Dia (orang papua yang sekolah tinggi) harus mengajar adik adik papua, non papua, supaya mereka juga jadi manusia, ungkap salah seorang mama papua.
Menjadi manusia, sebuah tujuan pembelajaran yang kerap terlupakan.
$LAYYYTER
todays bird
Sade Olutola

#extradirty
The Stonewall Inn

tannertan36
h
cherry valley forever
ojovivo

❣ Chile in a Photography ❣
untitled
No title available
hello vonnie
d e v o n
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Mike Driver
I'd rather be in outer space 🛸

Jimmy Eat World
Cookie Run:Kingdom Official!
KIROKAZE
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from Egypt
seen from Hong Kong SAR China

seen from Germany
seen from Portugal

seen from United States
seen from Spain
seen from Ecuador
seen from Chile
seen from Brazil
seen from Bangladesh
seen from United States
seen from Indonesia
seen from Saudi Arabia
seen from Bangladesh
seen from Trinidad & Tobago
seen from United Kingdom
seen from Türkiye
@sitinasyukha
Dia (orang papua yang sekolah tinggi) harus mengajar adik adik papua, non papua, supaya mereka juga jadi manusia, ungkap salah seorang mama papua.
Menjadi manusia, sebuah tujuan pembelajaran yang kerap terlupakan.
Rumah yang terdapat mihrab dengan imam di dalamnya.
"Nemu jodoh yang mau sama sama belajar tentang hidup"
Pesan yang terus terngiang ngiang di perjumpaan mengakhiri perjalanan jogja-pekanbaru dari dosen yang sudah lama sekali tidak berjumpa.
It's my 7 year anniversary on Tumblr 🥳
Di dunia yang bergerak cepat dan ingin nyaman, orang yang berhenti dan bertanya memang terlihat “ribet”. Berhenti dan mempertanyakan sesuatu adalah bagian dari pertimbangan moral sunyi yang perlu dilakukan. Dan sering kali, dunia tidak sabar dengan orang seperti ini. Namun orang-orang seperti ini penting sekali sebagai rem moral. Tanpa mereka, dunia yang serba dianggap perlu efisien, cepat dan menguntungkan ini, akan menjadi semakin liar menghasilkan kerusakan. Namun seringkali, kerusakan yang tampak rapi, legal, indah, dna menguntungkan ini terasa normal di mata kebanyakan orang. Sehingga dunia perlu orang orang yang merasa tidak nyaman sebagai sistem peringatan dini dalam bentuk manusia agar kerusakan itu tidak terus dilanggengkan.
Aku tidak selalu nyaman duduk bersama rasa yang tidak rapi. Terkadang aku lari mencari pengalihan. Tapi rasa itu tidak pernah benar-benarr selesai dan menarikku kembali berkali-kali, sampai aku akhirnya benar-benar duduk melihat dan menerima rasa rasa itu, dan merapikannya satu persatu. Semoga selalu punya keberanian untuk duduk bersama diri sendiri. Dengan utuh dan seluruh.
Aku tidak lagi mau menerjemahkan bahasaku ke bahasa logika orang lain. Biarlah aku menemukan orang yang memiliki bahasa yang sama denganku. Orang yang bicara dan memahami dengan bahasaku. Sehingga aku tidak perlu mengemas perasaan karena merasa tidak didengar dan dilihat secara utuh sebagai diriku.
Konon katanya, orang yang akhirnya menemukan “bahasa yang sama”, adalah orang yang lebih dulu belajar berhenti memaksakan diri diterjemahkan
Pengen deh punya pasangan yang ngajinya ke gus baha dan pak fahruddin faiz.
