Aku menatap langit yang perlahan meredup,
mendengar bisikan angin yang tak pernah berhenti.
Segala langkah yang kutempuh,
ternyata hanyalah bagian dari perjalanan,
yang harus kuterima dengan hati terbuka.
menyangka bisa mengubah arah sungai.
air akan tetap mengalir ke laut,
dan aku hanyalah batu kecil di tepinya.
Pasrah bukan berarti hilang,
pasrah adalah belajar berdamai.
Aku biarkan segala resah larut,
aku biarkan segala luka menjadi pelajaran,
aku biarkan segala cinta menjadi doa.
Tak lagi kupinta jawaban,
tak lagi kutunggu keajaiban.
Aku hanya duduk dalam diam,
menyaksikan waktu berjalan,
dan dalam hati aku berbisik:
“Segala yang datang, biarlah datang.
Segala yang pergi, biarlah pergi.”
Kini aku berdiri dengan tenang,
tanpa beban yang menjerat,
tanpa harapan yang memaksa.
Aku menyerahkan segalanya
pada tangan yang lebih kuasa,
pada takdir yang lebih tahu.
Dan bila kelak kau mendengar suaraku,
melainkan bisikan lembut seorang jiwa
yang akhirnya menemukan damai