Aku hampir saja memberi penghargaaan “bulan terburuk tahun 2012” pada Agustus. Aku tahu ia tidak bersalah, aku tahu dia tak punya kuasa untuk melakukan dosa, karena hanya aku yang dapat melakukannya. Ah, liburan SMA sebentar lagi berakhir dan aku hanya bisa terbaring lemas dan sesekali mengecek kabar sekolah dan berita hari ini di twitter. Kecelakaan yang terjadi pada tanggal 28 Juli 2012 alias pada ulang tahun ayah ke-49 membuatku harus beristirahat total di rumah. Sebenarnya kalau diingat-ingat kecelakaan tersebut terjadi karena kebodohanku. Ya, andai saja aku tidak menggunakan kaki yang cedera saat turun dari angkot dan memaksa pulang naik ojek, kemudian pingsan di motor, jatuh ke aspal, melukai kepala dan punggung, mematahkan tulang rusuk, dan merobek baju kesayanganku aku pasti tidak akan terbaring lemas tak berdaya di rumah. Sial, padahal sebentar lagi aku menjalani kelas 12. Ya, masa penentuan sebelum menapaki jenjang kehidupan lainnya alias kuliah atau kerja. Bagaimana kalau aku tak kunjung sehat? Bagaimana jika aku harus bolos sekolah selama 1 bulan? Argh. Sudahlah, tak perlu sugesti jahat seperti itu. Aku harus lekas sembuh.
Setelah menjalani pola hidup monoton selama kurang lebih 2 minggu alias bangun, makan, minum obat, tidur, bangun, cek telepon genggam, tidur, bangun, dan seterusnya. Performa tubuhku akhirnya meningkat dan aku sudah bisa beraktifitas kecil seperti baca koran, mengakses internet via computer jinjing, dan menonton TV di rumah tanpa merasa pusing. Bahkan aku sudah bisa menyanyi-nyanyi dan mengikuti tarian salah satu grup K-Pop favoritku, SNSD dengan perasaan bahagia. Aku merasa kembali segar! Aku pikir itu lah titik balik hidupku setelah mengalami kecelakaan, ternyata tidak. Yang Maha Kuasa memberiku titik balik lain yang lebih memuaskan dan menyegarkan.
Malam itu berjalan seperti biasa, kegiatanku hanya melihat linimasa twitter yang terus bergulir, bergulir, terus bergulir seakan tanpa arti. Namun, setelah bergulir tanpa arti, jariku berhenti menggulirkan linimasa memberi respon pada mataku yang tertuju pada satu tweet yang kurang lebih berisikan,
“Dicari admin media sosial brand ternama, yang minat bisa langsung mention saya. Thanks!”.
Demi apa? Serius? Berbekal minat pada media sosial dan pengalaman singkat memegang akun twitter acara pensi SMA, aku langsung mention mbak pembuka lowongan kerja (sebut saja Mbak K), karena aku tidak ingin melewatkan kesempatan langka ini. Setelah mention dan DM, akhirnya hubungan kami naik ke jenjang e-mail, dan akhirnya sampai pada titik, “Coba kamu bikin konten tentang pentingnya diet dan hidup sehat,” Oh oke. Pasti ini produk makanan/minuman sehat. “Lekas kirim, ya. Saya tunggu secepatnya.” Lanjut isi e-mail dari Mbak K.
Alamak. Harus apa aku.
“Mohon maaf, kalau boleh tahu ini untuk segmentasi kelompok apa, ya?” Begitu balasan e-mail-ku karena aku harus menyesuaikan bahasa contoh tweet-ku pada prospek yang tepat. Tidak mungkin aku membuat konten hidup sehat bayi dan balita kepada segmentasi kelompok remaja laki-laki umur 15-17, bukan?
Beberapa menit berselang e-mail-ku dibalas, “Wah, pertanyaan bagus! Nilai plus, nih. Segmentasi produk ini untuk usia 20 – 35 tahun.” Balasan tersebut tentu saja membuat rasa percaya diri saya meningkat. Langsung saja saya berikan yang terbaik dalam membuat contoh konten tersebut, selesai, kirim! Aku menghela nafas. Jantungku berdegup dengan cukup cepat karena antusias. Sambil menunggu balasan, aku terus me-refresh laman gmail. Terus refresh, refresh, refresh, ah! E-mail baru! Dari Mbak K!
“Wah, kontennya menarik! Besok bisa ketemu? Kalau bisa, di Starbucks Sarinah, ya.”
Gila! Serius? Wow. Bagai mimpi! Langsung mengajak bertemu, bos! Tentu saja aku langsung mengiyakan, tak peduli dengan kondisi tubuh yang tidak 100 persen sehat dan tempelan perban di kepala. Akan tetapi, aku baru ingat sesuatu, aku masih SMA! Bagaimana kalau Mbak K merasa dibohongi? Langsung saja aku menambahkan isi e-mail yang hampir terkirim itu, “Mohon maaf, tetapi saya masih SMA. Tidak apa kah?”
Dengan waktu yang tidak lama, aku mendapat balasan, “Saya sudah tahu. Saya sudah mengecek linkedin kamu. Tidak apa, kok.”
Deg!
Aku pun tertawa dalam hati dengan perasaan yang senang karena ternyata ada yang melihat CV online-ku! Keesokan harinya, aku langsung pergi ke tempat yang dituju. Sesampainya di sana, aku kaget karena ada tiga orang yang mewawancaraiku. Tegang? Deg-degan? Pasti. Namun, ketegangan ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan masa pada saat aku menjadi junior Paskibra. Dimana senior dan alumni selalu hadir dan siap untuk memberi omelannya yang penuh “kejahatan”.
Sebelum memulai wawancara, aku berkenalan dengan tiga orang yang akan mewawancaraiku. Akhirnya aku bertatap muka dengan Mbak K. Dua orang lainnya adalah rekan satu kerjanya, sebut saja Mbak V dan Mbak F. Mereka bekerja di agensi periklanan, yang berarti aku juga akan ikut bagian di dalamnya. Sesi wawancara berjalan dengan cukup santai, aku bisa menjawab pertanyaan yang ada dengan rileks seakan berbicara dengan teman baru. Pertanyaan yang ditanya juga standar, tidak ada yang aneh. Baru pada pertanyaan final nan penting yang menjadi salah satu alasan mengapa kita rela sekolah setinggi mungkin dan bekerja sekeras mungkin…
“Kamu mau gaji berapa?”
Ketiga pasang mata pewawancara langsung tertuju pada mata saya. Walaupun saya tahu pertanyaan tersebut akan muncul, tetap saja degup jantung tidak bisa dibohongi. Menghela napas sejenak, saya menjawab,
“Karena saya baru dan tidak berpengalaman, saya siap menerima gaji sesuai dengan performa saya.”
Setelah menjawab pertanyaan tersebut, entah kenapa saya langsung merasa lega. Seakan beban terberat telah terangkat. Terlebih lagi melihat ketiga pewawancara menyunggingkan senyum.
“Oke, terima kasih Novia. Tunggu kabar lebih lanjut via e-mail, ya.”
“Ah ya, terima kasih juga, Kak.”
Setelah bersalaman dengan ketiga pewawancara saya bergegas pulang. Jadi itu rasanya wawancara kerja? Seru juga.
Dua hari berselang, aku menerima e-mail dari Mbak K yang di-cc ke e-mail Mbak V dan Mbak F. Dengan penasaran, langsung aku buka e-mail tersebut. Dengan pelan, aku menekan tombol panah ke bawah hingga akhirnya menyentuh badan e-mail. Di situ, aku menemukan kalimat,
“Dear Novia, selamat bergabung di tim ****** (nama merk)!”
Segala puji syukur bagi Yang Maha Kuasa, aku diterima! Aku diterima! Impianku untuk mempunyai pekerjaan (dan pendapatan tentunya) pada saat aku SMA telah tercapai! I’m a freelance social media administrator!
Namun, kebahagiaan itu tidak boleh berlarut karena dengan diterimanya aku, berarti tanggungjawabku pun juga bertambah antara sekolah dan kerja dan trust me it’s absolutely not an easy task, not at all. Bayangkan, aku harus membuat konten setiap harinya ditambah dengan pekerjaan rumah dan prediksi ujian nasional yang begitu menumpuk. Aku sering tidur lewat dari jam 12 (jam tidur yang kurang ideal untuk anak SMA) karena harus menyelesaikan tugas-tugas. Belum lagi telepon dari Mbak F dan Mbak V yang sering tidak tahu jam, yaitu pada saat pelajaran berlangsung. Pelajaran yang diujikan di ujian nasional pula! Beberapa kali pula kehidupanku di kelas menjadi tidak tenang karena aku sering dikirim e-mail koreksi, yang beberapa kali membuatku takut jika salah satu e-mail tersebut berisi pemecatan. Bagaimana pun juga, aku harus tetap bertahan. Namanya juga pengalaman perdana, ya pasti sulit.
Setelah sebulan menjalani kerja yang cukup melelahkan otak dan tubuh, akhirnya aku mendapatkan gaji perdanaku! Sumpah. Aku begitu bahagia. Asli. Rasanya kerja kerasku terbayar. Memang tidak besar untuk pada pekerja yang sesungguhnya, tetapi untuk ukuran pelajar SMA gaji yang digit-nya ada 7 itu sangatlah besar! Sempat larut dalam kebahagiaan gaji perdana, aku harus menghadapi kenyataan yang pahit karena peringkatku pada rapor bayangan begitu rendah. Aku cukup sedih, karena aku dalam hati aku sangat ingin mendapatkan nilai yang sangat baik untuk mendapatkan SNMPTN jalur undangan. Bagaimana pun juga hasil tersebut tidak bisa diubah dan hasil tersebut merupakan buah kerja diriku sendiri. Oke! Aku harus berubah agar kehidupan sekolah dan kehidupan kerja tetap berjalan lancar!
Buah perubahan tersebut merupakan hasil yang sangat baik. Aku mendapat peringkat 10 besar di kelas dan akhirnya aku berhasil mendapat jurusan keinginanku dengan jalur undangan. Dan untuk dunia kerja? Walaupun pastinya ada beberapa halang-rintang, tetapi aku berhasil menjalani 5 bulan masa kerja dengan lancar. Bahkan aku diberikan bonus oleh “bos-bosku” yang baik hati, terima kasih Mbak K (walaupun sudah pindah kantor di tengah masa kerjaku), Mbak F, dan Mbak V atas kesempatan yang diberikan! Namun, sepertinya bukan hanya mereka yang harus diberi terima kasih. Selain keluarga dan teman nampaknya aku juga harus memberikan terima kasih padamu. Iya, kamu yang telah memberi aku koneksi dengan dunia kerja yang kelihatannya sulit digapai oleh seorang siswi SMA. Ya, terima kasih sosial media. Kelihatan remeh, ya? Tidak, aku serius. Sungguh. Terima kasih.
Setiap orang mungkin mempunyai idolanya masing-masing. Entah itu seorang aktris, aktor, penyanyi, atlet, penulis, dan sebagainya. Begitu pula dengan diri gue sendiri yang juga memiliki seorang idola yang bener-bener gue kagumi sosoknya. Walaupun sebenernya gue bukan tipe orang yang mudah mengidolakan seseorang, tapi dia, orang yang gue idolakan ini berbeda menurut gue. Beda banget. :))
Denny Sumargo, dialah idola kesayangan gue, idola sepanjang masa gue. Sebenernya gue udah pernah cerita tentang dia di postingan ini » 14 Mei 2012, lumayan detil sih di situ, tapi berhubung ada ajang #SocmedStory, gue jadi pengen menceritakan kembali tentang idola gue yang satu ini di #SocmedStory, anggep aja ini repost dari postingan 14 Mei 2012 . Yaaa, karena melalui media sosial jugalah gue sama Denny Sumargo saling komunikasi dan bahkan bisa bertemu langsung dengan dirinya.
Pertama kali gue ngefans sama Denny Sumargo adalah saat gue nonton pertandingan IBL (Indonesian Basketball League) yang sekarang udah berubah nama jadi NBL Indonesia (National Basketball League) yang saat itu masih ditayangkan di salah satu tivi swasta. Kalo nggak salah itu sekitar tahun 2008 atau 2009, yang pasti waktu itu gue masih SMP, masih unyu-unyu dan belum mengenal kejamnya dunia. Gue inget itu pertama kalinya gue nonton pertandingan basket di tivi, jelas dong gue yang dulu juga anak basket nggak bakal mindahin channel-nya, tapi malah kegirangan, seneng, lalu duduk anteng dan sekali-sekali meracau kalo pertandingannya lagi seru dan panas. Dan tim pertama yang gue saat itu tonton adalah tim Garuda Bandung, tapi gue lupa siapa tim lawannya, yang jelas waktu itu gue langsung terpesona sama permainan dari tim Garuda Bandung ini. Semakin terpesona dengan pemain Garuda Bandung yang bernomor punggung 22 dan tercetak nama Sumargo di punggung jersey-nya. Cowok sipit, tinggi, dan gagah itu mencuri perhatian gue, mata gue enggak lepas dari gerak-geriknya. Entah dia berlari ke sana-sini, mata gue selalu mengikuti ke mana pun dia pergi, sekalipun dia nggak lagi megang bola. Seketika gue jatuh cinta dengan caranya dia bermain, gue terpesona setiap dia menjadi play maker (pengatur permainan), gue berdecak kagum saat dia bisa membuat gerakan yang mampu mengecoh lawannya, gue melongo saat dia melakukan no look pass, gue histeris saat dia berhasil memasukkan bola ke ring dan menambah point untuk timnya. Pertandingan selesai tapi otak gue masih kebayang-bayang sosok bernomor punggung 22 itu, gue masih kebayang-bayang permainannya dia, wajah seriusnya saat bermain, wajah lucunya saat dia berhasil menambah point, wajah lelahnya saat time out pertandingan,gue nggak bisa lupa, semua terekam dengan baik di ingatan gue. Ya, hari itu gue resmi jadi fansnya dia, pengagum, pecinta, penggemar permainannya dia di lapangan basket. Hari itu juga, Denny Sumargo mengisi ruang di hati gue. *tsaelaaaaahhhh*
Semenjak itu, setiap ada pertandingan IBL yang tayang di tivi, gue selalu berharap bahwa pertandingan yang ditayangkan adalah pertandingannya tim Garuda Bandung. Dan semenjak itu juga gue menjadikan Denny Sumargo sebagai role model gue dalam bermain basket. Gue pelajari semua tehnik, gerakannya Denny Sumargo, selain gue belajar dari pelatih gue, gue juga belajar banyak tentang basket dari Denny Sumargo. Gue pengen permainan basket gue sama kerennya kayak Denny Sumargo. Tehniknya Denny Sumargo yang paling favorit buat gue adalah no look passing alias mengoper bola tanpa ngeliat ke temen, tapi tepat sasaran cuy, kan keren kayak gitu itu, susah lagi. Gue kalo latihan di sekolah suka menirukan gerakan-gerakannya Denny Sumargo yang udah sering gue lihat, sering latihan-latihan sendiri juga, dan akhirnya gue bisa lho no look passing dengan tepat ke arah temen gue. Cuma nggak pernah gue pake kalo pas pertandingan. Takut disemprot sama pelatih terlalu banyak gaya. Hahaha. Pokoknya selama IBL ditayangin di tivi, wajah Denny Sumargo sering menghiasi layar kaca gue. Seneng banget bisa nonton dia main basket. Keren banget. Bahkan kalo boleh jujur, gue lebih suka ngeliat dia main basket daripada main film, dia lebih keren ada di layar kaca sebagai pemain basket, bukan berakting. Itu menurut gue doang sih. Nggak tahu deh yang lainnya. Heuheu. Dari situ juga gue mulai mengikuti perjalanan karirnya Denny Sumargo di basket. Membaca artikel-artikelnya dia, menambah akun Facebooknya dia di list pertemanan gue, yang gue inget banget waktu itu dia punya 5 akun Facebook pribadi yang emang sengaja dibuat supaya dia bisa menerima friend request dari para fans-nya, dan ya entah hoki apa gimana, friend request gue buat ke-5 Facebook-nya Denny Sumargo di-accept semua. Selain itu gue juga follow akun Twitter-nya dia yang waktu itu followers-nya masih berjumlah kurang lebih 78 ribu, belum sebanyak sekarang. Gue mengikuti dan meng-update perjalanannya dalam diam. Gue belum pernah nonton pertandingannya dia secara langsung, gue belum beli biografinya dia karena kebutuhan sekolah waktu itu lagi banyak-banyaknya, gue enggak pernah nyepik dia di Facebook maupun Twitter. Gue mengagumi dia dari jauh. Karena gue tahu dia orang terkenal, banyak fansnya, gue hanya takut kecewa kalo pehatian gue waktu itu diabaikan sama dia, mana ada sih waktu luang buat orang terkenal menyapa fans-fansnya? Walaupun gue sering lihat sih kalo di Facebook dan Twitter dia sering menyapa fansnya langsung, tapi entahlah waktu itu gue enggak berhasrat untuk ikutan menyapa dia kayak fans-fansnya yang lain. Buat gue, mengagumi dan mendukung dia dari jauh dan dalam diam udah cukup. :)
Tapi seiring berjalannya waktu, IBL yang sudah berubah nama jadi NBL Indonesia, udah mulai nggak ditayangin di tivi lagi. Terakhir gue nonton pertandingannya Garuda Bandung di layar kaca itu tahun 2011. Itu pun Denny Sumargo lagi sering-seringnya jadi cadangan karena lagi cedera lutut ligamen ACL, jadi ngeliat dia main itu jarang banget. Setelah NBL Indonesia bener-bener nggak ditayangin di tivi lagi, gue merasa kehilangan sosoknya Denny Sumargo, gue sedih nggak bisa nonton dia lagi, gue nggak bisa belajar banyak tehnik basket dari dia lagi. Gue..sedih…nggak cuma karena kehilangan Denny Sumargo, tapi juga sedih karena kehilangan tayangan NBL di pertelevisian Indonesia. Hiks.
