Hormones The Series 3 (2015)
KIROKAZE
The Bright Sessions
Fai_Ryy
NASA
â
art blog(derogatory)
Doug Jones
Color Me Curious
EXPECTATIONS
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

shark vs the universe
No title available
đ©” avery cochrane đ©”
occasionally subtle
tumblr dot com
hello vonnie
Cookie Run:Kingdom Official!
No title available
Interview Vampire Daily

oozey mess

seen from TĂŒrkiye

seen from Singapore

seen from Bangladesh
seen from United States
seen from Brazil

seen from United States
seen from TĂŒrkiye
seen from United Kingdom
seen from TĂŒrkiye

seen from Thailand

seen from United States
seen from India
seen from United States
seen from United States
seen from Brazil
seen from United Arab Emirates

seen from United States
seen from Italy

seen from Saudi Arabia

seen from Singapore
@siapapun
Hormones The Series 3 (2015)
Abaikan
Entah kenapa orang-orang lebih tertarik kepada malam, gerimis, hujan, dan rembulan untuk menunjukkan kegalauannya. Padahal masih banyak hal yang bisa menginterpretasikan sebuah kegalauan, misalkan gelas, sikat gigi, teras rumah, dan pohon beringin.
Lagi kangen rumah.
Let go of what you think you knowâŠ
ELEGI UNTUK KENANGAN
 âHati-hati, Dek..â ujarmu sambil mengacak-acak rambutku yang sudah kutata rapi.
Kereta sudah datang. Selama delapan jam ke depan aku akan mengarungi perjalanan menuju kota asalku, Yogyakarta. Ah, bukan hanya kota ini yang akan kutinggalkan, melainkan juga kamu, Kak.
Di dalam kereta, memoriku kembali ke masa itu, masa ketika Tuhan mempertemukan kita, setahun yang lalu.
Saat itu aku sedang menjadi MC di acara pembukaan sebuah hotel, dan kamu hadir sebagai salah satu tamu undangan. Setelah acara berakhir, salah satu teman menghampiri dengan maksud ingin mengenalkanmu padaku. Lewat perkenalan singkat, aku mengetahui bahwa kamu merupakan perwakilan dari hotel yang sama yang sudah terlebih dahulu berdiri di kotamu, Bandung.
Akhirnya kamu memutuskan untuk tinggal selama tiga hari di Yogyakarta. Dan selama itu pula, tidak sulit bagi kita untuk saling membaca pertanda. Resmilah kita berdua menjalin sebuah cinta.
âKamu siap untuk LDR?â katamu sambil menatap lekat kedua mataku.
Aku tersenyum, balas menatap. Kuraih kedua tanganmu, dan mendekapnya dengan kedua tanganku. Hangat.
Menjalani sebuah hubungan jarak jauh tidak semudah seperti yang kubayangkan. Sering kali jarak menjadi penghalang di saat aku butuh dekapan. Dan telapak tangan menjadi satu-satunya harapan yang bisa kugunakan untuk mencapai kepuasan.
Masalah bergantian berdatangan. Pernah suatu waktu aku memutuskan untuk menghentikan komunikasi denganmu. Biasanya, kamu selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke Yogyakarta setidaknya sebulan sekali. Entah karena alasan apa, saat itu kamu membatalkan janji untuk bertemu, dan acara kejutan peringatan tiga bulan hubungan kita pun terpaksa aku batalkan.
Walau begitu, kemarahan tidak pernah berlangsung lama. Atas nama rindu, selang beberapa hari, kita berdua akan saling memaafkan dan keadaan akan kembali seperti semula-seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Perjalanan cinta kita lewati dengan penuh suka dan duka. Tidak jarang terlintas dalam benakku untuk mencari cinta yang lain yang ada di kota yang sama. Namun semua niat buruk tidak pernah terlaksana, aku selalu kembali kepada satu cinta dan mengikrarkan diri untuk setia. Aku bahkan sempat memiliki harapan-harapan besar terhadapmu. Melihat sikapmu yang begitu manis, meyakinkanku bahwa hubungan cinta kita akan selamanya, setidaknya bertahan lama. Semua berjalan apa adanya. Sampai akhirnya terjadi sesuatu yang tak kuduga.
Dua hari yang lalu, secara mendadak kamu menyuruhku untuk menemuimu di Bandung. Setelah kuselesaikan semua pekerjaan, aku bergegas membeli tiket pesawat dan malamnya langsung berangkat.
Di sebuah kamar hotel kita saling melepas rasa rindu. Sekilas kulihat ada sesuatu yang berbeda dari matamu.
âSebenarnya ada apa?â aku memulai pembicaraan.
âAku gak tau harus mulai dari mana...â
Setelah melewati basa-basi yang lumayan berbelit-belit, akhirnya kamu memberitahuku bahwa kamu akan menikah. Dan aku harus menerima kenyataan bahwa selama ini, aku tidak menjadi satu-satunya kekasihmu. Ada dia, perempuan yang sudah hampir lima tahun menjalin hubungan serius denganmu.
Kamu tak henti mengucap kata maaf dan berulang kali menjelaskan bahwa kamu lebih mencintaiku daripada dia. Aku sempat berkeinginan untuk pulang ke Yogyakarta saat itu juga, namun pelukanmu berhasil mengurungkan niatku, aku luluh di hadapanmu.
Malam itu kita kita terjaga sampai pagi. Membicarakan akan dibawa kemana hubungan kita selanjutnya.
 âAku gak mau kehilangan kamu,â katamu sambil mengecup tanganku.
âEgois!â Aku tersenyum pahit
âKamu bisa anggap aku sebagai kakak kamu, gimana? Yang penting kita jangan sampai putus komunikasi...â
Aku mengutuk diriku sendiri yang sudah terlalu naif menyimpan harapan-harapan terhadapmu. Dan sekarang aku menyadari bahwa harapan-harapanku hanyalah mimpi belaka.
Jujur, aku pun tidak siap jika harus sepenuhnya lepas darimu. Dengan segala pertimbangan, aku menyetujui usulmu untuk melabeli hubungan kita berdua sebagai 'saudara'.
Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela. Hari sudah mulai gelap. Sebentar lagi aku sampai di Yogyakarta.
*****
Hari ini tepat dua tahun peringatan hari jadian kita, seharusnya. Kesepakatan untuk menjadi âsaudaraâ rupanya hanya bualan belaka. Semenjak kamu menjadi seorang suami, secara perlahan dan teratur, kamu semakin jarang menghubungiku. Dan selama itu pula, hari demi hari aku berusah untuk mengubur perasaanku sendiri: perasaan disertai harapan bahwa kamu akan kembali, setidaknya berbagi kabar lewat pesan atau telepon. Bagaimana pun juga, kamu sempat menjadi seseorang yang berarti bagiku, di anatar rasa sakit yang telah kauberi, ada beberapa hal manis yang pantas kuucapi terima kasih. Selebihnya, aku hanya perlu waktu untuk mengeringkan luka-luka yang ada di hati. Hanya salam perpisahan yang bisa kuucapkan, bukan kepadamu, tetapi pada kenangan kita.
Kau terindah...
Kan s'lalu terindah...
Aku bisa apa tuk memilikimu...
JAM 2 DINI HARI
Dengan sangat pelan aku membuka jendela kamar dari dalam. Mengganjal pangkalnya dengan botol lotion supaya jendelanya terbuka lebar. Aku kemudian mengangkat satu kakiku dan menjejakkannya di luar, lalu kaki kedua, dan... hap! sekarang aku sudah berada di luar kamar. Beruntung kamar tidurku tidak berada di lantai dua, sehingga dengan mudah aku bisa melakukan hal seperti ini. Aku tersenyum penuh kemenangan.
Aku mengendap-endap melewati halaman depan. Menjinjing sebuah tas yang di dalamnya terdapat pakaian untuk kupakai nanti. Saat aku sudah berada tepat di belakang gerbang rumahku, tidak sengaja aku menengok garasi yang pintunya terbuka sedikit Dan, oh, ternyata mobil papa dan mama belum ada. Sial, tahu gitu ngapain gue ngendap-ngendap. Aku berpikir sejenak, daripada aku repot-repot memanjat gerbang, lebih baik kuputuskan untuk kembali ke kamarku.