Berkali kali mempertanyakan dirii dan seperti berhadapan dengan "kebodohan-kebodohan" dirii yang ada ajaaaa bentuknya. Ternyata, membaca dan memahami literatur itu one thing. Tapi menulis agar apa yang dipahami di kepala dapat dinarasikan dengan selaras dalam tulisan adalah another thing on another level. Berkali-kali menemukan diri struggle dengan academic writing ini tapii juga berkali-kali menemukan diri mau belajar dalam setiap feedback yang diberikan oleh pembimbing maupun penguji. Rasanya bersama mereka seperti ketidaktahuanku menemukan nama, kerangka dan petunjuknya. Memulai perjalanan riset ini dari milestone terendah setelah 5 tahun ga bersinggungan dengan riset sama sekali. yang sebelumnya banyak hal aku tidak tau apa yang tidak aku ketahui (which is another level dari ketidaktahuan). Kemudian pada akhirnya bisa melewatinya satu-satu, meski sambil mempertanyakan diri, sambil ragu, aku mengapresiasi diriku tidak memilih berhenti. Langkah langkah kecil semisal hanya membuka laptop dan menatap kosong pada page revisian, pada akhirnya menggerakan meski hanya satu kalimat. Sedikit, namun itu caraku untuk menjaga proses tetap hidup. I see something different in me compared to the version of my self years ago saat mengerjakan skripsi. I see the persistence and resilience in myself
Dulu, saat kuliah di S1 di kampus naungan Kementerian Agama, sudah jadi hal yang lumrah segala aktivitas diberhentikan sejenak saat adzan. Termasuk jika sedang presentasi, lalu ada adzan dan baru akan dilanjutkan setelah adzan selesai. Namun, saat aku bekerja, hal itu jarang ku dapati. Pun begitu saat aku ke jogja. Aku juga selalu luput menyadari adzan. Tapi hari ini, cafe tempat aku mengerjakan tugas, yang sangat skena sekali, aku berhenti membaca bacaanku saat ku sadari musiknya berhenti. Ternyata sedang adzan. Dan musik kembali nyala setelah adzan selesai. Hal hal kecil seperti ini ternyata membuat orang menyadari waktu. Oh sudah waktunya dzuhur. Selain pengingat shalat, juga berarti sudah setengah hari ku lewati. Dan justru jadi moment jeda juga. Terkoneksi kembali ke diri, ke hati, ke sekitar, dan ke Allah. MasyaAllah.
31 Desember 2025
Semuanya memang ada waktunya. Akhir tahun ini, di saat aku sedang tergesa-gesa ingin segera menyelesaikan studi, ternyata malah dikasi waktu jeda yang cukup lama dari 16 Desember lalu untuk melanjutkan ikhtiarnya lagi. Meskipun tetap ada usaha yang dalam kendaliku yang masih terus aku lakukan saat ini, tapi ternyata waktu jeda yang cukup panjang ini memberi aku ruang untuk melihat lagi ke dalam. Pause and reflect. Ternyata tiap hari ada aja yang ditulis. The idea of reflecting the journey yang sudah dilewati dan akan dilewati ternyataa sangaaat aku sukai. Dan hari ini, aku mencoba merefleksikannya dengan structure setelah dari kemarin kemarin jurnaling random (dan ga pa pa juga ya kaaan).
Ya, di akhir tahun ini, di moment pause and reflect, aku merefleksikan beberapa hal berikut yang barangkali juga bisa jadi pemantik refleksi teman teman :
1. Where I am now: What this year has been like for me. Key moments, emotions, and recurring themes.
2. What I’ve learned throughout the year: Lessons about myself, my relationships, my study, and my needs.
3. What I’m proud of : both small and big things. Effort and process matters, not only outcomes.
4. What I’m letting go of : Habits, beliefs, fears, or expectations that no longer serve me.
5. How I picture myself in the future : How I hope to feel, live, and relate to myself and others.
6. A gentle message to myself : Support, reassurance, or a reminder I may need to read later.
Aku mendapatkannya di postingan seseorang di instagram. Spent the whole day reflecting on it. Ini memberi rasa penuh di dada. Merasa dilihat, didengarkan, dan diapresiasi perjalanan yang telah dilalui. Itu mungkin kenapa setiap beres jurnaling, seperti ada bagian dari diriku yang sembuh dan tenang. Because it is seen, listened to, and validated. Ini memang pekerjaan yang perlu dilakukan oleh diri sendiri. No one else can do it exactly the way it exists in your mind, selain dirimu sendiri. Selain itu, reflect on it, menelusuri kembali perjalanan yang dilewati, dari know nothing or clueless, tapi hari ini sudah melewatinya dengan proses yang baik, yang bermakna dan bertumbuh menjadi better me, pada akhirnya membuat aku merasa optimis dan mampu dengan jalan jalan yang akan ku tempuh di masa depan. I truly can rely on my self. Always.