Selepas NBL Indonesia nggak ditayangin lagi di tivi swasta, ternyata tahun 2011 itu tahun terakhir Denny Sumargo jadi atlet basket. Alias, dia udah gantung sepatu di tahun 2011. Alasannya sih dia sudah merasa cukup malang melintang di dunia perbasketan, dia udah merasa cukup 12 tahun menjadi atlet basket dan ingin mencoba hal-hal baru di hidupnya, dia ingin menata masa depannya lebih baik lagi. Tahu Denny Sumargo pensiun jadi atlet basket itu sebenernya sedih banget sih, gue bener-bener udah nggak bisa aksinya dia di lapangan, gue udah nggak bisa ngeliat dia berlari ke sana-sini, memasukkan bola, gue nggak bisa lagi ngeliat sosoknya bernomor punggung 22, gue nggak bisa liat dia jadi pemimpin permainan. Ah, sedih banget begitu tahu dia pensiun. Bener-bener sedih. Rasanya lebih sedih dari patah hati malahan. Sedih banget, banget, banget. Tapi ya apa daya, itu sudah menjadi keputusannya yang menurutnya paling baik. Sebagai fans yang baik, gue hanya bisa mendukungnya aja. :’)
Denny Sumargo pensiun, gue semakin susah mencari dia apalagi kalo pas kangen nonton aksi dia di lapangan. Semenjak dia pensiun, dia serasa ditelan bumi karena menghilang entah ke mana. Facebooknya masih aktif, sedangkan pada tahun-tahun itu gue belum aktif di Twitter. Gue mainan Twitter kalo pas online di komputer aja. Jadi kalo lagi beruntung banget gue bisa nemuin dia lagi online dan lagi nge-twit juga. Atau kalo gue lagi ada waktu luang, gue suka stalking akun Twitter-nya dan membaca kicauan dia di sana. Gue paling suka kalo dia udah nge-twit yang diawali dengan #katanya. Kalo udah gitu dia pasti nge-twit kata-kata bijak yang dia ambil dari pengalaman hidupnya sendiri. Atau selain nge-twit #katanya, dia bakal cerita tentang perjalanan hidupnya di Twitter, cerita bagaimana susahnya dia dulu sebelum dia menjadi atlet basket dan Denny Sumargo yang sekarang ini. Dan membaca kicauan dia di Twitter membuat gue tambah kagum sama dia, terutama dengan perjuangan dan perjalanan hidupnya yang dia ceritakan di Twitter. Waktu itu dia pun terkadang posting tulisannya di blog-nya dan gue membacanya. Tulisannya dia bisa dikatakan bagus dan menginspirasi banyak orang. Dan di blog-nya pula gue menemukan 3 bab potongan cerita dari biografi-nya dia. Baru baca 3 bab doang gue udah merinding sama perjalanan hidupnya dia, dan seketika itu juga gue jadi nyesel nggak beli biografi-nya dia dari dulu. Iya, gue udah ngubek-ngubek semua akun media sosialnya Denny Sumargo termasuk Instagram-nya dia walaupun waktu itu gue belum punya Instagram. Hahaha. Walaupun udah stalking sana-sini, gue tetep jadi silent admirer-nya Denny Sumargo. Gue tetep masih merasa cukup hanya dengan meng-update beritanya dia tanpa perlu menyapa dia lewat media sosial. Ditambah, gue udah mulai liat dia jadi model iklan, dari model iklan susu anak-anak, biskuit, vitamin water, air mineral, dan pernah lihat dia akting untuk pertama kali di sebuah sinetron yang gue lupa judulnya apa. Inget banget waktu itu dia perannya jadi dokter dan kalo nggak salah inget dia cuma kebagian 1 episode doang. Hahaha. Jujur aja waktu pertama kali ngeliat dia main sinetron, gue geli. Lucu aja liat mantan atlet basket main sinetron, perannya jadi dokter lagi. Lucu-lucu gimana gitu. Lumayanlah, bisa ngeliat sosoknya dia lagi di layar kaca walaupun bukan sebagai atlet basket lagi. :)))
Tahun 2012, gue udah mulai aktif mainan Twitter. Gue udah semakin mudah menemukan Denny Sumargo lagi online di Twitter. Dia masih suka konsisten dengan twit-twit #katanya milik dia. Gue masih kekeuh untuk menjadi silent admirer-nya Denny Sumargo. Sampe semuanya berubah ketika gue iseng me-reply twit-nya dia. Karena waktu itu di nge-twit caption 'Arial' dilengkapi dengan selfie-nya dengan potongan rambut baru serta tambahan kaca mata di wajahnya. Gue nggak asing dengan Arial yang Denny Sumargo maksud, karena nama itu adalah salah satu tokoh di novel favorit gue, 5cm. Karena gue penasaran kenapa dia nge-twit kayak gitu langsung deh gue tanya. Walaupun waktu itu jujur aja gue nggak berharap reply-an gue bakal dibales. Pasrah, beneran nggak mikir mau dibales apa enggak dah. Namanya juga iseng, campur penasaran sedikit sih, berhubungan sama novel favorit sih. Heuheu. Gue enggak nunggu balesannya tapi malah lanjut nge-scroll timeline gue. Lagi asyik nge-scroll tiba-tiba gue liat akunnya Denny Sumargo dan ternyata………..DENNY SUMARGO BALES MENTION GUE, GAES! FOR DA’ FIRST TIMEEEEE!!
Iyeeesss, untuk pertama kalinya Denny Sumargo bales mention gue. Walaupun cuma 1 kata seiprit gitu doang, tapi udah bikin gue mau salto dari tempat tidur gue. Karena nggak bisa salto, akhirnya gue guling-guling di tempat tidur saking senengnya gue. Seneng banget, seneng gilak, nggak nyangka aja mention gue bakalan dibales sama Denny Sumargo. Dan semenjak itulah gue jadi berani untuk terus-terusan mention Denny Sumargo. Iya, semenjak 14 Mei 2012, gue udah bukan lagi menjadi silent admirer-nya Denny Sumargo, gue udah mulai berani dan ketagihan untuk nge-mention Denny Sumargo. Dan semenjak 14 Mei 2012 itulah, gue mulai ngobrol sama Denny Sumargo. Walaupun cuma ngobrol-ngobrol sedikit. Tapi gue seneng punya idola yang ramah dan humble-nya bukan main kayak gini. Mention gue udah banyak gaes yang dibales sama Denny Sumargo dan selalu gue masukin ke tab favorite. Karena mention dari dia itu semacam moodbooster buat gue, membaca mention dari dia aja bisa bikin gue yang awalnya cemberut jadi senyum. Hihihi.
Jelas gue semakin dibuat kagum sama Denny Sumargo dong, dan dia udah gue anggap inspirator gue, salah satu orang yang mengubah hidup gue. Gue suka banget sama sikapnya Denny Sumargo yang baik, ramah, dan rendah hati banget sama fans-fansnya. Semenyebalkan apapun fansnya itu, Denny Sumargo tetep welcome kepada siapa aja yang mengagumi dirinya. Dan gue makin dibuat makin makin makin kagum sama dia sejak gue dibelikan biografinya Denny Sumargo sebagai kado ulang tahun gue sama Mama di akhir tahun 2012. Gue berdecak kagum membaca kisah hidupnya di biografi tersebut. Gue salut sama jalan hidupnya, keras kepalanya, usahanya yang mau untuk terus berjuang, kemauannya, ketangguhannya, pokoknya gue tambah kagum banget sama jalan hidupnya Denny Sumargo gara-gara abis baca biografinya dia. Terutama salut banget sama perjuangan Mama-nya yang membesarkan Denny Sumargo seorang diri. Gue makin jatuh cinta sama Denny Sumargo…. :’)
Setelah gue cukup tahu tentang kehidupannya Denny Sumargo, gue jadi pengen banget ketemu sama dia secara langsung. Gue pengen ngobrol sama dia, pengen peluk, pengen kasih dia hadiah, pengen berterima kasih, pokoknya gue pengen ketemu sama Denny Sumargo. Dan Tuhan mendengarkan doa gue. Tuhan izinkan gue ketemu sama Denny Sumargo 19 April 2014, melalui acara Gala Premier Mall Klender. Waktu itu Denny Sumargo mengadakan kuis di Twitter yang berhadiahkan tiket undangan Gala Premier Mall Klender, filmnya Denny Sumargo setelah 5cm. Puji Tuhan gue menang saat itu dan jelas gue seneng banget karena pada akhirnya gue punya kesempatan buat ketemu sama idola kesayangan gue. Walaupun pada waktu pengumuman pemenang, gue ragu buat berangkat ke Jakarta karena pertimbangan ini itu. Tapi akhirnya gue memilih nekat berangkat ditemani 2 sahabat gue. Gala Premier Mall Klender menjadi pertemuan pertama gue sama Denny Sumargo! Seneng banget karena gue bisa ketemu dia, akhirnya kan. Di Gala Premier Mall Klender itu juga banyak cerita lucu, bego, paniknya gue yang pertama kali ketemu sama Denny Sumargo. Bener-bener pengalaman yang nggak terlupakan. Di Gala Premier Mall Klender itulah gue dapet tanda tangannya dia di biografinya dia, dapet foto bareng sama dia dan Mamanya juga, dapet ngasih kado buat dia, dan yang paling nggak terlupakan, gue dapet salaman dan tosnya dia ditambah panggilan ‘sayang’ yang dia lontarkan untuk gue. 19 April 2014 yang bener-bener nggak terlupakan untuk gue, gaes. Senengnya gue udah nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata pokoknya. :))
Tentu aja nggak berhenti sampe di situ doang, gaes. Setelah tanggal 19 April 2014, gue sama Denny Sumargo masih sering mention-mentionan. Walaupun udah nggak sesering tahun 2012 karena tahun 2014 itu tahun tersibuknya Denny Sumargo. Dia dapet banyak tawaran untuk bermain film, mengisi sebuah acara travelling di salah satu tivi swasta. Dia sibuk banget dan membuat dia menjadi jarang untuk sekadar online di Twitter. Gue bisa memaklumi sih dan malah bagus kan untuk karirnya dia yang sekarang ini menekuni di dunia entertain dan sekali lagi, sebagai fans yang baik gue cuma bisa mendukung dia dari jauh. Ahzek.
Desember 2014, Tuhan memberikan gue kesempatan lagi untuk bertemu sama Denny Sumargo! Kali ini Denny Sumargo mengadakan kuis di Twitter yang berhadiahkan tiket undangan Gala Premier Danau Hitam. Dan Puji Tuhan gue menang lagi saat itu dan jelaslah gue seneng banget dapet kesempatan buat ketemu sama idola kesayangan gue, apalagi mumpung gue lagi magang di Jakarta dari September 2014 sampe akhir Februari 2015, jadi nggak susahlah untuk bertemu sama idola gue ini. Gue ketemu dia lagi pada tanggal 1 Desember 2014, 4 hari sebelum tanggal ulang tahun gue. Dan gue menganggap pertemuan kedua ini sebagai kado ulang tahun gue yang nggak bakal terlupakan. Di pertemuan kedua ini gue lebih rileks dan nyantai waktu ketemu sama Denny Sumargo. Udah nggak norak dan panik kayak pertemuan pertama gue saat Gala Premier Mall Klender. Di Gala Premier Danau Hitam, gue dapet kesempatan untuk ngobrol bentar sama Denny Sumargo. Kesempatan yang nggak gue dapet pas Gala Premier Mall Klender. Semakin seneng karena di pertemuan kedua ini Denny Sumargo udah mengenali gue, udah familiar dengan gue, udah hapal nama gue tanpa perlu gue sebut dulu. Nggak nyangka Denny Sumargo bisa begitu sama gue. Seneng luar biasa! Ditambah di Gala Premier Danau Hitam ini gue bertemu dan berkenalan dengan Kak Gina, sesama fansnya beratnya Denny Sumargo yang baiknya minta ampun. Kami saling bertukar informasi tentang Denny Sumargo dan jadi semakin akrab. :))
Weits, cerita gue belum berakhir sampe situ, gaes. Tuhan gue memang baik banget sama gue, karena gue diberi kesempatan lagi untuk bertemu sama Denny Sumargo. Huahaha. Iya, bertemu lagi untuk yang ketiga kalinya, dan lagi-lagi di acara Gala Premier film-nya yang baru, yaitu Erau Kota Raja. Untuk Gala Premier kali ini gue dapet tiket undangannya karena Kak Gina yang memberikan secara gratis untuk gue. Waktu itu Denny Sumargo nggak bikin kuis karena katanya memang nggak kebagian tiket untuk dibagi-bagikan, dan Kak Gina dapet dari panitia Erau Kota Raja yang kenal sama dia. Makanya nggak heran kalo Denny Sumargo kaget ngeliat kehadiran kita berdua padahal dia nggak bagi-bagi tiket. Tapi ya karena ada kesempatan maka gue sama Kak Gina gunakan sebaik-baiknya dong. Dan di Gala Premier Erau Kota Raja ini gue dapet kesempatan ngobrol lebih panjang dan lama sama Denny Sumargo. Bahkan dia mengomentari kado yang gue kasih buat dia saat Gala Premier Mall Klender. Puji Tuhan dia suka banget sama kado yang gue kasih. Seneng bangeeeet karena gue udah semakin bisa sedeket ini sama Denny Sumargo, bahkan udah kayak temen sendiri. Udah nggak ada grogi-grogian ketika gue ada di deket dia dan ngobrol bareng. Saat itu tanggal 5 Januari 2015, menjadi hari Senin pertama di tahun 2015 yang nggak terlupakan buat gue. :))
Dan cerita terakhir…..gue bertemu Denny Sumargo lagi, lagi, dan lagi itu pada tanggal 27 Januari 2015, kali ini kami bertemu di Gala Premier Rock n Love. Lagi-lagi gue bisa dateng ke acara itu karena kebaikannya Kak Gina yang mau berbagi tiket undangan ke gue. Bisa dikatakan ini pertemuan terakhir gue yang sementara waktu tinggal di Jakarta sampe akhir Februari nanti. Karena setelah film Rock n Love ini, Denny Sumargo belum ada project film baru lagi. Maka dari itu gue nikmatinlah pertemuan terakhir gue saat itu. Kalo gue udah balik ke Semarang, mungkin nggak akan semudah ini untuk ketemu Denny Sumargo lagi. Tapi sayangnya, di Gala Premier Rock n Love ini gue nggak bisa ngobrol banyak sama Denny Sumargo karena waktu itu dia harus kejar pesawat menuju ke Alor untuk syuting MTMA. Tak apalah, yang penting kewajiban untuk foto bareng sudah terlaksana dengan baik. Hahaha.
Hmmmm…..jadi begitulah #SocmedStory gue tentang bertemu sama idola kesayangan gue, Denny Sumargo, My Iron Man. Semuanya lewat media sosial Twitter. Ngobrol sama dia, untuk bisa ketemu sama dia, semuanya berawal dari Twitter. Gue emang amat sangat berterima kasih pada adanya Twitter, sehingga gue bisa komunikasi bahkan ketemu langsung sama idola gue berkat adanya Twitter. Gue nggak bisa membayangkan seandainya nggak ada Twitter di dunia ini. Mungkin gue akan tetap menjadi silent admirer-nya Denny Sumargo.
Gue memang sengaja membuat #SocmedStory ini pada hari Valentine. Karena tulisan ini memang gue dedikasikan untuk seorang Denny Sumargo, yang sudah mengubah hidup gue. Untuk seorang Denny Sumargo yang sudah mengajari gue banyak hal. Untuk seorang Denny Sumargo yang sudah menjadi mentor, inspirasi, kakak, ayah, moodbooster, pencerita, penyemangat yang luar biasa untuk hidup gue. Tulisan ini dibuat dengan sepenuh hati dan tepat di hari kasih sayang. Iya, gue memang menyayangi Denny Sumargo, dia sudah bukan sekadar idola gue lagi, dia Iron Man gue.
Terima kasih karena sudah menjadi Denny Sumargo yang baik, rendah hati, ramah, dan menyenangkan. Terima kasih sudah menjadi idola yang luar biasa baik untuk para fansmu Denny Sumargo. Terima kasih untuk kebaikan yang sudah pernah gue rasakan langsung dari Koko. Terima kasih banyak untuk pelajaran dan perjalanan hidup yang menginspirasi dan menguatkan banyak orang termasuk gue salah satunya, Ko. Terima kasih karena sudah menjadi penyemangat gue walaupun sekadar melihat senyumanmu. Gue berharap untuk terus mengagumimu, tetap menjadi idola gue yang terbaik dan terutama rendah hati. Dan tentunya gue berharap ada kesempatan lain untuk bisa bertemu dan bercengkerama dengan Koko lagi. Gue hanya bisa mendukung dan mendoakan Koko dari jauh, maaf kalo selama ini belum bisa menjadi fans yang baik buat Koko.
Terima kasih banyak Denny Sumargo, My Iron Man.
Happy Valentine to you. :)
XOXO.
From Your Sweetstalker with love,
Bulan.
Submitted by : Natalia Bulan Retno Palupi - @nbuLan5
Kemarin, aku patah hati karena seorang lelaki. Hahaha, aku tahu pernyataan ini mengejutkan bagi orang-orang yang mengenalku dan tahu aku belum pernah pacaran. Tapi begitulah yang terjadi, kemarin aku patah hati. Cukup sehari, tak boleh berlanjut lebih lama lagi.
Hari itu 17 Februari 2014, masih kuingat betul tanggalnya. Kami adalah dua orang berlainan jenis yang sama-sama kebingungan. Hari itu setelah berkata jujur pada satu sama lain, dan yang terpenting jujur pada diri sendiri bahwa kami saling mengagumi, kami memelihara mimpi untuk kelak bersanding dengan halal di mata Tuhan.
Tapi kami kebingungan, kami sama-sama tak berniat pacaran. Sementara itu, pernikahan butuh persiapan. Meski menyayanginya, aku menyayangi keluargaku lebih dulu. Hanya setelah adik pertamaku lulus kuliah, kupikir aku baru mampu membiayai pernikahan kami.
Setahun atau dua tahun lagi, begitulah kesepakatan kami, sabar menanti diri kami mampu sembari terus memperbaiki diri. Tapi kalau boleh jujur, sejak awal aku tak pernah yakin dua tahun cukup, apalagi setahun. Aku tahu latar belakang keluarga lelaki yang membuat hatiku condong kepadanya, aku tahu beban hidupnya, aku tahu masih banyak mimpi yang ia kejar dan itu artinya akan ada masa-masa dia akan kembali terhempas ke ketidakstabilan finansial.
Aku tahu itu semua sedari awal. Lantas kenapa tetap condong padanya? Aku meyakini imam yang kubutuhkan untuk bahagia dunia dan akhirat bukan harus cukup dari segi harta atau rupa, melainkan iman.
Aku memahami Islam sebagai agama yang menyeluruh. Seorang lelaki yang sungguh beriman akan beragama dengan kaffah. Sekalipun berasal dari keluarga yang papa, ia akan berjuang keras untuk bekerja demi menafkahi istri dan keluarganya. Karena bahkan saat memberi nafkah, ditunaikannya kewajiban yang diperintahkan Allah. Ahh bahkan kalau buruk rupanya di mata manusia pada umumnya (dengan skala relatif), bukankah lelaki beriman akan terjaga air wudhu dan kesuciannya?
Aku meyakini hal itu, makanya iman adalah kriteria utamaku. Lantas bagaimana dengan lelaki yang namanya sudah kusampaikan kepada mamaku beberapa waktu lalu, cukup berimankah dia?
Sungguh, hanya kewenangan Allah penilaian itu. Kepadaku dia mengaku, kadar keimanannya biasa saja. Bahkan berkali-kali hatiku hancur lantaran dua bola mataku harus menyaksikan ia melakukan ritual cium pipi kanan kiri dengan perempuan yang bukan muhrimnya. Gaya hidup dan pembenaran kiranya yang membuatnya melakukan hal itu. Semoga saja bukan karena memang dia menyukainya, kesempatan menempelkan kulit dengan berbagai perempuan yang elok rupanya.