Sesampainya di kamar, aku menelepon seseorang yang sepertinya sudah kesal karena cukup lama menungguku, Thian.
âSayang, tunggu sebentar lagi, ya!â
âKenapa lagi, sih?â
âAku mau ganti baju dulu.â
âLoh, katanya mau manjat pagar, ngapain genti baju?â
âMama sama papaku belum pulang. Aku mau langsung pakai baju aja, terus bangunin Mbok Inah buat bukain gerbang.â
âYa uudah, nggak pake lama!â Thian menutup teleponnya.
Dengan sigap aku membuka kaos dan celan pendekku, dan dalam sekejap, tube dress berwarna merah gelap sudah melekat di tubuhku. Aku lalu menuju kamar pembantu untuk memintanya membukakan pintu gerbang.
âMaura... Kamu cantik sekali, Sayang...â ucap Thian saat aku membuka pintu mobilnya dan duduk di sampingnya.
âMau kemana dulu kita?â Tanyaku sambil tersenyum manja.
âRasanya aku berubah pikiran. Club terlalu membosankan. Bagaimana kalau... hotel?â Senyum Thian mengisyaratkan sesuatu. Telapak tangan kirinya mendarat di paha kananku.
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, ponselku bergetar. Ada sms, aku kaget membaca nama pengirimnya. Namun akhirnya rasa lega menghampiriku setalah membaca isi sms tersebut. Aku lalu mengedipkan sebelah mata kepada Thian.
Mobil pun melaju dengan kencang.
Ku ingin bercinta dengan dirimu
Habiskan malamku
Menikmati hembus cintamu
Di sekujur ragaku
*****
Meeting akhirnya berakhir. Baru kali ini aku mengikuti meeting yang menghabiskan waktu sampai larut malam. Aku menggeliat meregangkan otot-otot yang kaku. Satu per satu rekan kerjaku berpamitan pulang, menyisakan aku dan seorang teman kantorku yang masih berkutat dengan laptop-nya.
âMasih ngapain, Tan?â Tanyaku kepada Tania.
âBiasa. Ada yang harus direkap. Tapi sebentar lagi selesai kok.â Dia menjawab tanpa melihat ke arahku.
âKerjain di rumah aja, udah malam.â Usulku sambil membereskan barang-barangku.
âIya, ini udah kok.â Katanya sambil menutup laptop.
âKamu pulang kemana?â
âBuah Batuâ
âBawa mobil?â
âNggak...â
âLah, terus?â
âBanyak taksi.â
âBareng, yuk!â
Dia tersenyum sambil menatapku. âMas Rizal serius?â
Mobil melaju perlahan melewati jalanan Bandung yang sudah tidak ramai. Aku dan Tania mengobrol panjang lebar. Walau usianya jauh lebih muda dari aku, tetapi kami cukup akrab. Sudah lama aku menyadari ada yang berbeda dari mata Tania jika mata kami bertemu. Tidak sulit bagiku untuk menebak isi hatinya. Dan kesempatan itu akhirnya datang juga.
âKamu mau langsung pulang?â Aku bertanya kepada Tania di sela-sela obrolan kami mengenai topik tentang pekerjaan.
âMemangnya mau kemana lagi malam-malam begini?â Dia terkekeh.
Aku melirik ke arahnya. âDi depan banyak hotel bagus loh, Tan...â
Dia mengehela napas panjang dan memalingkan mukanya ke arahku. Tatapannya menggairahkan.Â
Aku tersenyum lalu mengambil ponsel hendak mengirim sms kepada seseorang, namun urung karena orang yang akan kukirimi sms sudah terlebih dahulu mengirimkan sms-nya kepadaku. Aku melebarkan senyum ketika membaca sms tersebut.
Ku ingin bercinta dengan dirimu
Habiskan malamku
Menikmati hembus cintamu
Di sekujur ragaku
*****
Tidak biasanya jam segini aku masih berada di luar dan belum pulang ke rumah, terlebih berada di sebuah kafe seperti ini. Namun malam ini merupakan malam yang cukup penting. Reuni SMA-ku tidak terjadi setiap tahun, jadi aku memaksakan diri untuk ikut dan bergabung, walau jarum jam sudah lewat dari angka dua belas.
Setelah cukup puas berbincang-bincang dengan kawan-kawan lamaku, aku menuju ke toilet untuk menuntaskan hasratku yang sudah kutahan sejak tadi. Begitu akan memasuki pintu toilet perempuan, tiba-tiba ada yang memanggilku dari arah depan pintu toilet pria.
âDiana!â Suara itu terdengar berbisik namun jelas.
Aku mengernyitkan dahi. âTony?â Mataku menyipit untuk meyakinkan bahwa aku tidak salah orang.
Dia mengangguk dan mengiyakan. Ya, dia adalah Tony. Teman masa SMA-ku yang sangat akrab denganku. Ummm, tidak tidak, aku harus mengakui ini, lebih tepatnya dia adalah mantanku ketika kelas tiga dulu.
Kami bersalaman dan saling bertanya kabar. Aku lalu memberi isyarat kepadanya untuk menungguku karena aku sudah tidak tahan ingin pergi ke toilet.
Setelah menuntaskan hasratku, dia mengejakku untuk mengobrol di lantai dua kafe ini. Keadaan tidak cukup ramai, hanya ada beberapa orang yang memang sengaja duduk di ruangan untuk mendapatkan suasana yang lebih tenang. Kami duduk di sebuah sofa yang menghadap ke jendela luar.
Dari obrolan kami, aku mengetahui bahwa Tony adalah seorang duda yang baru delapan bulan ditinggal oleh mendiang istrinya. Sekarang dia tinggal bersama kedua anak laik-lakinya yang sudah remaja, mungkin seumuran dengan anak perempuanku.
Ah, mantan kekasihku ini masih terlihat muda. Entah karena disebabkan oleh rasa rindu, aku malah menatap lekat kedua matanya.
âMau pulang jam berapa?â Tanyanya sambil menengok jam tangan. Dia menyadariku yang sedang memerhatikannya.
âKamu?â Aku malah balik bertanya.
Dia tersenyum lalu membisikkan sesuatu. âAku kangen kamu...âBisikan itu sama-sama kami pahami, memliki maksud tertentu.
Kami berdua menuruni tangga dan keluar dari kafe menuju parkiran. Sebelum memasuki mobil, aku merogoh ponselku dari dalam tas dan mengirimkan dua buah sms ke dua nomor yang berbeda.
Pa, mama sepertinya akan pulang pagi. Acara reuninya masih belum selesai. I love youâŠ
Maura, jangan tidur malam-malam. Reuninya belum selesai, mama pulang malam. I love youâŠ
Dengan menggunakan mobil yang berbeda, aku mengikuti mobil Tony dari belakang.
Ku ingin bercinta dengan dirimu
Habiskan malamku
Menikmati hembus cintamu
Di sekujur ragaku
*****
Jam 2 Dini Hari
Maura menggelayut manja kepada Thian dan keduanya beringsut memasuki lift saat pintunya terbuka.
Rizal melepaskan tangan Tania yang sejak tadi dipegangnya ketika melihat punggung seorang anak perempuan di dalam lift sebelum pintunya merapat sepenuhnya.
âTony, lebih baik kita ke hotel yang lain saja.â Suara Diana gemetar setelah melihat sepasang lelaki dan perempuan sedang berdiri di depan lift. Dia lalu menarik tangan Tony dan mengajaknya pergi bahkan sebelum sampai ke meja resepsionis.
MENIMANG RINDU
Sudah hampir selama dua minggu aku melakukan aktivitas ini. Berdiri di pintu gerbang  sekolah TK, menyaksikan anak-anak kecil bermain dan tertawa. Pemandangan yang indah.
