana yang entah punya niat apa jika tahu yang sebenarnya tentang dirimu. Oleh karena itulah, kami berdua tidak ingin sedetik pun kamu menginjakkan kaki di luar rumah ini...”
Tenggorokanku terasa mengkerut, tidak mampu berkata apa-apa. Jika diimajinasikan oleh Kev, aku sudah bersiap-siap menaiki tangga menuju menara tinggi yang tidak siapapun bisa menemukan aku seperti nasib Rapunzel.
“Aku merasa sudah menjadi Madam Gothel yang serakah...”
“Tidak, Mama...”
“Ya, Shimmer. Aku tidak rela membagimu dengan dunia bahkan dengan dirimu sendiri!” semakin deraslah airmata yang mengucur dari kelopak mata itu. “Aku ibu yang buruk...”
“Tidak, Mama...”
“Maafkan aku...” Mama memelukku begitu erat dan membanjiri tengkukku dengan airmata.
“Ma, sudah-sudah... Jika permintaanku terlalu berat untuk dikabulkan, lupakan saja itu. Aku... baik-baik saja,” kalimat terakhirku jelas sekali terdengar tidak baik-baik saja.
“Papa akan menelpon dokter Moses dan membuat janji besok pagi,” kata Papa setelah pergulatan batinnya kurasa mulai teredam. “Kesehatanmu harus dipastikan baik dan aman sebelum kamu mulai sekolah,” imbuhnya perlahan.
Apa aku tidak salah dengar? SE-KO-LAH? Sekolah? Sekali lagi apa aku tidak salah dengar? Aku tidak sedang bermimpi, kan? Ingin sekali kucubit lenganku tapi tahu itu tidak akan berhasil. Tanpa sadar aku terpana memandang Papa dengan mulut ternganga separuh.
“Iya, Sayang. Kamu akan pergi ke sekolah,” ulang Mama, tahu aku tidak yakin dengan pendengaranku barusan. “Dan demi keamananmu, kamu akan satu sekolah dan satu kelas dengan Kevlar sampai kalian lulus,”
Aku tidak bisa menahan keinginan untuk melompat kegirangan. Aku menjerit histeris penuh bahagia dan tanpa sadar melepaskan semburan kembang api ke langit-langit ruangan. Meledaklah mereka menjadi cahaya berwarna-warni dan menyebabkan balon-balon dekorasi meletus. Tubuhku diselubungi percikan bunga api dan nyala cahaya.
Papa menarikku untuk menghentikan kebodohanku dan aku pun berhambur ke dalam pelukannya. Pltaaaar! Sebuah kembang api kecil meletup di antara tubuh kami yang berhimpitan.
“Ups, maaf!” kemeja kesayangan Papa berlubang dengan bekas hangus terbakar.
“Untung cuma kemeja...”
**
“Aku tidak bisa pergi ke sekolah dengan tampilan suku Eskimo seperti ini...” dengusku.
“Sesampainya di sekolah langsung menuju ruang kepala sekolah. Mama dan Papa sudah menunggu di sana. Kev akan mengantarmu. Jangan sekalipun membiarkan sesuatu menyulut emosimu. Jangan berkelahi dengan siapapun. Ini sarung tangan dan topi cadangan jika kamu butuh. Jangan pernah berpikir untuk melepas topi meskipun itu di toilet. Ini makan siangmu, kamu boleh makan di kantin tapi jangan pernah memakan selain bekalmu...”
“Mama...” selaku yang ternyata tidak mampu menghentikannya.
“Setelah sekolah bubar, Mama atau Papa sudah menunggumu di gerbang. Kev mungkin tidak bisa terus-menerus mengawasimu karena dia punya kegiatan di Klub Seni. Tapi selama di sekolah jangan jauh-jauh dari Kev...”
Ini semacam remisi untuk narapidana, kurasa. “Ma, aku akan dianggap Yeti jika memakai berlapis-lapis baju seperti ini. Aku ingin memakai kemeja dan celana jeans saja...”
“Tidak. Kamu tetap memakai bajumu,”
Yang dimaksud dengan baju adalah jaket tebal musim dingin sepanjang lutut dan berlapis-lapis sweater di baliknya. Mama memaksaku memakai boot tebal seolah aku akan mendaki puncak Everest. Pakaian ini membuatku tampak setengah kali lebih besar dari ukuran asliku. Sudah cukup sarung tangan dan topi ski yang tampak konyol di musim panas ini!
Aku meminta barter untuk pakaian anehku dengan naik bus sekolah ketimbang semobil lagi dengan Mama dan Papa. Sepanjang jalan aku pasti sudah bosan duluan sebelum mulai pelajaran karena dikuliahi dan diberi khutbah panjang.
“Apa yang dia lakukan di sini?” pertanyaan penuh nada ingin tahu berbumbu ejekan itu datang dari gadis berambut merah sebahu yang memakai kaos super ketat hitam dengan gambar personil band entah apa. Aster mendelik entah kaget atau meledek melihatku menyeret langkah di belakang Kev. Dari sekian banyak anak seusiaku di lingkungan sekitar rumah, sejak dulu entah mengapa Aster paling semangat memberiku julukan aneh-aneh. Manusia saljulah, Eskimo nyasarlah, Alienlah dan paling membuat telingaku panas adalah... “Siluman, apa yang kau lakukan, eh?”
“Tutup mulutmu, Rambut Merah!” sergah Kev sambil menyuruhku duduk di dekat jendela sementara ia duduk di sisi luar menjauhkanku dari Aster secepat mungkin.
Aku terlalu bersemangat tentang sekolah hingga olokan Aster pun tidak lagi terdengar menarik untuk menjadi alasanku marah. Kev satu per satu memperkenalkan teman-teman baiknya yang baru masuk ke bus, Luis, Anne, Jack, Noah, Mathew, Miranda—yang tak henti-hentinya menoleh ke belakang demi mencuri pandang ke arah Kev dan mendelik jahat padaku—dan sederet nama yang kemudian segera kuingat dan kumasukkan daftar tamu pesta ulang tahunku tahun depan.
“Uhuk!” aku terbatuk dan tak sengaja mengeluarkan sebongkah kecil es batu dari mulut. “Kev...” panggilku cemas.
Tanpa raut terkejut atau panik sedikit pun Kev meraup bola es itu dari tanganku dan berhasil tidak ketahuan memasukkannya ke kantong muntah di kursi. “Kita pulang saja, ya?”
“Enak saja... tidak akan... Uhuk!” aku terbatuk lagi dan sebuah bola es kumuntahkan lagi. “Kumohon, jangan adukan ini pada Mama atau Papa...”
Raut wajah Kev menegang hingga kupikir dia marah.
“Bersumpahlah...” rengekku.
