Setelah beberapa bulan aku di sini, aku mulai sadar akan sesuatu hal. Ialah jika berpapasan dengan lawan jenis selama tinggal di Saudi, para laki-laki akan berjalan lebih ke pinggir dan mengalihkan pandangannya. Pernah satu kejadian, saat aku dan Abie pergi ke luar kota dan mampir di tempat istirahat untuk makan dan shalat. Aku dan Abie berjalan ke arah masjid, sedangkan dari arah sebaliknya ada segerombolan pemuda. Saat jarak kami sudah dekat, para pemuda itu membubarkan dirinya masing-masing. Berpencar. Buyar. Rupanya mereka memberi kesempatan padaku untuk melintas di jalanan itu.
“Di sini budaya antrenya bagus ya. Mau pilih buah aja, si bapak-bapak tadi nungguin aku selesai dulu. Mau ambil barang di rak toko juga, laki-laki pada sabar mau gantian ambil barangnya.”
Abie hanya tertawa kecil mendengar apa yang kuungkapkan. Dia menanggapi begini. “Lah, kan dia laki-laki. Kamu perempuan. Masa mau desak-desakan gitu?”
Tidak dapat dielakkan bahwa di tempat dan kendaraan umum terdapat campur baur antara laki-laki dan perempuan. Meskipun demikian, semua masih dalam jarak yang aman dan terkendali. Bahkan, beberapa tempat masih menerapkan pemisahan antara single (khusus laki-laki saja) dan family (keluarga), atau kadang ada yang memberikan antrean khusus perempuan.
Jikalau campur baur susah sekali dihindari, maka dibuatlah sebagaimana kondisi baik laki-laki maupun perempuan untuk tetap tidak saling berinteraksi dan bersentuhan. Semisal di dalam bus, perempuan atau family duduk di depan, sedang para lelaki duduk di bagian belakang. Atau contoh lainnya adalah saat berada di elevator. Biasanya perempuan berdiri di bagian belakang atau menghadap ke tubuh suami. Terkadang juga, sebagian orang –baik laki-laki maupun perempuan– menghadap ke dinding elevator.
Aku pernah ikut Abie pergi ke luar kota untuk urusan kantor. Kami pergi bersama karyawan laki-laki lainnya yang berasal dari Sudan. Jika Abie harus keluar mobil, entah itu hendak pergi ke kamar mandi atau minimarket, teman kerjanya juga ikut keluar dari mobil dan menjauh. Ia menjaga dirinya dan diri kami, agar tidak terjadi khalwat, berdua-duaan, dengan perempuan yang sedang tidak ada mahramnya.
Menghindar ke pinggir dan mengalihkan pandangan saat berpapasan, tidak berdesak-desakkan, menundukkan pandangan, dan menjauhkan diri dari ikhtilat dan khalwat merupakan hal-hal kecil dan mudah dilakukan dalam menjaga perempuan. Sejatinya perempuan itu bak mutiara. Dan layaknya sebutir mutiara yang berharga, Islam menjaga martabatnya dengan baik dan menempatkannya pada tempat yang mulia. Orang-orang yang paham akan agama Islam tentunya akan patuh untuk menjadi bagian dalam menjaga mutiara ini, baik laki-laki maupun perempuan itu sendiri.
Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk memuliakan si mutiara adalah menjaga sekat-sekat pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Dengan begitu, akan terjadi kurangnya interaksi dengan lawan jenis. Sehingga, tidak ada campur baur tanpa ada hajat yang penting, apalagi tanpa ditemani mahram. Untuk itu, sangat penting bagi kita untuk mengenal siapa saja yang bukan mahram kita, agar kita dapat lebih berhati-hati lagi. Bahkan, sekalipun dengan ipar, yang sudah kita anggap bagian dari keluarga dekat. Yang mana terkadang membuat kita menjadi lalai dalam menjaga hubungan, seperti berduaan dengan ipar atau menunjukkan aurat di hadapan ipar. Padahal ipar itu bukan mahram.
Sebagaimana dalam hadits yang berbunyi, dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berhati-hatilah kalian masuk menemui wanita.” Lalu seorang laki-laki Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu mengenai ipar?” Beliau menjawab, “Hamwu (ipar) adalah maut.” (HR. Bukhari no. 5232 dan Muslim no. 2172)
Kita harus menjaga akhlak dan adab bergaul dengan lawan jenis tak hanya ketika di dunia nyata saja, melainkan juga saat di dunia maya. Yang dapat dilakukan adalah berkontak seperlunya saja dan hindari menunjukkan kemesraan persahabatan dengan lawan jenis. Hal yang demikian ini dapat menjaga diri kita dan orang lain.
Yang kedua adalah menjaga rasa malu. Sifat malu memiliki banyak keutamaan. Diantaranya, malu adalah bagian dari keimanan, sifat warisan para nabi terdahulu, mendatangkan kebaikan dan menjauhkan manusia dari maksiat. Rasa malu itu mencakup hal yang luas sekali. Namun, kali ini bahasannya lebih kepada kaitannya dengan menjaga si mutiara.
Baik bagi laki-laki dan perempuan, rasa malu adalah dasar dari menundukkan pandangan. Cobalah lihat, ketika kita merasa malu terhadap apapun, secara otomatis kita akan melihat ke bawah atau menunduk, bukan? Dengan rasa malu yang dimiliki, tidak ada laki-laki yang berani melihat perempuan dari ujung rambut hingga ujung kuku kaki, apalagi sampai bersiul-siul dan dan jenis catcalling lainnya. Tentunya ini dapat menjadi upaya pencegahan terjadinya kasus pelecehan seksual dan zina. Begitupun juga dengan perempuan, dengan rasa malunya ia juga akan menundukkan pandangan. Sehingga tidak mudah baginya melihat lawan jenis, lalu memuji-muji –termasuk memuji idola– dengan kata-kata manis dan mencari perhatian.
Kita dapat mengambil teladan dari Nabi Musa dan anak-anak perempuan Nabi Syu’aib tentang memelihara rasa malu, yang diceritakan dalam Al-Quran Surat al-Qashash ayat 23-25.
Dan ketika dia sampai di sumber air negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum (ternaknya), dan dia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang perempuan sedang menghambat (ternaknya). Dia (Musa) berkata, “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua (perempuan) itu menjawab, “Kami tidak dapat memberi minum (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya.”
Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku.”
Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu, dia berkata, “Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” Ketika (Musa) mendatangi ayahnya dan dia menceritakan kepadanya kisah (mengenai dirinya), dia berkata, “Janganlah engkau takut! Engkau telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.”
Ketiga, perempuan harus menjaga dirinya layaknya mutiara yang dijaga oleh cangkang kerangnya yang tertutup rapat, yaitu menutup aurat yang sesuai syariat. Seperti, pakaian tidak tipis dan tembus pandang, tidak sempit dan menunjukkan lekuk tubuh, tidak menyerupai pakaian laki-laki dan bukan merupakan pakaian popularitas. Selain dalam hal berpakaian, perempuan juga dilarang ber-tabarruj –bersolek, memakai wewangian, menampilkan perhiasan dirinya– kecuali di hadapan suaminya.
Cara ketiga ini ada pada kendali si perempuan itu sendiri. Maka, mulailah dari sekarang untuk berusaha menyempurnakan hijab, menjadi mutiara yang indah di dunia dan semoga Allah berikan surga. Jangan lagi meremehkan masalah menutup aurat, karena bisa menjerumuskan diri ke dalam api neraka. Bahkan, mencium bau surga saja tidak Allah ijinkan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
Semoga Allah memberi taufik dan hidayah bagi kita semua.