Wajah-wajah manis tanpa dosa itu sesekali berkerut atau terlihat kesal ketika  dijahili temannya. Jika sudah begitu, mereka berteriak manja memanggil ibunya yang setia mengawasi di sekitarnya. Andai aku pun punya anak, aku pasti akan ikut berjejer bersama ibu-ibu itu, mengawasi buah hati yang sedang bermain.
Sudah jam sepuluh pagi. Aku tersenyum pahit dan menghela napas dalam-dalam. Sambil berjalan meninggalkan area sekolah, aku memasang headset di telingaku, memutar lagu favorit sebagai ungkapan rasa rindu akan kehadiran seorang anak.
Timang-timang anakku sayang
Jangan menangis, bapak di sini
Timang-timang anakku sayang
Jangan menangis, bunda bernyanyi
***
Pagi ini kita bertengkar lagi. Penyebabnya adalah aku yang memulai pembicaraan soal keinginanku untuk mempunyai anak. Aku tidak mengerti kenapa kamu selaku suamiku selalu marah saat aku mempertanyakan hal tersebut.
Sebagaimana pasangan lain, aku pun ingin merasakan mengurus anak. Teman-teman seusiaku hampir semua sudah mempunyai anak. Sedangkan kita, sudah hampir dua tahun hidup bersama, tetapi rasanya aku masih harus menyimpan dalam-dalam keinginanku.
Pernah suatu hari aku mendengar percakapanmu dengan ibumu lewat telepon. Kelihatannya ibumu ingin segera menimang cucu, namun kamu selalu berkelit dengan alasan akan fokus dulu pada pekerjaan. Ingin sekali rasanya aku rebut telepon itu dan berbicara kepada ibumu, tetapi aku sadar hal itu hanya akan menimbulkan masalah yang lebih besar.
***
Tiga jam berlalu aku habiskan di depan komputer, mengobrol bersama teman-teman di sebuah forum yang membahas persoalan yang sama seperti yang aku alami sekarang. Aku mengeluh dan bercerita tentang kondisi kehidupanku bersama kamu. Setelah kuceritakan semuanya, akhirnya tidak sedikit dari mereka yang menyarankan supaya kita mengadopsi seorang bayi.
Sepulangnya kamu dari kantor, aku menyambutmu dengan hangat. Setelah mandi dan berganti pakaian, kamu bergegas menuju tempat tidur. Lelah sekali, katamu.
Aku mendekati dan berbaring di sisimu. Kamu melingkarkan tangan di leherku dan mencium keningku.
âMasâŠâ Suaraku tertahan.
âYa?â Kamu menengok, memperlihatkan gurat wajah yang keras namun tetap manis, dan aku selalu terpesona olehnya.
âBagaimana kalau kita mengadopsi seorang bayi?â Aku menengadah, resah menunggu jawabanmu. Suasana kamar mendadak terasa lebih hening daripada biasanya.
Lagi-lagi rupanya kamu tidak setuju dengan usulku. Katamu kamu kuatir akan masa depan anak tersebut. Padahal, apa yang perlu dikuatirkan? Kamu bekerja sebagai pegawai sipil di lingkungan bea cukai, dan aku seorang designer yang sebentar lagi membuka cabang butik di dua kota besar. Rasanya kita tidak akan menemui kesulitan mengenai uang dan biaya.
âMas, tidak maukah kamu mendengar suara tangisan bayi di rumah kita? Menyaksikan pertumbuhannya, merangkak, berjalan, berbicara? Lalu menyekolahkannya ke TK, SD, SMP, SMA, melanjutkan kuliah, dan membuat kita bangga saat ia menjadi dokter, polisi, model atau selebritis? Melihatnya mempunyai pacar, menikah, lalu menghadiahi kita cucu? Dan di saat kita tua kelak, apakah kamu tidak ingin dirawat atau setidaknya ditengok oleh anak sendiri?â Aku bereteriak dan menangis sejadi-jadi.
Kamu menatapku tajam seolah-olah tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan. Dengan beringsut, kamu beranjak dari tempat tidur.
âMas Bram, sampai kapan kamu menolak untuk mempunyai anak?â Aku merajuk, berusaha memeluk dan menarikmu kembali.
 âAku kan sudah bilang, keinginanmu itu terlalu beresiko. Please, mengertilah, Reno!â Kamu berusaha melepaskan pelukanku sebelum akhirnya kamu membanting pintu kamar dan meninggalkanku dalam kesedihan.
CINTA DILLA
"Kapan nih, Anda akan mengakhiri masa lajang?"
Sudah sekian ratus kali pertanyaan semacam itu ditujukan padaku. Tidak dari seorang teman ketika permainan Truth of Dare, atau ketika wawancara yang dilakukan padaku seperti saat ini. Jika pertanyaan tersebut sudah dilontarkan, aku cukup memberi jawaban dengan senyuman, maka si penanya pun biasanya mengerti dan mengalihkan topik pembicaraan dengan melontarkan pertanyaan yang lain.
"Apakah Anda mempunyai masa lalu yang tidak bisa dilupakan sehingga sampai saat ini Anda belum terpikir untuk menikah, semacam cinta pertama yang sulit dilupakan?"
Apa-apaan ini?
Kali ini aku enggan untuk tersenyum. Akhirnya si pembawa acara menutup acaranya-yang-terkenal-dengan-pertanyaan-kurang-ajar-dengan kutipan dan gerakhan khasnya.
***
Aku bergegas meninggalkan gedung televisi tempatku menjadi bintang tamu di sebuah acara talk show barusan. Dengan langkah yang terburu-buru, aku memasuki parkiran bersama asistenku, Nancy.
"Non, kalau Non nggak suka, nanti saya akan menyuruh pihak televisi untuk tidak memasukkan daftar pertanyaan seperti itu lagi." Ucapnya sambil mengikuti langkahku. Tangan kanannya membawakan tas milikku, sementara tangan kirinya tak henti memasukkan roti ke dalam mulutnya.
Sebenarnya aku bisa saja memintanya untuk meniadakan pertanyaan tersebut. Tapi aku memilih untuk membiarkan saja mereka terus bertanya, dan biarkan saja jawabannya tetap menjadi misteri bagi mereka semua.
Ya, misteri bagi mereka yang selama ini mengagungkanku sebagai artis idola. Aku, Farah Dilla, Diva nomor satu di Indonesia yang sudah memiliki tujuh album yang sebentar lagi akan mengeluarkan album internasional yang di dalamnya terdapat tiga lagu ciptaan dari pencipta lagu penyanyi Hollywood yang..... Ah, aku tak sanggup menyebutkan 'yang' yang lainnya, karena ujung-ujungnya pasti akan menjadi seperti ini: yang sudah berusia 32 tahun yang sampai saat ini masih belum terlihat mempunyai kekasih.
"Sudahlah. Nggak apa-apa," Aku melirik Nancy sambil tersenyum. âAstaga, kamu ini makan terus, katanya mau diet buat menarik perhatian satpam apartemen kita?â Aku tergelak sambil memasuki mobil.
"Non, memangnya pacar pertama Non siapa, sih? Saya jadi ikut penasaran."
Mobil melaju perlahan. Aku mengabaikan pertanyaan Nancy dan mengalihkan pandangan ke luar, menikmati Jakarta ketika malam. Ada keresahan yang entah kapan akan berakhir.
***
Aku membasuh muka dengan air hangat, membersihkan sisa-sisa make-up dengan seksama. Duduk menghadap cermin, mataku lekat menatap seseorang yang ada di sana.
Cantik...
Semestinya tidak akan susah untukku mendapatkan lelaki jenis apapun, jika aku mau.
Tiba-tiba ada yang mengusik pikiranku, pertanyaan-pertanyaan itu mencuat kembali di otakku
Siapa cinta pertamamu?
*****
Aku berlari melewati gerbang, wajah satpam sekolah sudah menujukkan ekspresi yang sangat kukenal; pura-pura marah.
"Ditunggu Dji Sam Soe-nya nanti siang ya, Bos!" Ujarku pelan sembari mengerlingkan mata.
