Dulu, entah sejak kapan tepatnya, aku gak begitu peduli dengan apa yang aku pakai. Semacam, kalau disuruhnya pakai seragam, ya pakai sesuai aturan, kalau aturannya pakai baju longgar, pakai baju longgar lah. Urusan warna apa corak apa, gausa ribet, yang simple aja, yang ada aja.
Selain karena itu, juga karena aku mikirnya lamaaaaaa banget dan biasanya berujjng gak jadi kalau ke toko baju, sepatu, tas. Sehingga jadilah Silmi yang juga ada salah satu temanku bilang "kamu consious banget ya akan apa yang kamu pakai" atau "kamu minimalism yaa.. bajunya yang hitam aja atau basic banget, suka deh"..
Complimentnya baik baik banget deh, malah sering dibilang shalihah sekali masyaAllah. Tbh, aku cuma gamau ribet! Gamau ribet bawa mukena kalau jalan jalan, pakai baju yang proper menutup auratnya, dan bawa kaoskaki ganti. Juga hal hal lain yang simple.
Pernah satu hari mau dikasi kado sama atasan pertama, disuruh pilih tas yang disuka, pada akhirnya gak beli (karena gak mau dibeliin), tapi pas keliat at a glance ada tas super simple gak terlalu gede dan gak terlalu kecil, muat banyak barang dan tetep manis meski warna hitam, ah! Kemudian aku beli, yang kemudian stay bertahun tahun bareng aku. Gak mahal pula itu under 200k dari brand lokal tentu saja.
Sekarang, di usia 30, duhilee banyak gaya!
Tentu dengan masih memikirkan kepantasan dan syariat. Gak salah juga kan wanita ingin tampil sebagai "dirinya" sendiri, sebuah ekspresi lewat apa yang dipakai, selama masih sesuai batasan batasan yang dikasih.
Ternyata menyenangkan, padu padan warna. Jadi cewe bumi satu hari, mba mba kajian blok M di hari lain, looks mba mba eksekutif di hari lain lengkap dengan heelsnya dan tetap jilbab menutup dada. Atau di hari lain kombinasi kaos garis putih hitam dengan overall hitam.
Paham banget akhirnya, kenapa dulu pas di kantor, ada atasan yang baru masuk usia 40, gebrakan penampilannya ada aja. Satu hari beliau pakai jaket jeans merek high end, hari lain beliau looks toned karena rajin ngegym dan puasa IF, hari lain pakai parfum hits anak muda, lucu kalau diingat ingat.
Semua effortnya untuk merayakan diri sendiri, memeluk diri sendiri, memberi kesempatan sesuatu yang belum pernah dicoba. Seperti mengajak raga jalan jalan ke banyak tempat, tapi ini adalah versi penampilan diri sendiri. Biarkan kali ini dia looks bold dengan kain tradisional dan balutan kain panjang lainnya, atau mencoba berbagai mode dan jenis kain yang lucu lucu, atau sesimple pakai pakaian nyaman seperti kaos dan bawahan longgar dan sepatu nyaman (yang kerap kali mihil).
Sepertinya bukan karena effort untuk menarik perhatian lawan jenis. Dipikir pikir, loh iyaya, gue gapernah di tahap itu wey! 😭 mungkin karena ya justru akan lebih menyenangkan kalau dikenali oleh orang yang tepat dalam pakaian yang mendefinisikan kita, bukan sebatas momen menarik perhatian. And btw, who cares, I still look good without that effort (wakakakaka sbnrnya itusih)
Selain itu, apalagi kalau bukan karena, YA BARU ADA EXTRA BUDGETNGA SEKARANG. Dulu kan pilihannya rangenya sedikit. Tapi aku gasuka kebanyakan style yg ini itu karena kualitasnya kurang (karena harganya super low), daan, karena dulu pergerakan market belum se fast moving sekarang! Sekarang market super cepet dan adaptif banget produsen dengan feedback customernya. Mereka selalu improve (untuk brand yang bener ya), sesuai feedback customer dan riset market mereka. Akhirnya? Kita, konsumen, diuntungkan dengan keinginan yang semakin mendekati maksud kita: harga murah, kualitas ok. Atau garis seimbang antara keduanya.
Ya apa lagi kalau bukan semakin konsumtif .-.
Sepertinya karena itu juga, alasannya kenapa baru sekarang silminad banyak bajunya dan banyak gaya!
Apapun itu, alhamdulillah..