Diujung?
Penghujung April, 01.23 pagi.
Pasca menonton kekalahan timnas Indonesia yang penuh intrik dan ketidakadilan dari sang pengadil, aku belum terkantuk.
Sepertinya hari ini kekopian, asam lambung bikin anxiety? berlebihan sih, mungkin lebih pantas disebut overthinking? entah. Aku hanya ingin tidur pulas sebenarnya.
Hari ini berjalan cepat, seperti tidak terjadi apa-apa. Jarum jam berputar saja seperti biasanya tanpa meninggalkan bekas apa-apa.
Ini hari kesekian, aku mencoba menjadi sesuatu, entah berhasil atau tidak. Mencobai sesuatu yang tak biasa sukar sekali rasanya.
Akhir pekan kemarin ditemani kawan lama sedari sore hingga lewat dini hari. Banyak hal dibahas, banyak obrolan terlontar. Dari mulai tawa bahagia pengantin baru, hingga hancurnya hati ditinggal yang baru jadi pengantin.
Dunia memang selucu dan seunik itu, kita bahkan belum sempat bersiap, tapi takdir? berkata lain.
Sukar rasanya bilang mereka tidak berjuang, karena nyatanya perjuangan mereka menemui akhir berbeda. Satu temukan jalan, menuju pelaminan, sedang satu lagi temukan jalan, untuk mengikhlaskan melihatnya di pelaminan.
Sedang aku? Heemm, seperti mencari sebuah kunci ditumpukkan jerami yang terbakar. Sakit, perih, pedih, sedih, panas.
Yang satu menceritakan bagaimana serunya menjadi pasangan baru, mencoba mencari kelucuan ditiap hal yang pertama kali mereka lakukan. Sedangkan yang lainnya mencoba mencari bahagia ditiap hal yang berusaha ia lupakan dengannya.
Sedang aku? Memilih bertahan meski tanpa tau kemana akhir membawa. Memilih bergelantungan di dahan pohon yang entah kapan akan patah juga.
Yang satu menceritakan bagaimana menemukan cinta sejatinya, pagi pertama membuka mata melihat orang yang dicintainya. Sedangkan yang lainnya menceritakan bagaimana sore itu membaca pesan singkat sebuah undangan, namun bukan namanya yang tertera disalah satunya.
Sedang aku? Masih mencobai segala kemungkinan dan harapan, kalau-kalau jadi proses dan perubahan. Tapi siapa yang dapat meyakinkan? tidak ada. Aku berjuang sendiri, memikul rasa sendiri. Hanya Tuhan yang dapat memahami sekuat apa ketulusan ini.
Sudah ya, hampir pukul 02.00 pagi, aku harus bekerja esok hari. Baiknya berdoa dulu, semoga hari ini terlewati dengan penuh kebaikan, dimaafkan segala khilaf, membuatku menjadi manusia yang makin kuat.
Kalau boleh meminta Tuhan, aku ingin esok lebih hangat, tunjukkan segera mana yang harus kutunggu, mana yang harus kugapai, mana yang harus aku perjuangkan, mana yang hanya untuk aku doakan dan semogakan, mana yang harus aku ikhlaskan dan tinggalkan.
Amin.

