Entahlah, mana kutahu isi hati dan kepalanya. Yang jelas, hatiku hancur tiap kali menyaksikannya, tapi bukan lantaran cemburu. Bagiku dia tidak menghianatiku. Sebagai teman, aku justru menyayangkan perbuatannya yang kupandang telah menghianati Allah.
Baru-baru ini dalam suatu kesempatan yang kutahu mungkin mempengaruhinya melakukan cipika-cipiki, aku sempat berpesan. “Apa bisa kamu berjanji, jangan sampai terbawa suasana dan melakukan cipika-cipiki?” Janji itu dipenuhinya, dia tolak seorang perempuan yang tiba-tiba muncul dengan menyorongkan pipinya untuk dicium. Alhamdulillah.
Ahhh aku suka karena dia tidak pernah lalai salatnya. Aku suka karena dia mencintai ibunya. Aku suka karena dia pekerja keras. Aku suka kesabaran dan selera humornya. Aku suka karena dia mengajariku bermimpi. Ini kali pertama aku membahas niat menikah dengan seorang lelaki dan bayangan tentang pernikahan tidak membuatku bergidik ketakutan.
Tapi begitulah, mengenalnya semakin jauh, berkali-kali aku dibuat sakit hati. Kurasa sebaliknya juga begitu, pasti aku sering menyakitinya. Kemarin singkatnya, aku dibuat patah hati karena akhirnya tahu bahwa dia telah menyakiti hatiku meski tahu aku bakal merasa sedih oleh perbuatannya. Kupikir, betapa mengerikannya seorang lelaki yang mampu dengan sadar menyakiti perempuannya. Muncul rasa betapa tidak ada nilainya aku di mata dirinya.
Seharian nangis, lalu berkaca-kaca, dan nangis lagi, sampai mata terasa sakit. Hahaha lucu kalau ingat hari kemarin. Aku ternyata perempuan juga, bisa nangis gara-gara patah hati.
Aku, Stevia, Dan Hati Yang Patah
Akal sehatku mulai kembali saat aku keluar kamar dan hendak menyiram tanaman dalam pot bunga. Kulihat tanaman stevia milikku patah dua batangnya. Tanaman yang berdaun manis dan bisa menjadi pengganti gula itu rupanya membutuhkan penyangga untuk tidak patah kala cabangnya tumbuh panjang.
Ahhh menarik bukan cara alam memberiku jawaban? Aku mirip stevia, kala mimpi untuk menikah dengannya telah tumbuh terlalu besar, aku butuh penyangga untuk tidak patah. Selama ini, kesalehan dan kebaikannya menjadi penyanggaku. Lalu patahlah aku ketika celanya muncul dan aku lupa soal penyangga yang membuatku bertahan.
Dengan stevia yang patah, aku tidak bersedih. Kupotong cabangnya yang terbelah, kupetik daunnya sebagai pemanis alami dalam secangkir tehku, lalu dua batang itu kupotong dan tancapkan dalam tanah untuk dibiakkan dengan cara stek.
Lihatlah, bahkan dari batang yang patah malah mungkin lahir kehidupan baru. Inilah yang membuatku berhenti bersedih. Bisa jadi patah hatiku pun melahirkan sesuatu yang baik.
Maka begitulah, patah hatiku berakhir. Yang kubutuhkan berikutnya hanya mengendalikan kebahagiaanku dan atas alasan itulah aku menonton film India di bioskop berjudul Khoobsurat. Puas ketawa-ketawa meski nonton sendirian, aku bahagia sekarang. Aku superhera, tidak patah hati dengan cara biasa. Cukup sehari, karena aku bukan perempuan pada umumnya.
Untuk dikau, lelaki yang sempat membuatku menangis karena kesalahan yang dilakukan berkali-kali, aku belum menyerah namun siap untuk segala skenario terburuk sekalipun. Kalau kau memutuskan lelah dan ingin menyerah, sampaikan saja tanpa keraguan.
Tidak ada yang kusesali bahkan kalau kita tidak berakhir bersama dan tidak bisa menjalani hari-hari tua saling menggenggam tangan juga datang ke bioskop sebagai lansia keriput sebagaimana yang kita cita-citakan dengan tertawa. Takkan kusesali, karena toh ada banyak kebaikan yang kau tinggalkan.
Mimpi-mimpiku yang dengan bantuan semangatmu dipupuk, mungkin kelak akan terwujud meski kita tak bersama. Karena apa yang kita tanam sekarang, disemai kemudian. Lalu sifat sabar yang kauingatkan terus, itu pasti berguna buatku menjadi perempuan yang lebih baik lagi.
Bahkan dengan tabungan untuk menikah yang tadinya kubayangkan bakal kupakai bersamamu, pasti tidak akan sia-sia. Setidaknya aku tidak harus memulai dari nol untuk persiapan menikah, kalaupun harus mencari lelaki lain.
Yah, bahkan dalam skenario terburuk perjalanan ini (naudzubillah moga tak terjadi), barangkali Allah menyiapkanku untuk menjadi perempuan yang lebih baik untuk lelaki yang lebih baik darimu. Dia yang sejak awal digariskan untuk jodohku.
Tenang saja, patah hati takkan membuatku terpuruk. Justru kau mungkin menyesal, kalau melewatkan kesempatan hidup dengan orang yang selalu berjuang keras membahagiakanmu, menjaga senyummu, dan mendampingi untuk sama-sama memperbaiki diri. Haha aku percaya diri sekali ya
Kupesan, kalau kau ternyata menikah dengan perempuan lain (masih kuharap bukan begitu kejadiannya), jangan undang aku ya. Tak ada gunanya menghadirkan masa lalu yang tak mungkin menjadi bagian masa depanmu.
Lagi-lagi, tenang saja. Aku bukan perempuan gila yang bakal memutuskan takkan pernah menikah hanya karena patah hati. Kemarin saat mampir ke Bekasi, aku disambut tiga keponakanku yang manis. Mereka memberondongku dengan pertanyaan, “Bibi Hera kok lama datengnya? Bibi Hera kok udah mau pergi lagi? Bibi Hera besok ke sini terus nginep ya?” Dari senyum dan kehangatan mereka, aku menyadari nyamannya perasaan diinginkan.
Kalau kau tak menginginkanku, akan kucari orang lain yang menginginkanku. Kubayangkan kebahagiaan ada di sana, saat aku pulang ke rumah dengan ada seseorang menginginkan kehadiranku di sana. Patah hati takkan membuatku ingin menghabiskan hidup sendirian, lalu mati kesepian.
Ya, aku siap untuk apapun yang ditakdirkan untuk kita. Tapi untuk saat ini, aku akan bertahan untuk menggenggam mimpi kita. Kalau kau masih menginginkannya, meyakini aku terbaik bagimu, maka bertahanlah sambil terus perbaiki diri. Berusahalah jangan sakitiku lagi. Ingatlah betapa indah saat kita bermimpi berdua dan berusaha mewujudkannya.
Jakarta, 7 Oktober 2014
Catatan:
Tidak akan kusebut dia siapa, sekalipun inisialnya. Karena siapa dia tidak penting. Jika Allah berkehendak lain dan kami tidak berakhir bersama, maka dia hanya bagian dari masa lalu. Kelak, yang penting hanyalah nama lelaki yang bersanding denganku dalam mahligai rumah tangga, menuntunku dengan kasih hingga menuju jannah bersama.
Untuk kawan-kawan yang tahu siapa dia dan masih berharap ada akhir bahagia dari kisah kami, cukuplah sampaikan doa pada Ia yang maha berkehendak. Jangan khawatir ya, kami baik-baik saja.
Aku sadar ini ruang publik, sementara yang kubagi sangat privat. Makanya tak ada nama kusebut, biar tak menjadi aib bagi siapapun. Kisah ini, pengalamanku, mungkin bisa bermanfaat bagi temen-temen yang rajin curhat ke aku soal percintaan bahkan masalah rumah tangga, meski tahu aku pacaran pun tidak pernah. Bismillah, moga betul ada manfaat dan tidak menyakiti siapapun.
*******
Aku merupakan jenis perempuan yang sangat terbuka, tanya sesuatu, maka akan kujawab sejujurnya. Bagiku kebenaran modal utama. Maka ketika masuk ke dunia maya, kejujuran itu kubawa. Apa yang kau temukan dariku di dunia maya, adalah yang bakal kau temui dariku di dunia nyata. Aku suka berbagi, menurutku kisah hidup paling pelik sekalipun, bisa bermanfaat bagi orang lain ketika diceritakan dengan tenang.
Maka begitulah, aku pun terbiasa bercerita di Facebook soal kehidupanku. Mulai dari urusan kerja, keluarga, sampai asmara, baik suka maupun duka. Begitu pun kisah patah hati yang kualami dengan lelaki yang hingga kini masih kucintai.
Tetapi tak selamanya kejujuran itu baik, tak selalu niat baik mampu menghindar dari perbuatan memyakiti orang lain. Sayang aku terlambat menyadari, bahwa apa yang kutulis tentangnya meski tidak menyebut nama, telah membuat lelakiku berduka. Dia mengaku sedih karena tahu aku bisa dibuatnya demikian terluka.
Meski menyadari tulisanku dibaca banyak orang dan seringkali bisa ditarik manfaatnya oleh mereka yang memiliki masalah serupa, hatinya sakit membacanya. Dia pun memilih untuk mengurangi intensitas membaca status-status yang kutulis di media sosial. “Akan kupilih mana yang ingin aku baca,” katanya mencoba mengambil jalan tengah dalam salah satu pertengkaran kami.
Dalam kesempatan lain, lelakiku itu juga mengaku cemburu. Aku terlalu jujur dan suka berbagi hingga semua cerita kutuangkan di media sosial untuk dibaca siapa saja yang mau. “Kamu berbagi ke semua orang, tidak ada yang khusus untukku,” katanya merajuk.
Dari situlah aku menyadari sesuatu, lelakiku ingin aku membagi dunia. Ada dunia yang mencakup aku dengan semua orang, tetapi ada dunia yang hanya berisi diriku dan dirinya.
Kini aku punya rahasia, hal-hal yang hanya dibagi antara kami berdua dan itu terasa istimewa.
Submitted by Hera Khaerani - @superhera_
Jakarta…ahhh, aku selalu refleks mendesah panjang tiap menyebut nama kota itu. Semenjak lulus kuliah dan meninggalkan Bandung, aku mulai mencari penghidupan di ibukota Indonesia ini.
Ada kompleksitas dalam hubunganku dengan tempat yang dahulu dikenal sebagai Batavia itu. Ini bukan hanya soal uang atau kerjaan. Tidak pula aku terbiasa oleh lukisan ketimpangan sosial sini, kemacetan tiada henti, pun kepalsuan manusia-manusia yang mengejar gaya hidup jauh melebihi kemampuan ekonomi yang senyatanya.
Di tengah keruwetan itu semua, aku menemukan persahabatan. Kutemukan keluarga yang dibangun tanpa ikatan darah. Lalu yang tak kalah pentingnya, kutemukan cinta di sana jua.
Jangan tanya dari kapan semua bermula, kadang ada hal-hal yang seolah muncul tiba-tiba padahal secara tidak sadar telah terbangun sejak lama. Cinta kuyakini, termasuk golongan yang demikian sifatnya. Namun untuk mudahnya, kisahku ini akan kuurai sejak hari ulang tahunku yang lalu, tepat 17 Januari 2014.
Berbeda dengan kebanyakan orang yang menganggap hari lahirnya istimewa dan layak dirayakan beramai-ramai, aku justru lebih suka menghabiskan waktu khusus itu untuk menyendiri dan mencari ketenangan. Aku tidak butuh perayaan, rasa syukur adalah peraayaan itu sendiri. Kugunakan waktu untuk introspeksi, menangisi hal-hal yang kusesali, menguatkan hati dengan janji untuk terus perbaiki diri.
Di momen yang demikian personal buatku, hanya ada satu tempat yang ingin kutuju, yakni pangkuan ibuku. Kalau ada kado terbaik yang bisa kudapatkan di hari ulang tahunku, itu adalah berada di dekat perempuan yang rahimnya telah melindungiku sebelum lahir ke dunia.
Aku tidak berniat bercerita, tapi aku tahu ibu akan menyadari aku sedang terluka. Cukup kasih sayang ibu menjadi obat buat hati anaknya yang lukanya menganga.
*******
Tombol kirim sudah kutekan, sejenak aku gelisah, ragu mempertanyakan diri akankah pengakuan itu kusesali di kemudian hari. Belakangan ini hubunganku dengan Mr.Orange, sebut saja namanya begitu, tidak terlalu baik. Aku gampang sekali marah pada sahabatku itu, mudah kecewa. Padahal aku tahu betul, hal-hal kecil yang dilakukan lelaki yang sama itu mampu membuatku amat berbahagia.
Cinta, itulah masalahnya, aku telah jatuh cinta. Itu hasil perenunganku pada akhirnya. Kondisi itu tidak bisa kubiarkan begitu saja, aku tak mau kehilangan sahabat yang berharga. Di sisi lain sebagaimana layaknya pecinta lain, aku merasa mesti tahu apakah ada harapan di antara kita. Ya antara aku dan dia, apa ada kita?
Maka begitulah, kuputuskan mengaku padanya bahwa aku menyukainya. Tak ada egoku sebagai perempuan untuk mengungkap cinta lebih dulu. Semuanya kusampaikan dengan lugas, jujur, dan terang tanpa kemungkinan interpretasi yang lain. Aku tak berharap kami berpacaran karena aku tak pernah mau menjalin hubungan semacam itu. Tapi aku perlu tahu apa dia merasakan hal yang sama.
Pesan panjang itu kukirimkan lewat whatsapp, setelah dengan cermat kubaca ulang tiga kali tulisan yang sama. Lama berselang, akhirnya Orange membalas pesanku, lagi-lagi lewat whatsapp. Oya harus kujelaskan kenapa aku memanggil sahabatku dengan panggilan Orange, dia suka sekali warna cerah itu.
Di tengah kebingunganku, jawabannya malah mengundang kebingungan yang lain.
"Layar kaca itu tiba-tiba kumatikan. Aku seperti membaca surat. Surat yang menyakitkan. Siapa aku tiba-tiba menjadi seperti arjuna kehilangan panahnya. Bahkan saat Arjuna tidak sedang menarik busurnya sekali pun, ia masih terlihat memesona. Aku bukan dia. Aku hanya sebuah kebingungan. Bagaimana caranya membalas pengakuan panjang dari sosok yang pernah kukagumi diam-diam. Benarkah kami saling melakukan itu? Mengagumi satu sama lain tapi tak berpagut, tak memiliki sedikit saja keberanian menyampaikannya. Lewat kata yang tertuang dalam suara, dalam surat-surat cinta seperti pada masa lalu, dan masa dimana beberapa orang yang masih setia pada kertas dan pena. Tapi ini lain, lewat titik cahaya ia mengirimkannya, lebih dulu daripada si arjuna tanpa panahnya itu. Maka seperti malam-malam di penghujung tahun, nuansa kamar arjuna dipenuhi kegalauan. Arjuna masih tak punya keberanian untuk menyelesaikan semua ini. Dia terlalu pengecut. Tapi sebenarnya hatinya juga dipenuhi angin puting beliung. Dia hanya butuh waktu lagi, memperbaiki panahnya yang belum juga lurus, bahkan belum ditentukan kapan akan menarik busurnya sehingga melesatkannya pada sosok yang dikaguminya itu. Dia hanya merasa belum saatnya, belum layak panah cinta itu memilih sasaran yang sempurna. Yang bila diukur kedalaman hatinya yang mulia, arjuna belum mampu menggapainya."
Dari semua kalimat panjang yang diutarakannya, mataku hanya tertuju pada satu kalimat, “Bagaimana caranya membalas pengakuan panjang dari sosok yang PERNAH kukagumi diam-diam.” Aku mengartikan itu sebagai penolakan, bahwa dia hanya PERNAH menyukaiku, bukan masih. Maka bulat tekadku, cinta yang baru kusadari hadirnya, harus segera kukubur.
Aku butuh pulang, meninggalkan Jakarta, menjauhi lelaki yang telah mencuri hatiku tanpa permisi meski dia ternyata tak menginginkannya. Ini terjadi jelang tahun baru dan hingga ulang tahunku tiba 17 Januari, aku cukup sukses melakukannya. Itu jika menghindar bisa dibilang sebagai bentuk kesuksesan.
*******
Pernikahan sahabatku menjadi alasan lain aku memaksa diri untuk pulang. Lastri yang merupakan teman sekamarku saat tinggal di asrama ketika kuliah dulu, memilih 18 Januari untuk tanggal pernikahannya. Itu menjadi kado ulang tahun buatku…pernikahan sehari setelah tanggal lahirku.
Acaranya digelar di Kuningan, jadi aku harus naik kendaraan umum dari Subang tempat ayah dan ibu tinggal. Dari sana, aku sudah meniatkan kembali ke Jakarta karena harus mulai bekerja keesokan harinya.
Betapa terkejutnya aku ketika banyak telepon masuk, juga pesan singkat dan email. Keluarga dan teman-temanku berusaha mengontakku setelah telepon genggam itu dibiarkan dalam modus ‘silent’ selama hari perenunganku. “Kamu beneran tunangan?” itulah pertanyaan mereka.
Mulanya aku bingung, sama sekali tidak paham apa yang terjadi. Tapi kemudian justru dari Orange aku tahu, bahwa sesuatu telah terjadi di akun Facebook milikku. Tepat di hari ulang tahunku, muncul perubahan status dari ‘single’ menjadi ‘engaged’.
Rasanya terkejut bukan main, apalagi setelah aku tak bisa masuk ke akun media sosialku itu dengan email dan password yang biasanya. Akunku sudah di-hack, pertunangan palsu itu dilakukan oleh orang yang membajak Facebook milikku.
Orange bercerita bagaimana dia akhirnya melihat status pertunangan itu di FB. Katanya dia tadinya hanya berniat mengirim foto untuk ucapan selamat ulang tahun kepadaku. “Tapi kemudian baca kau engagement itu. Aku panas dingin, bahagia tapi sedih karena gak dikasih tau. Tapi ternyata pas tau kalo itu kerjaan orang gak bertanggung jawab (atau belum diketahui) maka sudah lebih baik.”
Meski dipusingkan oleh pembajakan aku medsos itu, pikiran nakal melintas di kepalaku. Aku menimpali Orange dengan pertanyaan menyelidik, “Yakin bahagia kalau aku dilamar orang? Haha paham kok aku, hanya pernah bukan masih?” Meski curiga kenapa pertunangan palsu itu sempat membuatnya demam, aku masih mengira dia tak lagi menyukaiku, hanya pernah di masa lalu. Hanya persahabatan yang diingankan di antara kami.
