Brain Dump #2
Ternyata susah juga tidak memiliki support system yang tepat. Apakah karena tidak memiliki teman atau jejaring pertemanan lemah dan tidak kuat? Atau memang tidak ada yang tertarik dengan apa yang aku hasilkan? Tulisan, ilustrasi, seolah-olah semuanya hanya kasat mata dan transparan bagi orang-orang lain. Atau mungkin aku harus bersyukur cukup dengan apa yang aku punya sekarang dan sejauh apa yang mampu kujangkau? Dan tidak mengkhawatirkan hal-hal yang tidak terjadi sesuai harapan dan keinginan? Mudah untuk dikatakan, tetapi pada kenyataannya aku ingin merasakan bagaimana orang-orang di sekitarmu mendukung dan menunjukkan dukungan untukmu seperti dulu kala kamu mendukung dan berada di sisi mereka. Bukankah seharusnya begitu? Atau memang aku tidak pernah memiliki hubungan mutual dengan siapapun? Apakah karena kesalahanku atau keburukanku atau karena aku pernah melukai atau menyakiti perasaan orang tanpa aku ketahui? Ataukah karena sesuatu yang lain? Apa yang sedang aku renungkan ini sebenarnya? Apakah sebuah penyesalan? Apakah seharusnya dulu aku bersikap lebih baik lagi kepada orang-orang yang pernah aku temui? Apakah aku harus begitu? Agar hari ini mereka masih peduli kepadaku?
Harus sejauh apa aku berbuat baik agar di masa depan orang-orang peduli padaku? Nyatanya tidak semua orang peduli. Dan itu cukup membuatku terkejut bahwa kenyataan bisa begitu.
Orang-orang yang kau anggap sudah dekat denganmu dari hati ke hati lambat laun berjarak. Dan jarak itu semakin panjang, tinggi dan bervolume sehingga untuk mendekat lagi rasanya seperti mendaki gunung atau menembus tembok beton. Apa aku yang terlalu pendiam, dan tampak anti-sosial? Yang lebih suka skip pertemuan besar dan komunal? Entahlah. Semuanya jelas sangat sepi sekarang bagiku.
Kau tahu? Jika diingat-ingat lagi, aku kadang merasa tidak cocok berada di tengah-tengah mereka. Aku seperti puzzle yang salah tempat, seperti batu kerikil di dalam sepatu. Sering kali aku benar-benar tidak memahami orang di sekitarku, mengapa mereka begitu dan bagaimana bisa mereka begini. Kadang aku merasa mereka yang tidak bisa memahamiku, perasaanku, mengatakan apa yang butuh kudengarkan, mengatakan apa yang aku ingin dengarkan, melakukan apa yang membuatku mengerti dan merasakan mereka dan perasaan mereka. Aku merasa berada di sebuah negara asing dengan orang-orang asing.
Apa yang akan membuat orang lain mengingatku? Lalu peduli padaku dan bersimpati? Apakah karena wajah yang cantik? Perbuatan baik? Sebuah jasa atau budi yang mereka ingat dan ingin balas dengan sesuatu yang baik juga? Apakah karena aku pernah membantu mereka dalam satu atau dua hal? Apakah karena aku tidak sengaja memberikan sesuatu yang sederhana namun berarti untuk mereka? Atau justru aku harus memberikan seluruh hidupku dan waktuku agar mereka sekadar mengingat bahwa aku pernah ada di dunia ini?
Apa yang harus kita tanam agar bisa kita tuai? Kebaikan yang kita tanam akankah membuahkan kebaikan juga? Tuhan, mungkin kebaikan yang kulakukan masih belum cukup atau takkan pernah cukup?
Jangan biarkan orang-orang yang mengacaukanmu masih punya kendali atas dirimu. Entah meskipun itu dalam bentuk atau atas nama pertemanan. Mereka telah mengacaukanmu dan mungkin meminta maafmu, tetapi mereka tidak melakukan apapun untuk memperbaikimu setelah mereka merusakmu. Setelah mereka membuatmu kecewa. Mereka tidak melakukan apa-apa untuk memperbaikinya. Seseorang harus belajar bahwa memaafkan tidak memperbaiki kerusakan yang sudah kamu perbuat.
Kamu memecahkan sebuah gelas kaca. Lalu kamu berkata maaf kepada gelas tersebut. Apakah dia akan jadi utuh kembali? Kamu mematahkan hati seseorang, lalu meminta maaf. Apakah memaafkanmu lantas buat hatinya jadi menyatu lagi? Tidak. Mungkin hanya membuat dia sedikit berdamai dengan rasa sakitnya. Lalu kamu hanya meminta maaf, setelah merusak lalu pergi membiarkannya harus menyembuhkan dirinya sendiri. Lalu datang lagi seolah kamu tidak pernah mengecewakannya dulu.
Ada apa dengan manusia-manusia seperti ini?
I just wanted to know if anyone else is disappointed in me because I think I’m the only one.

