Helaan napas kurang ikhlasnya membuatku tetap cemas kalau-kalau Kev akan melaporkan Batuk Es-ku sesampainya di sekolah nanti. Namun sampai kami melewati gerbang sekolah yang menjulang tinggi dan megah yang disesaki siswa-siswi berbagai kelas, berbagai warna rambut dan warna mata bahkan berbagai kewarganegaraan—kurasa seluruh kota tumpah ruah di sini—Kev tidak menyinggung sedikitpun tentang itu.
Di kelas Matematika Miss Betty guru berambut cepak dan berwajah tirus yang tampak seperti prajurit angkatan darat jika ia tidak mengenakan rok dan sepatu berhak, aku untuk pertama kalinya melihat begitu banyak orang. Ada dua puluh dua siswa, sebelas perempuan dan sebelas laki-laki. Ada lima orang bermata biru, enam orang bermata zaitun, tiga orang bermata hitam, empat orang bermata abu-abu, tiga orang bermata cokelat terang dan aku satu-satunya yang bermata zamrud. Aku pun menjadi yakin di kelas ini, di sekolah ini, di kota ini dan bahkan mungkin di planet ini hanya aku yang sejak lahir memiliki rambut dwi warna yang ganjil.
“Selamat pagi semua. Namaku...” kuambil spidol di sisi papan tulis dan menuliskan namaku di permukaannya yang putih dan licin. “S-H-I-M-M-E-R F-R-O-S-T. Shimmer Frost. Aku mu...”
Aku baru saja ingin menambahkan ‘Aku murid baru di kelas ini dan senang berjumpa dengan kalian’ ketika semburan tawa menggelegar membuatku melemparkan pandangan bingung kepada Kev. Dia entah mengapa menepuk keningnya. Apa cara mengejaku salah atau lucu bagi mereka?
“Hei, kau pikir ini taman kanak-kanak! Atau jangan-jangan seharusnya kau masih duduk di sekolah dasar!” sembur seorang anak laki-laki berambut abu-abu keriting yang duduk di baris paling belakang. Gelegar tawa menyusul kemudian tanpa jeda.
“Kalau mau pamer kemampuanmu mengeja, sana kembali ke TK!” susul suara dari seorang gadis berambut ikal, kedua pipinya tampak merah menyala seolah baru ditampar ratusan kali.
“Sudah cukup!” Miss Betty angkat bicara dan kelas langsung senyap. “Miss Dua Puluh Dua, saya yakin kemampuan mengeja Anda akan sangat berguna di kelas Bahasa tapi di kelas saya, kita berbicara dengan satu bahasa. Bahasa Angka,” desisnya sinis bercampur bengis. “Silakan duduk,” aku menahan diri untuk mempertanyaan apa maksudnya menyebutku Dua Puluh Dua.
Aku mengambil tempat yang sudah disiapkan—kurasa tempat duduk pun telah diminta khusus oleh Mama supaya aku dan Kev selalu berdekatan. Meja kami tepat berdampingan. Hanya saja dia dekat jendela dan aku berada di tengah barisan di samping seorang siswa laki-laki lain berambur pirang, ia salah satu dari ketiga orang bermata cokelat terang di ruangan ini. Tapi sepasang mata cokelat terang itu belum beranjak dari Parallel World: A Journey Through Creation, Higher Dimension, and the Future of the Cosmos. Aku mungkin sudah mendapatkan calon teman membaca yang tepat, batinku senang.
“Dua. Seratus enam puluh tujuh. Satu sampai tiga puluh. Dua puluh lima!” pekik Miss Betty lantang dari mejanya. Anak-anak kalang kabut mengeluarkan entah buku yang mana dan seperti dikejar hantu mereka berlomba membuka halaman buku hingga beberapa kali terdengar suara kertas robek. Bahkan Kev yang alergi Matematika pun merelakan tangannya menyentuh bukunya.
“Dua artinya buku latihan. 167 artinya halaman. 1 sampai 30 artinya soal 1 sampai 30 dan 25 artinya kerjakan dalam waktu 25 tahun, itu khusus untukku, bagi yang berotak sepertimu cukup 25 menit saja...” ujar Kev tak bersemangat.
Waktu berjalan sepuluh menit kemudian dan aku sudah tiba di soal nomor dua puluh sembilan ketika pekikan Miss Betty melengking lagi. “Tiga belas! Nomor satu! Maju!”
Anak lelaki di sampingku mengacungkan tangan dan berderap menghampiri papan dan menyambar spidol dan seketika papan putih itu penuh dengan goresan hitam angka, rumus, diagram, grafik...
“Nama anak itu Tiga Belas?”
“Bukan. Itu nomor absen. Miss Betty tidak pernah memanggil siswa dengan nama, tapi dengan nomor absennya,”
“Jadi itu alasannya kenapa aku tadi disebut Dua Puluh Dua?”
“Seratus!” pekik Miss Betty lagi. Kurasa itu artinya pekerjaan si nomor absen tiga belas sempurna. “Selalu hebat,”
Tapi mendengar itu sebagian besar isi kelas hanya berkoor ‘huuu’ panjang seolah protes mengapa selalu si nomor absen tiga belas yang selalu dapat pujian. Nomor Tiga Belas tidak terpengaruh sama sekali baik oleh pujian guru dan protes halus dari teman-temannya. Sepasang mata cokelat terangnya menatap datar dan tak ada ekspresi sama sekali di wajahnya. Dia kembali duduk lalu menyambar bukunya lagi.
“Kedipkan matamu jika tidak ingin entah laser panas atau tatapan beku keluar dari matamu...” seloroh Kev. “Kuperingatkan, jangan tergoda oleh tampangnya yang keren atau otak pintarnya, Calixto Valeska lebih cinta dirinya sendiri ketimbang lusinan gadis yang pernah mencoba mendekatinya,”
“Namanya keren. Lihat, sekalipun ia dipanggil Tiga Belas,”
"Tiga Belas itu artinya sial, mala petaka,"
Si Tiga Belas ternyata cukup peka karena ia menoleh ke arah kami dengan tatapan yang seolah mengatakan, "Kalian tidak lihat aku punya telinga,"
Aku berusaha tersenyum ramah--terjadi begitu saja entahlah, tapi dia tidak repot-repot membalas.
Rumah nomor enam belas itu berganti cat lagi. Ini sudah ketiga kalinya dalam sebulan, yang dari mulanya rumah itu bermantelkan warna merah ceri lalu berubah hijau loreng-loreng seperti markas marinir perang dan sekarang ia tampak seperti sebuah jeruk persegi di atas rumput hijau.
Dari balik jendela dapur aku mengintip si pengecatnya yang bergelagat aneh. Tidak mengecat dengan santai justru gerak-geriknya tampak seolah apa yang ia lakukan adalah misi rahasia. Ia mengendap-endap di bawah jendela untuk menggambar detail-detail kecil berupa gambar lebah-lebah madu dan sarang yang meneteskan cairan madu keemasan. Sorot mata dan kerut keningnya menandakan dia waspada akan ketahuan.
