Adulting 101: “Find peace within.”
Sebuah penelitian mengatakan, kita--generasi millenial--memiliki kesadaran yang lebih baik tentang kesehatan mental dibandingkan generasi pendahulu kita. Saya membaca satu artikel yang mendukung pernyataan tersebut. “...the number of students seeking mental-health help increased from 2011 to 2016 at five times the rate of new student starting college.”, katanya. Meskipun saya belum menemukan data di Indonesia yang menyebutkan adanya jumlah signifikan berbeda antar generasi perihal konseling, tapi saya bisa percaya sih dengan pernyataan itu.
Cara mudahnya bisa kita lihat dari pembicaraan di media sosial kita saat ini. Berapa banyak coba akun yang sering ngomongin tentang self-love? Di postingan lainnya, beberapa influencer mulai berani membicarakan tentang gangguan psikologis yang sedang atau pernah dialami. Di postingan lainnya lagi, bisa ditemukan orang-orang yang menunjukkan perjalanan self-healing-nya. Wah, kayaknya semuanya dimulai dengan kata self tapi harus di-share biar pada tau hehe.
Tentu ini adalah hal baik--kalau nggak mau dibilang hebat. Sebagai orang yang pernah berada di lingkungan psikologi, kayaknya udah jadi mimpi bersama bisa punya masyarakat (individu per individunya) yang peduli sama kesejahteraan psikologis mereka sendiri. Masyarakat yang menyadari bahwa kesehatan mental sama pentingnya kayak kesehatan fisik. Menyadari juga bahwa nggak apa-apa loh ke psikolog tanpa ada tragedi besar atau merasa “sakit”, sama kayak melakukan medical check-up setahun sekali ke dokter. Nah, tapi nggak bisa dipungkiri juga, bahwa di era serba mendadak--mendadak hits, mendadak tren, dan dadakan di gorengnya (eh?)--ini ada konsekuensi yang harus dihadapi. Ya minimal kalau belum bisa dihadapi, bisa kita sadari dulu lah ya.
Sebelum menulis lebih jauh, saya mau klaim dulu bahwa tulisan ini nggak bermaksud mendiskreditkan beberapa pihak, bukan hasil ilmiah berdasarkan observasi atau wawancara ke beberapa orang juga. Nulisnya dengan harapan yang nggak muluk: bisa dibaca diri sendiri lagi kalau sedang di fase ini. Selain itu, siapa tau ada yang mengalami juga dan bisa sedikit self-reflection (biar sesuai tema aja ditambahin self padahal reflection emang biasanya sendiri sih hehe).
Kembali ke topik, kalau buat saya informasi-informasi yang justru lebih banyaknya saya dapat dari media sosial ini, bikin saya jadi mengecilkan kesejahteraan psikologis saya sendiri. Misalnya nih, kalau ngomongin self-awareness, “Oh, iya udah tau kok. Meditasi, kan? Sadar napas gitu, kan? Reza Gunawan?” Kalau ngomongin self-love, biasanya lebih sotoy lagi “Ada yang ngehina? Chill, girl. At least, you have you #selflove”. Atau kalau lagi ngomongin acceptance, “Diterima aja, jangan dilawan pokoknya.”
Sebenarnya kalau dilihat kalimat-kalimat itu terlihat nggak salah ya. Tapi kenapa sih saya akhirnya bisa sampai pada kesimpulan saya mengecilkan kesejahteraan psikologis saya sendiri? Ada beberapa hal yang buat saya menarik kesimpulan ini.
Pertama, ketika saya mulai ngerasa kesejahteraan psikologis itu adalah tujuan utama dan satu-satunya. Pokoknya nggak tau caranya gimana, saya mau ngerasa content suatu hari nanti. Nggak tau kenapa, pokoknya saat ini saya lagi nggak baik-baik aja. Jangan lupa, biasanya juga ditambahin asesmen pribadi akan gangguan yang (mungkin) dihadapi (karena belum ke professional juga) atau cerita-cerita masa lalu yang mempengaruhi kita sekarang. Padahal, kalau dikulik lagi, content tuh apa sih emang?
