Hai M, pernahkah kamu lelah, demikian lelah hingga rasanya menyerah adalah pilihan paling masuk akal dari hidup yang kepalang tengik? Seperti puisi bikinan Chairil, hidup hanya menunda kekalahan, sebelum akhirnya kita dipaksa menyerah. Perasaan itu demikian brengsek dan kian makin brengsek karena kamu merasa kebodohan manusia tidak bisa diselamatkan dengan kata-kata dan akal sehat.
Bisakah kita berharap orang lain mau mengerti dan belajar tentang empati? Kamu tahu itu, kita paham ini, empati bukan sesuatu yang bisa diajarkan seperti matematika 1+1=2. Empati lebih kompleks daripada itu. Kita berusaha untuk peduli dan mengerti sesama, karena kita tahu, kelak jika nasib kebetulan aduhai blangsak, kita bisa berharap orang lain membela kita.
Tentu empati bukan soal quid pro quo, atau semacam kamu beri sesuatu kamu dapat sesuatu. Ini soal memetik apa yang kamu tanam. Ini bukan seperti hukum fisika, apa yang kamu berikan setara dengan apa yang kamu terima. Ah aku bukan pakar fisika, tapi kukira kau tahulah apa maksudnya itu.
Aku sekarang orangnya bisa paham, sudah tidak lagi menjadi kanak-kanak yang percaya bahwa ada perasaan platonik. Tapi sesekali di waktu yang tak biasa empati itu datang. Misal ketika kamu melihat foto anak anak yang tak berdaya melawan kanker, atau anak-anak pengungsi Gafatar yang diusir, atau mungkin bau terasi yang membuatmu merindukan ibu. Empati, seperti juga perasaan sentimentil kerap kali membuat kita susah.
Semakin hari kita semakin tua dan perasaan-perasaan yang dulu kita rayakan sebagai kemenangan perlahan hilang. Seolah mereka hanyalah sekumpulan perkakas bekas yang rusak dan rongsok. Perasaan demikian merepotkan, kita dibuat melakukan hal hal yang tak masuk akal. Memandang bulan lalu menangis, berdiam diri di tengah hujan, atau berdiri di antara kerumunan orang tapi kesepian.
Ingatan mengajarkan kita rendah hati, sementara masa depan mengajarkan kita kewaspadaan. Tapi apa yang lebih menggelikan ketimbang mengetahui kekalahan nasib sejak awal mula permainan? Barangkali itu yang dirasakan banyak orang di negeri ini. Wahai perempuanku yang demikian manis, tahukah kau rasanya dipaksa kalah dan diharuskan kalah apapun yang kau lakukan?
Rasanya seperti dipaksa memakan durian dengan kulitnya. Berlebihan memang, mustahil dan menggelikan, tapi siapa bilang hidup tidak menggelikan? Pernahkah kamu membaca puisi Sitor Situmorang perempuanku? Dalam Berita Perjalanan ia menggambaran tentang peristiwa di mana hati bisa demikian pandir bekerja, sementara kepala demikian kolot berpikir.
Kujelajah bumi dan alis kekasih
Kuketok dinding segala kota
Semua menyisih
Keragaman nikmat bebas
Serta kerdilnya ikatan batas
Tersisa di tangkapan hanya hampa
Lalu mengapa kita kemudian tetap memelihara empati perempuanku? Jika memang ia tidak penting, menyusahkan, dan demikian ringsek seperti kursi sekolah yang karatan, mengapa kita tetap menyimpannya. Eksistensialisme meremehkan empati dan segala absurditas manusia yang berusaha tetap manusiawi. Tapi bukankah kita begitu perempuanku? Demikian absurd, brengsek, dan keji tapi bertingkah seperti sesuci nabi?
“Aku lelah, ingin tidur,” katamu.
Lalu aku berdoa agar nafasmu tak terputus dan kebahagiaanmu memanjang.