Ramadhan dan Spiritualitas Kita
Pagi Nduk, alhamdulillah ramadhan kembali lagi bertemu kita ya. Bulan yang penuh dengan tambahan kebaikan, pengampunan dari banyaknya kelalaian kita dan suasana yang teramat nikmat untuk kembali berbincang dengan Tuhan.
Nduk, ramadhan ini terasa berbeda namun sama haha. Jangan bingung, meskipun kamu tahun Bapakmu ini suka plin plan, tapi kali ini terimalah itu sebagai kenyataan haha
Ramadhan ini sama, karena bapak masih jauh dari kamu nduk. Kita masih berjarak namun semoga hati kita tetap sesak dengan cinta yang terus beranak pinak menjadi rindu.
Ramadhan ini beda, iya beda nduk, karena Bapak sudah mulai ditinggal teman-teman bapak pada pekerja proyek yang dulunya sering bawa anak ke kosan Bapak. Biasanya mereka main dan ngaji di kamar bapak. Ya, mereka sudah pulang dan menuntaskan kerinduannya kepada kampung halaman.
Apa giliranmu? Haha. Nanti ya nduk, bukannya semakin berjarak semakin rindu dan pertemuan denganmu nduk selalu saja menumbuhkan kerinduan baru yang lebih akut. Uluu uluu uluuu wkwk
Nah nduk, pagi ini Bapak akan cerita tentang puasa dan apa manfaatnya untuk batin kita ini.
Kita tahu nduk, bahwa namanya hati itu mudah goyah, namanya iman bisa jadi kokoh, bisa jadi tumbang karena keadaan dan jiwa kita bisa menjadi hampa, bisa jadi semarak bahagia. Kita sadar itu ya nduk. Apalagi kalau sudah perkara agama, tentu genduk merasakan. Kadang kamu semangat banget ngaji karena mau dapat nilai bagus waktu imtihan. Kadang kamu males banget ngaji kalau lagi seneng-senengnya main bola. Haha ya begitulah rohani kita ya nduk. Gampang dibolak-balik kaya martabak. Tapi itulah mahalnya istiqomah ya nduk. Kalau dulu Kyai Ahsin pernah bilang
"Al-Istiqomah khoirun min alfi karomah"
Istiqomah itu lebih dari seribu kebaikan
Nah nduk, ternyata kita bolak-baliknya hati kita seperti ini sudah ada dari zaman dahulu nduk. Kalau lagi seneng ibadah bisa lama banget tapi kalau lagi sumpek, bisa engga mau ngaji walau se-ayat heuheu
Dulu ada sahabat nabi yang namanya Sayyidina Hanzhalah bin Rab'i yang ketika ditanya kabarnya oleh Sayyidina Aku Bakar tentang kabarnya, Sayyidina Hanzhalah berkata,
"Aku sudah menjadi orang yang munafik"
Beliau berkata demikian, karena beliau merasa bahwa ketika dekat dengan Kanjeng Nabi dia sangat bersemangat untuk ibadah namun ketika keluar dari majelis Kanjeng Nabi, beliau merasa sangat jauh dari suasana kebatinan atau orientasi akhirat seperti di majelis.
Nah nduk, sama to. Kalau kita lagi ngaji sama kyai, kita bisa sangat tentram tapi kalau sudah kerja bisa aja kita emosi terus haha tapi itulah manusia ya nduk dan Kanjeng Nabi memberikan pesan kepada Sayyidina Hanzhalah bahwa
"Seandainya kalian bisa menjaga ritme kehidupan (istiqomah) seperti ketika berdapan dengan saya, malaikat pasti mencium tangan kalian"
Artinya nduk kita manusia itu memang dibekali nafsu, juga dibekali ruh. Ada unsur Tuhan dan ada unsur setan dalam diri kita. Ketika kita berhasil menang dari nafsu, maka kedudukan kita menjadi lebih tinggi dari malaikat. Artinya ada sedikit kewajaran ya nduk. Yang perlu digaris bawahi adalah Gusti Allah tidak meminta kita untuk selalu menghadap dan menyingirkan perkara dunia kita, Kanjeng Nabi dawuh bahwa kita perlu membagi waktu untuk beribadah dan bekerja atau melakukan aktivitas lain ya Nduk. Kuncinya adalah membagi agar selalu ada nilai spiritual dalam diri kita disetiap langkah hidup kita ini nduk. Iya, kita berusaha agar Allah selalu membersamai kita yang terlampau banyak tingkah dalam hidup kita ini.
Nah nduk, Ramadhan ini cara agar kita mampu untuk membagi waktu dan tentu mendidik diri kita agar dekat kembali ke Gusti Allah. 11 bulan kita sudah ketawa-ketiwi dan jarang meluangkan waktu buat sowan ke Ilahi. Sekarang waktunya kita ya nduk buat manfaatin waktu buat latihan istiqomah. Ramadhan datang untuk menjaga aspek spiritualitas kita nduk, biar otak kita ndak jadi raja sendiri. Pikiran bisa buntu, hati bisa bikin kita gila dan perilaku kita kadang membuat orang luka. Kita didik diri kita sebulan ini ya nduk biar seimbang hidup kita. Akal, hati dan laku semoga menjadi satu dalam ketaatan dan perjalanan mendapat ridha-Nya Gusti Allah.
*Tulisan ini adalah saduran dari ceramah Gus Faiz dari Pondok Pesantren Daarul Rahman melalui kanal Mata Hati TV. Lengkapnya bisa disimak pada tautan berikut
https://www.youtube.com/watch?v=iBf5m2AN-Jo