Hari ini hari terakhir ujian. Seebentar lagi aku akan menanggalkan seragam putih abu-abu. Aku senang bahwa aku sebentar lagi akan lulus dan melanjutkan langkahku untuk menggapai mimpiku di ibu kota. Namun tetap saja ada suatu hal yang mengganjal dalam hati dan otakku, kamu, seseorang yang selama tiga tahun ini sudah mengisi hari-hariku.
***
"Kamu yakin mau kuliah di Jakarta?" Kamu memulai pembicaran sambil membelai halus rambutku. Suasana seperti ini selalu menjadi momen favorit untuk kita berdialog.
Aku terdiam, sesekali menikmati aroma tubuh yang merebak dari dadamu.
"Ya sudah, kamu pikir-pikir dulu.â
Aku mengangguk sambil mengencangkan pelukanku. Kulit kami bersentuhan dan cinta kami menyatu.
âIstriku sudah menelepon menyuruhku pulang."
Aku tersenyum kecut. Sepertinya aku sudah salah menjalin hubungan denganmu; seseorang yang lebih tua 12 tahun dariku, dan... guruku. Tetapi siapa yang bisa melawan cinta. Kamulah yang mengenalkanku pada cinta. Bukan sekadar cinta monyet, sampai-sampai aku harus rela mengambil segala resikonya.
Haruskah merasa salah di diriku
Bila mencintaimu yang tâlah berdua
Seolah aku perawan cinta yang haus kasih
***
Hari kelulusan tiba. Aku menghubungi berkali-kali, tak ada jawaban. Aku pun hanya bisa menangis dalam diam saat mendengar kabar dari kepala sekolah saat memberi sambutan bahwa kamu baru saja dikaruniai seorang anak.
***
Hari Selasa bulan ketujuh tahun 2001. Bandara Sultan Hassanudin menjadi saksi resahnya seorang perempuan memutuskan untuk meninggalkan hati.
***
Sampai saat sekarang aku mejadi penyanyi, aku tidak mengetahui mengenai kabarnya. Dan inilah yang menjadi alasanku memilih untuk menyendiri. Jika dia menyaksikanku di televisi, setidaknya dia tahu bahwa aku masih mengingatnya, bahkan, menunggunya.
Tok tok tok âNon...â Suara nyaring Nancy memudarkan lamunanku.
âYa, ada apa?â
"Ada telepon untuk Non Dilla."
"Dari?"
"Nggak tahu. Katanya dari Makassar."
AKU DAN MERAH PUTIH
12 Agustus 2012
"HORMAAAAAT GRAK!" Semua orang mengangkat tangan, menyimpan telapaknya di pelipis kanan masing-masing sesaat setelah pemimpin upacara berteriak sekuat tenaga dengan nada dan intonasi yang sudah dilatih sedemikian rupa. Lagu Indonesia Raya pun kemudian dimainkan secara bersemangat oleh tim marching band.
Aku bersama 44 orang siswa yang terkumpul dari beberapa SMA terpilih di kotaku, sudah sekitar tiga minggu mendapatkan pelatihan. Kami merupakan pasukan pengibar bendera upacara hari Kemerdekaan Nasional pada tanggal 17 Agustus 2012 mendatang di alun-alun kota.
Aku ditunjuk sebagai danton, komandan peleton yang merupakan salah satu posisi  penting dalam pasukan karena semua komando ada pada diriku.
Tiga minggu aku lewati dengan senang hati. Meski tidak jarang rasa capai menghampiri, tetapi aku bangga, karena hal ini merupakan tugas negara.
 13 Agustus 2012
Pagi terasa lebih berat dibanding biasanya. Aku merasakan ada sesuatu yang tidak benar dengan diriku. Badanku terasa panas, keringat dingin tidak berhenti mengucur, dan kepalaku terasa begitu berat.
Satu jam lagi latihan akan dimulai. Aku tertatih menuju kamar mandi asrama. Tak kuhiraukan rasa sakit yang kuderita. Aku ingin tetap latihan.
***
Sore-sore usai latihan. Aku kehilangan konsentrasi. Menyadari bahwa kondisi tubuhku semakin tidak sehat, pikiranku dipenuhi oleh rasa takut. Menjadi pasukan pengibar bendera adalah mimpiku, hal inilah yang menyebabkan aku merahasiakan kondisiku dari orang lain. Aku takut jika ada orang lain yang tahu, posisi dantonku akan digantikan.
 14 Agustus 2012
Di tengah teriknya sinar matahari, aku tetap berusaha untuk berdiri tegak, berteriak dengan lantang, dan bergerak dengan langkah dan patahan yang pasti. Berkali-kali aku meyakinkan diri bahwa aku kuat. Aku seorang danton, danton tidak boleh lemah. Namun kemudian kedua mataku tiba-tiba seperti kehilangan fungsi. Pandanganku kabur dan seketika aku merasa seperti melayang.
 15 Agustus 2012
Mataku perlahan terbuka karena mendengar suara tangisan. Kutengok ke samping, terlihat seorang perempuan paruh baya, ibuku. Disampingnya ada seorang lelaki yang kukenali sebagai ketua tim pelatih pasukan pengibar bendera, Pak Burhan.
Samar-samar kudengar percakapan antara mereka berdua.
"Ini musibah bagi kita semua, Bu. Kami mengerti, tapi kami terpaksa harus menggantikan Pras dengan siswa yang lain sebagai danton. Kami tidak ingin memaksakan."
"Iya, Pak. Saya menyesal dengan kejadian ini. Saya tidak menyangka Pras akan mengalami typus."
Aku terkesiap. Aku baru menyadari apa yang terjadi pada diriku, ternyata semalaman aku tidak sadarkan diri.
"Bu..." Suaraku tertahan.
âPras, kamu sudah bangun, Nak?" Dengan segera Ibu menghampiriku.
"Izinkan Pras tetap ikut pengibaran, Bu. Ini mimpi Pras. Pras sudah berusaha dan berjuang untuk bisa sampai seperti ini.â
"Nak, tapi kamu,"
"Bu, Ibu sayang Pras, kan?" Aku terisak. âPak, Bapak percaya kan kalau Pras bisa?â Aku merajuk kepada Pak Burhan.
Tangis Ibu pun tumpah di dadaku. Aku menatap Pak Burhan dengan tatapan memelas. Ijinkan saya, PakâŠ!
Ibu dan Pak Burhan saling bertatapan. "Ibu akan berbicara dulu dengan dokter."
 16 Agustus 2012
Malam ini merupakan malam pelantikan. Aku datang ke aula kantor Pemerintah Kota ditemani Ibu.
Teman-teman memandangku haru.
"Hei, aku baik-baik saja." Ucapku sambil tersenyum kepada mereka.
***
Upacara pelantikan dimulai. Kami mengikuti lafalan sumpah yang dibacakan oleh Bapak Wali Kota. Kemudian masing-masing dari kami menciumi bendera merah putih. Tibalah bagianku, aku memegang ujung bendera dengan erat. Aku tak kuasa menahan air mata. Ini semua untukmu, Merah Putih...
 17 Agustus 2012
Hari ini merupakan hari yang sangat penting bagi kami, 45 siswa dari sekolah terpilih di kota ini. Peci hitam beraksenkan pin garuda, pakaian putih-putih, dan sepatu PDH membalut tubuh kami. Semua terlihat gagah.
"Pengibaran bendera merah putih diiringi lagu Indonesia Raya" suara pembawa acara menggema. Tidak pernah kurasakan rasa tegang seperti ini sebelumnya.
Aku memberi isyarat kepada pasukan untuk segera bersiaga. Setelah semua dirasa siap, aku memberi komando dan kami mulai memasuki lapangan.
Suara hentakan yang ditimbulkan oleh langkah kami menggema memenuhi alun-alun lapangan. Decak kagum mengiringi setiap doa dari setiap orang yang berada di sini.
***
Tiga orang siswa laki-laki sedang berjibaku di bawah tiang bendera, mengikat tali bendera ke tali tiang sedemikian rupa. Sempat kulihat wajah cemas dari Bapak Wali Kota yang bertindak sebagai pembina upacara.