Kedua, ketika saya mulai ngerasa teknik yang digunakan untuk mencapai kesejahteraan psikologis itu dicapai dengan cara instan dan one-fit-for-all. Kalau lagi ngerasa sedih habis kehilangan, ya udah coba yuk pakai teknik A. Loh, tapi nggak (atau belum) works, masih sedih. Terus jadinya malah sibuk denial, ngusir emosi sedih, marah, dan kecewa yang muncul. T-tapi di banyak orang lainnya works kok. Nah, ini yang buat saya masuk ke alasan ketiga, yaitu ketika saya membandingkan kesejahteraan psikologis saya dengan orang lain.
Dari tiga alasan ini, suka nggak suka mungkin memang ada andil media sosial dimana informasi itu kita dapatkan. Karakteristik dari media sosial itu sendiri gimana caranya sebuah informasi dibuat sesederhana mungkin, biar diterima dengan mudah oleh siapapun yang baca. Alhasil, kita bisa aja merasa kesejahteraan psikologis itu bisa dicapai dengan mudah, instan, dan adalah sebuah tujuan akhir.
Buat beberapa orang yang mungkin sedang ngerasa kayak gini, saya mau kasih tau hal yang baru saya sadari: kesejahteraan psikologis yang baik itu nggak pernah jadi tujuan akhir. Dia adalah sebuah proses yang akan terus menerus kita alami selama kita hidup di dunia. Saat ini kita bisa accept satu hal, bukan berarti kita akan bisa accept semua hal. Kita bisa maafin satu orang, bukan berarti kita bisa maafin semua keadaan dan semua orang. Hari ini kita bisa mencintai diri sendiri tanpa syarat, bukan berarti besok kita nggak bisa insecure. Yang perlu digarisbawahi adalah hal ini wajar dan kebanyakan manusia yang masih hidup akan mengalami. Saya mengalami, orang tua saya juga, psikolog atau psikiater itu mengalami, terapis yang suka muncul di podcast mengalami, dan influencer-influencer itu mengalami. Pada akhirnya, kita cuma bisa sadar kalau kita dengan mereka yang kita lihat cuma ada di fase yang berbeda.
Kalau gitu pertanyaannya, apakah ini semua yang kita baca nggak penting? Di teori pembelajaran seseorang ada teori namanya Bloom’s Taxonomy, yang menjelaskan tahapan belajar seseorang sampai bisa dikatakan expert. Kalau mengacu sama taksonomi itu, hal yang kita dengar dari media sosial itu masih tatarannya pengetahuan. Kata Bloom, “Masih panjang Bung perjalanan”. Jadi, kalau kita udah ngerti sampe hapal semua langkah suatu teknik healing, bukan nggak mungkin ketika kita praktik nggak sesuai sama apa yang kita tahu. Jadi, nggak perlu berkecil hati ketika ngelakuin suatu teknik yang buat beberapa orang katanya membantu, tapi buat saya nggak (atau belum) begitu. Anggap aja latihan. Once someone said to me, “Part of the acceptance is accepted if you’re not accepted yet.” Bagian dari ikhlas adalah mengikhlaskan kalau kita belum ikhlas.
Terakhir, saya juga kembali diingatkan bahwa manusia adalah “hewan” yang paling kompleks. Satu kejadian bisa berdampak besar untuk saya, namun di orang lainnya belum tentu begitu. Pemaknaan saya terhadap kehilangan bisa beda dibandingkan teman saya. Di setiap usia, kita bisa menemukan hal baru tentang diri kita. Kualitas psikologis yang baik bagi setiap orang juga pasti berbeda-beda, masalahnya beda, dan pada akhirnya definisinya juga jadi beda. Kita pun begitu, setiap fase kehidupan pasti ada yang kita rasa penting tapi beberapa tahun setelahnya nggak. Tugas kita cuma coba kenalan lagi sama diri sendiri, apa yang disuka dan apa yang buat nggak nyaman, terus apa yang works dan apa yang nggak. Pada akhirnya, mungkin itu membuat kualitas psikologis kita sedikit lebih baik.
Jadi, kalau balik lagi ke judul di atas yang suka kita baca di quotes instagram, “Find peace within”. Boleh ditimbang-timbang lagi ya kedamaian yang mau kita cari. Kalau memang belum nemu apa damainya, minimal bisa berfungsi seperti manusia dewasa aja mungkin udah cukup. And yes, adulting is challenging. Sekian.