“Kau apakan RUMAHKU?!” terdengar lengkingan suara serak tua yang baru kemudian punya nama setelah seorang wanita berusia sekitar 70 tahunan berambut putih keperakan itu menjeblak jendela tepat di atas kepala si tukang cat. Kepalanya mungkin bisa lepas dari lehernya jika kena sambaran daun jendela. Kaleng cat di samping kakinya hampir saja berguling tumpah kena sandungannya.
Aku terkikik melihatnya tertangkap basah oleh nenek itu. Pemandangan khas di Minggu pagi.
“Shimmer, hei... mana benih bunganya?” seruan Papa dari halaman belakang menyadarkanku. Kutinggalkan nenek yang memarahi habis-habisan cucunya sendiri lalu menyambar kantong bening dari atas lemari.
“Kapan kapoknya bocah itu, eh?” Papa terkekeh, merujuk pada bebunyian nyaring yang didominasi suara ocehan dan makian yang bercampur erangan kesakitan bocah laki-laki. Pastilah si nenek bersenjatakan tongkat rotannya yang maha ampuh itu.
“Amukan Hari Minggu Nenek Weiss,” sahutku yang segera terkikik geli.
“AWW! AWW! Sakit, Nek...”
“Itulah masalahnya. Dia suka pamer,” komentar Papa.
Sayangnya aku tidak punya pembelaan atas komentar miring itu. Aku sendiri tidak bisa menyangkal betapa tukang pamernya dia. Atas konsekuensi lukisan-lukisannya yang memang keterlaluan indahnya. Di luar nalar. Bahkan dinding kamarku jadi korban pamernya.
Omelan Nenek Weiss masih membahana di udara pagi yang hangat dan sejuk. Sementara itu, aku duduk di bawah atap kaca bersama Papa, membantunya menanam bunga matahari, menyiapkan pot dan memastikan sirkulasi pengairan berjalan lancar di setiap lajur pot tanaman. Papa tidak mengizinkan aku membantu semua tugas berkebunnya, ia tidak ingin aku kelelahan padahal sepanjang waktu aku hanya menontoninya saja. Beliau sedang memanen tomat ceri dan beberapa mawar merah potong. Semua yang tumbuh di rumah kaca kami Papa yang tanam sendiri. Organik.
Tak jauh dari rumah kami, taman kompleks perumahan tampak rindang dan berwarna-warni segar. Semak perdu yang mengelilinginya dipangkas membentuk gelombang meliuk memeluk petak taman yang berbentuk lingkaran. Bebungaan, rumput dan bahkan pohon sycamore besar di tengah-tengahnya itu disemaikan dan dilahirkan dari rumah kaca Papa. Segala macam bentuk perostan mulai dari yang biasa hingga yang spiral, ayunan, jungkat-jungkit, bangku taman dan bahkan kolam ikan di sana, didekorasi oleh lukisan mural Kev. Taman itu seperti oase di tengah gurun, seperti Wonderland mungil dari buku dongeng. Tak seorang pun yang belum menginjakkan kaki di sana kecuali aku.
Dan ironisnya, tidak ada alasan untuk hanya tinggal di dalam rumah saat musim panas tiba di Portland. Matahari bersedia dinikmati kehangatannya dan udara begitu ramah kepada setiap makhluk hidup. Bahkan matahari menjanjikan hari yang lebih lama daripada malam dan ia rela baru terbenam di pukul sembilan. Hari yang sempurna untuk mendaki gunung dan menikmati sejuknya air terjun Multnomah atau hanya sekadar duduk di balkon sambil memanggil bintang-bintang di langit.
Di pagi aku membuka mata, terbangun dari mimpi aneh yang selalu sama, aku melihat sekelilingku bercahaya, berkilau cemerlang oleh gerak kehidupan. Tukang pos yang menaruh surat di kotak pos, petugas kebersihan bersama truk pengangkut sampahnya, pengantar susu dan bocah bersepeda yang suka melemparkan koran sembarangan, taman itu, pasangan manula Tuan dan Nyonya Perkins yang bergantian melemparkan freesbe pada Chaser, golden retriever tersayang mereka, Nenek Weiss yang masih mengomel... rumah nomor enam belas yang berganti cat sekurang-kurangnya empat kali dalam sebulan... bus kuning menyala yang menjemput dan meninggalkan Kev jauh di belakang karena ia bangun kesiangan... Mereka semua tanpa terkecuali memancarkan cahaya yang membuatku iri setengah mati hingga ke sum-sum tulang.
“Sarapannya siap!” seru Mama dari dalam rumah. Aroma hangat kayu manis dan sirup mapel berpadu dengan lembutnya panekuk vanila tercium hingga ke halaman belakang. Aku mengekor di belakng Papa yang menjinjing dua keranjang penuh dengan tomat ceri dan bunga mawar potong. Mama menunggu kami di ambang pintu masih utuh dengan celemek biru lautnya.
“Atlantis dan Pacific sudah diberi makan, Shimmer?”
“Ah... salahku. Belum!” segera aku berlari menyusup di antara lengan Papa untuk menuju meja akuarium bundar di rumah tengah. Sepasang Amphiprion percula, atau ikan badut bertubuh belang-belang jingga dan putih melompat mendekat ke dinding kaca akuarium. Menatapku dengan pandangan protes.
“Maaf, tidak bermaksud melupakan kalian,” kumasukkan pelet makanan ikan yang segera disambut dengan caplokan dari mulut mungil mereka. Menonton keduanya lahap makan selalu mengasyikan.
“Nah, sekarang gantian kamu yang sarapan...” Papa menarik pinggangku dan seringan kapas ia mengangkatku ke udara, membawaku menuju meja makan. Jika tidak, aku bisa tidak sadar terus menerus memasukkan pelet ikan hingga Atlantis dan Pacific kekenyangan.
Mama menuangkan jus tomat ceri ke gelasku sementara Papa mengambil sebatang mawar merah yang ia potong dan meletakkannya di samping piring panekuk milikku dan sebatang lagi di piring Mama. “Untuk wanita-wanita terindah di hidupku,” katanya. Aku dan Mama bertukar senyum merona. Setelah do’a selesai aku mulai mengiris panekuk dan Papa menyesap teh camomilenya. Tapi Mama tidak menyentuh sarapannya sama sekali, ia justru sibuk dengan koleksi snowball dan boat-in-the-bottle miliknya. Satu per satu ia perlakukan seperti mengelap kulit bayi.
“Ma, ini waktunya sarapan,” ujarku. Namun Mama hanya tersenyum tipis kepadaku dan lanjut mengelap salah satu snowballnya. Snowball yang ia pegang sebesar kepalan tangan orang dewasa. Di dalamnya ada sebentuk batu kristal safir sebiru lautan dan serpihan glitter yang berkilauan muncul jika dikocok. Itu snowball kesayangan Mama. Tidak ada yang boleh menyentuhnya, termasuk aku.