"BENDERA SIAP!" Salah satu dari mereka dengan tegap membentangkan bendera.
"KEPADA BENDERA MERAH PUTIH HORMAAAAAT GRAK!" Pemimpin upacara memberikan aba-aba. Lagu Indonesia Raya pun menggema mengiringi kenaikan Bendera Pusaka.
Aku mengangkat tangan, memberikan hormat setinggi-tingginya kepada Sang Merah Putih. Namun tiba-tibaâŠ.. Tidak, tidak. Apa ini? Aku merasakan sesuatu yang tidak nyaman menyerang tubuhku, persis seperti beberapa hari yang lalu. Mataku berkunang-kunang dan panglihatanku tidak teratur. Sekuat tenaga aku berusaha berkonsentrasi. Ya Tuhan, sebentar lagi. Jangan sampai terjadi hal yang tidak kuinginkan.
"TEGAAAAAAK..." Belum sempat aku mendengar pemimpin upacara menyelesaikan aba-abanya, tanganku sudah jatuh terlebih dahulu, lutuku lemas, dan aku kembali melayang. Hanya suara riuh yang kudengar, lalu... hilang.
 18 Agustus 2012
Aku berdiri di antara dua pohon besar yang sudah tidak rindang. Daun-daunnya berjatuhan meninggalkan dahan dan ranting yang nampak kehilangan.
***
Betapa hatiku takkan pilu Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih Hamba ditinggal sendiri
Siapakah kini plipur lara Nan setia dan perwira Siapakah kini pahlawan hati Pembela bangsa sejati
Telah gugur pahlawanku Tunai sudah janji bakti Gugur satu tumbuh sribu Tanah air jaya sakti
Semilir angin melantunan sebuah lagu lirih sebagai tanda salam perpisahan. Orang-orang tertunduk merapal doa. Mataku lurus ke depan, menatap Ibuku yang sedang terisak sambil menyibak kain berwarna merah putih serupa bendera yang menutupi keranda jasadku.
Semua Demi Neneng
Suasana sangat riuh. Ratusan orang berkumpul di sini, sebuah area pesawahan yang disulap sedemikian rupa menjadi sebuah pasar malam. Hari ini malam terakhir. Seperti biasa, apabila malam terakhir tiba, pihak penyelenggara dan pemerintah setempat selalu mengadakan hiburan ekstra berupa orkes dangdut dari kota.
Berada di sebuah kampung di ujung selatan Jawa Barat yang sangat jauh dari kota, membuat masyarakat di sini haus akan hiburan. Tidak heran, apabila ada acara seperti ini, masyarakat tumpah dari berbagai desa, tidak ada yang mau ketinggalan.
Wahana-wahana permainan terlihat penuh sesak, suara musik berisik terdengar dari segala arah, pedangan-pedagang meneriakkan dagangannya dengan logat Jawa. Orang bilang pasar malam seperti ini biasanya memang berasal dari daerah Jawa, entah Jawa bagian mana.
Akan ada berapa puluh juta uang masayakat yang akan hilang karena nantinya âdiangkutâ oleh pihak penyelenggara. Masyarakat tidak peduli, apalah arti selembar-dua lembar uang berwarna hijau jika dibandingkan tawa anak-anak mereka yang kegirangan duduk di komidi putar. Begitu pula aku, peduli amat dengan hal-hal penting tersebut, malam ini ada hal lain yang lebih penting dari segalanya, hal yang telah kutunggu-tunggu sejak lama.
Aku menyusuri kerumunan manusia dengan senyum sumringah. Betapa tidak, artis dangdut idolaku akan manggung malam ini, di sini, di kampungku. Siapa lagi kalau bukan Neneng Gurilem, nama yang sudah tidak asing lagi, bukan? Aku mengidolakan dia semenjak kemunculan pertamanya di televisi ketika aku kelas 6 SD. Di samping suara dan penampilannya yang seksi, goyang ulek sambel yang menjadi ciri khasnya pun membuatku jatuh hati. Aku kemudian semakin tergila-gila saat sering merasakan geli yang tak terhingga menyerang pangkal paha ketika wajah dan goyangannya bermain dalam alam bawah sadarku. Dan kunyatakan secara resmi, bahwa dialah objek mimpi basah pertamaku.
Menginjak bangku SMP, hari-hariku selalu dipenuhi oleh bayangan Neneng. Fantasiku semakin merajalela. Hampir setiap malam aku meraup kenikmatan dengan balutan jemari dan lotion, sambil memandang mesra posternya yang terpajang di dinding kamar.
Hingga sekarang aku berada di tingkat SMA, jika ada yang bertanya siapa artis idolaku, dengan bangga dan cepat aku menyebut nama Neneng Gurilem. Ah, ya, aku juga mengucapkan terima kasih kepada sekolahku yang menyediakan mata pelajaran ICT sehingga aku bisa mencari dan memiliki lebih banyak foto dan infromasi mengenai idolaku ini, bahkan aku tidak segan untuk memasang fotonya dan mencantumkan namanya sebagai favorite singer di halaman Facebook-ku.
Untuk bisa mendapatkan album Neneng, aku selalu menyisihkan uang jajan. Neneng merupakan penyanyi dangdut yang paling eksis. Di saat penyanyi dangdut lain timbul dan tenggelam, dia masih eksis tampil di berbagai acara televisi dan konsisten mengeluarkan album setidaknya dua tahun sekali. Pun, di saat sekarang usianya hampir menyentuh kepala tiga, alih-alih keriput, Neneng malah terlihat semakin kencang dan semok.
Aku senang bukan main begitu mendengar bahwa Neneng akan mengunjungi kampungku. Namun ketika itu aku sempat dibuat kaget dengan selentingan kabar yang menyebutkan bahwa Neneng batal datang dikarenakan kurangnya dana. Maka dengan semangat yang menggebu, aku berinisiatif mengadakan pengumpulan sumbangan. Aku sampai rela bolos sekolah karena harus mendatangi rumah-rumah dan toko-toko untuk meminta pasrtisipasi. Demi apa? Demi Neneng.
Suasana bejubel tidak mematahkan semangatku untuk menuju barisan penonton paling depan, aku ingin melihat Neneng lebih dekat. Aku menggenggam erat seseuatu yang sudah kusiapkan dari rumah: sebuah amplop berisi surat dan CD rekaman suaraku sendiri yang menyanyikan sebuah lagu spesial untuk Neneng. Akan kulemparkan ke panggung pada saat Neneng menyanyi nanti.
Mungkin karena terlalu bersemangat, secara tidak sengaja aku menyenggol salah satu penonton, oh, tepatnya preman. Aku menengok hendak meminta maaf. Sebelum kata maaf keluar dari mulutku, satu hantaman keras mendarat ke pelipis kananku. Seketika suasana menjadi ricuh. Si preman berusaha untuk terus memukulku, namun beruntung aku ditarik oleh penonton yang lain.
Aku dibawa ke posko P3K dan disarankan untuk pulang. Tidak, aku tidak boleh pulang. Ini hanya sebagian kecil dari rintangan untukku supaya bisa bertemu dengan artis idolaku. Setelah kurasa aku kuat, aku kembali berjalan dan menerobos hiruk pikuk manusia.
Ketika sedang sibuk mencari celah, aku mendengar pembawa acara memanggil dan meneriakkan nama Neneng. Aku senang sekaligus gelisah, sebentar lagi Neneng muncul sementara aku belum sampai ke barisan penonton paling depan, masih terjebak di area tengah-tengah. Aku mempercepat langkahku. Tubuhku perlahan terasa panas. Ketika nama Neneng disebutkan untuk yang ketiga kalinya lewat lengkingan pembawa acara, kepalaku tiba-tiba terasa pusing dan pada saat itu juga ingatanku mendadak kabur.
*****
âKang, sudah bangun?â
Aku membuka mata perlahan, terlihat dua orang laki-laki berseragam putih berada di depan wajahku. Aku mengerjapkan mata, melihat sekeliling. Oh, rupanya aku sedang berada di ruang P3K.