Jumat, 26 desember 2025
Setahun ini berkutat dengan bacaan-bacaan untuk penelitianku untuk bisa memahami bagaimana mendukung perkembangan pemuda untuk menjadi aktor kewarganegaraan yang mampu membentuk, memperbaiki dan mengubah negaranya menjadi aset perkembangan yang positif untuk mendukung perkembangan positif pada pemuda itu sendiri maupun generasi mendatang. Banyak juga membaca bacaan kenapa di negara demokrasi, keterlibatan warga negara itu syarat mutlakndari kerja kerja pengawasan da kontrol dari masyarakat untuk memastikan akuntabilitas pemerintahan yang berjalan. Banyak literatur menyebutkan, keterlibatan sebagai warga negara itu bukan lagi kewajiban, tapi adalah HAK. HAK artinya sesuatu yang perlu diberikan ruang amannya.
Warga negara yang berisik itu justru adalah sinyal demokrasi kita berjalan, sinyal pendidikan kewarganegaraan kita berhasil. Bayangin, ada jutaan orang yang sama sekali tidak terdampak dari bencana itu, punya kerumitan kehidupan personalnya masing masing, tapi mereka memilih turut menyuarakan suara warga satu kebangsaannya. Kerja kerja mengawasi pemerintahan yang berjalan ini jujur melelahkan secara emosional.
Beberapa hari yg lalu, seorang psikolog share cerita bahwa di ruang praktiknya, klien datang bukan karena masalah personalnya, tapi karena kerumitan emosional yg klien rasakan melihat bagaimana pemerintahan ini berjalan. Aku pun agustus lalu berakhir di ruang konseling dengan psikologku untuk melakukan kerja pemulihan emosional karena peristiwa demonstrasi waktu itu. Hal ini terjadi karena ada koneksi emosional di sana. Sense of belonging atas bangsa ini. Keberisikan itu shows sense of community dari warga kita, hal yang paling diharapkan dari capaian warga negara kita. "Keberisikan" warga negara adalah representasi dari nilai, keyakinan, sikap, perasaan, pengetahuan, kemampuan dan perilaku yang diarahkan pada kepedulian terhadap kondisi yang berdampak pada warga negara kita. Sinyal bahwa "aku turut merasakan kepedihan yang kamu rasakan". Sinyal bahwa identitasnya sebagai warga negara Indonesia masih aktif. Sinyal bahwa ada nilai yang jadi penggerak dari apa yang disuarakan. Itu adalah panggilan moral.
Diam terkadang justru bentuk paling pesimis dari warga negara. Tapi itu justru jadi mimpi buruk yang menjadi ruang pembiaran atas pemerintahan yang berjalan. You do you bukan hal yang diharapkan dari warga negara di negara demokrasi. Titik.
Meski kemudian ada yang mengekspresikan kritik dengan cara cara yang tidak tepat, maka itu adalah tanggungjawab pemerintah untuk memberikan edukasi kehidupan berdemokrasi yang sehat itu seperti apa. Tidak bisa dipungkiri, edukasi praktik praktik kewarganegaraan kita masih banyak PR. Warga kita tidak cukup dididik dengan benar dalam berdemokrasi itu sendiri, baik dalam partisipasi elektoral seperti pilkada dan pemilu, maupun dalam prakti praktik kewarganegaraan keseharian seperti sekarang ini. Literatur ilmiah banyak sekali membahas, pemerintahan yang menerima banyak kritik dan tuntutan, jadi pihak yang paling bertanggungjawab untuk melakukan kerja kerja sosialisasi norma norma kewarganegaraan di luar pendidikan formal di sekolah.
Kemarahan publik hari ini pun sudah aku prediksi dari bahan bacaanku. Real-life incidents boost interest waraga negara untuk "bersuara" dapam berbagai bentuk. Itu adalah bentuk ekspresi dari pengalaman kolektif yang begitu masif dialami selama setahun ini. Itu adalah reaksi otomatis terhadap krisis yang besar dan kompleks. Kabar baiknya, krisis besar seperti ini jadi mendorong warga negara mengaktifkan nilai nilai moral dan kewarganegaraan yang telah mereka internalisasi dan keluar dalam bentuk yang macam macam. Tidak terhitung warga negara kita yang hari ini memberikan donasi, turut terlibat menjadi relawan, dan melakukan pengawasan, kritik, dan masukan ke pemerintahan.
