Menurut saya, salah satu faktor kepuasan seorang employee dalam bekerja adalah adanya apresiasi.
Beberapa tahun belakangan, mungkin karena saya punya atasan yang cukup "merayakan" pencapian pencapaian kecil dalam pekerjaan, atau sedikit inprovement dalam sikap profesional saya, dia akan notice dan memberi selamat.
Cukup "semua aku dirayakan" banget kan?
Contohnya, awal tahun lalu saya cukup nervous kalau di meeting membahas teknis formulasi sekaligus dibahas detail hal hal yang diluar prediksiku akan dibahas, plus dalam bahasa inggris. Kalau hanya bahasa sehari hari, mungkin cukup aman aja, tapi ini dalam waktu yang sama aku harus berpikir, mengingat data, menganalisa sekaligus menyampaikannya (yang kadang diproses dalam bahasa indonesia dalam kepalaku lalu ditranslate) dalam bahasa inggris!
Sekitar 6-7 bulan setelah hari pertama masuk, atasanku bilang, "your english and confidence is improving, congratulation! 🎉🥳"
Lalu tentu untuk urusan pekerjaan mereka begitu apresiatif, seperti "good job on making the bulk stable!" Apalagii kalau ada turnover ke sales dari hasil kerja ini, tentu dirayakan sampai ke level direktur, duh terharu.
Sakiing terbiasanya dikasih apresiasi, saya jadi "take it for granted" merasa seperti, this is how it should be a normal.
Lalu suatu ketika, saat ada hal kritikal yang super kritikal, mengalahkan perhatian dari "achievement" terbesar dalam pekerjaan di minggu minggu terakhir ini, rasanya seperti ada "topic stealer" atau perebut pusat perhatian.
Sek! Ini bukan picky yaah!
Begini simplenya, saat saya merasa sangat happy karena berhasil achieve yang belakangan jadi beban pikiran banyak orang, ternyata hasilnya bukan apresiasi, tapi diabaikan karena ada masalah baru.
Daann, rasanya kosong dan bingung aja di awal. Saya langsung di mode bertahan untuk segera solving the problem. Menyusun rencana abcd penyelesesaian masalah.
Great news about the stability improvements on Tone-Up, thank you very much for working hard to get the different pigments and making the modified batches. Hopefully we both learned something about pigment choice and processing.
Chat dari salah satu rekan kerja, memberi apresiasi tentang achievement di minggu ini tiba tiba bikin saya terharu.
Lalu saya diem, kok terharu?
Apa saya nungguin hal ini juga dirayakan orang orang?
Ternyata sekalinya tidak dirayakan, atau "diakui", rasanya jadi aneh karena terbiasa diapresiasi.
"Aah mungkin ini juga salah satu pengingat untuk "bersyukur" terhadap semua yang sudah selalu diberi, oleh Allah"
Sepertinya, bersyukur itu malah bukan semata mata "ibadah", tapi lebih ke attitude kita sama Allah.
Se thankful apa seseorang itu mempengaruhi seberapa senang pemiliknya untuk memberi lebih kepada orang tersebut.
It hits me hard actually.
Terima kasih untuk iklim pekerjaan ter ideal sejauh ini, yang mungkin banyak sekali pegawai lain makan hati, alhamdulillah kita masih makan nasi.
Terima kasih untuk pekerjaan yang menyenangkan untuk dikerjakan, tidak semua orang senang mengerjakan pekerjaannya.
Terima kasih untuk orang orang baik yang menyenangkan yang selalu merayakan perbaikan sekecil apapun itu.
Terima kasih untuk membuat hari hari rasanya lebih nyaman dijalani.
Dan samoga saya bisa jadi alasan orang lain untuk bersyukur akan hal yang sama juga.
Its not actually a bad day if it taught us something,
Alhamdulillah Allah for making us be able to connect this with hereafter.