Dan barangkali kita memang menciptakan kehancuran diri sendiri
Kadang, ingin sekali lari ke suatu negeri di mana kita mampu mendengar kembali detak jantung kita sendiri
Kita butuh sendiri kan untuk menyiapkan semuanya?
Kemarin, saya duduk sekitar satu jam di ruang tunggu sambil merenungi apa saja yang melintas di kepala. Saya mengambil penyuara jemala lalu mendengarkan sebuah lagu, menyaksikan orang lalu-lalang, dan termenung melihat diri saya duduk di tempat itu.
Sebagian diri saya seperti hilang
Seorang lewat di hadapan saya, seorang dokter spesialis. Ia tersenyum sambil bertanya ramah apakah saya sudah mendapat giliran masuk ruangan? Saya jawab, belum.
Akhirnya tiba, saya masuk ruangan itu juga. Ruangan dengan papan nama di atas nya yang tidak pernah saya duga akan kembali saya jumpai. Tapi sesuatu berkata di dalam dada saya:
Hey, kamu di sini, Kasih! Ayo nikmati.
Saya masuk. Seseorang juga masuk lalu tersenyum kepada saya. Seorang perempuan kira-kira berusia 30--40 tahunan. Rambutnya tergerai. Saya melihat nama di pin nya, seperti marga Batak. Ia menyilakan saya untuk duduk. Suaranya pelan, tapi mampu saya dengar. Ia membuka sebundel kertas. Ia bertanya cukup banyak sambil menuliskan jawaban saya. Kumpulan kertas itu seperti rekam medis, sekaligus petunjuk bagi dokter untuk memahami saya. Ia memulai dengan bertanya tentang riwayat hidup saya, lalu tentang obat-obat yang pernah saya minum, terapi yang pernah saya jalani, konsultasi yang pernah saya penuhi, keinginan dan keengganan yang menghantui, hingga pertanyaan-pertanyaan lain yang barangkali menjadi masalah saya selama ini. Untuk pertama kali setelah ntah beberapa lama, saya merasa seseorang begitu tertarik mendengarkan omongan saya. Ia tampak begitu peduli bahkan untuk jawaban-jawaban yang di luar dugaan. Untuk pertama kali setelah sekian lama, saya ingin menangis karena merasa didengarkan. Jadi, terima kasih untuk itu, Mba!
Setelah beberapa saat, ia meminta saya menunggu di luar. Saya kembali menunggu. Menyaksikan orang-orang di sekitar saya sungguh membuat saya ntah merasakan apa. Sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan dengan baik.
Di tempat ini, saya seperti belajar tentang kehidupan yang tidak bisa saya paparkan dengan jelas. Bukan karena keengganan memaparkannya, tapi saya belum menemukan rangkaian kata terbaik untuk menjelaskannya. Saya duduk, berusaha memaknai tempat ini dan diri saya, melihat telah berapa jauh saya “melangkah” hingga sampai di tempat ini. Akhirnya, setelah sekian lama, saya punya waktu begitu intim bersama diri sendiri. Akhirnya, saya punya kesempatan memikirkan tentang nasib-nasib yang selama ini saya jalani. Tiba-tiba tempat ini menjelma seperti sebuah ruang yang mempertemukan saya dengan diri saya lalu membuat kesepakatan baru untuk berdamai dengan apa-apa yang selama ini menghantui saya. Akan tetapi, sesuatu yang tidak bisa saya hindari adalah kemarahan-kemarahan dari masa lalu dan pertanyaan-pertanyaan menjelma senapan laras panjang yang siap menembakkan pelurunya tepat di kepala saya. Ahhh, saya seperti ubur-ubur gila dalam serial kartun Spongebob. Ini lucu, konyol, dan menggelikan. Pada akhirnya, yang saya temukan adalah kesepakatan yang gagal saya buat antara diri saya dan saya.
Saya dipanggil untuk masuk ke ruangan tadi. di sudut ruangan yang muram cahaya, seorang dokter perempuan sedang duduk sambil membaca rekam medis saya. Saya duduk di hadapannya. Ia menanyakan beberapa hal dari apa yang tercatat di lembaran rekam medis saya. Saya menjawab dengan saksama. Ia bilang bahwa saya belum siap untuk membuat kesepakatan dengan diri saya. Ahh, pantas saya setengah tahun ini saya berusaha begitu keras dan menemukan kegagalan begitu banyak. Bahkan, untuk banyak bagian, saya mengacaukan banyak hal. Saya jadi sepakat dengan apa yang dikatakan dokter Diana. Ia menyarankan saya untuk mengikuti terapi obat satu hingga dua bulan ke depan. Langkah setelahnya yang perlu saya ambil setelah terapi obat ialah menemui psikolog untuk terapi selanjutnya. Saya sepakat untuk keputusan ini. Saya hanya ingin bisa mengambil alih diri saya lagi. Rasanya begitu muak dengan semua kemarahan yang berujung pada rasa bersalah yang keterlaluan ini. Saya lelah dan untuk banyak kesempatan saya hanya ingin tidur dengan tenang tanpa mimpi buruk yang disisipi tentang kisah dua orang. Bila ada pilihan untuk mimpi buruk yang harus saya pilih, mohon sediakan lis dan menunya, saya berharap bisa memilih dengan baik.
Kami tak banyak berbincang. Dokter minta agar saya mengurus surat asuransi agar biaya obat dan konsultasi tidak saya bayar sendiri. Harga obatnya mahal, begitu kata dokter. Ahh saya paham betul bagian ini, sejak pertama kali saya konsultasi dan terapi obat setahun lalu memang tidak sedikit uang yang dikeluarkan. Tapi, demi sesuatu yang lebih baik dari itu, bagi saya itu memang tidak masalah meski sebenarnya saya sendiri kewalahan mengatasinya. Tapi, hey, itu hal yang masih bisa diatasi oleh diri saya, minimal saya punya tabungan yang sering saya habiskan untuk kekasih saya dan saya. Tapi baiklah saya sepakat dengan dokter Diana. Beliau pun bersedia membuat surat keterangan. Lalu, beliau menulis resep obat saya yang harus saya antar ke bagian apotek RS.
Resep itu: Sentralin 50 mg, Merlopam 2 mg, Clozaprin 12,5 mg, Tnp 2 mg, Frimania 200 mg
Saya duduk lagi di tempat menunggu obat setelah menyelesaikan pembayaran. Akhirnya, obat itu datang juga. Sang apoteker menyerahkan sambil menjelaskan. Satu hal yang paling saya ingat: susah tidur juga kan ya?
Saya pulang. Mengendari motor dan menerobos hujan tanpa mantel. Dingin benar-benar menusuk hingga ke tulang. Sepanjang perjalanan menuju kota, saya menangis. Hujan menghapus tangisan itu dengan ganas. Wajah saya seperti ditampar-tampar hujan dan “Hey, bodoh berhentilah menangis!!” Tapi, sesekali saya merasa hujan seperti bagian dari cara Tuhan menyertai saya pagi ini. Saya merasa seperti didekap oleh rasa dingin yang gigil ini.
Kota yang kadang-kadang kubenci, 05 Juni 2020 (Hari di mana saya ke tempat itu)