“Eleanor...” sergah Papa. Akhirnya Mama meletakkan snowball itu kembali ke lemari pajangan.
Tapi justru berikutnya Papa yang mulai. Ia diam-diam menyembunyikan buku catatan di pangkuannya di balik taplak meja. Beberapa kali ia melirik ke bawah dengan tangan bergerak menulis sesuatu. Ia pasti tidak tahan menyelesaikan salah satu jurnal ilmiahnya.
Aku mendesah. Kehilangan selera makan. Ini merupakan suatu momen dimana aku merasa dicurangi oleh orang-orang di sekitarku. Kami bertiga terhubung di satu meja makan namun terdapat sekat tembus pandang yang membuatku jengkel mengapa selalu aku yang ada di luar sekat itu.
Mama dengan segala koleksi snowball dan perahu dalam botolnya yang serba biru tampak menikmati setiap detik ia mengelapnya, setiap kilau serpihan salju artifisial di dalam bola saljunya. Ia bahkan tanpa sadar menggumankan kisah-kisah di balik penemuan bola salju atau perahu dalam botolnya. Saat ia berlibur ke berbagai tempat di luar sana yang kemungkinan kecil bisa kudatangi dengan bebas. Apalagi jika ia sudah menggosok bola salju kristal kesayangannya. Ia akan diam membisu dan tenggelam memandangi binar kristal safir itu. Entahlah, aku tidak tahu apa istimewanya benda yang satu itu. Pokoknya, begitu mama menyentuhnya ia seolah tersedot ke dalam bola itu dan rela tidak keluar dari sana.
Sementara Papa tidak jauh berbeda. Dia tidak pernah berhenti menulis, mengumpulkan sampel tanaman dan bahkan tak jarang ia membawa setoples awetan serangga, kadal, isi perut cumi-cumi dan berbagai wujud entah tumbuhan atau hewan yang tidak pernah kutemukan di halaman ensiklopedia. Kemanapun Papa pergi, ia membawa buku catatan dan beberapa detik sekali kira-kira sesuatu melintas di kepalanya dan buru-buru kemudian ia menuliskannya di buku. Seperti sudah ada kordinasi alamiah antara pikiran, tangan, pena dan bukunya hingga sudah seperti gerak robot otomatis. Belum lagi jika ia sudah berada di rumah kacanya. Menontoni Papa berbicara pada benih tomat sebelum menanamnya sudah menjadi pemandangan paling lumrah buatku.
Dan hebatnya baik Papa ataupun Mama, sama-sama mencemburui kegiatan masing-masing ketika salah satu di antara mereka membutuhkan bantuan sementara salah satu di antara mereka sedang asyik dengan dunia mereka sendiri. Aku hidup di antaranya. Sama-sama tidak habis pikir bagaimana mereka bisa begitu terlihat berbinar-binar ketika melakukan sesuatu dan sekaligus yang paling cemburu dan iri karena hanya berfungsi bagai pajangan yang tidak boleh meninggalkan lemari.
“Papa... Mama...” kupanggil mereka dengan suara serak. Keduanya meninggalkan sarapan yang masih utuh menuju kesibukan mereka masing-masing. Mendadak aku merasa tidak ada bedanya dengan vas bunga di meja.
Setiap kali memanen buah atau memetik bunga di rumah kaca, Papa akan meminta izin dan permisi kepada tanamannya. Ia bilang kita harus menghormati segala sesuatu yang hidup termasuk tanaman dan hewan sekalipun. Katanya setiap yang hidup itu menakjubkan. Tapi saat aku duduk di meja dengan mereka aku merasakan kebalikannya. Kehidupanku hanya mampu kudeskripsikan dengan dinding-dingin bata rumah ini, langit-langit yang menjemukan, tugas jurnal ilmiah dari Papa untuk menyibukkanku di dalam rumah, dua ekor ikan badut yang sama bosannya denganku, Mama yang justru berperan sebagai alarm minum obatku...
“Aku sudah selesai,” ujarku dengan suara meninggi. Aku bangkit dari kursi, bersiap angkat kaki menuju kamar ketika Mama menyahut.
“Sarapanmu belum habis, kamu juga belum minum dosismu pagi ini,”
Aku ingin menimpali tapi rahangku terasa berat. Maka aku kembali duduk dan menyumpal mulut dengan sepotong panekuk besar yang membuatku tersedak hebat.
“Pelan-pelan!” Papa yang jangkauannya paling dekat, menepuk punggungku halus. Mataku mengekor jatuhnya butu catatan miliknya meluncur ke lantai. Rona bersalah menyelubungi wajahnya. “Jangan sampai batukmu menerbangkan meja makan,” ujarnya dengan nada bercanda yang tidak begitu lucu. Kami semua tahu itu semata-mata bukan sekadar leluconnya.
Meja makan kembali senyap tapi kali ini ada denting garpu dan pisau di piring Papa dan Mama. Keduanya mulai berbicara tentang keinginan Mama untuk memesan perahu dalam botol yang segera diprotes oleh Papa. “Rumah kita sudah tidak muat,” begitu ujarnya.
Aku sangat yakin topik-topik obrolan ini tidak nyata. Terkesan dibuat-buat untuk menutupi topik lainnya yang justru menjadi ganjalan di benak keduanya. Tentu saja mereka melakukannya karena tema besar obrolan sedang duduk bersama mereka, aku. Sering kali aku tidak sengaja mendengar obrolan serius Mama dan Papa dan itu selalu seputar tentangku. Aku heran mengapa mereka tidak pernah membahasnya denganku langsung.
Lagi-lagi perasaanku menjadi tidak karuan. Kuharap vas bunga di tengah meja bisa diajak bicara.
“Shimmer!” pekikan Mama menggugahku dari lamunan. Kujatuhkan pisau kue ke lantai dan tampak bercak merah di mata pisau itu. Di piringku, kudapati panekuk bersauskan merahnya darah dari ujung telunjukku.
“SHIMMER! Apa yang kau pikirkan, heh? Dimana pikiranmu sekarang?” Papa menarik tanganku dan menahan kucuran darah dengan serbet makannya. Mama berhambur panik membawa kotak obat dan dalam sekejap ia berubah menjadi perawat handal. Begitu rapi balutan lukanya seolah ia memang terlahir dengan keahlian membalut luka.
“Lukanya dalam sekali,” ujar Mama cemas. “Orang selain kau pasti sudah meraung kesakitan jika mendapat luka sedalam itu. Kita ke rumah sakit, ya?”
Cepat aku menggeleng kuat-kuat. Menatap ngeri pada orangtuaku, seolah baru diberitahu aku harus menelan kotoran hidung.
“Apa yang mengganggu pikiranmu?” tembak Papa langsung.