âSudah saya sarankan untuk pulang, Akang malah keukeuh pengin nonton Neneng.â Salah satu lelaki yang bertugas sebagai perawat itu terkekeh mengejekku.
Aku sedikit emosi. Apa yang mereka tahu tentang aku dan Neneng? Apa yang mereka tahu tentang perjuanganku selama ini untuk Neneng? Tanpa banyak bicara aku beringsut keluar tenda. Kusibak pintu tenda yang terbuat dari plastik, dan..... tiba-tiba aku terdiam, tidak percaya dengan apa yang kusaksikan dengan kedua mataku.
âKang, kami pulang duluan ya, sudah malam.â
Mataku perih melihat keadaan sekitar. Kuremas amplop yang dari tadi kupegang. Kubuka, dan kurobek surat yang ada di dalamnya. Aku berteriak sekuat tenaga.
*****
Aku berjalan gontai melewati lapangan dan area wahana permainan yang lampunya sudah mati sebagian. Betapa penyesalan terasa begitu menyakitkan. Langkahku terhenti di sebuah lapak DVD yang masih buka dan sedang memutarkan sebuah lagu dengan kencang.
Kujual baju celana itu semua demi Nyai, aku kerja jadi kuli demi Nyai... Walaupun Madonna cantik, Marilyn Monroe juga cantik, tetapi bagiku lebih cantik Nyai... Aku rela korban harta demi Nyai... Aku rela korban nyawa demi Nyai...
Dalam hati aku ikut menyanyikan lagu tersebut. Lagu yang sama seperti yang sudah kurekam dalam CD yang aku pegang, hanya saja aku mengganti setiap lirik âNyaiâ dengan âNenengâ.
Di antara deretan DVD-DVD bajakan, kulihat beberapa sampul DVD yang memamerkan foto Neneng. Aku menatapnya lekat. Neneng balas menatap dan tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumannya. Neneng.....
Cinta Dua Zaman
Sebentar lagi, kedua jarum jam akan bertemu di angka dua belas. Aku yang dari tadi sengaja terjaga, mulai beringsut menyiapkan diri. Kukenakan jaket, kaos kaki, beserta penutup kepala berbahan tebal. Karena kemarau belum juga memberi tanda untuk meninggalkan musim, kuprediksikan udara di luar akan dingin sekali. Tidak lupa kubawa serta beberapa benda yang sekiranya kuperlukan; senter, arloji, kompas, dan sebuah benda yang tadi hampir lupa untuk kubawa: kotak musik.
Dengan sedikit berjinjit, aku berjalan mengendap dan membuka pintu rumah dengan gerakan yang sangat pelan. Aku tidak ingin menggugurkan rencana hanya karena ketahuan oleh orang rumah.
Setelah berhasil berada di luar, aku bergegas menuju halaman belakang. Hamparan ladang jagung seluas sekitar satu hektar terlihat kelam dalam temaram cahaya bulan. Ya, orang tuaku bekerja sebagai petani yang bertugas mengurusi ladang jagung milik juragan desa. Di desaku, ada sekitar lima hektar ladang jagung yang masing-masing hektar diurus oleh satu keluarga. Keluargaku salah satunya.
Dengan berbekal lampu senter dan sedikit cahaya bulan, aku menerobos melewati pohon-pohon setinggi dada. Aku mengikuti jalan setapak yang di beberapa sisinya sudah kutandai dengan tongkat kecil. Sesekali aku membuka kompas, takut-takut kalau aku keliru membaca tanda. Kuabaikan rasa gatal yang ditimbulkan oleh merang halus dari pohon jagung. Aku ingin segera sampai dan menuntaskan rindu yang selama ini kubendung.
Senyumku merekah ketika mataku menagkap bayangan sebuah tongkat panjang berukukuran sekitar satu meter yang sebelumnya sudah kutancapkankan sebagai penanda. Aku sampai di tempat tujuan: area tengah dari ladang ini.
Hai... Ucapku pada tongkat tersebut.
Di sini, di area tengah ladang jagung belakang rumah, setiap malam Minggu pada minggu kedua di bulan genap, aku selalu menuntaskan rasa rindu yang menggebu.
*****
Sekitar dua tahun yang lalu, saat aku sedang bermain di ladang sore-sore. Entah karena kecapaian setelah tak henti berlari dan menari, aku ketiduran di tengah-tengah ladang.
Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara hantaman mirip benda jatuh ke atas tanah. Mataku terbuka. Aku terhenyak dengan kehadiran seseorang di hadapanku, kamu, seorang laki-laki berambut merah dan berkulit hitam pekat. Tersungkur mencium tanah, dengan dua sayap yang salah satunya terlihat patah.
Kamu menatapku dengan sorot mata yang tajam. Sebelum mulutku terbuka dan meneriakkan sesuatu, dengan kecepatan secepat cahaya kamu bangun, dan seketika tubuhku sudah kaupeluk dan mulutku sudah kaubekap.
Mataku terbelalak menahan rasa takut. Ingin berontak, namun pelukanmu menahanku, erat.
Setalah saling pandang cukup lama, kamu mengendurkan pelukanmu secara perlahan kemudian memberi isyarat agar aku tetap tenang. Dengan napas tersengal dan mulut yang gelagapan, aku mundur satu-dua langkah ke belakang, namun kamu menggapai tanganku, meraihnya, dan memintaku untuk duduk.
Setelah semua dirasa lebih tenang, kamu menceritakan bagaimana dan kenapa sampai kamu bisa berada di sini, di ladang jagungku.
Dari ceritamu, aku mengetahui bahwa kamu merupakan manusia dari abad 22 yang tidak sengaja menembus batas ruang dan waktu lalu terlempar ke bumi abad 21 ketika sedang belajar menyempurnakan pendidikan terbang.
Perasaan takutku berubah menjadi kagum. Aku terpesona dengan wajahmu yang tak henti memancarkan kilauan-kilauan cahaya, dan terbuai dengan wewangian yang keluar dari mulutmu setiap kali kamu bicara. Kamu pun memperagakan keistimewaan-keistimewaanmu yang lain; berdiri dan berputar dengan satu kaki mirip penari balet, melompat-lompat ke atas setinggi sekitar lima puluh meter, dan memutar badan dengan kecepatan tinggi mirip gangsing. Teknologi abad 22, celotehmu.
Setelah kuobati luka-lukamu, kamu memutuskan untuk pulang. Kamu berjanji untuk menemuiku kembali setiap dua bulan sekali-malam Minggu pada minggu kedua di bulan genap.
Sebelum pergi, kamu memberiku sebuah kotak musik yang harus kubawa setiap kali kita akan bertemu. Katamu, jika kotak musik tersebut kubuka, maka ia akan melantunkan sebuah lagu yang berfungsi sebagai penanda, supaya kamu tidak kesulitan mencariku ketika turun ke bumi.
 Tepat jam dua belas malam, kamu mengepakkan sayap dan melayang secara perlahan, kemudian dengan kecepatan serupa cahaya, kamu melesat membelah malam, lalu menghilang menembus langit hitam.
Dua bulan berikutnya, kita mengulang pertemuan. Malam Minggu pada minggu kedua di bulan genap aku tidak pernah melewatkan untuk pergi ke ladang jagung belakang. Begitu sampai di area tengah, kubuka kotak musik kuno yang pernah kauberikan, kemudian sebuah lagu mengalun secara perlahan.
Kalau aku bisa terbang, pasti aku terbang mencari dirimu...
Langit sedikit gemuruh, dari balik awan muncul sesosok laki-laki berambut merah dan berkulit hitam pekat, meluncur dengan cepat dan menghatam tanah tempat kuberpijak. Begitulah peristiwa tersebut terjadi setiap selang satu bulan sekali.
Di kali pertemuan keenam, kamu datang dengan penampilan yang tidak seperti biasanya. Kereta kencana beserta empat buah kuda hitam kaubawa serta. Rupanya kamu sedang dimabuk cinta, dan melamarku pada saat itu juga. Dua cincin emas bertahtakan berlian berwarna jingga resmi mengikat cinta. Cinta yang terpisahkan oleh jarak yang tak terhingga, cinta yang melintasi batas waktu dan logika, cinta dua manusia dari zaman yang berbeda: cinta kita.