Berhari-hari setelah itu, kami masih membahas pembajakan akun itu. Aku masih belum bisa membukanya sampai berhasil mengungkap pelakunya ternyata sahabatku sendiri. Ketika ulang tahun, beberapa sahabat memang datang ke rumah. Mereka telah berkomplot, meminjam HP-ku dengan alasan ingin mengontak teman-teman yang lain untuk kumpul, mumpung aku sedang di kampung halaman.
Di saat itulah email untuk akun FB milikku diganti. Status pertunangan palsu itu pun dibuat. Inilah celakanya menggunakan smartphone yang menyimpan username dan password media sosial kita, sekali telepon dibuka kuncinya, siapapun bisa mengotak-atik media sosial kita.
Aku menceritakan temuanku ke Orange, juga ketika akhirnya kembali bisa menguasai akunku sendiri dan mengklarifikasi kesalahpahaman besar yang terjadi di dunia maya itu. Banyak yang kadung mendoakanku padahal, sayang sekali.
Meski sudah mengklarifikasi itu dan mengembalikan status ‘single’ di FB, anehnya Orange masih mengeluh. Dengan ratusan notifikasi di status soal pertunangan, maka status itu terus muncul di timeline miliknya. Dia merasa sakit hati tiap kali membacanya, terasa lagi meriang yang sempat hinggap saat mengira aku benar-benar sudah bertunangan dengan orang lain.
Kenapa harus sakit? Cintalah jawabannya. Sungguh andai bukan karena status palsu itu, aku takkan pernah tahu bahwa dia masih mencintaiku…bukan sekedar pernah.
Kepada sahabat yang membajak akun FB milikku, akhirnya aku harus berterima kasih. Jika bukan karenanya, maka kami berdua takkan sampai di titik ini, berjuang menuju ikatan suci di hadapan Allah yang diharapkan hanya terputus oleh maut. Akhirnya ada kita, bukan hanya aku dan dia.
Submitted by Hera Khaerani - @superhera_
Aku melihatnya berjalan melewati taman sendirian. Dia, sebut saja Aming, adalah sasaran stalkingku di twitter. Bagaimana tidak, dia adalah seorang pemain basket yang cukup terkenal di kotaku, lebih tepatnya di sekolahku. Walaupun kami sama-sama berada di sekolah yang sama, tapi Upik Abu tak akan pernah bersama dengan pangeran, bukan?
Sejak setahun lalu, lebih tepatnya saat Hari Proklamasi Indonesia, dia dan timnya berhasil membuat sekolah kami menjuarai liga basket antar sekolah se-SMA di Jawa Timur. Sejak saat itu pula aku membuat twitter. Untuk apa? Untuk menganalisis apa yang sedang dia lakukan. Lebih tepatnya kepo dengan pacar-pacarnya. Katanya, dia punya pacar seambrek. Jika dilihat dari tampang, dia biasa-biasa saja. Lebih tepatnya adalah lebih ganteng dari Sule tapi sedikit lebih jelek dari Raditya Dika. Tapi yang namanya popularitas memang bisa merubah segalanya. Segalanya.
“Hei, kamu itu si Minah, Kan?” Dia mengagetkanku.
“A….Aku… Aku Minah?” Tanyaku tolol saking deg-degannya.
“Kok malah balik tanya? Dasar aneh.” Katanya singkat.
Aku menampar pipiku, hanya untuk meyakinkan bahwa aku tak sedang bermimpi. Hore, aku tidak bermimpi. Dia mengenalku. Tunggu, dia benar-benar mengenalku? Bahagia memang sederhana ya. Oh ya, mengapa aku tiba-tiba merasa beku sekaligus panas? Apakah ada reaksi kimia yang bisa menjelaskan kejadian ini? Iya, aku merasa beku sekaligus kepanasan dalam satu waktu. Dia tiba-tiba mengajakku mengobrol tentang banyak hal.
“Kamu tau, aku sangat suka menonton pertandingan…..”
“Kamu suka menonton pertandingan bola di TV. Klub kesayanganmu adalah Manchester United dan pemain favoritmu adalah Wayne Rooney dan Rio Ferdinand. Tapi kamu sedih karena Rio Ferdinand sudah pindah Queens Park Ranger. Kamu awalnya suka dengan Van Gaal tapi karena MU mainnya begitu-begitu aja, kamu jadi kurang suka. Dan kamu sekarang berharap jika Fergie kembali ke MU dan…..” Kataku panjang lebar.
Dia ternganga melihat jawabanku. Bukan, bukan karena jawabanku panjang seperti cerita tapi dia ternganga karena aku tahu begitu detail tentangnya. Aku malu, sangat malu. Semoga dia tidak menyadari bahwa aku adalah stalker kelas beratnya. Daripada malu, aku lalu berlari meninggalkannya.
Ketika sampai di rumah, seperti biasa, aku membuka twitter. 10 menit kemudian, aku mendapat mention. Siapa yang mementionku? Perasaan hari ini tidak ada tugas. Maklum, teman-teman memention jika hanya ada tugas. Betapa kagetnya aku ketika seorang yang sangat aku kagumi tiba-tiba mementionku. Tidak, tidak hanya memention tapi juga memfollow. Ah…. Aku bahagia. Senangnya followerku bertambah satu, totalnya adalah 45 orang. Awalnya followerku hanya 44 orang, dan itu semua adalah teman sekelasku. Sekarang si Aming memfollowku. Yes.
“Kamu kenapa tiba-tiba lari tadi?” Mentionnya di twitter.
Aku harus jawab bagaimana? Tuhan, tolong kasih hambamu ini kekuatan untuk berpikir. Apa yang harus aku balas?
“Mau tau aja apa mau tau banget?” Jawabku. Klik send.
Ha? Kenapa aku tiba-tiba menjawab seperti itu? Jawaban itu kan salah satu tanda anak alay. Aku bukan anak alay. Bagaimana kalau dia menganggapku alay? Minahhhhhhh, kenapa kamu ceroboh? Bagaimana kau bisa menjawab mention dari orang yang kau kagumi dengan bahasa alay? Why?Why?Why
Aku tunggu, semenit, dua menit, sejam, dua jam, dia tidak membalas mentionku lagi. Ya iyalah, siapa yang mau membalas mentionan yang alaynya tingkat olimpiade? Anda saja ada olimpiade alay, mungkin dunia sudah mempunyai bahasa baru. Aku lebih baik tidur. Cerita malam minggu ini bertema “Alay, penyakit kronis anak muda.” Jadi, cerita malam minggu ini dipersembahkan oleh alay yang menjadi-jadi. Tunggu, tunggu daripada tidur mendingan aku stalking twitternya lagi. Baru membuka profil akunnya, aku sudah kaget setengah mati. Bukan setengah, hanya seperempat mati saja. Bagaimana aku tidak kaget??????
“Kenapa aku suka gadis alay itu sih? Apa aku harus juga jadi alay?”
Astaga…Astaga… Apa gadis yang dimaksud si Aming adalah aku? Aku menampar pipiku berkali-kali, tapi tidak sakit? Apa aku mimpi? Aku berlari ke kamar mandi dan mengambil air. Lalu, kupercikkan air ke mukaku. Dan….
“Bangun!!!!!” Kata seseorang.
Aku terbangun. Aku sepertinya tidur lama sekali.
“Apa yang terjadi?” Tanyaku.
“Kau menampar dirimu terlalu keras sampai kau tak sadarkan diri.”
“Ha?”
“Baru saja aku memanggilmu tapi kamu tiba-tiba menampar dirimu sendiri. Kau baik-baik saja, Kan?” Tanyanya.
“Kenapa kau bisa tau namaku?” Tanyaku.
“Aku disuruh bu Leli memberitahumu bahwa kau dihukum untuk membersihkan toilet sekolah karena kau telat masuk kelas hari ini.” Jawabnya singkat, padat, dan jelas.
Aku terdiam dan ternganga. Jadi, pembicaraan tentang bola, kealayanku di twitter, dan perasaannya di twitter hanya mimpi belaka?
“Sampai kapan kamu mau terbaring di sini? Cepat bangun.” Katanya.
Mungkin ini lebih dari writing project, bukan juga sekedar submit tulisan lalu selesai, kemudian dagdigdug nunggu kabar siapa pemenangnya. Bagi gue ini bukan cuma sosmed story. Ada banyak hal yang selama ini gue pendam, enggan berbagi cerita ini dengan dunia luar. Dari mulai masih kuliah sampai hampir se tahun gue lulus. Ada perasaan yang masih mengganjal sekalipun sudah kembali bertatap mata, kembali bercanda, dan sesekali kembali berkomunikasi.
Waktu itu persahabatan kami terasa sempurna. Gue rasa kalian mungkin sudah menebak arah pembicaraan gue kemana. Iya, tidak ada kata yang lebih ajaib dari sebuah persahabatan. Mungkin karena kata – kata itu terlanjur dalam gue tanam, hingga membuat gue sampai sekarang masih menyayangkan alasan perpecahan yang pernah terjadi cuma karena media sosial.
Dulu dimana ada gue, di situ ada dia. Semua orang di kampus mulai dari kakak tingkat hingga adik tingkat mengenal kami dengan baik. Begitu dekat. Meski berangkat kuliah jarang bersama, tapi setiap pulang kuliah kami luangkan untuk bersama. Dari semester dua hingga semester akhir kami satu kelas. Pun satu pilihan sub jurusan untuk penelitian. Gue mengenal dengan baik keluarganya, dia pun begitu. Dulu ketika kami duduk berdua di kantin, sekedar bercerita tentang laki – laki, atau bercerita tentang perkuliahan. Bisa bercerita tentang kekonyolan orang – orang sekitar. Bercerita tentang Indonesia. Bercerita tentang masa SMA, atau malah kami mengulang cerita ketika di awal perkenalan dulu. Selama kami duduk di sana, ada hampir 5 sampai 10 orang mampir ke meja kami. Sekedar nimbrung, atau ikut hanyut dalam canda tawa yang kami ciptakan. Hangat. Hingga adik tingkat pun hanya ingin kami berdua yang menjadi Asisten Dosen mereka di salah satu mata kuliah. Katanya, kami klop dan asyik sehingga cocok untuk mengisi suasana di tengah kesulitan menimba ilmu.
Intinya, semua orang tahu kami akrab, bahkan sangat akrab. Akhirnya gue sudah menambatkan hati untuk bersahabat baik dengannya. Entah sampai kapan. Entah bertahan sampai kapan.
Cerita perpecahan itu dimulai dari adanya pertentangan pola pikir. Ada sepenggal kisah masa lalu gue yang pahit, teramat pahit malah. Tapi gue salah karena memilih untuk melupakan, bukan berdamai. Padahal jelas, melupakan adalah hal yang paling sulit. Well, gue balikan dan dia gak suka keputusan gue. Gue mem-posting keputusan itu tanpa lebih dulu ‘berbicara’ dengan dia. Bisa ditebak, dia kecewa bukan marah. Dari situ kami berjarak. Gue lebih sering sendiri, dia memilih bergabung dengan yang lain. Dia sosok yang mudah untuk adaptasi. Gue juga bisa seperti itu, tapi buat gue itu hal yang memaksakan di tengah permasalahan. Gue menjalani hari dengan sisa – sisa kenangan sewaktu dulu pulang bersama, makan di kantin bersama, bercerita tentang apapun bersama. Bagi gue, hari – hari di kampus semakin rumit, bukan lagi soal teman – teman ‘baru’-nya yang mungkin senang (?) menjadikan segala sesuatu yang terjadi diantara kami sebagai bahan ejekan atau yang sejenisnya. Tapi ini tentang ketidak-sengajaan dosen membuat kami berdua dalam satu kelompok. Ya, hanya kami berdua. Gue belajar banyak dari kata ‘profesional’ karena permasalahan ini.
Selalu ada rasa ingin berdamai, tapi juga selalu merasa ada tembok tinggi besar terbentang diantara kami yang mencegahnya. Gue beri nama tembok itu; gengsi.
Kenyataan semakin diperparah dengan berbagai sindiran #NoMention yang gencar diantara kami. Setiap buka akun media sosial, gue selalu menghindari kemunculan dirinya di timeline. Saking gak bisa lagi menghindar, gue mengharuskan diri untuk vakum dari media sosial kesayangan gue; twitter. Beberapa bulan gue putuskan untuk menutup akun tersebut, lalu membuat akun baru. Iya, yang gue gunakan sampai detik ini alasannya karena itu. You know, hingga sampai saat ini, gue sama dia gak berteman di twitter lagi. Akan lebih baik jika sama sekali tidak tahu, daripada dipaksa tahu oleh timeline, bukan?
Waktu terasa berjalan sangat lambat buat gue. Beberapa hal kecil justru membuat semua semakin runyam. Semakin merasa ‘ih sebenernya dia beneran sahabat gue apa bukan sih?’. Ada hal – hal yang mendukung untuk munculnya salah paham diantara kami. Ada banyak perubahan yang sejatinya membentuk gue yang menerima kenyataan. Kenyataan bahwa pilihan gue dulu, laki – laki yang gue pilih, satu keputusan yang membuat kami berjarak ternyata di luar ekspektasi. Gue sama sekali gak menyesali, itu semua gue anggap resiko. Setelah itu kami pernah sama – sama mencoba ‘berdamai’. Tapi sayang, percobaan itu sepertinya datang terlambat. Setelah kami merasa lelah satu sama lain. Setelah banyak perubahan di dalam diri. Setelah banyak cibiran yang meluncur dari bibir, masuk melaui telinga kanan terkadang mampir sejenak ke hati lalu melesat keluar dari telinga sebelah kiri. Setelah semua hal yang kami senangi dulu perlahan memudar. Waktu yang panjang membuat kami merasa ada sisi yang berbeda. Ada sisi yang berubah. Ada perasaan yang berbeda.
Tapi hingga detik ini, ada sisi gue yang ingin dan masih tetap seperti dulu. Masih bersedia untuk menyiapkan pundak di segala duka. Masih bersedia menampung cerita apapun. Masih bersedia untuk apapun. Bukan karena satu kesalahan yang mungkin berawal dari gue. Bukan. Tapi karena gue percaya bahwa tidak ada kata yang lebih ajaib selain persahabatan. Entah sampai kapan. Entah bertahan sampai kapan.
Jika kata Gary, pemain Running Man, itu, “Stress” yang diucap dengan nada kebarat-baratan. Ya, saya sedang mengalami sebuah fase yang namanya jenuh. Setiap hari membaca tulisan berlembar-lembar yang akhirnya membuat saya tergeletak dan tertidur. Ahhhhh, mengapa membaca membuat ngantuk?
*Ya iyalah membaca membuat ngantuk, Bro. Lo bacanya sambil tiduran. Gimana nggak ngantuk? Gua aja yang baca buku di perpustakaan ngiler di meja. Apalagi Lo yang baca di tempat tidur?
Dan pertanyaannya adalah mengapa saya membaca? Awal tahun baru saya membuat resolusi di blog pribadi yang isinya adalah:
Semakin meningkatkan ibadah ke Allah SWT.
Belajar ya
Menang lomba menulis, dan lain-lain…
Saya ingin mewujudkan resolusi yang ketiga tersebut. saya ingin sekali memeroleh uang sendiri dan membelikan sesuatu ke ibu. Kegagalan di tahap akhir lomba menulis kemarin, cukup menampar perasaanku. Cukup saya mengunci toilet dekanat dan menangis sendiri selama 15 menit. Maaf bu Leli dulu yang sempat mau ke toilet tapi tidak bisa masuk karena saya kunci. Kali ini saya harus menang, Ok.
*Gua doain, Bro. Yang rajin-rajin menulis ya. Doa buat Lo selalu mengalir dari gua. Ye iyelah bahasa gua tinggi banget ya.
Seperti biasa, saya mencari info tentang lomba menulis gratis di twitter. Seambrek lombanya tapi saya tertarik dengan satu lomba yaitu artikel tentang moral. Begitu membaca temanya, ide tiba-tiba muncul begitu saja. Lalu judul artikel tiba-tiba langsung terngiang, yaitu “Ketika Moral adalah tanda Seorang Pecuncang.” Bagus, Kan?
*Judul artikel Lo rancu banget, Bro. Masak orang yang mempunyai moral itu seorang pecundang? Nggak kebalik?
Iya, membuat judul harus semenarik mungkin dan terkadang harus menimbulkan kesan kontroversi agar pembaca tertarik. Bayangkan saja jika judul artikelnya adalah “Moral yang Baik.” Ah itu sudah umum sekali. Kata teman saya, judul artikel saya membuat penasaran orang untuk membaca. Yes, setidaknya judulnya menarik.
*Terus hasilnya gimana, Bro? Menang, nggak? Traktiran ya kalau menang.
Sebelum mengirim artikel, saya memastikan bahwa tulisan ini runtut dan terkesan tidak membosankan. Saya mencoba menghubungi proofreader. Total ada sekitar lima proofreader yang saya hubungi namun yang menjawab dan mau mengoreksi tulisan saya hanya tiga orang. Dan ternyata revisi masih melimpah. Tidak hanya laporan ya yang direvisi tapi juga artikel. Saya bosan san san. Kata proofreader saya, “Kamu harus banyak baca biar tahu tata bahasanya.” Lagi-lagi saya harus membaca. Why why why?
*Ya kan kalau mau menang butuh pengorbanan, Bro. Gimana sih, Lo. Hahaha tapi gua juga males baca kok, Bro.
Karena saya ingin totalitas di sini, saya berusaha mencari proofreader lagi. Niat sekali, bukan? Alhamdulillah, saya menemukan seorang proofreader. Bagaimana ya ceritanya, cerita ini sedikit menyedihkan *Ambil tissue. Jadi saya menemukan proofreader itu lewat twitter. Dia adalah orang yang mengalahkan saya dalam tahap akhir lomba menulis. Juga, dia yang membuat mimpi saya ke Inggris benar-benar pudar. Ya sudahlah, kalau kata orang, “Belum rezekinya.” Anggap saja namanya mbak Ing. Mbak Ing berhasil memenangkan lomba dan berhasil juga menginjak-injak rumput Old Trafford (When will I???). Kali ini saya harus memintanya untuk menjadi proofreader untuk tulisan saya. Setiap hari saya mencoba selalu stalking twitter dan mementionnya tapi tidak dibalas-balas. Jika yang lain suka stalking twitter gebetannya, saya malah suka stalking proofreader saya. Januari sudah mau berakhir, tanda deadline akan tiba. Tapi saya keburu dapat balasan. Keesokan harinya, saya terkejut karena mention saya akhirnya dibalas. Tak mau buang-buang waktu, saya langsung mengirim tulisan saya ke emailnya.
*Akhirnya gimana, Bro?
Setelah ada revisi sedikit, saya langsung kirim. No doubt.
*Menang, Bro?
Ini lebih menyedihkan dari apa yang disebut kekalahan. Kalau istilah kalah, ada yang disebut penilaian untuk menentukan apakah karya kita layak menang.