Sudah bisa kupastikan mereka akan merasa bersalah jika kukatakan yang sesungguhnya. “Aku...hanya iseng mengira-ngira hadiah apa yang kuinginkan untuk ulangtahunku besok. Aku akan genap enambelas tahun,” dalihku.
Senyum lemah terbit di wajah Papa dan Mama. “Kamu ingin melengkapi koleksi bukumu. Katakan saja judulnya apa,” sahut Mama antusias.
“Katakan apa yang kamu inginkan. Buku? Baju baru? Sepatu? Pesta bertema luar angkasa, kau suka luar angkasa, kan?”
“Erick, kita sudah melakukannya di ulangtahunnya yang ke sepuluh dan aku tidak ingin ada roket atau semacamnya... tragedi itu sudah cukup...” kenang Mama pilu.
Tidak siapapun yang akan melupakan tragedi enam tahun lalu itu. Ketika Papa memberiku kejutan dengan membawa kembang api roket ke halaman belakang, yang terjadi adalah ledakan mengerikan. Aku berdiri dalam jarak tiga meter dari susunan kembang api dan tanpa diketahui bagaimana, kembang api itu meledak-ledak bergantian. Rok Mama berlubang tertembus oleh kembang api yang nyasar, Papa mendapati rambut di atas telinganya hangus hilang dan hampir saja rumah pohonku menjadi abu. Sementara aku tidak tergores sedikit pun bergeming kaku, aku hanya berdiri di sana dan semuanya berapi-api.
“Aku... aku ingin sekolah,” jawabku ragu-ragu.
Keduanya seketika membisu kemudian seolah berpura tidak mendengar apapun.
Seperti pendulum berayun ke kiri dan ke kanan, mataku bergantian menatap Papa dan Mama. Jantungku terdengar bertalu-talu menunggu jawaban mereka yang tampaknya tidak akan kudapatkan dalam waktu dekat.
“Boleh ya?” pintaku sekali lagi dengan nada memohon.
Papa tampak belum rela mengalihkan perhatiannya dari kepulan teh camomile sementara Mama mematut diri pada permukaan panekuk yang tidak jadi disuapnya. Aku mulai resah.
“Itu permintaan yang besar,” suara Papa membelah arus kebisuan yang hampir menenggelamkan keberanianku. “Besar sekali resikonya,”
Gelembung semangatku yang tipis meletus dalam satu kedipan mata. Aku menunduk dalam-dalam, mengadu pandangan dengan ubin di bawah meja. Bersiap mendengarkan Papa mendadak menjadi dokter kepala dalam sebuah rapat sebelum melakukan operasi yang skala kesuksesannya sepersekian persen. Dikuliahinya aku tentang kesehatanku sendiri dan tentang betapa mereka menyayangiku dan tidak ingin sesuatu terjadi kepadaku.
“Sudah kita sepakati bersama bahwa tempat paling aman untukmu adalah rumah,” Papa menutup kuliahnya dengan melipat koran paginya dan memberiku tatapan kuharap-kita-berdua-disisi-yang-sama.
Mama menggeser letak kursinya lebih ke dalam kemudian menaikkan kedua sikunya ke meja dan menautkan kesepuluh jarinya di depan dagu. “Cukup di rumah dan kamu dapatkan apa yang kamu butuhkan. Makanan favoritmu, beli baju atau buku, kamu bisa pesan secara online. Hiburan? Mini home teather sudah kami pasang di kamarmu. Sekolah? Sayang... seluruh guru privat terbaik dari lembaga terbaik di kota siap kapan saja kamu inginkan. Kalau kamu ingin ambil kuliah tahun ini, kamu bisa melakukannya di rumah dengan kelas jarak-jauh,”
Suara serakku tak tertahankan, “Aku yakin, sekalipun rumah ini adalah sekolah, dimana pun mama dan papa pasti menyediakan tempat khusus untuk mengurungku,” kalimatku tercekat dan cepat kutambahkan, “Karena aku monster, kan?”
Keduanya terbisukan dan menatapku dengan kata-kata yang tersendat di tenggorokan. Kurasakan tanganku terkepal di atas meja dan bau kain terbakar menyebar di ruang makan.
“YA TUHAN! TANGANMU!”
Papa dan Mama menjerit mendahului fire detector tercanggih manapun. Refleks, Mama menyiramkan segelas air namun justru air itu menguap begitu saja di tanganku.
“DEMI TUHAN, SHIMMER! HENTIKAN INI!” pekik Mama panik setengah mati.
“Aku tidak bisa...” suaraku nyaris tak terdengar oleh diriku sendiri. Seluruh tubuhku mengejang kaku sebelum akhirnya diguncang oleh tremor yang membuatku gemetaran, menggigil atau kejang-kejang atau entahlah. Api itu menyembur begitu saja seakan-akan ada perapian menyala di dalam tubuhku. “Aku tidak bisa...”
Separuh meja makan dijilati oleh lidah-lidah merah menyala dengan liarnya. Papa menarik Mama mundur dan mencegahnya menyentuhku. “Sayang, jangan sentuh dia,”
Aku hanya bisa terduduk di kursiku dan seperti seorang Ibrahim yang tidak merasakan apapun meskipun dibakar hidup-hidup, tengah menyaksikan api membara dari tanganku dan kedua orangtuaku yang menatapku ngeri.
Mereka tidak tahu aku menangis ketakutan sejak tadi. Linangan airmata itu lenyap begitu cepat karena begitu ia keluar dari kelopak mataku, mereka menguap hilang. “Tolong...”
“Erick lakukan sesuatu!” jerit Mama putus asa dalam tangisnya. Baik keduanya tahu bahwa apapun yang mereka lakukan untuk memadamkan ‘aku’ itu akan sia-sia. Aku akan tetap menyala-nyala.
Di rumah ini ada begitu banyak tabung merah extinguisher tersebar di sudut-sudut ruangan. Tabung merah itu bahkan sudah patut disebut pajangan penghias rumah. Tujuannya adalah untuk mengatasi hal seperti ini yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Papa mengambil salah satu tabung merah itu dan menyemprotkan isinya yang berbuih putih ke seluruh meja tapi yang ia lawan bukan api biasa.
Kudengar Papa berbicara melalui tatapannya. Sorot mata itu diluputi rasa sesal sehingga bisa saja dari mata abu-abunya itu akan dimuntahkan rasa sesal itu. Setetes airmata itu meluncur cepat tanpa mampu ia bendung. Dan aku merasa semakin terluka.
Kayu ek meja makan yang hampir menjadi bara beradu dengan gemeletuk kristal-kristal bening yang merambat dari bawah telapak tanganku. Menimbulkan suara gemertak di sana-sini seiring dengan menyebarkan lapisan es yang perlahan menjinakkan kobaran merah api.