Sebenarnya, keberisikan yang teruss berkembang dengan kemudahan sosial media yang mendukung percepatan informasi, justru dapat memudahkan kerja kerja pemerintah supaya dapat melihat, mendengar dan menyelesaikan isu isu yang terjadi di akar rumput. Yang barangkali "terlewat" dari pengetahuan pemerintah. Andai saja pemerintah mau melakukan itu. Adaptif merespon kemajuan teknologi sebagai ruang untuk lebih dekat dengan masyarakat, bukan justru merasa terancam dan mencoba mengendalikan keberisikan itu.
Sekian tulisan dari seorang warga negara yang sebenarnya sudah lelah sekali, tapi tidak bisa menahan diri untuk diam.
Ga semua orang berani menyelam di kedalaman diri. Ga semua orang berani memasukii dunia vulnurable. Sehingga cenderung lari. Mencari solusi yg dipermukaaan. Kebayang orang yg begini ketika ambil kebijakan. Suatu masalah negara itu pasti kompleks. Seringkali, tidak berani menyelami apa yg sebenarnya terjadi. Takut dengan kesulitan yg akan dihadapii. Merasa tidak mampu. Ini kompleks, sulit sih. Tapi kalau tidak dimulai dengan berani melihat dengan jujur luka luka itu, dan coba diurai satu satu, maka selamanya kita ketakutan akan itu. Akhirnya cari solusinya untuk menyelesaikan apa yg tampak di permukaan. Ternyataa, refleksi individu, menjadi refleksi bagaimana individu individu ini menjalankan negara. Pun sebaliknya. Hm.
Jumat, 28 November 2025
Tidak ingat persis pada temu yang mana cerita ini mulai berarti. Namun cerita ini mulai menuntun dan membentuk cara melihat diri dan dunia di sekitar.
Parameter kedewasaan dapat dilihat dari cara pikir, cara bicara dan cara merasa.
Hari ini, di tengah hati yang rasanya bingung dan gamang membayangkan sunyinya hari hariku karena sahabatku kembali pulang ke kampung halamannya. Di perjalanan menuju rumah sakit untuk memeriksakan gigiku, aku membaca sebuah tulisan di sebuah mobil. "Wes wayahe, noto urip, noto ati".
Ya, barangkali, di 3 bulan terakhirku di Jogja ini, aku diberi ruang untuk lebih banyak sendiri, lebih banyak ruang untuk berdialog dengan diri sendiri. Mengatur rencana hidup dan mengatur hati untuk mempersiapkan diri pada banyak kemungkinan hidup setelah menyelesaikan studi. Kemana harus melangkah, apa dan bagaimana yang terasa benar dan tenang di hati. Termasuk mulai menata hati pada segala kemungkinan yang akan hadir di masa depan. Bahwa segalanya, akan aman dengan tuntunanNya. Bahwa pada jalan jalan tersulit dan mustahil pun, aku akan baik baik saja jika aku tidak kehilangan pegangan keyakinanku pada hal-hal baik yang Ia sedang aturkan. Apapun itu bungkusnya, isinya akan selalu baik untukku. Hanya saja mungkin aku butuh waktu untuk benar-benar memahaminya nanti. Seperti tahun ini, tahun depan akan menjadi perjalanan yang menumbuhkan. Bismillah.
Senin, 3 November 2025
Pada akhirnya, manusia bukan hanya menderita karena apa yang ada di jalannya kini, melainkan juga pada bayangan yang diciptakan pikirannya akan masa depan. Namun pada penderitaan yang demikian, selalu tersedia ruang sunyi untuk menemukan diri pada ia yang berani berjalan meski tidak pasti pada badai apa yang menunggunya di depan. Bahwa ada keyakinan ada diri barunya lagi yang akan ia temui setelah perjalanan penderitaan itu. Dalam penderitaan, manusia belajar hanya berpegang pada diri dan Tuhannya. Penderitaan yang menarik semua kemegahan diri, lalu pada akhirnya menemukan diri paling sejati, tentang siapa ia tanpa atribut atribut yang ia sematkan pada dirinya. Utuh. Tanpa syarat. Tanpa apapun yang tampak di permukaan. Hanya dirinya.
Pada akhirnya, jalan penderitaan itu akan selalu ia pilih lagi dan lagi jika harus mengulang hidup yang sama. Karena pada penderitaan itu, pada "titik bawah" manusia, ia menemukan dirinya. Ia rela membayar apapun untuk itu. Untuk dirinya.
Minggu, 2 November 2025