*Gue nggak ngerti, Bro. Serius.
Saking semangatnya mengikuti lomba, sampai-sampai persyaratannya tak saya baca secara keseluruhan. Iya, persyaratannya adalah:
Memiliki blog yang masih aktif
Menulis artikel dengan tema “Moral”
MERUPAKAN SISWA/I ATAU SEDERAJAD
Bla bla bla
Blab la bla
SAYA SUDAH MEHASISWI. BRO. Keren, bukan? Berminggu-minggu berkutat dengan Microsoft Word tapi malah tak ada hasilnya. Kalau bahasa koreanya itu pabo. Hahahahahaha. Suatu pelajaran lagi. BACA DULU, BRO!!!!!!!!!!!!
Haaaaaa…. Susah-susah mencari proofreader, mention tidak dibalas-balas, membaca berlembar-lembar bacaan tentang moral, malah hasilnya sangat mengenaskan seperti ini. Buat teman-teman, ingat ini ya, “BACA DULU, BRO!!!”
Gunakan sosial media untuk hal-hal yang benar, ya! Dan yang terpenting semua hal harus DIBACA dulu.
Mataku menyorot ke meja di pojok dekat saklar. Tepat, pikirku, dan semoga 2 jam ke depan tidak terlalu banyak orang yang duduk dekat meja itu.
Kubuka laptop dan menghubungkan dengan koneksi wifi. Café ini cukup terkenal dengan jaringan wifi nya yang cepat, ah semoga saja malam in juga.
Membaca ulang setiap catatan yang telah disusun rapi, agar tersampaikan dengan baik, namun rasa cemas ini mengalahkan segalanya. Konsentrasi buyar. Keep calm, kamu pasti bisa! Mantra itu setidaknya mampu merilekskan pikiran.
Tepat pukul 7 malam Waktu Indonesia Barat, panggilan masuk dari salah satu kontak skype.
Tarik napas, keluarkan perlahan, rileks.. Ayo kamu pasti bisa. Lagi, mantra itu ibarat obat penenang.
“Hello, good evening sir, ops, sorry good afternoon there…”
Aku berusaha membuat suasana menjadi santai ditengah degub jantung yang begitu dahsyat dan tentunya untuk mengaburkan napas yang kenapa tiba tiba menjadi terengah dan terbata. Aaah!
Malam itu adalah malam yang akan menentukan karirku ke depan. Interview kerja dengan CCO salah satu perusahaan telekomunikasi di Qatar.
Apa yang sudah kusiapkan ternyata tidak ada satupun yang aku sampaikan… 3 malam kusiapkan dengan sebaik mungkin untuk menyusun draft dengan bantuan Google, hanya untuk mencari referensi yang setidaknya mampu untuk membuatku terlihat lebih professional, pikirku.
Malam itu, bukan lagi sebuah interview namun menjadi sebuah obrolan hangat. Sebuah obrolan yang lebih membahas blog dan channel youtube perjalananku, thehejocokor. Entah mengapa dia begitu tertarik untuk membahas lebih ke arah sana. Menurutnya ada nilai “lebih” yang bisa diberikan oleh orang yang sering melakukan perjalanan terlebih mengabadikan melalui catatan ataupun rekaman.
Untuk menyimpan kenangan, itulah alasanku dulu membuat video dan menguploadnya ke youtube, tanpa pernah berpikir bahwa video-video itu akan membawaku ke sebuah pembahasan di interview dan penjadi penyelamat dalam mencairkan suasana. Atas saran dari teman jua lah yang memintaku memasukan link blog dan youtube channel di CV.
2 minggu kemudian, email diterima bahwa aku terpilih sebagai karyawan untuk penempatan di Jakarta.
"Aku udah sampai di penginapan ya." Ku kirimkan sms itu begitu akhirnya aku bisa merebahkan diri ke atas kasur. Beberapa hari terakhir ini rasanya badan kurang istrirahat.
Tinggal satu hari lagi, kata ku dalam hati. Ya, satu hari yang akan menjadi lembaran baru bagi kehidupanku. Tanpa sadar senyum lebar mengembang di muka ku.
"Aku lapar. Ada makanan ga?" tiba-tiba aku mendapatkan balasan sms tadi. Akumemandang berkeliling, mana ada makanan di kamar ku. Yang ada cuma ketiga sahabatku, para calon pendamping pengantin yang udah pada tertidur lelap setelah mengikuti serangkaian upacara adat menjelang pernikahan ku esok.
Kupaksakan diri ku bangun dari empuknya kasur menuju kamar sebelah, tempat sepupuku dan adik ku bermalam. Disana pasti ada makanan, pikir ku. Dan benar saja, begitu aku tanya, sepupu ku memberikan nasi kotak yang sebagian isi nya udah dimakan adik ku.
"Biar deh, daripada ga ada", kataku dalam hati.
Ku angkat telepon genggam mencoba menghubungi pria yang kelaparan itu. “Kamu dimana? Temuin aku di lobi ya. Ini ada nasi kotak sisa Nina.”
***
Ga sampai 15 menit pria itu muncul. Tampak jelas di mata nya kalau dia pun udah lelah.
Ah, lagi capek aja dia masih tampak cool, pikir ku dalam hati.
"Ini," aku menyerahkan kotak nasi padanya.
Dia membuka nya sambil kemudian komentar “Kaya nasi sisa kucing gini berantakannya.”
"Udah makan aja. Cuma nemu itu soalnya. Maaf ya."
Kala kuperhatikan pria yang akan menjadi suami ku ini melahap makanannya. Rasanya masih ga percaya kalau sebentar lagi kami akan meningkatkan hubungan kami ke jenjang rumah tangga. Rasanya baru kemarin kani berkenalan. Pikiran ku pun dibawa mundur pada saat awal-awal perkenalan kami.
***
"Mba senang chatting ya, ini saya installin ICQ biar ga cuma chatting di mIRC," begitu penjelasan petugas provider internet yang datang ke rumah ku sore itu.
Asik, akhirnya bisa chatting lagi, seru ku dalam hati. Setelah beberapa hari mengalami gangguan internet nanti malam bisa seru-seruan di chatting room lagi. Eh apa tadi kata mas nya, ICQ? Apaan ya itu? Nanti coba juga ah.
***
Setelah beberapa hari berlalu, aku pun mulai terbiasa chatting di ICQ. Punya teman-teman baru di dunia maya. Malam itu malam minggu, aku bisa chatting tanpa harus mengendap-ngendap kaya di malam sekolah. Seperti biasa aku memilih chatting di atas jam 10 malam. Ga tau kenapa, semakin malam chatting room itu semakin rame dan seru rasanya.
Tinut tinut tinuuut….suara yang keluar dari modem menandakan sudah tersambung ke internet. Aku langsung membuka mIRC dan ICQ.
"Hai, baru online?" sapa Metra begitu lambang bunga di ICQ ku berubah warna menjadi hijau.
"Iya, biasa. Nunggu yang lain tidur dulu baru bisa online."
Dan mengalirlah percakapan-percakapan ngalor ngidul seperti biasanya. Mulai dari bahas soal trend musik sampai apa pun yang terlintas dibahas.
"Eh aku off dulu ya. Mau tidur," ketik ku ketika melihat jarum jam sudah lewat dari jam 3 pagi.
"Boleh nelp ga?"
"Boleh aja. Aku off dulu ya biar bisa telepon masuk. Bye." Aku pun langsung mematikan koneksi internet. Emang tadi itu Metra sempet minta no telepon. Ga lama terdengar bunyi telepon. Langsung aku angkat, dan itulah pertama kali aku memdengar suaranya.
Semenjak itu ngobrol di telepon menjadi ritual sehari-hari selain chatting. Aku pun perlahan jadi tahu lebih banyak soal Metra. Bahwa di Jakarta ini karena kerjaan.
Internetan pun dari kantor yang kebetulan kerja nya lebih sering shift malam. Selisih usia kami 3 tahun. Dia baru lulus dari STM dan aku masih berseragam putih abu-abu.
"Ketemuan yuk, besok bisa ga?" celetuk Metra di telepon. Aku bengong sesaat. Bukan apa-apa, soalnya diantara temen-temen chatting ku emang sama Metra ini aku blom pernah kopi darat. Bukannya aku ga pernah coba ngajak, tapi setiap aku ajak pasti dia ga bisa. Sekarang tumben dia ngajak.
"Besok ayo, kan pas hari minggu aku libur. Dimana?"
Metra pun menyebutkan nama sebuah Mall yang ga jauh dari kantor nya. Oh itu rupanya kenapa kmaren-kmaren menolak ajakan ku. Karena baru di Jakarta dia cuma tahu yang deket-deket kantor nya aja.
"Aku pake dress abu-abu yaaa. Kita ketemuan di depan bioskop," kata ku.
"Ok, aku pake kemeja putih dan celana jeans. Bioskop nya sebelah mana?"
"Lantai paling atas," jawab ku ngasal. Aku juga lupa persis nya. Tapi biasanya bioskop itu di lantai paling atas kan ya?
***
Minggu siang aku udah nungguin di depan bioskop, yang ternyata bukan lantai paling atas. Karena lantai paling atas merupakan bengkel mobil. Barusan Metra sempat menghubungi ke handphone ku kalau datang telat karena hujan di luar. Mata ku berusaha menangkap tiap orang yang mendekat. Mencari-cari sosok Metra.
Agak lama menunggu, aku melihat ke arah eskalator yang tak jauh dari tempat aku berdiri, sempat kutangkap sosok pria yang setengah terburu-buru turun ke lantai tempat aku berada. Berkemeja putih dengan lengan digukung sampai siku, dan bercelana jeans.
Mungkinkah itu dia? Aku bertanya-tanya.
Langkah pria itu melambat kala dia turun dari eskalator. Berjalan perlahan mendekat ke arah ku. Dan ketika mata kami bertemu mulutnya membentuk sebuah pertanyaan “Dian ya?” Aku pun reflek mengangguk.
Aku kembali ke masa kini. Melihat sosok pria yang akan menjadi suami ku besok. Pria yang sama yang aku temui sekitar empat tahun yang lalu.
Aku tersenyum. “Aku keinget awal kenalan kita. Lucu aja rasanya, kok bisa ya dari chatting tau-tau mau nikah gini. Niat nyari pacar aja engga waktu itu. Hihihi… Yuk istirahat. Sampai ketemu besok, calon suami ku.”
Tepat pukul 10.01 pagi yang kelabu ini tweet mentionmu kembali muncul di notifikasi akunku. Persis ada sepuluh tweet mention yang tidak kubalas. Bukan, bukan karena aku sudah mulai bosan. Dan jangan pernah berpikir demikian karena aku tidak mungkin berbuat seperti itu. Kamu tahu persis bagaimana perasaan ini kepadamu. Tiba-tiba saja memang aku lelah berkata-kata Langit. Lelah melakukan apapun. Aku hanya ingin mendengar segala hal tentangmu, itu saja.
Masih ingatkah? pertama kali kita bertemu di Sekolah Alam itu?
Sebegitu cueknya kamu berkenalan sekejap kemudian larut bermain bersama anak-anak. Menyenangkan sekali melihatnya. Sungguh. Seakan-akan kamu sudah mengenal mereka begitu lama. Seolah-olah kamu adalah kakak perempuan mereka. Melihatmu tertawa lepas kala itu langsung menyentuh sisi terdalam hatiku yang memang lama tak tersentuh.
Kamu, pertama kalinya. Setelah sekian lama aku menutup hati karena terluka. Kamulah yang membuka gerbang hatiku untuk kembali mencicipi CINTA. Dan aku sadar, ketika gerbang CINTA itu terbuka akan disusul bersama sebuah rasa sakit pastinya. Kadar sakit akan berbeda tergantung proses yang kita jalankan.
Dan….
Masih ingatkah saat aku mengajakmu sholat berjamaah Dzuhur? selepas kamu bermain riang bersama anak-anak. Kamu hanya menjawab, “Saya gak Sholat, Kak”. Mungkin kamu sedang datang bulan pikirku. Seminggu kemudian ketika kamu datang malam itu dengan pakaian rapi sekali, sekali lagi aku mengajakmu Sholat Berjamaah Isya. Kamu kembali menjawab, “Saya gak Sholat Kak”. Aku bertanya, “Masih datang bulan?”. Dan kamu menjawab singkat, “Nggak Kak”. Lalu tiba-tiba mataku melihat benda kecil di leher yang sedikit tertutupi kerah kemejamu. Segera aku bilang, “Oh, Maaf Saya gak tahu kalau kamu Nasrani… Maaf ya… “. “Gak pa pa Kak.” begitu sahutmu cepat sambil tersenyum.
Duh, senyummu itu yang membuatku kerap tersenyum sendiri. Mungkin semacam virus senyuman ya? Ah, entahlah… pastinya itu nyaman…
Seiring kamu yang rutin berkunjung ke Sekolah Alam membantu kami. Seiring itu pula rasa ini membuncah…
Kita sama-sama tahu bahwa kita saling mencintai
dan kita sama-sama tahu bahwa kita tidak bisa bersama.
Mencoba mempertahankan Cinta dan Keyakinan adalah hal tersulit. Memaksakannya akan membuat anak-anak kita menderita kelak. Dan itu tidak mungkin berlaku dalam hidupku pun hidupmu. Sekalipun toleransi menjadi nama tengah kita. Tapi tidak dalam keluarga. Kita sama-sama menCINTAi TUHAN kita.
Kemarin aku membaca kembali kisah Laila Majnun, dan mengulang-ulang pada doa yang dibaca Qois didepan Ka’bah “Wahai Yang Maha Pengasih, Raja Diraja Para Pecinta, Engkau yang menganugerahkan cinta, aku hanya mohon kepada-Mu satu hal saja,”Tinggikanlah cintaku sedemikian rupa sehingga, sekalipun aku binasa, cintaku dan kekasihku tetap hidup.”
DIA yang Maha Pemberi Cinta maka DIA lah yang akan menyelesaikan cerita kita.
Dan tepat pukul 11.11 ini aku balas mentionmu, “Langit, Aku Rindu”
Banyak drama di social media. Kadang terlalu banyak untuk diceritakan semua. Entah darimana awal hingga entah kenapa harus berakhir sedemikian rupa. Kadang malah suka ada lanjutannya, ibarat soap opera Amerika, telenovela di Amerika Latin sana, drama Korea, hingga sinetron Indonesia. (Eh, sama saja, ya?)
Ajaib bila mereka tidak lelah. Jujur, saya mah, sudah lama ogah. Dulu saya memang sempat ikut ‘terbawa’. Maklum, kena pengaruh teman-teman dan orang sekitar. Memang bukan alasan sih, tapi itulah kenyataannya.
Dalam drama ini, apa peran saya kira-kira? Hmm, mungkin hanya sebagai narator. Saya enggan jadi peran utama dalam perkara (remeh?) yang seakan tiada habisnya.
Butuh waktu lama bagi saya untuk menyadari bahwa (terlalu) banyak curhat di social media tidak selalu baik, apalagi sampai mengeluh dan mengasihani diri sendiri. Untuk apa? Sekedar cari perhatian dan simpati? Ngapain pula buka-buka aib – baik punya orang lain maupun diri sendiri? Hiih!
Banyak pengalaman yang dapat saya pelajari dari menggunakan social media. Mulai dari salah-paham, foto dikomentari aneh/norak/cantik/serem, jatuh cinta dan patah hati, hingga…musuhan. Nah, ini yang paling nggak enak! Bayangkan, hanya karena salah-paham atau beda pendapat (atau yang kemarin sempat jadi hot topic – perkara beda pilihan kandidat politik!), persahabatan, hubungan keluarga, hingga asmara yang sudah terjalin cukup lama jadi terancam goyah…atau malah bubar sekalian. Sayang, kan?
Banyak yang sepertinya belum puas sampai di situ saja. Mereka lantas terus-terusan curhat di social media, tanpa henti menyalahkan si ‘penyebab sakit hati’ – bahkan sampai menggunakan kalimat-kalimat ‘rawan sensor’, meski dengan hashtag (#) ‘no mention’. (Anda salah satunya? Nggak perlu mengaku sama saya. Tenang saja!)
Memang, kita semua manusia biasa. Emosi dan sakit hati karena sesuatu maupun seseorang itu wajar. Yang menjadi masalah adalah saat kita begitu ‘sibuk’ – nya mengadu pada seluruh dunia, seakan mencari dukungan, meski masalahnya bahkan tidak menyangkut urusan ‘hidup dan mati’. (Ampe segitunya!) Bahkan, kalau bisa kita sukses ‘menghasut’ banyak orang (baca: teman-teman lain!) untuk ikut-ikutan membenci sosok yang sudah bikin kita sakit hati setengah-mati. Lumayan, dibelain teman-teman ‘sejati’.
Mungkin awalnya terasa menyenangkan, tapi pasti akan ada mereka yang melihat dan berpikir begini:
“Hello, can’t you fight your own battles?” Harus ya, cari backing-an sebagai pembuktian kalau kamu yang benar dan orang lain yang selalu salah? Kalau memang sudah yakin benar, ngapain minta persetujuan mereka?
Pernah akun saya di-remove atau / dan diblokir, begitu pula sebaliknya. Alasannya beragam. Entah mereka yang akhirnya tidak tahan dengan saya atau malah saya yang sudah kepalang muak dengan mereka. Lagi-lagi namanya juga manusia. Tidak ada yang sempurna.
Haruskah saya bersedih? Hmm, dulu mungkin iya. Sekarang tidak terlalu. Kenapa? Mungkin karena saya telah belajar untuk pasrah. Kita tidak bisa mengatur orang lain sesuai mau kita, sama seperti kita yang pastinya ogah diatur-atur orang lain seperti maunya mereka. Kalau sudah tiada toleransi dan sulit kompromi, berpisah mungkin lebih baik. Mungkin lebih sehat bila jalan sendiri-sendiri.
Tidak perlu merasa wajib menerima setiap orang yang meng-add kamu. Tidak perlu juga sakit hati bila ditolak. Biasa saja. Itu hak pribadi masing-masing.
Kita berhak memilih berteman dengan yang dapat membuat kita merasa nyaman, bahkan di social media sekali pun. (Tapi kalau mau terima semua orang juga terserah.)
Tidak suka dengan yang di-posting teman di wall mereka? Bolehlah kita mengungkapkan keberatan, namun tak perlu sampai memaksa – apalagi menghakimi dan mengancam. (Nggak mau disamakan dengan preman, kan?) Terserah mereka mau mendengarkan dan mengikuti saran kita atau tidak. Nggak perlu juga sedikit-sedikit sensi, merasa mereka lagi ‘ngomongin’ kita lewat postingan mereka. (Nggak selalu, kan? Kalau pun emang iya, pura-pura saja tidak sadar. Anggap saja diam-diam mereka menggemari kita, hehe.)
Daripada uring-uringan yang hanya menghabiskan waktu dan tenaga, tidak semua postingan di social media harus kita baca – apalagi sampai resapi. Masih banyak kerjaan lain di dunia nyata yang jauh lebih penting, kan?