Tabung merah itu terlepas dari tangan Papa dan beradu dengan lantai. Bunyi kelontangnya yang lantang menandai berakhirnya sarapan kami bertiga. Sarapan yang secara harfiah berapi-api.
**
Kalau sudah seperti ini, aku hanya bisa menghukum diriku sendiri di dalam kamarku yang untungnya saja tidak menghimpitku dengan rasa bosan. Mama menjejalkan semua bentuk hiburan anak-anak mulai dari rumah-rumahan Barbie, setumpuk boneka beruang, miniatur kereta api, papan monopoli dan Scrabble hingga mini home teather. Beda lagi dengan Papa yang merelakan separuh isi perpustakaan pribadinya yang kebanyakan adalah buku-buku ensiklopedia yang ia tulis sendiri pindah ke dalam rak bukuku. Diantaranya ia menyumbangkan segala pengetahuannya yang termaktub dalam jurnal-jurnal ilmiahnya yang pada akhirnya membuatku kecanduan dengan bidang yang dia geluti, sains.
Namun mendadak semua keasyikan itu sepertinya tidak pernah kurasakan hingga alih-alih menghibur diri dengan menonton film atau membaca jurnal-jurnal Papa, aku duduk bersila dengan muka beradu tembok. Kuharap aku bisa masuk ke permukaan dinding kamarku yang dicat hitam pekat dengan kilatan bintang jatuh berkilauan yang membelah dindingku. Agar aku terlempar ke luar angkasa tanpa gravitasi yang akan menarikku kembali ke bumi. Supaya tidak seorangpun di bumi yang tahu bahwa aku adalah monster mengerikan. Cukup Papa dan Mama mengandung beban berat karena memiliki anak berkelainan aneh.
Pintu kamarku diketuk berirama tiga kali. Itu Mama, “Sayang, kamu baik-baik saja, kan?”
Tenggorokanku tersumpal rasa penyesalan dan ketakutan sampai-sampai untuk mengisakkan tangisanku saja aku tidak mampu. Pecahan kristal-kristal air beku berjatuh dari sudut mataku seperti butiran salju luruh dari langit. Setumpuk salju es terongok di sampingku, airmataku yang membeku.
“Ti-tidak apa-apa,” suaraku terdengar seperti derak kayu tua.
Derap langkah pergi Mama sayup-sayup terdengar dari luar. Jelas sekali ia tidak ingin Papa tahu bahwa diam-diam ia menyelinap untuk sekedar menanyakan kabarku. Aku tidak tahu mana yang lebih buruk, membiarkan Mama mendekatiku atau tidak mampu berbuat apa-apa saat Mama pergi meninggalkan aku sendirian.
“Gadis Jahat! Gadis Jahat!” makiku pada diri sendiri. “Iblis! Kau iblis!” kuharap lantai kamarku tersedot energi entah apa dari dalam perut bumi agar aku tak muncul lagi di depan semua orang. Kupikir itu lebih baik.
Gemerincing lonceng yang terpasang di mulut jendela menyentakku. Aku merangkak dengan perasaan runyam untuk meraih seutas tali yang menghubungkan dua buah kaleng soda bekas. Satu itu milikku, yang satunya lagi terpasang di jendela rumah seberang.
“Halo...” suaraku bergetar serak dan besar seperti erangan badak. Membuatku yakin orang di seberang sana mengira yang menelpon adalah badak sungguhan.
“Seberapa parah?” tanyanya tanpa menyahut halo-ku.
Aku mendesah. Kulihat kurir dari toko furnitur mulai menurunkan meja makan dari kayu ek di depan halaman rumahku. Papa berdiri sambil mengarahkan mereka. “Sebuah meja makan baru, kira-kira separah itu,” jawabku lesu.
“Ya, minggu lalu, sofa. Dan aku masih ingat Tragedi Tempat Tidur Berapi tahun lalu...”
“Terimakasih sudah mengingatkan,” semburku kesal. “Aku seharusnya tahu, kamu tidak membantu sama sekali,”
“Jangan tutup! Jangan tutup!” pekikannya cukup menusuk gendang telingaku sehingga aku buru-buru menjauhkan kaleng dari telinga alih-alih menutupnya seperti yang baru saja ingin kulakukan. “Aku punya sesuatu untukmu!”
Tak perlu berlama-lama. Setelah menutup telepon kalengnya dia sudah bertengger di atas kereta gantung buatan sendiri yang kami namai Gondola Sahabat—kursi roda bekas yang diubah sedemikian rupa menjadi gondola yang menghubungkan balkon kamarku dan kamarnya—dan dalam sekejap dia melompat ke balkonku sambil membawa peti keramatnya.
“Sayangnya, rasanya pasti asin. Padahal kalau tidak, kita bisa menuangkan sirup stroberi atau cokelat di atasnya dan jadilah es serut Airmata Shimmer,” dijadikannya airmataku yang beku sebuah lelucon.
Aku menonjok lengannya dengan kekuatan yang setara dengan hembusan angin. Tidak akan bisa membuatnya kesakitan--yah memang dia tidak akan pernah bisa—untuk yang itu ceritanya panjang kali lebar kali tinggi.
“Sesuatu untukku?” aku menagih ucapannya.
Dia adalah satu-satunya orang yang cukup berani atau gila—aku tidak tahu bedanya—untuk menjadi satu-satunya orang yang mau berteman denganku atau entah nasib buruknya karena dia tetangga paling dekat rumahnya denganku dan yang seusia denganku.
“Sabar, Gadis Korek Api... Keajaiban sudah kugenggam, di sini,” dia menunjuk pelipisnya—maksudnya adalah di dalam kepalanya atau otaknya, “Dan di sini...” dia menunjukkan sebatang kuas yang ia sebut-sebut bertuah. “Kevlar Cohan harus melakukan sebuah ritual sakral terlebih dahulu...”
Rasa percaya diri yang stoknya tidak akan pernah habis seumur hidupnya itu kentara sekali seperti kilat cemerlang di mata hitamnya. Seringai yang membuat wajahnya jenaka belum lepas saat dibukanya peti kayu berisi kaleng-kaleng kecil berisi cat warna-warni yang dia buat sendiri. Dia duduk bersila sambil mengangkat tangan ke udara. Kuas itu dia junjung tinggi-tinggi. Mulutnya berkomat-kamit entah berdoa, membaca mantra atau senam mulut.
Aku mendengus. Antara ingin tertawa dan atas tingkah konyolnya ini, aku ingin memencet hidung mancungnya yang kemerahan atau menjambak rambut hitamnya yang mencuat berantakan karena telat dipotong.
“Kev...”
Tidak ada sahutan.
“Kev...”
Masih tidak ada sahutan. Aku menggeleng tak habis pikir dan menahan tawa di tenggorokan. Sejenak lupa pada meja makan baru yang mungkin sekarang sudah mengisi ruang kosong di dapur.
