saya tidak nyaman dengan sikap anda yang dapat memojokkan saya ke tepi jurang, yang saya sesalkan adalah kenyataan bahwa anda tidak mendorong saya ke jurang itu tetapi juga tidak membiarkan saya pergi dari situasi tersebut.
KIROKAZE
almost home
Mike Driver
Jules of Nature

if i look back, i am lost
macklin celebrini has autism
sheepfilms
Not today Justin
Alisa U Zemlji Chuda
Monterey Bay Aquarium

PR's Tumblrdome

JVL

JBB: An Artblog!
Cosimo Galluzzi

Kiana Khansmith

Kaledo Art
Lint Roller? I Barely Know Her
Xuebing Du
RMH
d e v o n
seen from Oman

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Tunisia

seen from Canada
seen from Japan

seen from Bangladesh

seen from T1
seen from India
seen from Canada
seen from Iraq
seen from Brazil

seen from Indonesia

seen from Russia

seen from Singapore
seen from Germany

seen from Thailand

seen from United Kingdom
@sirddar
saya tidak nyaman dengan sikap anda yang dapat memojokkan saya ke tepi jurang, yang saya sesalkan adalah kenyataan bahwa anda tidak mendorong saya ke jurang itu tetapi juga tidak membiarkan saya pergi dari situasi tersebut.
di padang gulana yang berwarna abu terik, seseorang itu menepis iri marah tamak — siapsiap memanggil tuhan — bersihkan hati sebelum sembahyang. ia tengok langit tenggaktenggak, ia pikir kekuatan langit hanya mitos sebab mujarab doa tak pernah menemuinya, “siapa berani di langit sana yang tumpah ruahkan galau padaku?” tanya dalam hati. selama ini, seseorang itu mencari tuhan yang rela memercikkan api harapan nadinya. namun tuhan tak pernah ada—seseorang itu tak pernah ada.
di tanggal yang dimerahkan oleh tuhan, ia menurunkan hujan berwarna biru memar awan tak diciuminya dan mengapa kau tetap jomblo? awan yang hujan tidaklah jomblo, ia adalah pasangan bagi setiap manusia kehausan.
aku berenang di tepian bibirmu, basah merah diriku oleh gincumu. aku memanjat menuju puncak payudaramu, jatuh bangun aku sebab licin mulus kulitmu. bergelombanglah deburan berbagai desah suaramu, bertikai dengan senyap yang menghunjam nafsu. lalu terdiamlah kita dari segala arah gelap ruang, mata yang saling menyapa telah mewakili segalanya. bercinta dengan urat yang timbul terlihat di permukaan kulit, begitulah kita pada malam jumat yang akan datang nanti, kekasih.
bagaimana cara berdamai tikai tak kudapat petunjuk ia cuma nunjuk-nunjuk gunduk gundukan ketakut-takutan para ikan di gelapnya palung laut dalam seperti atlantis tak keluarkan izin kapal selam menyebrang samudra itu biru? sungguh biru? biru layak merah daging yang membeku? biru layak pesan-pesan whatsappku?
malam adalah kemerdakaan pertama sedari malam dosa kita tuhan ciptakan tak jajahi rindu air pun gemas peradaban menggili pemburu gemulai liur temu mengupah pakaian merahmu pesona pesona pesona dunia tajuk cinta bercinta kita abadi.
ada orang di gua itu
kala itu matahari sudah tak terasa, tapi ada unggun kecil di jantung mulut gua, terasa lumayan hangat. dan meskipun di luar sedang turun hujan, tak cukup mampu membuatnya padam. gua itu tidak dingin, tidak juga panas, hangatnya biasa saja, terasa hambar. di gua itu, ada seseorang yang usianya pas-pasan, sedang menghuni. sore tadi, ia berniat pulang dari pasar di kaki bukit, setiap hari ia mengemis di pasar tersebut dan pulang sore hari ke gua itu. gua yang sudah menjadi rumahnya. begitulah ia sehari-harinya. tak ada yang istimewa dari cerita ini, hanya ada kehangatan yang biasa saja, dan seorang pengemis yang usianya pas-pasan. tamat
kita diam di dinding yang sama pada sisi yang berbeda lalu kau lalu aku melubanginya lalu dada kita hilang tiada entah dilubangi siapa sialnya kita.
tidak terlewat percuma membuang udara perlu api cinta guraunya tak mampu dihindari meteor menggetar bumi rindu menghunjamku sialan kau.
ada kekasih di matamu ada aku dalam rencanamu bilik angkasa hancur menimpa negeri kita dibayangi kematian ia menunggu tak mengumpat kehadirannya terasa seperti tali yang tak pernah ada melingkar di leher apakah kau rasakan kehausan akan mati sebab langit telah runtuh raja-raja mengadu para nabi bangkit angin berputar kencang kematian tak jumpa menjemput bayangi mata dan cinta kepedihan apakah itu perbuatanmu tuhan?
aku terlalu sibuk mengasah belati tuk menikam semua kawanku, sehingga lengah telah ditikam lebih dulu.
kegelisahan macam apa tak renggut ambisiku ceriaku perlukan mendung dan laut tuk minta menampungnya.
seseorang itu mencari tuhan yang rela memercikkan api harapan nadinya. namun tuhan tak pernah ada—seseorang itu yang tak pernah ada.
adakah cinta yang tak menanti gugur daun sampai daun tak berwarna hijau seperti anggur menjadi merah darah seperti terluka namun sesaat ia tumbuh lesap seperti embun bernyanyi pada pagi hari ia tak bisu malam ia tak buta seperti itukah cinta yang kau cari duhai pujangga?
cerita: kekasih imajiner
setiap malam ia bercinta di kamarnya dengan kekasih yang berada jauh dalam imajinasinya. saking jauhnya — dengan pikirannya yang paling tajam pun — ia tak dapat membayangkan wajah kekasihnya itu. tetapi ia tahu kekasihnya pastilah rupawan. kerupawanannya tiada batas. kerupawanan yang tak menjumpai klimaks. dan ia pun sempat berpikir, bahwa mungkin saja kekasihnya adalah pemilik dari seluruh wajah yang ada di muka bumi, yang telah mati dan yang akan lahir nanti. ia mencintai kekasihnya seperti ia mencintai dirinya. dan ia tidak butuh tubuh atau raga untuk mencintainya.
awan di mana gumpalan sedu sedanmu kusukai warna abu gelap jangan jawab itu ada di mataku cerah tak pernah mendung tak kenal hujan tapi aku suka kamu yang hujan kangen basah tidakkah kamu kangen aku?
sapardi aku mendengar desau kelopak dari maret hingga kini — bahkan dari tahun lalu — sepanjang masa kalau boleh dikata ku telah mendengarnya namun tak kujumpai cakrawala suaranya bahkan di matahari di sumur di sagara di samudra sapardi adakah di puisimu yang bijak nan arif itu ia bersembunyi?