Just Another Monologue
+ : How can everyone else's life is perfect, and mine isn't?
- : Nobody's life is perfect, life is messy. It's a series of mess, and what's in between.
sheepfilms

JBB: An Artblog!
art blog(derogatory)

Kiana Khansmith
Cosimo Galluzzi
Three Goblin Art

izzy's playlists!
Jules of Nature

No title available
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Origami Around
trying on a metaphor
Sade Olutola
Alisa U Zemlji Chuda
Cosmic Funnies

⁂

❣ Chile in a Photography ❣
Show & Tell
DEAR READER
Claire Keane

seen from Canada
seen from Germany

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@dennyed
Just Another Monologue
+ : How can everyone else's life is perfect, and mine isn't?
- : Nobody's life is perfect, life is messy. It's a series of mess, and what's in between.
Maybe somebody somewhere prayed even harder than me to be with you. Maybe that is why I lost you.
@drlrst
Maaf sudah sempat mendendam dan sangat membenci, bahkan berusaha tak ingin kenal lagi. Dan ternyata, aku tidak bisa. I could never hate you.
@dennyed
Kamu begitu terkesima dengan cara dia memperjuangkanmu, hingga tak peduli dengan caraku mempertahankanmu.
@dennyed
Merelakan itu...
Bukan perkara memaafkan, lalu melupakan. Atau memaafkan, tapi tidak melupakan.
Bukan juga karena rasa sakit yang mulai hilang, atau dendam yang perlahan pudar.
Tapi tentang sekali lagi menyadari, bahwa kita tidak cukup baik baginya.
Kadang aku bertanya-tanya, apakah mereka yang hadir setelahku akan kau sakiti juga, sama sepertiku?
Kuharap tidak.
Tapi aku juga tidak akan rela jika kau jadikan aku pelajaran hidup yang mengajarkanmu untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Karena mengambil hikmah, itu bagianku.
Semoga yang hilang dari kita hanya rasa di hati, bukan obrolan maupun pertemuan.
(via yanguntukmu)
Rasa sesalku yang paling besar adalah tidak sempat mencintaimu begitu penuh ketika aku masih ada waktu. Tidak sempat mengatakan betapa aku mencintaimu hanya karena aku merasa aku masih punya waktu.
(via mbeeer)
Watch How Valentine Goes
Malam minggu ini bertepatan dengan Valentine’s Day; Hari Kasih Sayang. Hari untuk saling menunjukkan kasih dan sayang, bagi yang merayakannya. Aku sih tidak. Bukan. Bukan karena aku menganggap perayaan Valentine’s Day haram. Bukan juga karena aku beralasan “kasih sayang harus setiap hari, tidak hanya setahun sekali di 14 Februari”. Aku tidak se-basi itu. Aku tidak begitu peduli dengan Valentine’s Day, karena tidak pernah punya alasan untuk cukup peduli merayakannya. Itu saja.
Tapi tahun ini sepertinya aku menyambut Valentine dengan caraku sendiri. Berbeda dengan kebanyakan orang, Valentine’s Day kebetulan saja menjadi momentum yang tepat bagiku untuk berhenti memikirkanmu.
Aku sudah lama lelah. Lelah bertanya-tanya tentang apakah debar dada yang kurasa ini benar-benar karena masih menyimpan rasa. Lelah menebak apakah kamu masih merasakan debar yang sama. Lelah memastikan apakah yang kurasakan, kau rasakan juga.
Aku lelah mempertahankanmu.
Setiap hari berusaha untuk tidak mencari tahu tentangmu adalah perjuangan, dan aku selalu kalah. Sekuat apapun, aku tidak bisa melawan keinginan menguntitmu meski hanya untuk mendapati kabar tidak enak. Bodohnya cinta yang membuat kita dengan sadar tetap ingin mendengar hal-hal yang hanya akan menyakiti.
Seharusnya aku sudah merasa cukup. Aku sudah pernah kau cintai sedemikian besarnya. Aku sudah tahu rasanya tidak percaya bisa memiliki seseorang seindah dirimu. Aku juga sudah mendapati sakitnya patah hati yang sebanding dengan indahnya cinta yang kau beri.