Tapi matanya masih rapat terpejam dan mulutnya yang kemerahan terus bersenam ria, tangan dan kuas mengudara tanpa kutahu sampai kapan dia akan bertingkah seolah ia syaman yang sedang menjemput wangsit.
Sejak kecil ia memperlakukan kuasnya seperti jimat. Jika anak-anak laki-laki lain menyimpan mainan robot-robotan atau mobil balap ber-remote control, Kev punya kuas dari kayu pinus yang ujungnya rambut ekor unicorn dan dulu aku percaya begitu saja. Tapi tentu saja itu tidak mungkin.
Mendadak Kev melonglong seperti kerasukan werewolf dan melompat menjemput dinding di sampingnya. Tangannya mencelupkan kuas ke aneka warna cat dan menari-nari di permukaan dinding. Aku dibuatnya tidak mampu berkedip.
Tarian kuasnya meliuk-liuk meninggalkan jejak warna yang begitu hidup. Dan dalam sekejap hadirlah sosok baru di dinding kamarku. Sosok gagah itu adalah naga bersisik perak dengan mata indigo menatap tajam. Rahangku nyaris lepas dibuatnya. Ratusan kali aku menceritakan wujud naga itu pada Kev dan tak terhitung lagi berapa kali aku bermimpi tentang naga perak itu.
“Bagaimana?”
“Mengerikan... i-ini...” gagapku.
“Ngomong-ngomong, sama-sama, lho...”
Sambil membiarkan catnya mengering, aku dan Kev berbaring bersisian di lantai dan memandangi mural-mural itu. Penyulapan dinding kamarku menjadi kanvas Kev sudah dimulai sejak enam tahun lalu tepatnya setelah ia menghuni rumah di samping rumahku. Hasilnya, tak secuilpun dinding kamarku yang belum terjamah oleh kuasnya.
“Kev, aku takut...” suara rendahku meletup lirih seperti gelembung sabun.
“Selama enam belas tahun dan mungkin selama kau hidup, ketakutan itu tidak akan hilang...”
“Maksudmu selamanya aku harus hidup dalam ketakutan?”
Kev mendesah, “Kau selalu menyela. Dengarkan dulu...”
Dia memiringkan tubuhnya ke arahku. Mau tak mau aku pun melakukan hal yang sama. Kami di atas lantai berbaring berhadap-hadapan. Matanya yang hitam kelam membungkus seluruh perhatianku. Mata itu adalah salah satu dari sedikit tempat dimana aku bisa merasakan rasa aman.
Mata itu juga yang pertama kali kulihat saat aku tersadar di ranjang rumah sakit. Harusnya aku panik karena tidak ada Mama atau Papa di sampingku melainkan seorang bocah laki-laki dengan rambut berantakan dan mata lebarnya yang berkilat penasaran melihatku.
Di hari pertama kami bertemu, dia tidak menanyakan siapa namaku melainkan, “Apa yang terjadi dengan rambutmu?”
Kupegangi kepalaku. Tidak seharusnya orang lain melihatku tanpa penutup kepala. Tapi anak ini memandangiku dengan wajah polos dan tanpa niat mengejekku seperti anak-anak lain, justru kalau aku tidak salah sangka, dia mengagumiku. Katakan aku narsis, terserah.
“Sudah begini sejak lahir,”
“Wah, kau beruntung sekali. Rata-rata manusia hanya punya satu jenis warna rambut tapi kamu punya dua warna. Jingga dan putih kebiruan. Berkilauan! Dan lihat! Keriting dan lurus! Dua dan keduanya sangat indah,” imbuhnya.
Seiring waktu aku pun tahu mengapa Kev tertarik pada rambutku. Sebagai pelukis, jelas sekali ia bisa dikategorikan sebagai penyembah warna. Sebelumnya tidak ada yang memuji rambut anehku selain Mama dan Papa.
Tangan kecilnya yang menggenggam sebatang kayu yang keesokan harinya kutahu adalah kuas azimatnya terjulur ingin menyentuh rambutku. Tapi kehadiran Mama dan Papa pun membatalkan keinginannya itu karena Papa langsung menanyainya bagaimana bisa dia masuk begitu saja ke kamarku dengan nada selidik dan tegas cenderung galak.
“Saya dan nenek saya baru pindah ke Jalan Olivens, Tuan. Karena perjalanan teramat jauh dari Alaska, nenek saya kambuh asmanya dan dirawat di kamar sebelah. Saya sedang mencari suster ketika melihat oh—siapa nama putri Tuan?—dia berusaha bangun...”
Mama dan Papa mengangkat alisnya seraya bertukar pandangan. Mungkin antara terkesan dengan kesopanan si bocah asing itu dan ragu untuk percaya pada anak-anak.
“Siapa namamu, Nak?” tanya Papa sambil merendahkan pundaknya dan bertopang pada kedua lututnya.
“Kevlar Cohan, Tuan. Jalan Olivens nomor 16,” dia mengulurkan salaman.
Papa tersenyum, “Erick Frost. Ini istriku, Eleanor dan gadis manja itu namanya Shimmer,”
Saat itu aku ingin menenggelamkan diri di balik selimut karena takut mereka melihat wajahku yang semerah semangka.
“Dan sungguh sulit dipercaya jika ini kebetulan. Rumah kami juga di Olivens. Normor 18,” imbuh Mama.
“Bagus sekali! Kita bertetangga! Dan tepatnya rumah kita berdampingan!” serunya kegirangan seolah bertetangga dengan keluargaku setara dengan bertetangga dengan selebriti. “Oh ya. Rambut Shimmer indah sekali. Bolehkah saya menggambarnya?”
Rona hidup di wajah Mama dan Papa mendadak lenyap seketika. Kemudian Papa meminta Kevlar kembali ke kamar neneknya tapi anak itu bersikeras tinggal untuk membuat sketsa wajahku. Papa dengan kasar merampas buku sketsanya dan itu cukup membuatnya takut dan berlari terbirit keluar dari kamar. Aku menatap Papa dengan wajah protes. Lagi-lagi aku kehilangan kesempatan untuk memiliki teman. Tapi keesokan paginya pintu rumah kami diketuk dengan semangat. Kevlar berdiri dengan percaya diri sambil tersenyum lebar. Bukannya meminta buku sketsanya dikembalikan, justru dia menggambar seharian di dalam kamarku tepatnya di dinding kamarku.
Mata itu seperti sumur kenangan, sedetik aku lengah menatapnya aku pasti tersedot dalam ingatan masa kecil kami. Aku mengerjap. Mulai sesak napas.
“Apa kau tidak takut? Aku bisa saja melukaimu kapanpun...”