Hal yang sama juga berlaku sebaliknya. Teman protes – dan bahkan merasa tersinggung – dengan postingan Anda? Anda yang memutuskan, mau mengikuti maunya mereka atau tidak. Mungkin Anda memang kelewatan dan sepakat dengan mereka. Mungkin juga mereka yang kelewat sensi, padahal hanya salah-paham sedikit.
Tak perlu saling ngotot-ngototan. (Ngapain juga, sih? Kayak anak kecil saja. Sudah lupa umur-kah?) Ada kalanya menjaga perdamaian lebih penting daripada mencari-cari kesalahan dan saling tuding – apalagi atas nama pemuasan ego belaka.
Manusia selalu punya pilihan – bahkan di social media. Mau pakai atau tidak? Mau terus pakai atau men-delete akun Anda karena merasa tidak banyak berguna? Terserah Anda. Anda juga bisa mem-filter beberapa teman (atau ‘teman’) dalam list Anda agar tidak perlu melihat semua yang ada di timeline Anda. Ada yang memang sebaiknya tidak dibagi ke semua orang dan ada juga yang memang sebaiknya disimpan sendiri. Saya percaya kita semua sudah cukup dewasa dan cerdas untuk bernalar secara sehat dan memilih yang benar.
Bisa kan, menggunakan social media tanpa harus pakai ‘drama’? Kecuali bila Anda memang tak bisa hidup tanpa perhatian seluruh dunia.
R.
(Jakarta, 9 Februari 2015 – pukul 4:30 pm hingga 11 Februari 2015 – pukul 3:45 pm)
Ki 6 ?, kata tersebut yang mengawali percakapan Kami di dunia maya.
Italia Amico yang berarti teman dari Italy. Yup… Gue punya teman dari Italy tepatnya di Marsala, Italy. Lucu sekali, saat bertemu Dia di Pet Society salah satu games terkenal di Facebook. Sekilas tentang Pet Society, permainan tentang hewan yang kita pelihara yang memiliki rumah dan juga dapat berkeliling kota Pet Society. Saat itu Gue mencari friend untuk menyelesaikan misi. Karena udah perlu banget, akhirnya nggak di seleksi dulu asal usul yang di add. Akhirnya bertemu dengan satu character yang bernama Roberto, karakter kucing yang imut dan lucu. (sebenarnya semua sih sama aja..).
Percakapan bermula pada tanggal 13 April 2009
Roberto : Ki 6?
Ki 6?
Karena Gue nggak ngerti apa yang dia maksud, akhirnya gue tanya balik aja.
Gue : What do you say?
Roberto : Who are you?
Gue : My name is Nadya Bunga Amandha.. and who are you?
Roberto : My name is Roberto Meo,i’m good thanks…but I’m italian…I don’t know you. Do you want to be my pen-friend?
Wow… seneng banget rasanya ada orang bule yang mau jadi sahabat pena sama gue. Gimana gitu kan. Ya, keliatannya sih biasa aja, tapi kita kan jadi tambah pengetahuan tentang Negara lain. Pasti seru banget, dan tanpa pikir panjang akhirnya…
Gue : Yes… i want to be your pen-friend… But I'm not good speaking English.
Roberto : Ok, where are you from?
Gue : I’m from Indonesia and where are you from?
Roberto : Italy :)
Gue : Wow.. Italy is a wonderful country.
Roberto : Yes, you're right. Oh yeah, what is your favorite singer, music and food?
Gue : I love Avril Lavigne, Alicia Keys, Kelly Clarkson and many more. I listen to Pop, Jazz and R&B. Food, I like Fried Rice, Spagetthi and Indonesian foods. What is your favorite singer, music and food?
Roberto : My favorite singers are Lady Gaga, Avril Lavigne, Katy Perry, Marco Carta Negramaro, The Killers, Etc. My favorite music is pop, I don’t know the other kind musics…my favorite food is pizza, spaghetti, strawberry, apple, orange, lasagna, red bull, all tipical Italian food….do you know a marsala wine?
Gue : Marsala wine? Is it wine? Oh, I never drink wine. Because I’m Mosleem and a student.
Roberto : Oh, I understand.
Sepertinya Kami mempunyai kesamaan yaitu sama-sama suka sama Avril Lavigne. Senangnya punya teman yang suka genre yang sama. Lalu beberapa hari kemudian Roberto mengirimkan gue pesan lagi.
Roberto : Hey.. How are you?
Gue : I'm really fine. And you?
Roberto : Fine. Thanks… oh yeah, today is the day of liberation in Italy (25/04)
Gue : Oh, Congratulation. In Indonesia the day of liberation is (17/8). Roberto, what is your activity?
Roberto : I’m a student and you?
Hmm… sepertinya Roberto lupa kalau saat itu Gue juga seorang pelajar. Yah, tidak apa-apa lah. Harap maklum aja.. :’(
Gue : Same, I’m a student in a senior high school. And you?
Roberto : Mmm.. I’m a student in a media school (I’m 13)
Gue : You are 13 years old? I’m 15 years old. ^-^
Rasanya gimana gitu, punya kenalan yang 2 tahun dibawah gue. Lucu sih, tapi Roberto anaknya asik jadi nggak ada masalah sama beda umur Kami. Hehe :D
Roberto : ^-^ I know you in a pet society.
Gue : Yes, you right. I love playing a pet society. Because I don’t have friends in Pet Society and then I add a friends from another country. Like you..
Roberto : Wow, same like me. I added friends from another country too.. But, nice too meet you. :)
Gue : Nice too meet you too..
Wah, ternyata Roberto senang punya temen kayak gue. He…he… asik… dan Dia juga punya kebiasaan yang sama kayak Gue. Add orang-orang yang nggak dikenal dari beberapa Negara. Next weeks,
Gue : Hello Roberto.. Happy weekend :)
Roberto : Happy weekends too.. :D
Gue : Roberto, why you do not put your picture?
Roberto : Because, i don’t have a picture in this PC. I’m sorry~~..
Gue : Okay, no problem for me.
Padahal Gue kepo banget mau lihat wajah Dia. Yah, Dia nggak punya foto mau diapain lagi. Hehe..
Gue : How's your weekend? I only stay at home.
Roberto : Today, I go to Castelvetrano, Sicily, Italy. And I go to the supermarket.
Gue : I have seen Castelvetrano sicily in google. It’s very beautiful place.
Roberto : Yups.. Happy weekend.. Okay.. :D
Gue : Thank you Roberto.
Senangnya bisa tahu Castelvetrano sicily dari Roberto. Kota ini terletak di bagian selatan dari Italia. Penduduk di Kota ini kurang lebih sebanyak 30.369 jiwa. Lebih banyak bangunan-bangunan tua yang berdiri kokoh di kota tersebut. Pasti Kalian penasaran kenapa Gue mengerti banget dengan Kora itu. Ya, tidak lain dengan Wikipedia salah satu andalan Masyarakat Indonesia untuk mencari tentang Sejarah. Skip… Kenapa ngelantur gini sih.. Balik ke topic lah.. -_-
Roberto : Nadya… How are you?
Gue : I’m very good. And you?
Roberto : Wow, that’s good. Where are you going?
Gue : Umm.. I don’t know. Maybe, just at home.. you?
Roberto : I’m planing to go to the beach
Gue : Wow.. wonderful. I really want to go to the beach. But, the beach is so far away from my home. :’(
Roberto : Oh yeah, is it winter in Indonesia?
Gue : In here sunny or rainy. We never feel winter.
Roberto : Wonderful..
Gue : I really want to feel winter. But I can’t.
Roberto : Why? You can come in Italy? And we can meet here. :D
Gue : Hmm.. I want it. But, I have to go to college in September
Roberto : Oh, yeah. I’m sad. Maybe, next time we can meet in Italy. See you..
Gue : See you Roberto.. :)
See you.. sebernarnya kata yang paling Gue benci. Kalian tau kenapa? Karena kata See you itu adalah akhir dimana Kami berbicara. Sekarang Kami tidak pernah berkomunikasi lagi, namun Gue tetap senang karena bisa mengenal Italy dan Roberto walau hanya sekilas. Semoga di lain waktu, komunikasi Kami bisa terhubung kembali dan bisa menjadi Sahabat Sejati..
Terima Kasih Italy,
Siang itu aku selesai ujian sekolah, pulang lebih cepat daripada hari-hari biasa. Untuk pulang kerumah juga masih sangat terlalu pagi, saat itu jam tangan KW ku menunjukkan pukul 9 pagi. Kalau pun aku pulang saat itu, mungkin dirumah juga tidak melakukan hal apapun. Aku duduk ditempat parkiran motor . Bercengkrama dengan teman-teman, menceritakan ujian yang telah terjadi saat itu. Ada yang masih mempermasalahkan jawaban dan ada pula yang ketakutan akan hasil jawabannya. Aku hanya ikut mengiyakan aja untuk mengisi peranku dalam obrolan mereka. 20 menit selesai bercengkrama, satu persatu teman-temanku mulai pergi meninggalkanku sendiri, hanya tersisa beberapa motor milik teman-teman lainnya.
Aku ambil kunci motor di tas dan aku lanjutkan menyalakan motorku bergegas pulang kerumah. Beristirahat, karena esok ujian masih berlanjut. Aku keluar dari depan gerbang sekolah, sampai saat aku ditengah-tengah perjalanan pulang ada lampu merah, yang aku kira masih berwarna hijau. Jadi aku terus melaju belok kekiri ke arah rumahku. Selain itu dipikiranku jika aku belok ke kiri tidak akan beresiko besar dibandingkan jika aku belok ke kanan akan berbahaya.
Tapi saat aku berjalan membelokkan motorku aku melihat 2 orang polisi yang sedang mencari mangsa. Ibarat kucing, aku lah ikan segarnya. Yang enak sekali jika disantap pagi itu juga. Sudah seperti kucing yang kelaparan, polisi tadi langsung melihat ikan segar. Aku yang tergupuh gupuh saat itu pun seketika ingat perkataan papahku. “Kalau ada polisi mencari makan, pura-puralah kamu berhenti ditoko untuk beli sesuatu”. Karena kegugupanku, alhasil aku berhenti mendadak dan pesan papahku pun gagal aku jalankan. Yups mission failed.
“Woi kamu, ngapain ?” sambil cengengesan seperti melihat ikan segarnya yang sudah tidak berdaya, satu polisi menghampiriku.
Sementara aku yang berhenti mendadak karena kegugupanku, dan ketakutanku dengan kucing lapar. Hanya bisa menjawab
“Mau beli bensin pak” Polisi yang sudah tahu gelagatku, dia tidak percaya begitu saja. Dia mendekati aku dan memberitahukan kesalahanku.
Ayo sini ikut saya”. Kucing kelaparan itupun mendapatkan mangsanya. Dan aku hanya ikut begitu saja. Seperti terhipnotis oleh pencuri yang menggunakan Gendam.
“Kamu salah karena tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas, Mana SIM mu ?” Tanya kucing kepadaku, dan aku hanya bisa menggelengkan kepala. Karena saat itu aku baru berusia 17 tahun pas banget di bulan April. Jadi masalah surat-surat aku masih belum memiliki. KTP pun masih proses pembuatan saat itu.
“Oke ini saya tilang, sidang hari rabu di Pengadilan”. Dan aku mendapatkan surat tilang untuk yang kedua kalinya.
Sesampainya dirumah, aku sms orang tuaku. Papahku langsung bilang kalau besok langsung dibuatin SIM dan ambil STNK ku yang ditahan.
Setelah itu aku langsung mencurahkan keluh kesahku di Twitter, yah dimana kalian bisa nyampah sesuka hati. Ditambah lagi saat itu followerku baru 100 orang saja.
“polisi bangs*t, dasar kucing kelaparan, polisi gatau etika” yah itu aku lakukan, walaupun sebenarnya aku yang salah karena aku menerobos lampu lalu lintas. Tapi saat itu memang lampunya masih mengijinkan aku untuk lewat, warnanya masih kuning dan aku berhati-hati. Tapi apa boleh buat kehati-hatianku berbuah surat tilang.
Followerku baru 100 tapi mereka semua orang sosmed yang aktif. Diretweet 2 kali oleh temanku, ada juga yang membalasnya dengan kata-kata sabar. Iya memang aku harus sabar. Dan beberapa saat kemudian aku menemukan sebuah retweetan yang memiliki kesamaan. Sama-sama ditilang polisi.
Karena naluri kebencianku dengan polisi, akhirnya aku ikut menjawab itu status orang. Entah siapa aku juga tidak mengenalnya. Sejak saat itu lah aku mengenalnya. Rasti, itu nama pemilik akunnya.
Singkat cerita, dia juga ditilang oleh polisi, bedanya dia merasa tidak punya kesalahan. Surat-surat juga lengkap. Tapi dia tetap ditilang. Tapi ada kesamaan, dia juga berkeluh kesah di twitter. Dan itulah awal perkenalanku dengannya.
Dari situ pula aku memfollow dia, dan aku memintanya untuk memfollow back. Perkenalanku selanjutnya layaknya anak muda yang ingin tahu lebih dalam tentang seorang wanita. Aku bertanya nama, sekolah, kelas dan tempat tinggalnya.
Ternyata dia sekolah di SMA berkelas, sementara aku hanya SMA yang ada dibawahnya. Aku sering mentionan dengan Rasti. Dia membalasnya, walaupun tidak seketika itu pula dia menjawabnya. Terkadang dia membalasnya saat jam dimana aku sudah tertidur pulas. Iya dia sibuk dengan sekolahnya. Pulang sore, banyak tugas, ditambah lagi saat itu adalah pekan ujian sekolah. Wajar kalau dia membalasnya cukup lama.
Dikarenakan itu pula lah aku belum terlalu mengenal dia lebih jauh, karena minimnya kesempatan untuk saling berkepo ria. Tapi bukannya berkepo ria, karena aku lah yang ber ria ria, sedangkan dia hanya biasa saja. Dia passif dan lebih terkesan cuek, bahkan mengacuhkanku. Tapi tidak apa-apa, aku tidak menyerah begitu saja. Entah kenapa aku pengen sekali bisa mengenalnya lebih jauh. Lebih dari seorang teman. Mungkin.
Oh iya, aku ikut bimbel di sebuha lembaga pendidikan yang ada dikotaku. Tapi alhamdulillah aku dapat beasiswa jadi aku tidak perlu mengeluarkan sepeser uangpun. Bimbelnya dimulai setelah aku pulang sekolah jam 4 sore dan berakhir jam 6 sore. Saat sudah berbunyi bel pulang, aku bergegas langsung keluar kelas setelah bersalaman dengan tentor yang mengajarku. Aku berlari menuju parkiran dan langsung menyalakan motorku. Saat itu baru saja hujan reda, aku sedikit memanaskan motorku. Saat itu pula aku melihat sosok wanita yang sepertinya aku mengenal dia. Tapi saat itu sudah malam jadi aku tidak begitu yakin akan sosok tadi itu siapa.
Sesampainya dirumah aku menyalakan laptopku dan membuka twitter. Ada 2 pemberitahuan terbaru, dan salah satunya dari dia. Rasti. Dia meminta maaf kepadaku karena akhir-akhir ini tidak akan bisa membalas mentionku. Aku hanya berfikir, kenapa dia harus meminta maaf, aku bukan siapa-siapanya bukan ?.
Dan aku hanya mengiyakan atas permohonan maafannya dia. Dengan memberikan pengertian bahwa aku bisa memaklumi kesibukannya.
Suatu ketika saat bimbelku mengadakan sebuah pertemuan untuk membahas ujian nasional. Lagi, aku melihat wanita yang bener-bener aku merasa mengenalnya. Aku kenal dia, tapi aku takut salah orang.
“Apakah dia Rasti? Dia juga bimbel disini ?” sebuah pertanyaan yang mebuatku dag dig dug an. Kalau pun itu dia, aku masih belum siap untuk bertemu dengan dia. Takut dia kecewa saat melihatku.
“Itu siapa sih Rif?” aku bertanya dengan teman disebelahku, namanya Rifka. Kebetulan dia anaknya Hitz jadi dia mungkin mengenalnya.
“Yang mana ? Yang kerudung Ungu itu ?” tanyanya dia balik kepadaku.
“Iya itu Rif, siapa ? kenal gak kamu?”.
“Itu Rasti, kenapa ? kamu suka ?”
Ternyata benar dugaanku selama ini, wanita itu memang dia. Orang yang selama 2 bulan ini membalas pertanyaan bodohku di twitter. Aku tidak berani menyapanya, tidak untuk sekarang.
Mungkin aku perlu persiapan lebih. Aku takut dia kecewa dan aku takut gagal. Gagal mendekatinya.Setelah kejadian itu, aku berusaha menutupi kalau aku tahu siapa dia. Aku berpura-pura masih tidak pernah bertemu dengan dia. Seperti biasa obrolan di twitter pun hanya membicarakan masalah sekolahnya dan aku. Setidaknya dia sekarang mulai bertanya, mulai ingin tahu tentang aku.
Beberapa minggu setelah itu, lembaga pendidikan yang aku ikuti pun mengadakan suatu study campus. Dan berhubung aku tidak pernah tahu, kampus itu seperti apa. Aku memutuskan untuk ikut serta dalam acara tersebut. Dikelasku hanya aku dan wakil ketua kelas yang mengikuti, sementara yang lainnya lebih memilih untuk tidak mengikutinya karena tidak adanya biaya.
Oh ya, rencana study campus nya ke kota Semarang. Dilakukan selama 2 hari 1 malam. Sebelum berangkat, diadakan technical meeting untuk memberikan arahan mengenai study campus.
Saat itu kita semua yang ikut dalam acara tersebut berkumpul dibimbel pukul 4 sore. disana banyak sekali siswa siswi yang ikut serta dalam acara tersebut. Aku datang dengan teman sekolahku, dan mencari tempat untuk duduk dan ikut mendengarkan arahan dari para tentor. Seperti orang yang terasingkan,aku hanya berdua tanpa ada orang yang aku kenal. Disela sela pemberihan arahan, aku mencoba mencari sosok orang yang selama ini aku cari. sosok yang hanya terlihat saat itu adalah punggungnya. Ya aku mencari Rasti, mungkinkah dia ikut serta ? tapi firasatku mengatakan kalau dia ikut !
Setelah sekian lama aku memfokuskan pencarianku, aku menemukan sesosok wanita yang aku rasa itu dia. Tapi sepertinya pengelihatanku saat ini salah. Itu bukan dia, hanya orang yang memiliki kesamaan bentuk badan aja. Ya dia kurus dan berkerudung. Dan ternyata dia juga ikut study campus. Woww aku Cuma bisa berhayal, apa aku bisa saat nanti di perjalanan aku berani untuk mengajaknya berjalan berdua. Maybe
Dengan rasa kecewa, setelah usai Technical meetingnya. Aku langsung bergegas menuju parkiran dan aku tancap gas pulang ke rumah. Saat aku berjalan dipintu keluar, aku sepertinya berpapasan dengan Rasti. Aku rasa kali ini aku benar, itu benar-benar dia. Muka lucu dan gigi yang berkawat. Rasti
Untuk kedua kalinya, aku masih belum siap untuk menyapa dia. Masih banyak rasa ketakutanku. Takut kalau dia tidak mau mengenalku. Seperti cerita sebelumnya. Aku gagal, gagal untuk sekedar bertegur sapa.