Sudahlah, sampai di sini saja. Kita sudah lama sama-sama berjuang dan mencoba bertahan. Kita pun sudah berulang kali saling mengucap selamat tinggal.
Mungkin memang sudah saatnya untuk benar-benar pergi.
“I wish that I could be your journey’s end, but you are only passing through… It’s not for me to try to steer your way, I wish you well in all you do.
Just say you’ll watch how you go… Be gracious with your light, and may the years be kind now. Just say you’ll mind how you roam… The things that we have shared, will soon be left behind now…”
Yes, I’m changing too. We’re moving on. And the only future left for us is being two people who believe in what people say: “cinta tidak harus memiliki”.
Hari ke-tiga belas di bulan kedua — your once charming knight
To move on, you must understand why you felt what you did and why you no longer need to feel it. — Mitch Albom
Si Pendendam yang Sok Ikhlas
Kadang setelah beberapa langkah menjauh, kita menoleh ke belakang hanya untuk memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal.
Lalu terdiam penuh tanya, dan mencoba mencari tahu apakah yang mengganjal di dada adalah benar suatu firasat, atau sekadar rasa penasaran.
Kemudian kita memutuskan untuk terus berjalan karena tidak sanggup memilih untuk tetap tinggal meski tahu bahwa itu yang kita inginkan.
Setelah lelah menunggu dalam ragu, akhirnya segala janji hanya berujung kepada harap, ambisi lenyap menyisakan pasrah, dan tawa menjadi senyum.
Senyum bahagia, atau pura-pura bahagia.
Hari ke-sebelas di bulan kedua. — si pendendam yang sok ikhlas
Ya aku jahat. Ada kalanya aku berharap kau disakiti oleh orang yang begitu kau cintai sekarang. Ditinggal pergi, dan tidak dipilih padahal sudah berjuang setengah mati. Biar kau mengerti alasan kenapa aku bisa menjadi jahat seperti ini.
(via mbeeer)
Beberapa orang lebih memercayai permasalahannya pada beberapa batang rokok dan menghisapnya kuat-kuat, daripada berbicara dengan seseorang untuk didengar.
(via yanguntukmu)
From an Unposted Old Draft
Dear you…
It may be too late for me to once again tell you this. Time has passed too fast, and we both have been too much apart for quite a while.
It may be too boring for both of us to once again be in this kind of situation. We both are tired for not knowing what else to do to let go, and the only thing we do is trying hard not to live with regret.
Seems impossible not to regret, though. It has been a rough time since we were no longer together. There’s no a single day I spend without asking “what if?” to myself. And then at the end of each day, I can only feel sorry.
“Just because we were far. Just because we were fighting. Just because we were crying. Just because we were hurt. Just because we said that it was over. Didn’t mean we had to say good bye.”
But we did.
Some time early 2015 — the one with the second to none
Saat Kamu Terbangun Nanti
Selamat pagi.
Maaf, aku pergi tanpa pamit padamu. Aku tidak tega membangunkanmu yang masih lelap tertidur saat sinar matahari pagi masih malu-malu menerangi. Kamu terlihat lelah karena tidur saat sudah dini hari tadi. Mungkin kamu pun baru akan membaca surat ini menjelang siang, ketika tidurmu kau rasa puas.
Maafkan juga karena semalam aku lancang membawamu ke rumahku. Itu karena aku bingung, dan tidak tahu bagaimana cara mengantarmu pulang. Kita memang seperti tidak saling kenal. Kamu tidak bertanya apa-apa mengenaiku. Aku pun tidak bisa menangkap jawabanmu setiap kali aku bertanya tentang dirimu. Mungkin karena semalam kamu terlalu mabuk, sehingga setiap pertanyaanku hanya kamu jawab dengan ocehan tak jelas yang diselingi isak tangis. Aku sempat ingin mengabaikanmu, tapi aku khawatir akan terjadi sesuatu denganmu. Jadi jika nanti kamu terbangun dan mendapati dirimu di tempat yang asing, percayalah bahwa itu hanya karena aku mencoba menolongmu. Bila kamu masih tetap marah dan menganggap aku kurang ajar, kurasa wajar.