Ia terkekeh, “Tapi tidak kau lakukan, kan? Sungguh rugi aku jika aku takut pada keindahan yang istimewanya cuma aku yang bisa melihatnya. Dan kau lupa, tidak ada yang bisa menyakitiku,”
Dia itu selain seniman sinting juga mengidap penyakit tukang gombal yang kronis. Efek terlalu banyak buku fiksi yang dia konsumsi. Dan mungkin itulah alasannya mengapa ia sama sekali tidak kabur atau hanya menggigil ketakutan saat menyaksikan aku ‘kambuh’. Dia terlalu banyak menelan cerita fantasi sehingga keanehanku ini justru menarik untuknya.
“Justru aku merasa sangat tidak berguna. Aku beban. Aku adalah...”
“Shimmer, tidak cukupkah dengan bersyukur atas apa yang kamu punya?”
“Kamu menyelaku,” protesku. “Bersyukur? Kev, aku tidak bisa melihat dari segi mana kemonsteranku patut disyukuri...”
Ia mendesah panjang, “Itulah masalahmu. Kau selalu tidak bisa melihat,”
Itu membungkamku. Sungguh-sungguh membungkamku sehingga beberapa menit kemudian kami hanya diam.
“Hanya masalah waktu. Semuanya tergantung waktu. Cepat atau lambat kamu pasti tahu mengapa kamu memiliki keistimewaan,” ujarnya memecah hening.
Keistimewaan yang lebih tepatnya disebut kutukan mengerikan. Tapi aku tidak mengatakannya langsung karena itu hanya akan membuat Kev sebal dan ketika Kev sebal tidak ada yang lebih menyebalkan melihatnya sebal.
“Kuharap aku normal... wajar... biasa...” ujarku dengan nada mengeluh.
Aku pernah membaca tentang radikal bebas, disfungsi gen, mutasi DNA, radioaktif, sinar gamma... Namun menurutku ada hal yang lebih dahsyat daripada ledakan nuklir untuk menghasilkan makhluk aneh sepertiku. Papa menolakku membawa ke laboratorium untuk di rontgen atau di scan untuk apapun. Dirinya yang ilmuwan sejati malah yakin aku istimewa karena aku memang istimewa. Diimaninya ide itu tanpa dukungan fakta ilmiah seperti kalanya ia bergelut dengan sains.
“Bosan mendengarnya...” seloroh Kev tak peduli. Itu membuatku urung memperpanjang keluhanku. Lagi-lagi sunyi terhampar seperti karpet yang membentang di antara kami.
Hanya mural-mural itu yang tampak ramai berisik dan berjejalan seolah makhluk-makhluk ciptaan Kev berdesak-desakan ingin keluar dari dinding. Sejauh mata memandang ada aneka macam ekspresi dan cerita dari doodle hitam putih di sisi dinding dekat jendela. Berpindah ke sisi dinding yang lain ada tiga sosok utuh figur yang memiliki nama unik. Sosok yang pertama adalah Crystalica, yang digambarkan Kev sebagai peri air baik hati. Rigel Konstantin adalah nama pemuda gagah bertampang agak sombong dengan rambut menyala merah, sosok itu memegang sebilah pedang teracung ke udara. Yang terakhir adalah sosok lelaki tua berjanggut putih dengan wajah bijaksananya yang keriput dalam balutan stelan berjubah yang rapi, Aldrin Clavius begitu Kev menyebutnya.
Dulu aku protes besar-besaran pada Kev karena memenuhi kamarku dengan makhluk khayalannya yang tidak kumengerti. Membuat rasa percaya diriku sebagai manusia biasa perlahan terkikis.
“Segalanya yang bisa kamu imajinasikan itu nyata,”
“Pablo Picasso. Bosan mendengarnya,” sanggahku.
Terdengar decak lidah kesal, “Imajinasi adalah satu-satunya senjata dalam perang melawan kenyataan,”
“Alice in Wonderland... aku mau muntah,”
“Nah, itulah masalahnya. Kau selalu tidak bisa melihat. Shimmer, jika sulit mempercayai bahwa kamu senormal orang lain, mengapa tak kamu coba berimajinasi saja sesuai dengan keinginanmu?
“Sepertimu? Kamu mau aku jadi semacam autis?”
Kev menepuk keningnya frustasi. “Memang berbicara dengan ilmuwan saklek sungguh tidak mudah,”
“Ilmuwan saklek?”
“Yap. Saklek dan kaku. Einstein saja pasti kasihan padamu,”
“Kenapa bawa-bawa Einstein segala? Kamu mungkin bergelar Ph.D untuk Bidang Imajinasi dan Filsafat Dunia Fantasi, tapi aku hanya ingin mendapatkan kehidupan normal sewajarnya remaja sepelantaran kita dan tentu saja aku ingin kehidupan itu NYATA dan BUKAN imajinasi belaka!”
Kev membisu dengan wajah yang sulit diartikan. Aku pun tidak berharap dia menanggapi lagi.
“Aku hanya ingin keluar dari rumah. Ada triliyunan manusia berbeda di dunia ini dan aku tidak ingin definisi manusia menyempit hanya diwakili Mama, Papa dan kamu. Aku ingin lebih hidup,”
Kulihat sorot mata hitamnya meredup, tampak ada perasaan terluka di perubahan sorot matanya itu.
“Aku masih punya sesuatu yang lain untukmu,” ujarnya setelah baru saja kukira ia tertidur di tempatnya. Dua buah buku tebal dia keluarkan dari ranselnya. Membuatku tidak bisa menahan senyum. “Kali ini jangan buat semuanya benar, sisakan beberapa dengan jawaban yang salah. Aku bisa mati berdiri di depan kelas karena disuruh Mrs. Diana menjelaskan reaksi fusi dan fisi karena esaiku, maksudku esaimu, menurutnya sangat bagus,”
Tawaku meledak tidak terkendali membayangkan wajah Kev berubah-ubah warna saking paniknya saat itu persis seperti bunglon terkejut.
“Andaikan aku bisa ikut duduk di dalam kelas itu, aku pasti bisa melihat ekspresi kepingin mati di wajahmu,”
“Sialan!”
Kami larut dalam buncahan tawa. Sementara aku mulai berkutat dengan rumus-rumus Fisika di buku PR-nya, Kev mengeluarkan azimat keduanya setelah kuas itu, buku sketsanya. Buku bersampul perkamen usang yang sempat dirampas Papa.
“Kamu hanya boleh bertemu Shimmer jika kamu mau berjanji satu hal pada kami,” kata Papa dengan nada diplomatis yang tegas. Saat itu Kev duduk di ruang tamu berhadapan dengan Papa dengan buku itu di antara mereka. “Jangan pernah mencoba menggambar Shimmer. Dan jangan pernah membicarakan apapun tentang Shimmer kepada siapapun,”
Usia Kev saat itu sama denganku, sepuluh tahun dan selama enam tahun berikutnya hingga detik ini ia masih memegang teguh janji itu.
Tapi justru akulah yang meragu, meragu pada diriku sendiri. Aku merasa lelah bersembunyi.