*****
Kalau aku bisa terbang, pasti aku terbang mencari dirimu... Sebab aku tahu pasti, engkau pun tak mau kehilangan aku... Kita sama-sama telah berjanji untuk sehidup semati... Selamanya...
Kotak musik sudah berputar berulang kali.
Aku merebahkan diri di atas tanah menghadap langit malam. Sejak tiba tadi, sudah lebih dari dua jam aku menunggumu di sini. Aku yakin tidak salah tanggal, gumamku dalam hati.
"K O D E"
Aku mengenalmu saat kita sama-sama menghadiri pesta ulang tahun teman kita. Awalnya aku menganggapmu hanya sebagai teman biasa yang bisa diajak berdiskusi mengenai beberapa hal seperti musik, film, serial televisi dan buku. Tiada hari yang kulewatkan tanpa mengobrol denganmu, baik melalui BBM, WhatsApp, maupun media obrolan virtual lainnya.
Siang tadi kamu mengajakku untuk melewatkan malam Minggu berdua. Aku mengiyakan karena kebetulan aku sedang tidak ada acara.
Di sebuah kafe di daerah R.E Martadinata, kita menyantap makan malam bersama. Aku terpukau dengan penampilanmu, kemeja berwarna ungu muda dipadukan dengan chinos yang menyerupai kulit pohon. Mungkin kalau orang jaman dulu menyebutnya necis.
Obrolan mengalir begitu saja dari mulut kita berdua. Lagi-lagi aku dibuat takjub dengan pengetahuanmu yang luar biasa seputar dunia fashion dan akhirnya menjadi topik hangat pembicaraan kita kali ini. Tak jarang kita tertawa lepas sampai menimbulkan tatapan-tatapan risih dari pengunjung lainnya.
Sebagai wanita normal, tidak butuh waktu lama bagiku untuk merasakan ketertarikan terhadapmu. Siapa yang bisa melewatkan pria mapan berusia 29 tahun yang sudah mengantongi gelar S2 dan berpenampilan sangat anak muda?
Oh, ya. Selain kelebihan-kelebihan yang tadi kusebutkan, ternyata kamu memliki pergaulan yang cukup luas. Semenjak kita tiba di kafe ini, sudah lebih dari sepuluh orang yang menyapa dan menegurmu. Kurang apa lagi? Aku memandangmu lekat.
Setelah merasa bosan, kita beranjak untuk meninggalkan kafe. Awalnya kamu bilang akan mengantarku pulang, katamu sudah malam. Tidak, aku tak mau malam ini berakhir begitu saja. Aku memberimu saran supaya kita pergi ke tempat lain untuk bersenang-senang. Aku menyeringai. Ada yang ingin kulakukan malam ini.
Mobilmu tiba di pelataran parkir sebuah kelab malam. Suasana sudah ramai, dentuman musik terdengar menggema dari dalam ruangan. Aku mengapit tanganmu untuk maju ke lantai dansa, tetapi kamu lebih memilih untuk duduk-duduk saja di kursi bar.
Sudah lebih dari setengah jam aku memutar badan, mengikuti irama musik racikan DJ Ferdy. Sesekali mataku melihat ke arahmu, kulihat kamu sedang mengobrol dengan beberapa orang yang kebetulan lewat atau sengaja menghampirimu. Sekilas teman-temanmu terlihat berbeda dan bertingkah tidak biasa. Ah, dunia malam memang selalu beragam, pikirku.
Aku menghabiskan hampir tiga gelas minuman sebelum akhirnya kamu mengajakku pulang. Kamu memapahku berjalan menuju mobil dan aku sempat meracau memintamu untuk tidak mengantarku pulang ke rumah. Rencanaku baru akan dimulai.
Rupanya aku tertidur selama perjalanan. Ketika sadar aku sudah terbaring di atas tempat tidur di sebuah kamar hotel. Kupandangi sekitar, ada kamu yang tertidur di kursi panjang dekat jendela. Inilah saatnya...
Ketertarikan terhadapmu meyakinkanku bahwa malam ini aku bersedia melakukan apa saja untukmu. Aku mendekatimu dan membelai wajahmu secara halus namun penuh tekanan. Kubisikkan kata-kata mesra secara langsung di depan telingamu.
Matamu terbuka.
Aku menempelkan telunjuk di bibir, menyuruhmu untuk diam dan menikmati apa yang akan kuberikan.
Kamu terlihat sedikit kaget dan mendorongku perlahan-menjauhkan tubuhku dari tubuhmu.
"Kenapa?" Aku mengangkat kedua telapak tangan sebagai bahasa isyarat.
Kamu menggelengkan kepala lalu mengubah posisi menjadi setengah duduk.
Karena pengaruh alkohol yang masih tinggi, dengan sengaja aku melepas baju dan kudekati kamu kembali. Kulingkarkan kedua tanganku di lehermu. Melihat ekspresimu yang gugup dan terlihat kaku, aku berpikiran mungkin kamu hanya kaget atau mungkin ini merupakan kali pertamamu untuk bercinta. Aku lalu menyondongkan wajahku ke arah wajahmu. Sesaat sebelum bibirku mendarat di bibirmu, kamu mendorong tubuhku lebih keras dibandingkan tadi dan membuatku terjatuh di lantai.
âIâM GAY!â Katamu setengah berteriak.
Aku mengernyitkan dahi. âWhat?â
âGUE GAY DAN GAK SUKA CEWEK!â Kamu membetulkan posisi kacamata sambil mengatur nafas yang tersengal.
Aku menatapmu penuh keheranan lalu bangun dan duduk di tepi tempat tidur. Aku berpikir sejenak sambil memijat-mijat dahi. Memoriku kembali ke masa-masa sebelum kita berada di sini.
Buku? Fashion? Gaya berpakaian? Bahkan penampakan teman-temanmu saat di kelab tadi yang seharusnya sudah kusadari bahwa mereka sekelompok gay. Betapa bodohnya aku yang tidak menyadari âkodeâ darimu selama ini.
Aku mengetuk-ngetuk meja dengan ketiga ujung jariku. Kubenarkan kembali posisi tank top yang talinya sudah jatuh satu. âAnterin gue pulang!â
***
Mobil melaju lumayan kencang. Dalam perjalanan pulang, kamu tak henti mengucap kata sorry dan memintaku untuk merahasiakan kejadian yang baru saja kita alami.
Aku yang masih tidak habis pikir, hanya bisa tertawa-tawa kecil dan sesekali bergumam, kok bisa?
âUdah santai aja sama gue.â Kataku sambil menyalakan radio. Jariku berhenti menekan tombol saat kudengar intro dari sebuah lagu milik Katy Perry. Aku memandangmu, menyeringai dan terkekeh.
âAnjir! Pas banget!â Katamu sambil tertawa mengikik.
Tanpa aba-aba dan tanpa diminta, kita berdua menyanyikan reff-nya bersama-sama dengan sedikit nada gila dan teriakan yang tidak jelas.
Youâre so gay and you donât even like boys
No you donât even like
No you donât even like
No you donât even like boys
..........
Kedua mata kita saling bertatapan, dan kemudian tawa pun meledak.
Kembali
Hingga saat ini, malam menjadi waktu yang sangat menyakitkan untuk kulewati. Aku duduk di balkon rumah sambil menatap bulan dan sesekekali mengingatmu. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa merindukanmu terasa begitu sesak.
Pagi itu kamu memutuskan untuk pergi, setelah sebelumnya aku mempertanyakan mengenai kabar tidak enak yang kudengar tentangmu. Perempuan mana yang bisa menyimpan tanya dan amarah ketika mendengar kekasihnya melewati malam bersama wanita lain. Awalnya aku hanya berharap kamu mengaku dan meminta maaf, maka semua akan kuanggap selesai. Tetapi nasib baik enggan berpihak, pertengkaran pagi itu ternyata membawamu pergi.
