Dimulai dari obrolan bersama teman saat menunggu jam pulang, saya jadi ingin mengajak siapapun untuk “maju”. Obrolan ringan mengenai cinta-cinta yang patah membawa saya kepada jari yang tidak mau diam. Saya ingin menulis mengenai itu dan mengajak pembaca untuk “maju”.
Dahulu, tepatnya empat tahun yang lalu. Saya mengalami titik balik istimewa. Lelaki yang sudah pernah saya bayangkan jadi Ayah nya anak-anak (cie) memilih jalan hidupnya. Dia memutuskan untuk tidak menjalin hubungan dengan saya. Saya pun begitu. Waktu itu kami balik kanan dan bubar jalan. Bedanya, yang saya lihat dia belok ke arah cerah dan saya...perlu beberapa energi untuk ke arah cerah yang sama.
Dia meraih banyak kebaikan setelah berpisah dengan saya, sedangkan saya sendiri memutuskan untuk bergalau ria. Sungguh, pada awalnya itu bukan sebuah keputusan, galau itu manusiawi. Galau itu menjadi sebuah keputusan ketika saya memperparah keadaan dengan tidak aktif di mana pun. Kuliah lesu, menulis lesu dan membaca juga lesu. Yang saya lakukan hanyalah curhat dengan teman, saudara, bahkan curhat colongan dengan mama. Seperti orang gila, kemana-mana bercerita cinta. Bagi sebagian orang mungkin ini berlebihan, silahkan, mungkin anda belum merasakan.
Sebelum saya berpisah dengan dia, saya banyak meraih kesuksesan dalam hidup. Juara ini itu. Dapat nilai-nilai terbaik di kelas. Saya banyak dibantu oleh dia. Otomatis ketika berpisah, saya mulai ketakutan. Saya menjadi tidak percaya dengan diri sendiri. Saya tidak melakukan apapun, karena saya yakin akan gagal sebelum mencoba. Itu sangat menyiksa.
Hingga akhirnya pada suatu malam, saya melihat wajah kedua orang tua saya ketika mereka tertidur. Dua wajah yang kelelahan sehabis menghidupi siang dan malam untuk seluruh anaknya. Hati saya bergetar, otak saya menggelegar. Bagai ilham, langsung saya berfikir ini lah saat nya saya untuk memutuskan rantai kegalauan saya. Masihkah saya akan terpuruk karena satu orang sedangkan saya memiliki banyak orang yang berharap saya menjadi terbaik?
Esoknya saya pergi kuliah dengan jalur yang berbeda, biasanya saya naik bus, saya naik elf. Elf merupakan sebuah angkutan kecil untuk keluar kota. Ini sangat menantang karena kecepatannya bisa sampai 150 km/jam. Ini menarik! Ini memacu semangat saya. Saya kuliah dengan semangat baru hari itu. Saya perhatikan dosen dengan sungguh-sungguh. Saya bercanda dengan teman-teman di kantin. Saya mulai memutuskan untuk : ayo mencintai dan dicintai, lagi.
Dari sana lambat laun keadaan mulai membaik. Saya mulai berprestasi lagi. Saya menjuarai lomba kreativitas se UNPAD. Saya dua tahun berturut-turut menjadi finalis Duta Bahasa Jawa Barat. Saya juga bisa lulus tepat waktu. Ternyata saya bisa jaya lagi tanpa dia. Perlu ditekankan, saya tidak membenci dia. Justru saya ingin bertemu untuk membicarakan pencapaian masing-masing.
Bagi dirimu yang sedang atau pernah mengalami kehilangan seseorang yang sangat berkesan. Awalnya memang sulit untuk menerima kenyataan. Namun, percayalah, karena saya sendiri pernah mengalaminya dan saya telah membuktikan bahwa saya bisa. Jika kamu takut menjadi sendiri, percayalah bahwa Tuhan selalu bersama kita. Tuhan selalu ada. Jika dirimu takut tidak bisa berkembang, percayalah, banyak tangan yang akan membantu perjalanan kita ke arah cerah selagi kita memutuskan untuk memutuskan rantai kesakitan.
Kini, dia hidup dengan segala berkah dan saya pun hidup bersama segala kejutan. Lihatlah dan percayalah, kenyataan tidak seburuk apa yang kita pikirkan. Mohon maaf, bukan menggurui, saya ingin menemani dan berbagi apa nyatanya.