Hari H pun tiba, study campus dimulai. Sesuai dengan kesepakatan saat technical meeting, kita berangkat jam 5 pagi. Aku jam 4 sudah siap, sudah bergegas ke tempat bus diparkirkan. Sesuai dengan kesepakatan juga, aku duduk dengan teman SMA ku. Didepanku ada teman SMP ku dan dibelakang tempat dudukku entah siapa aku kurang tahu.
Perjalananpun di mulai, aku yang memiliki ketidak cocokan apabila naik kendaraan seperti mobil atau bus. Alhasil aku merasakan mual dan ingin muntah. Gak cool sekali, kalau aku baru setengah jam perjalanan aku sudah muali mual dan muntah. Untuk mengakalinya, aku melakukan sebuah tipu muslihat dengan TIDUR. Ya aku rasa itu cara yang paling ampuh.
Singkat cerita, aku melewati kondisi yang absurd itu dengan begitu cepat. Akhirnya sampai juga di Semarang.Aku mengunjungi beberapa kampus dikota tersebut. Hingga pada akhirnya ke sebuah taman bermain untuk sekedar melepas penat setelah lelah berjalan mengitar kampus-kampus yang ada dikota tersebut. Saat itu sudah malam. Sekitar pukul 19.00. kami dibiarkan bermain sesukanya ditaman tersebut hingga pada waktu yang ditentukan.
Dari jauh aku melihat sosok dia lagi, Rasti. Dia sedang ada diantrian sebuah wahana permainan. Dia melihatku dan aku juga melihatnya. Tapi apa ? aku pengecut aku tidak berani melihat dia terlalu lama. Aku malu, aku sadar aku siapa.
Setelah lama di taman tersebut, akhirnya waktu yang telah ditentukan sudah tiba. Balik lagi kekota tercinta. Selama perjalanan aku hanya diam. Menyesali sikapku yang tidak berani menatap lama mukanya. Kapan lagi ? itu kesempatan emas tapi aku terlalu takut.
Melihat dijendela bus. Hanya tiang lampu yang seakan mengikuti perjalananku. Seakan dia tidak ingin jauh dariku. Seperti itulah. Aku lalu membuka handphoneku untuk sekedar melihat timeline. Dan dia update. Aku yang hanya berani menegurnya lewat sosmed langsung saja membalas status yang baru saja dia buat. Hingga akhirnya batrai handphone tidak mengijinkanku untuk lama berbincang dengan Rasti. Lalu aku mengirim pesan singkat padanya.
“Eh hapeku low nih, nomor hape kamu berapa?”
“Oh nomer hape ? Nih 08628282828”
Yah langsung aku matiin handphoneku. Dan aku tertidur nyenyak malam itu. Hingga saat menjelang subuh aku terbangunkan oleh teman-teman yang berisiki membereskan barang bawaannya. Akhirnya sampai juga dikota tercinta.
Setelah kejadian ini, aku mulai intens dengan Rasti. Siang malam smsku penuh dengan namanya. Sesekali provider juga ada. Mungkin dia jomblo.
Hingga saatnya tiba aku memberanikan diri untuk menyatakan cinta padanya disuatu tenpat yang cukup romantis. Diperbukitan ditengah kota. Malam itu aku menyatakan cinta dan hasilnya dia menerima cintaku.
Perjuangan yang berat. 3 bulan lebih aku mendekatinya. Oh sungguh ini hal yang sangat luar biasa. Aku bangga dan aku senang dengannya.
Perempuanku itu mengeluh lagi. Status-status panjang di Facebook miliknya ia keluh-kesahkan padaku. Kadang mention juga di akun twitterku. Timeline tiba-tiba penuh. Terlebih kepala ini. Namun aku tetap membaca tulisan-tulisannya karena aku mencintainya. Saat ia marah, saat ia tersenyum, aku mencintainya dengan seluruh.
Sebab aku pun sama. Meski jarang menulis via socmed, kisahku akan menjadi bagian dari hari-harinya. Aku mengeluh, curhat kepadanya.
"Jadi tadi siang itu aku lagi berhemat. hehehe uang jajanku cuma Rp. 20.000,- setidaknya itu uang yang aku bawa sebab dompet tertinggal di suatu tempat. Tapi ternyata ada teman aku yang mau pinjam. Kebetulan dia lagi nggak ada uang cash. Akhirnya kita makan di kantin warung Manado. Dia habiskan Rp. 10.000,- aku pun sama. Menu yang terpilih sederhana; nasi setengah dan sepotong ayam kuah. Aku pun akhirnya ikut menu itu. Tapi entah kenapa sepertinya ada yang salah, nasiku terlihat seperempat, deh bukan setengah. Tapi ya sudahlah harus melahap makanan itu."
"Hari pun sudah sore, aku selesaikan pekerjaan dengan lebih cepat. Mengurangi ngobrol dan nyanyi-nyanyi nggak jelas. Berhasil. Meski ada mba Retno, teman meja sebelah yang nanya 'tumben hari ini nggak setel musik?'".
"Aku cuma jawab singkat 'iya'. Akhirnya aku setel juga musik meski hanya beberapa lagu sebelum izin pulang lebih dulu. Ada latihan wayang dan ikut writing club di Sarinah. Maka sebelum latihan aku makan pecel lele dekat kosan. Aku sempatkan mandi sore biar latihan di GIK segar. Habis latihan blocking aku larikan motor orange ke Sarinah. Belum telat mengikuti tema menulis malam itu 'The favorite actor/actres'."
"Sesudahnya aku masih lapar, karena itu aku pesan nasi dan Soto Ceker Ayam Ndut di jalan Sabang. Ah, kenyang. Dan aku baru pulang ke kosan."
"Seperti biasa, sebelum beristirahat, aku membongkar isi tas. oh Tuhan, ternyata selain ada gambar sketsa wajah dari Mumtaz sang ekpresionis, ada juga bingkisan dari panitia pementasan Wayang Jurnalis. Biasanya isinya cuma kue-kue dan air mineral, tapi kali ini makanan. Tidak ada yang ngasih tahu kalau itu makanan berat. Nasi terbungkus daun. Kurasa nasi bakar tapi sepertinya lebih enak dari itu.
"Namun yang bikin aku menyesal adalah bagaimana mungkin aku sanggup menghabiskan makanan ity? Dan nasi bungkus itu pun tidak sanggup aku sentuh. Ada potongan buah semangka, secuil aku cicip. Tapi tidak habis. Aku kalah sama kantuk. Dalam tertidur itu, nasi itu masuk ke substansi mimpiku. Mereka membayangi alam bawah sadarku. Abstrak sekali. Aku sepertinya mengingkari janji untuk tidak akan mengkhianati makanan. Tapi kenyataannya, nasi-nasi itu hidup."
Mimpi itu...
"Mama-mama, sudahkah kau lupa aku ini belum temui makanan," kata seorang bocah berseragam sekolah dasar. Dia menggoyang-goyangkan tangan mamanya.
"Mama. Sudah lupakah kalau cuma nasi putih itu saja yang ada dalam bekalku. Mama bilang sama kita kalau cuma nasi itu namanya sama saja belum sarapan, Mama. Aku menagih janji Mama," katanya lagi menahan cacing di perutnya.
Menjadi saksi percakapan bocah yang merengek makan di hadapan ibunya. Aku terpaku. Ibu itu pun sama. Hanya saja ia sepertinya lebih susah berkata-kata. Selain kepayahan mengurus dua anaknya yang lain. Satu digendongnya dengan kain, satu lagi sedang mengikutinya dari belakang. Ibu tiga anak itu, atau entah lebih jika di rumahnya. Tidak menjawab pertanyaan bocah sekolah dasar tadi.
Jika saja, bocah itu tahu, ibunya itu hanya sanggup menjawab dengan butiran air mata dan sedikit rona kepanikan. Tiba-tiba, mata ibu yang kesusahan itu pun berpapasan dengan tubuhku dalam mimpi. Meski begitu ia acuh. Kecuali pada seseorang di balik punggungnya dan punggung anaknya yang digendong.
"Hayati, hayati istriku," kata pria berpeluh. Kepada ibu dengan tiga orang anaknya tadi atau mungkin lebih.
"Kabar gembira. Hari ini aku membawa pulang buah-buahan. Tidak banyak, tapi ini ada buah Manggis di antaranya," ucap pria itu sambil mengusap peluh di pelipisnya berkali-kali.
Kepada istrinya ia tunjukan juga sedikit isi dari apa yang ada di dalam tas kumalnya itu. Tak lupa, ia pun menanyakan keadaan anak-anaknya, meski dalam hati ia tahu, kondisinya hanya mengulang hari kemarin.
"Anak-anak sudah makan nasi meski tanpa lauk. Untuk siang ini, aku masak nasi lagi dan ada uang 10 ribu lagi buat beli lauk," kata ibu itu yang kelihatan pusing mengatur keuangan rumah tangganya.
"Mama-mama biarkan aku yang belikan uangnya buat lauk makan siang kita, tapi bolehkah aku 'pelintir' dua ribunya?" Bocah berseragam sekolah dasar punya inisiatif membantu orangtuanya, tapi ada apa dengan pelintir uang 2 ribu rupiah?
"Mama, nasi putih tadi pagi belum kumakan, uang 2 ribu itu mau kubelikan makanan kesukaan aku di kantin sekolah, itu kalau boleh sama mama," ucapnya merajuk.
Tapi bukan menjawab pertanyaan anak satunya itu, ibu tiga orang anak atau lebih dan suaminya itu mengajak aku bicara.
"Anak-anakku bukan anakku. Mereka titipan. Kami berusaha mendidik, merawatnya sebaik, semampu kami, tapi ini jalannya. Kami beri makan nasi, kadang yang besar meminta lebih," katanya tiba-tiba menjelaskan banyak hal kepadaku.
"Mereka belajar membaca quran dan bersekolah, kami mengajarkan untuk syukur, tapi tetap saja, anak satu itu mau membohongi kami," ibu itu terisak. Sedih.
"Dia bilang apa, mau memelintir uang 2 ribu untuk beli lauk yang disukainya? Tidak, uang itu pasti diberikannya lagi pada si Rais, sahabatnya yang susah tersenyum itu. Gara-gara putus layangan, dia anakku yang pertama, pasti ingin mengembalikan senyuman Rois, anak pak ustad yang mengajarinya mengaji, dan mencontohkan berbagi. Tapi mengapa anakku harus berbohong? Dia belajar dari mana?" Tanyanya kepadaku.
Aku panik. Aku berkeringat. Aku kepanasan. Aku berbohong. Akulah pedagang layang-layang yang tidak bertanggung jawab itu. Kujual layang-layang murah itu seharga dua ribu rupiah. Tapi kuganti benangnya dengan benang murahan. Biar cepat putus ketika bocah-bocah menerbangkannya. Biar anak-anak membeli lagi dan terus berulang begitu.
"Wah mimpimu bagus. Indah jadi cerita!" Kata perempuanku mendengar aku bercerita panjang lebar.
Aku hanya tersenyum.
"Mendengar ceritamu. Aku nggak mau mengeluh lagi. Aku mau upload cerita kamu di facebook, ya?" Katanya lagi.
Cerita kami hanya akan terus begitu. Aku cerita dan kemudian ia mengunggahnya ke socmed. Ini mimpi-mimpiku untuk kamu.
Langit begitu mendung dengan derasnya hujan yang terus bercucuran membasahi dedaunan dekat tempat tingal ku. Kurasa saat-saat ini adalah saat yang menyenangkan untuk tidur terlelap di atas tempat tidur yang emppuk ditemani dengan boneka kecil yang kuletakkan di sampingku.
Esok pagi setelah kulihat hujan tadi malam, rasanya begitu sejuk dengan birunya langit. Bahagianya dengan hari-hari seperti ini. Begitu menyenangkan seperti tanpa ada beban yang terselubung di dadalam hati.
Seiring dengan Perasaan ku yg tak tenang. Tak ada seorangpun yang tahu tentang perasaan ini, perasaan yang tak tahu untuk siapa.
Akupun merasa bahwa ini hanya sebuah mimpi yang nanti akan segera hilang begitu saja, dengan bergulirnya waktu.
Tetapi... kenapa perasaan ini tak kunjung hilang?.
Perkenalkan, aku “Syifa” (begitu teman-teman memanggiku).
Aku adalah seorang mahasiswa yang hobi menulis, dimana ada lomba kepenulisan aku selalu mengikutinya. Yahh... walaupun kadang-kadang tidak sesuai dengan harapan. Tetapi, aku bersyukur dengan tulisan yang sering kubuat. Karena dari tulisan itu dapat mengantarkan kepada sosok laki-laki yang telah lama ku impikan. Laki-laki yang benar-benar selalu terbayang dipikiranku. Sebut saja “Putra” itu nama panggilannya.
Sebenarnya sosok pria itu adalah mimpiku sejak lama. Aku selalu berdo’a agar kelak nanti dipertemukan dengan pria seperti dalam khayalanku, dan ternyata sosok itu benar-benar nyata. Sosok yang tampan, bersih, tinggi, berkepribadian baik, dia juga mempunyai hobi sama dengan ku dan yang paling penting dia selalu berusaha untuk menjadi pribadi lebih yang baik. Simple kan!
Ternyata Putra juga memimpikan hal yang sama dengan ku. Siapakah itu? Dia adalah “aku”. (Bahagia tak terkira dengan senyuman lebar)
Kejadian itu berawal dari keikutsertaan ku dalam lomba penulisan yang di adakan oleh sebuah komunitas dimana Kak Putra (begitu aku memanggilnya), adalah salah satu juri dari lomba tersebut.
Kak Putra adalah salah satu penulis terbaik di kotanya, sehingga dia di panggil untuk menjadi juri perlombaan menulis di kota Makasar.
Mungkin tulisanku mengena di hati para juri termsuk Kak Putra, tulisan itu menceritakan sebuah pengorbanan seorang wanita yang ingin mendapatkan calon suami yang alim. Dengan berusaha untuk menjadi yang baik dan tak kenal menyerah akhirnya, si wanita tersebut menemukan sosok lelaki impiannya.
Mengahrukan, itu mungkin! tapi yang terpenting adalah makna dari tulisan yang ku buat.
Seminggu setelah terkirim, akhirnya aku di konfirmasi oleh salah satu penyelenggaga lomba bahwa tulisan itu berhasil memenangkan kompetisi. Tepatnya terpilih menjadi top writer. Begitu senang kepalang perasaan ini. Alhamdulillah (ucap syukur ku), rasanya hampir tidak percaya. (sambil bernyanyi-nyanyi kegirangan).
Tidak ada perasaan apa-apa pada saat itu, ternyata Kak Putra terus memikirkan siapa penulis yang memenangkan top writer tersebut. Saking penasarannya dia mencoba untuk mencari alamat rumahnya sekaligus tempat kuliahnya.
Setelah tulisan ku menjadi top writer ternyata tulisan tersebut juga termuat di koran Yogyakarta dan koran Makasar. Tidak lama setelah itu ada, pesan masuk dari twiter.
(teriak kegirangan) “Subhanallah” ucapku. Pesan itu tertuliskan “Assalamu’alaikum?” Hati ku rasanya tak karuan. Begitu mendengan sapaannya, begitu jantungku berdegup sangat kencang. Ya Allah,,, semoga ini pertanda hal yang baik “do’aku dalam hati”.
Dari balik laptop, ku ketikkan satu demi satu kata untuk membalas pesan itu, dengan gugup langsung ku balas dengan jawaban “Wasslamu’alaikum... dari siapakah?” (padahal namanya baru saja ku baca).
Dari percakapan tersebut, akhirnya kita berbicara panjang lebar. Kita hanya berkomunikasi lewat pesan di twiter saja, terkadang dia juga mengirimiku hadiah saat Putra baru saja pergi ke luar kota atau hanya sekedar travelling ke negara tetangga.
Hubungaan itu terus berlanjut sampai tiga bulan lamanya, Ahhhh... mengapa hubungan ini hanya sedar teman? “keluhku”.
Pada pesan singkat yang terakhir dia kirimkan kepadaku, dia mengirim pesan singkat yang bertuliskan, “dengan bacaan Basmalah saya Putra ingin meminangmu dengan segenap hati yang tulus karena Allah Ta’ala”. Di akhir kalimat tersebut tertuliskan “kutunggu jawabannya sampai dapat bertemu dengamu”.
Tak tahu mengapa, air mataku tiba-tiba mengalir deras layaknya air terjun yang jatuh dari atas ketinggiannya.
Sebelumnya, dia juga sering mengirimi foto-foto asli dirinya, tapi aku tidak pernah membalas foto itu sekalipun. Aku hanya membalas dengan senyuman dan sepatah kata.
Mungkin, Putra juga ingin melihat wajah ku. Dalam hati aku berbicara “ bahwa, lebih baik bertemu secara langsung daripada hanya meihat dari dalam foto mungkin setan juga akan berada dalam diri kita ketika melihat foto seorang wanita”. Akhirnya aku putuskan untuk tidak mengirim foto satupun.
Dari seringnya berdialog bersama lewat sosial media tersebut, akhirnya kita dapat bertemu dalam sebuah acara Universitas yang diselenggarakan di Yogayaarta.
Seminggu setelah Putra melamarku, Putra belum juga mendapatkan informasi tentang ku. Padahal kita telah lama berkomunikasi lewat pesan di twitter.
Putra terus mencari sampai berbulan-bulan lamanya. Pada akhirnya, dia mendapatkan tawaran dari seorang dosen di jurusannya untuk mengikuti study banding ke-3 Universitas di Yogyakarta. Akan tetapi, dalam satu Universiats hanya diambil satu orang agar dapat mengikutinya. Akhirnya, Putra berhasil menggambil kursi untuk pergi ke Yogya bersama teman-teman beda Universitas di Daerah Ibukota Jakarta yang telah berhasil lolos dalam persaingan untuk melaksanakan study banding tersebut.
Gak, nyangka! Begitulah yang kurasakan saat itu.
Hari itu benar-benar istimewa yang pernah ku alami.
Pada saat itu, aku baru saja selesai melaksanakan perkuliahan. Seperti biasa langsung bergegas kembali ke kostan untuk beristirahat sejenak, sebelum melakukan aktivitas selanjutnya. (Huftt,,, keluhku) mengapa Pak Gito (begitu panggilan akrab rektor bidang akademik) tiba-tiba memanggilku. Rasa ketakutanpun ada. Ada masalah kah? Tanyaku dalam hati.