Sebulan yang lalu merupakan bagian paling terberat dalam hidupku, seluruh akses komunikasi kepadamu tiba-tiba putus. Aku sempat melihat tweet terakhirmu sebelum kamu mem-block akunku: âTak ada lagi kita, tak ada lagi rencana...â dan perubahan status di Facebook-mu dari In relationship menjadi Single.
Aku kelabakan, kebingungan. Akhirnya kuputuskan untuk mencarimu. Tak kuhiraukan terik matahari di musim kemarau, aku bergegas menuju rumah yang dulu sering kita kunjungi, rumahmu. Aku ingin meminta maaf atas pertengkaran tempo hari yang tidak berakhir dengan semestinya. Namun lagi-lagi nasib baik enggan berpihak, aku melihat mobilmu keluar dari gerbang beserta kamu dan seorang wanita di dalamnya. Aku berdiri di seberang rumahmu. Aku tahu sudut matamu menyadari keberadaanku, namun kamu memilih untuk berpura-pura tidak tahu.
Masalah berdatangan ketika hari-hari kulewati tanpamu. Pekerjaanku berantakan. Seringkali aku terlambat datang ke kantor, bolos meeting tanpa sebab, dan melupakan laporan-laporan yang harus kusetorkan. Sampai akhirnya aku harus terbaring selama dua hari di rumah sakit karena kondisiku yang payah akibat pola makanku yang tak beraturan.
Pernah suatu waktu ketika kita sedang duduk-duduk di sebuah coffee shop, berandai-andai merencanakan pernikahan; gaun pengantin, desain undangan, dan model mata cincin, kamu begitu cerewet mendominasi pembicaraan. Yang paling menarik darimu sekaligus membuatku heran adalah mendapati bahwa kamu menyukai penyanyi wanita asal Malaysia, Siti Nurhaliza. Dia yang katamu suaranya tak tertandingi, seringkali membuatku iri. Bahkan kamu menyediakan folder khusus di tablet-mu untuk semua hal yang berhubungan dengan dia. Biasanya aku berakting pura-pura cemburu jika kamu sudah mulai larut dengan lagu-lagu sendu yang dibawakannya.
***
Setelah keluar dari rumah sakit, aku memutuskan untuk tidak bekerja dulu. Karena aku perlu suasana yang baru, aku putuskan untuk resign dari kantorku yang lama. Aku istirahat di rumah; bangun pagi, tidur tepat waktu, makan dengan teratur. Halaman rumah kecilku yang selama ini terabaikan, kini terlihat cantik berwarna-warni.
Selang beberapa hari, aku mendapat panggilan wawancara dari sebuah kantor penerbitan yang sebelumnya sudah kulamar. Aku mengehela nafas, aku meyakinkan diri bahwa aku bisa.
Hari-hari berikutnya merupakan kesempatanku untuk menata kembali hidupku yang sempat berantakan. Syukurlah, dengan mudah aku bisa kerasan di lingkungan pekerjaanku yang baru.
***
Jam istirahat sudah tiba, aku memutuskan untuk menunda makan siang karena teringat akun Twitter-ku. Semenjak kejadian itu, aku kehilangan mood terhadap berbagai jejaring sosial. Ah, sial, tiba-tiba aku malah teringat padamu. Bagaimana kabarmu sekarang, apa kamu bahagia tanpa aku, dan... apa kamu sudah menemukan cinta yang baru. Aku terkekeh.
Sembari menghela nafas panjang aku mengetikkan nama akunmu di kolom search. Voila, ternyata akunku sudah kau-unblock. Aku telusuri linimasamu, aktivitasnya menurun dibanding saat kau masih bersamaku dulu. Kuperbesar avatar-mu, wajahmu masih seperti dulu, tampan. Air mataku menetes satu-persatu.
Sempat terpikir untuk menyapamu lewat mention atau DM, namun urung. Benakku mengatakan bahwa aku harus punya harga diri. Bayanganmu seketika berkelebatan di pandanganku, tak dapat kupungkiri bahwa aku sangat merindukanmu
Aku kembali ke linimasa, bertegur sapa dengan kawan-kawan lama. Seperti biasa, Twitter selalu mempunyai banyak kejutan. Mataku tertuju pada sebuah hashtag #30HarilagukuBercerita. Menarik. Aku telusuri semua hal yang berhubungan dengan hashtag tersebut. Bibirku tersenyum. Aku tahu caranya...
***
Ah, ya. Aku hampir lupa bahwa hari ini merupakan bagianku untuk mengirimkan tulisan di #30HarilagukuBercerita.
Aku menyeruput kopi pertamaku. Kuamati satu-persatu barisan CD yang ada di lemari, mataku terfokus pada sebuah nama penyanyi yang dulu sempat aku cemburui, Siti Nurhaliza. Kuputar CD album pertamanya yang dulu kudapat darimu, katamu Wajah Kekasih merupakan lagu terbaik sepanjang yang kaudengar. Play...
âKuyakinkan diri demi rinduku, penawar hanya dari wajah kekasih... Walaupun rintangan datang menduga kutempuhinya karâna cinta membara...â
Aku tersenyum getir sambil sesekali menyeka air mata. Jariku dengan telaten menuliskan sejumlah kata tentang lagu ini-tentang kita, tentang kejujuranku bahwa aku sangat merindukanmu.
Aku yang pernah kausakiti, tak punya banyak waktu untuk mementingkan gengsi, perkara siapa yang dulu pernah bersalah sudah bukan menjadi urusan lagi. Meski nyatanya sekarang aku bisa hidup tanpamu, namun rasanya hatiku masih tetap kosong dan hanya wajahmu yang mampu melengkapi.
Kubaca ulang tulisanku, kuputuskan untuk mengikutsertakan nama akunmu sebagai penerimanya. Mungkin ini jalan satu-satunya agar cerita kita bisa kembali. Semoga besok kamu membacanya, dan menjadi awal untuk kita menjalin komunikasi.
âWalaupun impian dalam kekaburan... Kuyakin padamu, oh Tuhan...â
Jam dinding  menunjukkan pukul dua puluh tiga lewat lima puluh lima. Dengan cepat aku salin halaman blog-ku, aku mention dua akun yang bertindak sebagai Tukang Pos, diakhiri dengan nama akunmu sebagai penerima. Semoga aku belum terlambat untuk menitipkannya.
Salam Untuk Siapapun
Selamat malam...
Di luar sedang hujan ketika aku menulis tulisan ini. Akan kusebut ini sebagai salam perkenalan, bagi siapapun yang sudah lebih lama mempunyai kebiasaan menulis dalam diary virtual yang orang namakan blog.
Sebenernya, sudah lama aku memimpikan memiliki sebuah blog untuk menunjang kegemaranku terhadap menulis. Namun karena satu dan lain hal, impianku sangat sulit untuk menjadi nyata.
Mari kita jujur-jujuran saja. Pertama, akses internet di daerahku sangat mengkhawatirkan. Pernah beberapa kali aku mencoba menggunakan modem berbagai provider, hasilnya menyedihkan. Warnet di sini pun masih jarang, ditambah aktivitasku yang sebagai sukarelawan di sebuah instansi pemerintah, rasanya terlalu niat untukku untuk âbermain-mainâ di warnet.
Namun Tuhan memang Maha Pengasih, setelah Ia mengujiku lewat beberapa kali kegagalan dalam mendapatkan akses internet, sekarang aku bisa membuat blog atas bantuan dari beberapa pihak yang bersedia membantu.
Oh, aku lupa belum memperkenalkan diri. Namaku Ramdan, pemuda berusia dua puluhan. Sejak tahun 2010 sudah bawel bercericau lewat akun twitter @siapapun_. Twitter membawaku ke gerbang dunia lain, dunia virtual, namun terasa begitu nyata bagiku.
Hmmm, rupanya hujan sudah berhenti. Rasanya cukup sekian untuk salam perkenalan dariku. Semoga lewat blog ini kita bisa saling berkenalan, berbagi cerita, pengalaman, dan lain-lain.
Sampaikan salamku untuk siapapun yang kamu sayangi.
Selamat malam...