Aku tidak tahu apakah kamu bisa mengingat apa yang terjadi semalam. Kamu tiba-tiba datang di depanku. Tertunduk, menangis, dan tampak kesusahan. Entahlah, apa yang sudah kamu lalui sebelumnya. Yang kuingat, napasmu bau minuman keras saat kamu bercerita tentang apa yang terjadi. Dari semua ocehanmu, aku hanya bisa menangkap sekilas. Tentang kamu yang terluka. Tentang seseorang yang kamu cintai. Tentang sakit hati. Tentang ditinggal pergi. Selebihnya hanya tangisan yang kudengar darimu.
Aku mencoba menyimak semua yang kamu katakan, tapi ternyata yang kulakukan hanya memandangimu dengan perasaan kasihan. Tidak tega melihatmu tampak menderita dan acak-acakan. Saat kamu mulai tenang dan terlihat semakin lelah, akhirnya kuputuskan untuk mengajakmu pulang ke tempatku.
Sempat kamu terdiam lama dengan bibir gemetar dan mata basah yang memandang kosong, sebelum akhirnya kamu tertidur. Aku ingin memelukmu, seandainya aku bisa. Tapi aku takut itu akan membuatmu tidak nyaman dan malah merasa terganggu, jadi aku hanya diam dan membiarkanmu tertidur. Semoga saat kamu membuka mata, semua kesedihanmu akan sedikit berkurang. Aku tidak bisa membantu apa-apa lagi, selain berharap agar mulai hari ini kamu akan lebih baik.
Oh iya, jangan kaget melihat sekelilingmu saat kamu terbangun nanti. Beginilah tempat tinggalku, penuh rumput dan bebatuan. Batu tempatmu tertidur, itu tempatku beristirahat. Tidak usah menungguku, karena aku tidak akan datang hingga menjelang tengah malam. Lagi pula, malam ini malam terakhirku. Setelah genap 40 hari, aku tidak di sini lagi.
Terima kasih untuk bunganya, Sayang.
Senin pertama di bulan kedua, — dariku yang sok kasat mata
Katanya Sederhana
Mereka yang berkata “aku ingin mencintai dengan sederhana”, dan benar-benar berhasil melakukannya adalah orang-orang yang beruntung. Karena ternyata bagiku, mencintaimu itu tidak sederhana.
Mereka bilang cinta sesederhana saat seseorang membuat jantung berdebar kencang hanya dengan sekadar mengingat dia. Tapi denganmu, di saat yang sama ketika jantungku tak henti berdetak kencang, pikiranku menyadarkanku bahwa kamu jugalah seseorang yang hampir membuatku ingin menghentikan detak jantungku sendiri.
Mereka bilang cinta sesederhana saat seseorang membuat kedua mata seolah bersinar hanya dengan sekilas memandangnya. Tapi bagiku, di saat yang sama ketika kedua mataku berbinar memandangmu, logika mengingatkanku bahwa kamu jugalah yang dulu membuat kedua mataku basah oleh tangisan tertahan.
Mereka bilang cinta sesederhana saat seseorang membuat bibir tak henti mengukir senyum hanya dengan mendengarkan hal-hal tidak penting yang dia ceritakan. Tapi denganmu, di saat yang sama ketika aku tersenyum, hatiku berbisik bahwa kamu jugalah yang sempat membuatku tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirku.
Mereka bilang cinta sesederhana saat seseorang mampu membuat tubuh bergetar dengan bahagia yang membuncah hanya dengan saling berdekatan. Tapi denganmu, di saat yang sama ketika tubuhku bergetar akan bahagia, akal sehatku berkata bahwa kamu adalah orang yang sama yang pernah membuatku gemetar menahan sedih dan marah.
Mereka bilang cinta sesederhana saat seseorang menjadi alasan termenung menahan rindu. Tapi bagiku, di saat yang sama ketika aku merindu, aku mengingat sakitnya aku saat kau tinggalkan.
Jika memang benar semua sesederhana itu, apakah berarti yang kurasakan padamu adalah lebih dari mencintai?
Minggu terakhir di bulan pertama. — si pecinta yang sok tegar