Setelah menghadap beliau, ternyata aku diminta untuk memandu para peserta study banding dalam menunjukkan fungsi dari ruangan yang tersedia di gedung pasacasarjana.
Tiba-tiba saja perasaan ku merasakan hal yang berbeda dari biasanya. Entah kenapa, ketika melihatnya begitu berbeda.
Dari pertemuan sejenak tersebut, dia berharap agar aku menerima pinangannya. Entah mengapa hati ku juga benar-benar mantap padanya, tapi... ku mengatakan bahwa “ tunggu sampai tiga hari aku baru akan menajwab pinanganmu”.
Tiga hari telah berlalu, akhirnya jawaban itu akan kukatakan padanya.
Singkat cerita, aku menerima pinangannya. Semoga keberkahan berpihak pada kita semua.
Selesai kuterima pinangan tersebut akhirnya kita berdua melangsungkan pernikahan, tepatnya setelah satu bulan kita lamaran yakni pada bulan September. Bagiku... hal yang paling berharga dalam hidup adalah memilih seorang suami, dimana suami adalah orang yang kelak akan membimbing kita di dunia sampai maut menjemput.
Pertemuan lewat tulisan itu benar-benar membuat hati kita berdebar-berdebar, sampai akhirnya Allah mempersatukan dalam janji suci sehidup semati.
Kisah yang Belum Usai Tetapi Sudah Harus Diceritakan
Patah hati bukan lagi soal sepi ketika kita menemukan seseorang yang lebih berarti. Saya, ketika sedang sejatuh-jatuhnya, menemukan seseorang yang mengulurkan tangan dan membangkitkan rasa percaya diri saya yang sebelumnya hancur karena urusan patah hati. Tepatnya bulan Juli 2013 kami bertemu –hanya di media sosial, tentunya, dalam ajang kegiatan menulis #JuliNgeblog yang diadakan oleh teh @NitaSellya lewat akun twitternya.
Namanya Arif, yang banyak dikenal orang dengan sebutan Jung. Melalui akun twitternya @jungjawa, saat itu dia menyapa saya dan mengomentari salah satu tulisan #JuliNgeblog yang saya buat. Atas nama itikad baik, saya pun mengomentari tulisannya di blog. Lepas dari kegiatan itu, kami tetap berkomunikasi lewat mention dan beberapa kali mendiskusikan tentang apa-apa yang kami tulis. Duh, jika ingat momen itu, baik saya maupun dia sungguhlah butiran debu yang suka menempel di jendela; tulisan kami payah dan tidak bermutu, isinya kopong. Saat itu blognya masih jungjawa.blogspot.com dan saya masih chairanidzalika.blogspot.com yang belum domain. Isinya berantakan, curhat tidak jelas, viewers seadanya. Ah, rupanya kita pernah ada di masa-masa payah itu :D
Suatu waktu, masih di tahun 2013, dia mention seorang teman plus desain hasil buatannya sendiri, berupa gambar ucapan selamat ulang tahun. Gambar yang sangat sederhana dan belum halus sentuhannya. Lalu dengan asal saya mention, “Buatku mana?” karena kebetulan Agustus saya berulang tahun. Lewat obrolan sepele itu kami menjaga komunikasi. Lain hari, dia posting desain berupa gambar dirgahayu Indonesia buatannya, pernah juga memamerkan salah satu ava followersnya yang dia edit dalam bentuk vektor dan dalam captionnya bertuliskan, “Siapa yang mau dibuatkan kayak gini? Hanya untuk tiga followes tercepat.” Lalu dua jam kemudian, dia tampilkan tiga ava followersnya yang sudah dalam bentuk vektor. Memang dasar saya yang suka mencampuri urusan orang lain, begitu melihat desain dia, saya merasa dia memiliki potensi yang besar untuk menjadi seseorang yang hebat. Saya katakan padanya, saya juga mau dibuatkan. Bukan karena ingin, tapi karena saya mau lihat bagaimana respon dia dalam menolak atau menerima suatu hal. Dan sesuai dugaan, dia katakan, “Maaf, cuma untuk tiga orang tercepat.” Dari sana saya tahu, dia konsisten dengan ucapannya dan say simpulkan, ia tegas dalam mengambil keputusan.
Saya pun adalah tipe yang suka sekali membuat konsep, sayangnya rekan yang biasa memberikan ide dan teknis, adalah yang membuat saya patah hati. Maka ketika dia pergi, konsep, ide, perencanaan, untuk mimpi-mimpi saya, luruh bersama air mata yang nggak berhenti selama dua tahun. Oke, ini lebay. Tetapi Jung datang dan saya yakin bisa menjadikan dia sekutu dalam merealisasikan apa-apa yang selama ini hanya ada dalam pikiran saya. Saya pun memancing dia, dengan mengatakan kalau saya ada perlu. Dari yang awalnya mention, akhirnya saya DM dan bilang bahwa saya butuh kontaknya karena urusan ini akan panjang. Dengan mudahnya dia kasih nomor whatsapp dan sejak hari itu kami bertahan komunikasian sampai detik ini. Kali pertama komunikasi, dia judes banget, “Apa?” katanya setelah saya intro panjang lebar.
“Mau request hadiah ulang tahun, nih. Please. Aku akan bayar untuk itu.”
“Apa?” tanyanya lagi.
“Waktu itu kamu bilang desain blog kamu itu, bikin sendiri kan ya? Tolong betulin blog aku dong. Dikerjain lama juga boleh.”
“Hm. Kenapa minta tolong aku?”
Karena aku sedang menguji kamu, Jung.
“Karena aku nggak mungkin minta tolong mantanku. Nih, password sama alamatnya, tolong ya,” kata saya sambil mengetik alamat surel dan password saya, begitu saja.
“Kenapa kamu bisa percaya aku dengan gampangnya? Kita baru kenal loh.”
“Aku percaya. Tolong ya,” tulis saya dalam chat. Sebetulnya, sejujurnya, saya nggak percaya. Saya bukan tipe orang yang gampang percaya, bahkan dengan orang terdekat sekalipun saya tidak mudah menaruh kepercayaan saya. Tapi kenapa dengan mudahnya saya berani memberikan rahasia penting berupa password ke dia? Karena seperti yang saya jelaskan di atas, dia akan saya jadikan sekutu, dan untuk membuat dia percaya pada saya, saya harus memberikan kepercayaan terlebih dahulu. Saya sudah pikirkan risiko dan konsekuensinya, kok. Tetapi dia baik, dan tidak berlaku jahat lewat blog saya, dan menyelesaikan desain blog pada bulan September, dengan tampilan yang serba ungu pastel. Karena saya perfeksionis, ketika menemukan sedikit saja cacat, saya langsung komplain, minta revisi. Mengatakan kalau desainnya belum halus.
Hari berikutnya, dia kirimkan doodle monster. Katanya sedang belajar. Dia tanya kurang di mana, dengan jujur saya katakan bagian mana saja yang jeleknya. Lalu dia buatkan satu untuk saya. Singkat cerita, hari-hari berikutnya kami sudah seperti terikat kerjasama tak tertulis dan mulai membahas mimpi-mimpi kami, yang belum pernah terealisasi.
Lalu saya lupa pernah patah hati.
Ada sih, masa-masa saya kembali sedih, tapi saya rasa tak pantas bersedih karena kisah patah hati Jung lebih menyakitkan dari saya; ditinggal nikah. Ahahah ahahah ahahah. Tapi kami jarang membahas cinta, tak punya waktu untuk itu. Hampir jarang juga menggunjingkan orang lain, kami sayang membuang waktu dengan hal tak berfaedah. Tiap hari berkomunikasi, yang kami bahas selalu mimpi-mimpi dan kasus sosial. Inilah alasan kenapa saya mau ngobrol lama sama dia, karena selalu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Waktu itu dia sudah mengganti alamat blog-nya menjadi jungjawa.com dan kami sedang blogwalking ke blog para blogger, mencari siapa yang bisa kami jadikan sekutu lagi untuk diajak kerjasama. Namun hampir seminggu, nihil yang kami temukan. Saat itu masih banyak blogger yang isinya tentang cinta dan kegalauan. Kami benci itu. Kami belajar, bahwa menulis di blog bukan hanya yang bisa dinikmati pembaca, tetapi juga harus bermanfaat. Karena tidak menemukan apa yang kami mau, maka saya dan Jung merealisasikan mimpi kami, hanya berdua.
Mimpi pertama kami dikenal di twitter dengan #30DaysSaveEarth , berupa ajang menulis di blog setiap hari dengan tema lingkungan. Ini terinspirasi dari event nya teh Nita yang #JuliNgeblog dan setelah mendapat izin dari teh Nit, kami adakan event itu bulan November 2013 dan diikuti oleh seratus lebih para blogger. Tahun 2014 bulan Oktober kemarin event #30DaysSaveEarth kami adakan kembali dengan perencanaan yang lebih matang.
Belum selesai di sana. Kami mulai membahas tentang grup salah satu komunitas blogger yang kadang terasa sia-sia ketika hanya bercanda siang malam tanpa ada sesuatu yang dihasilkan. Lalu Jung mengusulkan untuk membuat e-magazine, di mana majalah tersebut sebagai sarana untuk mengembangkan potensi tiap blogger dan menjadi tempat untuk memajukan nama-nama para blogger. Alhamdulillah, niat itu terwjud di Januari 2014 dengan banyak bantuan dari banyak pihak. Kita mengenalnya dengan @NotifMagz .
Kami pun mulai membuka proyek kecil-kecilan, di mana saya bertugas mempromosikan, dan Jung mendesain pesanan yang masuk baik itu cover buku, desain blog, doodle, desain kaos, digital printing, kartun nama, dsb. Menyenangkan, mengingat ini adalah proyek saya dulu dengan seseorang-yang-tak-bisa-disebut-namanya, tetapi berhasil terealisasi melalui tangan Jung.
Selain membahas mimpi-mimpi kami, baik Jung atau saya selalu support kegiatan masing-masing. Dia dengan desainnya, saya dengan tulisan saya. Ketika saya memutuskan membeli domain menjadi unidzalika.com , dia banyak memberi masukan, agar apa yang saya tulis lebih terarah, terstruktur, dan tidak melulu soal fiksi. Dia pun lagi-lagi menjadi orang yang mendesain template blog saya untuk yang kedua kali.
Awal 2015 kemarin, kami semacam melakukan evaluasi, dan menemukan banyak hal yang sangat, amat berbeda dari yang kami ketahui di awal perkenalan. Konten blog kami lebih berisi, lebih bermutu, lebih banyak pengunjung, dan kami bersyukur akan itu. Kami mulai belajar profesional, dengan memasang rate card, dengan melakukan konsinyasi, dan tidak main gratis ketika meminta tolong. Mimpi kami belum selesai, dan saya masih percaya bahwa kami, satu sama lain, akan membantu mewujudkan mimpi-mimpi kami.
But hey, we didn’t fallin love to each other, no, never. Dia selalu mengirimkan saya foto-foto gadis yang ia kagumi, dan saya pun bercerita tentang orang yang saya cintai. Kami tidak pernah jatuh cinta dan saya menghargai, menyukai, dan menghormati dia dengan porsi yang semestinya. Dia telah menaikkan derajat saya dengan menulis profil tentang saya di blog-nya. Menghormati saya dengan terus bertanya pendapat saya tentang desain dia, menjadikan saya kembali sadar untuk tidak larut dalam kesedihan, dan menjaga saya untuk tetap berpikir positif setiap saat. Dia adalah teman, adik, kakak, sahabat, partner kerja, sekaligus guru buat saya.
Hai, Rif, terima kasih, ya, selama ini sudah percaya sama Uni. Sudah jadikan saya tempat cerita, tempat bertanya, tempat berdiskusi. Saya mungkin bukan teman yang baik karena jarang sekali ada buatmu ketika kamu butuh, saya pun seirngkali typo, menulis dengan bahasa yang sulit dimengerti, kadang sulit sekali dihubungi, dan menyebalkan, tapi saya senang kamu mau berteman dengan saya sampai sekarang, sejak 2013. Terima kasih karena sudah jadi pendengar yang baik untuk Uni, dan maaf karena kamu selalu jadi pelampiasan tempat saya marah. Saya suka sekali marah pada apa pun, siapa pun, tapi selalu saya sembunyikan dan kepada kamulah semuanya ditunjukkan. Ingat, ditunjukkan, bukan ditujukan, saya tak pernah marah ke kamu. Betapa saya sering menyusahkan dan seringkali berkata kasar.
Ah, saya pernah kesal jika kamu berkata, “Tenang aja, aku selalu ada di belakangmu.” Sungguh, benci. Esok, jangan pernah ada di belakang saya, ya, kamu harus ada di samping saya, kita sama-sama mewujudkan semua mimpi kita yang belum tercapai di tahun lalu. Ayo bergerak, kita tidak punya banyak waktu.
Sebenarnya menceritakan pengalaman pribadi apalagi berkaitan dengan pengalaman percintaan. Saat gue dibangku SMA, gue ingin banget cari temen dari dimensi lain (kayak alien aja). Maksudnya mencari teman dari dunia maya, saat itu lagi terkenalnya salah satu situs Chatting yang sekarang udah di blokir yaitu Live Connector.
Ada beberapa akun yang diblokir dari situs itu karena menampilkan gambar yang tidak senonoh. Mesti nyebut Astaghfirullah terus deh, tapi gue sih ambil positifnya aja, disitu gue mau cari teman bukan cari yang aneh-aneh kan. Ada beberapa teman LC yang sekarang jadi teman FB termasuk mantan gue.
Gue kenal mantan gue yang wajahnya item manis itu dari LC. Awalnya sih pasti temenan, tapi nggak tau kenapa lama-lama obrolan Kami jadi nyaman dan waktu itu pun tiba. Dia nembak gue untuk jadi pacarnya, namanya nggak pernah ketemu dan komunikasi hanya by Internet akhirnya gue test keseriusan Dia. Gue tantang Dia buat datang ke rumah untuk kenalan sama nyokap dan kakak gue. Eh, ternyata tuh orang nekat juga.. Karena dia udah serius akhirnya Kita pun jadian.
Setelah beberapa minggu berjalan, Dia minta email dan password Facebook gue. Katanya sih untuk saling terbuka dan nggak ada yang perlu disembunyikan. Setelah mendengar penjelasan Dia, langsung Gue tolak. Karena hubungan itu tidak dilihat dari isi Facebook-nya, dan Gue indentifikasi bahwa pacar Gue termasuk dalam tipe Posesif. Padahal gue ngobrol cuma sama Dia dan temen-temen sekolah saja. Tetapi dia tetap pada pendiriannya, bahwa hal itu sangat penting baginya. Karena bagi Gue itu nggak relevan, akhirnya Gue putusin. Mungkin bagi orang itu hal sepele tapi apakah kalau Gue melihat FB-nya dia dan dia Chat dengan Perempuan lain bagaimana? Sakit kan..
Lima hari pun berlalu, Dia kembali lagi buat Gue balikkan lagi. Nggak disangka Dia datang sambil berlinangkan air mata. Perempuan mana yang nggak luluh liat Cowok seperti itu kan? Memang sih nggak semua apa gue aja ya +_+.. Beberapa minggu berjalan, posesif Dia makin membuat Gue semakin resah. Coba aja, Gue kan masih tercatat sebagai siswi di SMA dan Dia udah lulus. Apalagi saat itu Gue harus konsen dengan Ujian Nasional (UN), maklum kelas 3 SMA. Eh… Dia marah-marah sama Gue karena nggak langsung membalas SMS Dia. Alasan Gue lagi deket sama si A or B lah. Ribet banget deh.. x_x.. Setelah Dia marah-marah, malamnya Dia datang ke rumah untuk konfirmasi. Tapi Dia tetep aja nggak percaya dengan alasan yang Gue kasih. Jujur, Gue itu bukan tipe orang yang suka banget sama yang komunikasi 24 jam. Maksudnya adalah SMS atau Telepon terus menerus selama 24 jam sampai nggak kenal waktu. Coba deh kalian bayangin, pasti pegel banget kan. Huft..
Gue sih bilang ke Dia kalau komunikasi seperti ini pasti akan ada jenuhnya dan akhirnya terbukti. Dia putusin Gue dan Kami tidak ada komunikasi setelah itu. Beberapa bulan kemudian, Dia datang lagi kerumah. Katanya sih mau silahturahmi, eh.. sepertinya ada niat terselubung. Dia bilang lagi deket sama temen SMA Gue. Katanya mantan sih, yang ngekontak duluan itu temen SMA gue. Ya, gue sih baik-baik aja kalau dia mau sama siapa. Tapi yang gue tau sih temen SMA gue itu sudah punya Cowok. WOW.. Kacau deh..
Tiba-tiba suatu hari temen SMA Gue mau ketemu sama Gue.
“Eh, loe ngomong apa aja sama Al**?” loh, gue bingung kan ya? Dia langsung tanya begitu.
“Sorry, ada apa nih sebelumnya? Gue harus tau dulu pokok permasalahannya” tanya gue.
“Loe bilang ke Dia, kalau Gue udah punya cowok.” Katanya.
“Lah, bener kan loe udah punya cowok? Apa udah putus?” Tanya Gue
“Iya sih, tapi Loe nggak usah ngomong gitu ke Dia dong.” Kata Dia.
“Oh, gitu. Ok, gue minta maaf ya kalau gue salah ngomong. Tapi kan kalau emang loe sama Dia mau menjalin hubungan pacaran. Kalau bisa sih lepas salah satu, jangan kayak gitu.” Kata Gue
“Iya, Gue juga tau. Emang kenapa sih loe putus sama Dia?” Tanya dengan kepo-nya
“Gue putus? Karena Dia posesif. (Kenapa kepo gitu ini anak)”Kata Gue.
“Posesif? Maksudnya?”Tanya Dia
“Ya, dia itu orang yang ingin selalu terhubung dengan pacarnya. Jadi dia harus tau kabarnya Gue. Kalau Gue telat dikit balasnya, udah dikira sama orang lain. Ya, kalau nggak ada kepercayaan mending nggak usah lanjut aja.” Kata Gue.
“Oh gitu.. Berarti sekarang Dia free dong dan Gue bisa deket sama dia.” Katanya
“Ya, silahkan.” Kata Gue dengan tenang.
“Tau nggak, kan Dia duluan yang nge add FB gue.”Katanya
“Oh, dia yang nge add? Dia bilang yang nge add Loe duluan” Tanya gue dengan bingung
“Dia bilang kayak gitu?” Tanya Dia dengan kencang
“Iya” Jawab gue sambil menganggukan kepala.
Beberapa hari kemudian, Gue denger mereka putus dan temen SMA Gue milih pacarnya dibandingkan mantannya. So complicated.. yang pasti gue udah nggak mau urusan tentang itu lagi. Karena gue nggak mau temen-temen gue jadi seperti Dia, akhirnya gue delete dan blokir FB mantan dari friendlist Gue. Ya, itu lah kisah gue yang membingungkan. Semoga bisa menjadi pelajaran kita dimasa depan.